
"Tapi Nona--"
...Buuugghhh...
"Apa kau tuli... Bukankah istriku memerintahkan kepadamu untuk diam, mengapa kau terus saja berbicaraaa!" Marah Alvaro dengan kembali memberikan satu pukulan pada wajah Rio.
Alvaro memang sudah dilepaskan oleh David karena tadi Alvaro sudah sedikit lebih tenang, tapi justru Alvaro malah kembali berulah dengan memberikan satu tonjokan keras kepada Rio lagi-lagi.
"Al!"
"Al, aku mohon tenangkan'lah dirimu" Ujar Queena dengan menenangkan Alvaro.
"Siapa namamu?" Tanya Queena pada resepsionis tersebut.
"Lala, nona" Jawab resepsionis itu yang ber-name tag Lala.
"Semuanya tolong dengarkan saya, dan jawab pertanyaan saya. Apakah yang dikatakan Lala itu benar atau tidak?" Kata Queena yang berteriak kembali dengan sangat keras.
"Benar nonaaa" Jawab serempak seluruh karyawan Kusuma Grup.
"Kalian semua berbohonggg!!" Teriak Rio.
"Nona, jangan dengarkan perkataan mereka karena itu semua bohong" Kata Rio dengan meyakinkan Queena tapi sepertinya Queena tidak bisa dibohongi lagi kali ini.
...Plaaakkkk...
"Semuanya sudah mengatakan'nya dengan sangat jelas kepadaku Rio, mulai hari ini kau saya pecat dengan secara tidak hormat dan namamu akan saya masukkan kedalam catatan buku blacklist hitam! Dan Karena saya masih berbaik hati padamu... maka saya akan tetap mengizinkan'mu untuk tetap menggambil uang pesangon'mu dan sebaiknya kau bereskan semua barang-barang milikmu sekarang, karena saya tidak ingin melihat dirimu lagi yang berada di perusahaan saya" Tegas Queena yang kini sudah mengambil keputusan.
"Nona..."
"Saya mohon jangan pecat saya" Pinta Rio.
"Kalian semua lanjutkan pekerjaaan kalian" Titah Queena pada seluruh karyawann'ya.
"Baik, nona" Jawab serempak kembali seluruh karyawan Kusuma Grup.
"Dan untukmu Al dan David sebaiknya sekarang kita pergi keruang'ku saja" Ajak Queena lalu berjalan menuju Alvaro untuk pergi bersama.
"Pergilah... sebelum aku berubah pikiran terhadap'mu" Tegas Alvaro pada Rio.
"Saya mencintai anda, nona" Teriak Rio yang berhasil menghentikan langkah kaki Queena.
Queena, Alvaro dan David yang mendengar teriakkan Rio'pun seketika menghentikan langkah kakinya dan Alvaro bahkan sampai berbalik ke belakang dengan mengepalkan kedua tangannya.
"Beraninya kau mencintai istrikuuu! Akan ku hajar kau" Geram Alvaro yang berniat untuk memukul kembali Rio tapi dirinya terlebih dahulu ditahan oleh Queena.
"Al, sudahlah" Ujar Queena.
"Rio, kau bukan mencintaiku tapi kau hanya terobsesi dengan diriku" Kata Queena dengan menahan Alvaro.
"Tidak... Saya mencintai anda nona, saya bukan terobsesi dengan anda tapi saya mencintai anda nona" Elak Rio.
"Sudahlah Rio, sebaiknya kau pergi dari sini atau suamiku akan menghajar'mu saat ini" Titah Queena dengan menyuruh Rio agar cepat pergi dari perusahaan'nya sebelum Alvaro kembali lepas kendali.
"Nona kau harus ingat satu hal, saya sangat mencintai anda. Apapun yang terjadi saya pasti akan merebut anda dari suami anda ingat itu" Ujar Rio lalu berdiri dan berjalan keluar.
"Gila" Kata Alvaro lalu manarik lengan Queena menuju ruangan milik Queena.
...*****...
...Ruangan Queena...
"Al, duduklah aku akan mengobatimu" Titah Queena lalu berjalan mengambil kotak obat P3k.
"Hmmm" Dehem Alvaro.
"Jika terasa sakit bilang" Kata Queena yang kembali dengan membawa kotak obat, lalu... dengan perlahan-lahan Queena'pun mulai mengobati sudut bibir Alvaro yang sedikit mengeluarkan darah karena pukulan yang Rio berikan tadi.
"Shitttt" desit Alvaro yang merasa perih.
"Huuuuffff"
Alvaro terdiam dengan memandangi wajah cantik Queena, yang mana tengah serius mengobatinya bahkan Queena mengobati dirinya dengan perlahan sambil meniupi lukanya agar tidak terasa sakit.
"Mengapa kau memakai syel?" Tanya Alvaro dengan bodohnya.
"Aku tidak bertanya padamu!" Ketus Alvaro, sedangkan Queena yang mendengar ucapan David hanya bisa terdiam karena dirinya tengah menahan malu.
'Apa varo yang memberitahu'nya?' Batin Queena.
"Sebaiknya kau lepas syelmu saja Queena" Pinta Alvaro yang membuat Queena kesal.
"Tidakkk!" Tolak Queena dengan cepat.
"Kenapa? Bukankah tanda yang berada di lehermu sangat cantik? Mengapa kau harus menutupinya dengan kain jelek ini" Tutur Alvaro yang memang tidak suka melihat Queena menutupi tanda cinta yang ia buat dileher jenjang Queena, karena baginya itu adalah hasil karya miliknya yang sangat luar biasa tapi justru malah tertutupi oleh kain syel.
"Kentut'mu" Kesal Queena lalu berjalan menuju meja kerjanya tanpa menghiraukan kembali Alvaro sang suami.
"Puuuuttfff, HAHAHAHA" Tawa David pecah yang melihat kelakuan sepasang itu.
"Apa sudah puas tertawa'nya?" Tanya Alvaro menatap tajam kearah David.
"Belum" Jawab David dengan gelak tawanya yang tak bisa berhenti.
"Maka lanjutkanlah sampai kau puas" Kesal Alvaro pada David.
"HAHAHAHA"
"Apakah kalian berdua kemari hanya untuk menggangu pekerjaanku saja?" Tanya Queena dengan kesal karena dirinya tidak bisa berkonsentrasi terhadap pekerjaan'nya yang menumpuk seperti sampah. Tapi sangat berharga itu karena kehadiran keduanya saat ini.
"Jika iyaa... kau ingin apa?" Tanya balik Alvaro dengan wajah menjengkelkan'nya menatap wajah Queena.
"Tentu saja mengusir kalian keluar! Memangnya apa lagi?" Jawab Queena dengan kesal.
"Kau berani mengusirku?" Tanya Alvaro.
"Tentu saja, Tidaaakkk" Kata Queena.
...Tokkk tokkk tokkk...
"Masuk" Balas Queena.
"Ada apa?" Tanya Queena yang melihat sekertaris miliknya masuk.
Ohh yaa... Queena sebenar'nya bukan hanya memiliki satu sekertaris pribadi tapi ia memiliki dua sekertaris pribadi salah satunya adalah Rio tadi. Hanya saja kini Rio sudah dipecat oleh Queena.
"Maafkan saya nona, karena menggangu pekerjaaan anda... saya kesini hanya untuk menyampaikan kepada anda, bahwa direktur dari perusahaan Mangga Crop sudah datang dan sekarang ia berada didalam ruang metting" Jelas sekertaris Queena yang lainnya yang bernama Nathania.
"Hmmm, sampaikan kepada direktur Mangga Crop bahwa saya akan segera kesana. Bersama dengan direktur dari perusahaan Dirgantara Company" Balas Queena dengan tersenyum manis.
"Baik nona, kalau begitu saya pamit undur diri" Pamit Nathania dengan hormat.
"Hmmm" Dehem Queena.
"Al, apa kau sudah merubah pemikiran'mu untuk datang dalam metting ini?" Tanya Queena dengan tersenyum manis.
"Jika sudah tau tidak usah bertanya bukan"
"Ohh, kakak ipar... apa kau tau direktur dari perusahaan Mangga Crop itu? Rumor'nya ia mempunyai wajah yang sangat tampan bahkan melebihiku. Aku yakin kakak ipar pasti akan terkejut bila melihatnya nanti, karena saking tampan'nya wajah direktur tersebut" Celetuk David yang memanas-manasi keadaan, bahkan Queena sepertinya juga ikut memanas-manasi Alvaro.
"Benarkah? Apa ketampanan'nya melebihi orang yang berada disampingmu?" Tanya Queena penasaran dengan jawaban David.
"Tentu saja ka! Bisa dikatakan ketampanan'nya melebihi suamimu!" Balas David dengan menyeringai dan itu tak luput dari penglihatan Queena.
"Apakah direktur itu masih single?" Tanya Queena kembali pada David, tanpa sadar ucapan Queena barusan membuat Alvaro menatapnya tajam bersamaan dengan tangan Alvaro yang mengepal.
"Cukup!!"
"Sudah cukup bicaranya--" Ujar Alvaro tapi terpotong oleh ucapan David.
"Tentu saja, ka" Potong David dengan tersenyum puas.
"Aaaaaa!! aku jadi tidak sabar untuk melihatnya, hmmmm... Aku akan pergi sekarang, dahh. Sampai bertemu diruang metting" Ujar Queena yang mendekatkan dirinya kepada Alvaro lalu memberikan Alvaro sebuah senyuman manis dan setelah itu Queena'pun pergi begitu saja.
...Ceklekkkk...
"David!" Panggil Alvaro.
"Ohh, Sepertinya sudah waktunya untuk pergi" Kata David yang tidak menjawab panggilan Alvaro lalu iapun pergi begitu saja menyusul Queena tanpa mengajak Alvaro.
"Ckkk"