My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Karan Alexander



...Ruang Meeting...



...Ceklekkkk...


"Selamat datang nona Queena dan tuan Alvaro" Sapa direktur dari perusahaan Mangga Crop yang bernama Karan, Karan Alexander.


"Hmmm, terimakasih tuan karan" Balas Queena dengan tersenyum manis sedangkan Alvaro ia hanya mengangguk'kan kepalanya.


'Apakah Queena mengenal direktur Mangga Crop?' Batin Alvaro yang cemburu karena melihat Queena tersenyum dengan laki-laki lain.


"Apakah kita sudah bisa langsung memulai sekarang meeting'nya?" Celetuk Alvaro yang menatap Queena dan Karan dengan datar.


"Aahhh yaaa... mari tuan" Jawab Karan.


...Skippppp......


1 jam kemudian...


Tak terasa kini sudah satu jam lamanya Queena, Alvaro, Karan, beserta para sekertaris mereka masing-masing berada di dalam ruang Meeting. Hingga kini akhirnya mereka semua sudah selesai dengan pembicaraan yang mereka bahas tadi saat di dalam ruang Meeting.


"Terimakasih tuan Karan... karena anda sudah jauh-jauh datang kemari hanya untuk membahas kerjasama yang sudah kita buat" Kata Queena dengan tersenyum manis.


"Sama-sama nona Queena" Jawab Karan dengan membalas senyuman manis Queena, berbeda dengan Alvaro yang malah menatap keduanya dengan tatapan malas.


'Apakah Alvaro tengah cemburu saat ini? Hmmm, menarik... aku bisa memanas-mana'si keadaan saat ini... agar Alvaro bertambah cemburu, siapa suruh kemarin-kemarin Alvaro selalu menyakiti kakak ipar Queena, hehehehe' Batin David yang tertawa jahat lalu iapun memulai aksinya kembali.


"Hmmm, sepertinya kalian berdua sudah saling mengenal satu sama lain? Apa itu benar?" Celetuk David yang memulai aksinya.


"Benar" Jawab Queena dan Karan bersamaan.


"Wowwww, Kakak ipar bisa kau beri tahu padaku kapan dan dimana kau bisa mengenal tuan Karan? karena aku lihat, kalian berdua sangatlah akrab" Tanya David dengan melirik kearah Alvaro yang tengah diam tapi tangannya mengepal dengan keras.


'Sial! Baru ingin mengatakan kepada Queena bahwa aku sudah jatuh cinta padanya tapi ada saja yang menggangu, Ck' Batin Alvaro yang kesal.


"Sebenarnya, Karan ini adalah sahabatku, saat dimana aku masih berada di Australia... saat itu aku tidak sengaja bertabrakan dengannya, ketika aku berada di dekat taman. Dan disitu aku dan Karan menjadi teman dekat secara perlahan, Karan menjadi sahabat terbaikku saat itu juga" Jelas Queena yang menceritakan awal mula ia bertemu dengan Karan.


"Hahahaha, kau masih mengingatnya saja Anaa!bahkan aku sepertinya sedikit melupakan kejadian waktu itu" Tawa Karan.


"Hmmm, Ran... aku tidak menyangka bahwa kau adalah direktur dari perusahaan Mangga Crop, dan kau tidak pernah menceritakan'nya kepadaku sebelum'nya?" Kata Queena.


"Ohh, sebenarnya perusahaan Mangga Crop adalah perusahaan Mama'ku yang di wariskan kepada'ku pada saat kau pergi meninggalkan Australia, dan Papa'ku juga mewarisi perusahaan'nya padaku... apa kau tau Anna? saat ini aku sangatlah tertekan karena harus mengurus dua erusahaan dengan tangan'ku sendiri, huufff. Rasanya aku ingin berhenti sejenak tapi tidak bisa karena keduanya sudah menjadi tanggung jawab'ku" Jelas Karan dengan cemberut.


"Hahahaha, benarkah? Tunggu... kau bilang Mama dan Papamu mewarisi perusahaan'nya padamu? Maksudmu..." Kata Queena yang tiba-tiba berhenti berbicara.


"Iyaa, mereka berdua sudah pergi meninggalkan diriku. Seorang diri di dunia ini, yaa... Sepertinya tuhan memang lebih sayang kepada kedua orang tuaku hingga ia memanggil kedua orang tuaku dengan begitu cepat" Ujar Karan.


"Ran, aku turut berduka cita atas kepergian'nya Mama dan Papa'mu... aku juga minta maaf padamu karena tidak bisa hadir saat pemakaman Mama dan Papamu" Tutur Queena.


"Tidak apa-apa Anaa, aku juga mengerti pasti kau juga sangatlah repot. Karena harus mengurus perusahaan'mu sendiri" Tutur Karan dengan tersenyum manis menatap Queena.


"Apa nama perusahaan Papa'mu? Siapa tau aku ingin bekerja sama dengannya!" Tanya Queena.


"Alexander Grup" Jawab Karan.


"Alexander Grup? Ohh... aku ingat waktu itu perusahaan Alexander Grup datang mengajukan kerja sama dengan perusahaan Kusuma Grup saat uncle'ku yang masih memegang kendali atas perusahaan'ku saat itu" Ucap Queena.


"Yaa, aku tau itu" Balas Karan.


"Ekhemmm?" Dehem Alvaro yang sedari tadi hanya diam menyimak keduanya begitu juga dengan David.


'Ckk, apakah Queena benar-benar sudah melupakan suaminya ini! Anna? Ran? Ishh menjijikan sekali panggil mereka berdua ini' Batin Alvaro.


"Ahh, maafkan saya tuan. Karena terlalu asikan berbicara dengan nona Queena hingga saya sampai melupakan kehadiran anda, mohon maaf sekali lagi tuan" Ujar Karan dengan tidak enak hati.


"Ada yang panas tapi bukan api? Ruangan yang di penuhi dengan ac bahkan masih bisa panas, kira-kira apa penyebabnya yaa? Apa ya..." Celetuk David yang berpura-pura berpikir.


"Ckk"


"Al, maafkan aku karena melupakanmu, hehehe sumpah aku tidak sengaja melakukan'nya" Sahut Queena dengan tersenyum kecut.


"Tidak masalah... Sayang" Kata Alvaro dengan menekan kata 'Sayang' lalu menarik dan memeluk pinggang Queena dengan erat.


"Kakak Ipar, apa kau punya waktu sebentar nanti?" Tanya David.


"Tentu saja, David" Jawab Queena cepat.


"Terimakasih, kakak ipar" Balas David kembali


"Sama-sama"


"Kakak Ipar? Sayang?" Tanya Karan yang kebingungan di buatnya saat ini tepat di depan matanya.


"Ahh, aku lupa mengenalkan seseorang... Hmmmm, Ran kau pasti sudah tau bukan siapa yang berada di sampingku? Dia adalah tuan Alvaro Kenan Dirgantara pemilik perusahaan Dirgantara Company dan dia juga sebenar'nya adalah suami'ku" Jelas Queena dengan menatap wajah keduanya.


"Suami?"


"Kau sudah menikah? Kapan? Mengapa kau tidak memberitahukan kepadaku..." Tanya Karan dengan melontarkan beribu-ribu pertanyaan kepada Queena.


"Maaf Karan... karena aku tidak sempat memberitahukan kepadamu tentang pernikahan'ku... dan aku juga lupa memberikan'mu undangan'nya karena menurutku pada saat itu adalah momen yang begitu cepat, hingga aku sampai melupakan sahabatku... hehehehe..." Tawa Queena dengan cengengesan.


"Haishhh... Sudahlah" Kata Karan.


"Kau bisa melihat berita tentang pernikahan'ku lewat Internet... Karena saat itu... Keluargaku mengundang banyak wartawan pada saat hari pernikahan'ku" Tutur Queena yang di angguki Karan.


"Yaa.. Baiklah, jika ada waktu luang aku akan melihatnya... Sekarang aku harus pergi karena aku harus mengerjakan kembali pekerjaanku yang lainnya" Ujar Karan.


"Hmmm, Baiklah" Jawab Queena dengan mengangguk kecil kepalanya.


"Sampai bertemu dilain hari, Anna... dahh" Pamit Karan.


"Sampai bertemu di lain hari hari juga Karan... dahh" Balas Queena dengan memberikan senyuman manisnya sambil melambaikan tangan'nya kepada Karan, sama seperti Karan barusan yang melambaikan tangannya kepada Queena, makanya Queena membalasnya.


"Apa sudah selesai berbicaranya?" Tanya Alvaro dengan nada datar lalu melepaskan dekapannya.


"Sudah" Balas Queena dengan singkat.


"Ckk, terlalu asik mengobrol berdua hingga melupakan sekitar! Kau pikir aku ini apa? Tembok?" Ketus Alvaro kepada Queena.


"Maafkan aku, Al" Kata Queena yang merasa sedikit bersalah kepada Alvaro suaminya itu.


"Maaf-maaf" Ledek Alvaro lalu pergi begitu saja dengan wajah yang sedikit kesal terhadapnya.


"Al!"


"kau ingin kemana?" Tanya Queena dengan sedikit berteriak.


"Kembali ke perusahaan'ku" Jawab Alvaro singkat.


"Kakak ipar" Panggil David.


"Ohh, ada apa David? Bukankah tadi kau bilang ingin mengobrol berdua denganku?" Kata Queena dengan menaikkan satu alisnya kepada David.


"Kita mengobrol'nya diluar saja" Ujar David yang diangguki oleh Queena.


"Baiklahh"