My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Provokasi Alkenzie



"Daddy" Panggil Alkenzie kembali.


"Ada apa lagi Alzie?" Tanya Alvaro dengan sedikit kesal akan panggilan dari sang putra untuk kedua kalinya itu yang mana membuatnya kesal.


"Kemarin mommy mendapat kiriman sebuah buket bunga kesukaan mommy" Ucap Alkenzie pelan yang mana kini dirinya tengah memanas-manasi sang daddy yang sedang terlihat cemburu dan kesal hingga membuat sang daddy tadi marah-marah tidak jelas kepada sang mommy.


"Siapa yang mengirim nya?" Tanya Alvaro dengan cepat sambil menatap tajam wajah sang putra.


"Tuan Andes Anderson. Saat itu akulah yang menerima buket bunga tersebut, karena bunga itu untuk mommy jadi aku berikan kepada mommy. Dan mommy mengambilnya dengan wajah tersenyum, Ahhh! Luar biasa pandangan saat itu ketika mommy mengambil bunga itu" Jawab Alkenzie dengan tersenyum smrik diam-diam.


"Jangan bercanda. Atau daddy pukul kau" Ancam Alvaro dengan tatapan tajam.


"Untuk apa aku bercanda? Aku serius. Dan bunga itu bahkan dirawat sama mommy. Lihat, ini adalah bunga yang aku maksud itu, ternyata mommy menjadikannya sebagai bunga hiasan di meja ini" Terang Alkenzie dengan berbohong.


...Pranggg...


"Daddy, mengapa kau membanting vas bunga yang mommy buat? Kau tau itu adalah kesayangan nya bukan" Tutur Alkenzie dengan tercengang akan tindakan sang daddy.


"Tidak peduli" Balas Alvaro lalu pergi begitu saja menuju kamarnya dengan perasaan marah.


"Akan ada zona perang. Sebaiknya aku pergi ke kamar ku saja dan berjaga-jaga agar aku tidak terkena amukan dari kakek tua itu" Gumam Alkenzie dengan terburu-buru membereskan laptopnya dan setelah itu pergi menuju kamarnya.


Anak yang nakal. Bisa-bisanya ia memprovokasi sang daddy mengenai sang mommy. Padahal jelas-jelas vas bunga yang tadi dibanting oleh Alvaro adalah vas bunga kesayangan sang mommy dan lagi bunga yang berada didalam vas tersebut bukanlah dari seorang pria yang bernama "Andes Anderson" melainkan bunga tersebut dari dirinya sendiri. Dari bibit bunga yang pernah ia kasih dan Queena pun menanamnya ditaman belakang mansion dirgantara setelah tumbuh menjadi bunga Queena langsung saja merangkai nya menjadi pajangan bunga.


Contohnya pajangan bunga yang Alvaro lempar tadi, bisa-bisanya Alvaro juga terhasut akan perkataan dari sang putra. Padahal biasanya ia tau jika putranya itu suka memprovokasi dirinya. Putra keduanya itu. Alkenzie.


...Kamar Alqueen...



"Ck"


"Sial. Sial"


"Arghhhhhh!! Akan aku cari kau ke ujung dunia Andes" Marah Alvaro dengan mantap dirinya ke cermin yang terdapat di meja rias milik Queena.


...Prraanggg...


...Prraanggg...


...Prraanggg...


Saking kesal dan geram nya akan cerita dari sang putra, kini kemarahan Alvaro kembali keluar. Provokasi dari sang putra mampu membuat Alvaro kian semakin marah kepada Queena sang istri padahal jelas-jelas Queena tidak tau menahu tentang apa yang tengah terjadi. Hingga membuat Alvaro mengacak-acak seluruh benda yang terdapat diatas meja rias Queena hingga hendphone nya sendiri bahkan ia buang ke sembarang arah. Dan berakibat hancur.


...Ceklekkkk...


"Ada ap--"


...Bruukkkkk...


Ketika Queena baru saja datang dan masuk kedalam kamarnya, iapun melihat bahwa kamar nya berantakan dan berniat ingin bertanya kepada sang suami tapi tiba-tiba saja Alvaro justru malah menarik pergelangan tangan nya dan memojokkan nya ke dinding sambil menatap marah kepada dirinya.


"K-kau kenapa? Ada apa dengan mu" Tanya Queena dengan gugup karena merasa takut akan keadaan saat ini.


"Katakan padaku. Apakah Andes masih mengganggu dirimu" Tanya Alvaro tanpa mau menjawab pertanyaan dari Queena lebih dulu.


"Apa yang kau katakan? Andes... Aku tidak mengerti apa yang kau mak--"


"Katakan padaku!!" Bentak Alvaro secara tiba-tiba hingga membuat Queena terkejut setengah mati sampai-sampai Queena menutup kedua matanya karena saking takutnya akan kemarahan Alvaro saat ini.


"Anna!!"


"Aku tidak tau. Aku tidak mengerti!!" Jawab Queena dengan berteriak sambil menatap marah kepada Alvaro.


"Sekarang kau sudah berani berteriak dengan ku. Apa kau benar-benar tengah menjalin hubungan dengan Andes? Cepat katakan padaku!!" Marah Alvaro dengan mencengkeram kuat kedua tangan Queena hingga membuat Queena merintih kesakitan.


"Sakit Varo" Rintih Queena pelan.


"Jawab akuuuu, Queena Angelina Kusuma" Geram Alvaro dengan berteriak tepat dihadapan Queena saat ini.


...Deggggg...


"Aku tidak mengerti apa yang telah tejadi padamu hari ini, kau tiba-tiba saja marah padaku lalu membentak ku dan bertanya mengenai Andes kepadaku. Apa yang membuatmu seperti ini Varo?" Tanya Queena dengan lirih.


"Jangan mengalihkan pembicaraan, cepat katakan padaku apakah kau benar-benar tengah menjalin sebuah hubungan dengan Andres?" Kata Alvaro dengan semakin kuat mencengkram kedua tangan Queena.


"Awss! Alvaro sakit" Jerit Queena dengan merintih kesakitan.


"Aku akan melepaskan mu jika kau mau menjawab pertanyaan dariku tadi" Ujar Alvaro.


"Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Andres, hanya sebatas sahabat saja! Kau... Shetttt Varo sakit. Tolong lepaskan tanganku" Jawab Queena lagi-lagi meminta untuk dilepaskan tangan nya dari cengkraman Alvaro sang suami.


"Bohong!!" Teriak Alvaro dengan melepaskan tangan-nya secara kasar dari tangan Queena.


"Aku tidak menjawab salah dan aku menjawab salah, apa mau mu sebenarnya Alvaro" Tutur Queena dengan memegangi tangannya yang terasa sangat sakit.


"Jika kau tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Andes mengapa kau mengambil bunga yang dikirim olehnya untuk mu dengan tersenyum manis ketika kau mengambilnya. Lalu... Mengapa setiap pagi Andes selalu mengirim mu sebuah pesan, dan tadi Andes mengirimkan kembali dua buket bunga untuk mu?" Marah Alvaro kembali.


"Bunga? Pesan?" Gumam Queena dengan bertanya-tanya.


"Benar. Sebuah pesan untukmu yang tertulis "Morning baby" disertai emoji love merah didalam pesan tersebut. Lalu... Ketika kita tadi masih berada dirumah sakit ia kembali mengirimkan dua buket bunga untuk mu, tapi untungnya aku yang lebih dulu mengambilnya dan membuang nya, jika tidak kau mungkin akan menjadikan bunga tersebut sebagai pajangan seperti vas yang berada di meja ruang tamu tadi" Jelas Alvaro yang justru malah semakin membuat Queena tidak mengerti akan dirinya.


"Aku tidak pernah menerima bunga dari seseorang, aku hanya selalu menerima hadiah pemberian darimu saja. Vas yang kau bilang barusan adalah vas yang berisi bunga dari kau. Bibit bunga yang pernah kau berikan aku tanama dibelakang mansion dan ketika ia sudah tumbuh aku meriasnya menjadi vas bunga tersebut lalu aku letakan di meja ruang tamu, soal urusan pesan dan dua buket bunga atau lebih tepatnya tiga buket bunga aku tidak tau.... Dan aku akan menegaskan nya kembali bahwa aku tidak tau menahu soal itu" Balas Queena dengan kesal hingga menekan setiap kata dari ucapannya itu.


"Puas... Aku sudah menjelaskan padamu, jika ada yang mengatakan bahwa aku menerima buket bunga dari Andes maka kau bodoh Varo. Jelas selama ini aku selalu bersamamu dan tidak pernah menerima sebuah hadiah dari orang lain, kau bodoh akan kecemburuan mu yang tidak jelas itu dan kau tidak sadar bahwa kau telah di provokasi" Terang Queena lalu pergi keluar dari kamarnya begitu saja tanpa kembali memperdulikan Alvaro sang suami.


"Arghhhhhh!!"


"Alzie, anak sialan. Beraninya kembali memprovokasi daddy nya dan mommy nya sendiri" Marah Alvaro.