My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Kebahagiaan semua orang



...Keesokan harinya......


...Ruangan Alvaro...


"Suamiku" Panggil Queena kepada Alvaro suaminya itu yang tengah fokus kepada layar laptopnya lagi dan lagi, seperti biasa.


"Hmmm" Dehem Alvaro dengan menoleh kearah istrinya itu.


"Bolehkan aku meminta sesuatu?" Tanya pelan Queena.


"Apa yang kau inginkan?" Tanya balik Alvaro dengan menutup layar laptopnya lalu berjalan mendekat kearah Queena sang istri.


"Bolehkah aku memetik satu mawar biru milikmu?" Ucap Queena dengan lirih, karena ia takut bahwa suaminya itu akan marah kepadanya hanya karena membahas tentang bunga mawar biru miliknya yang terdapat di taman belakang mansion miliknya.


Ia hanya takut kejadian lama terulang kembali hanya karena bunga mawar biru kesukaannya itu, kalian ingat? Tentang dimana Alvaro sangat marah kepada Queena saat itu, hanya karena masalah Queena yang memetik beberapa bunga mawar biru kesukaannya, yang terdapat di taman belakang mansion Alqueen tanpa seizin dari Alvaro. Hingga membuat Alvaro sangat marah lalu membanting dan menghancurkan vas bunga tersebut yang sudah dirancang oleh Queena? Bahkan saat itu Queena juga dihukum oleh Alvaro.


Pasti kalian ingat bukan? Maka dari itu Queena bertanya dan meminta izin terlebih dahulu kepada Alvaro agar nantinya kesalahan waktu itu tidak terulang kembali.


"Kau sangat menyukainya?" Tanya kembali Alvaro sambil menatap wajah Queena sang istri.


"Iyaa, tapi... Jika kau tidak memperbolehkannya juga tidak masalah! Aku akan membeli di toko bunga saja nanti" Jawab Queena dengan cepat.


"Kau tau? Bunga mawar biru itu sekarang adalah milikmu. Jadi... Kau tidak perlu meminta izin kepadaku lagi, lain kali jika kau ingin memetik bunga mawar biru tersebut kau bisa langsung mengambil ataupun memetiknya" Ujar Alvaro dengan tersenyum manis lalu mengecup pelan puncak kepala Queena.


"Be-benarkah?"


"Tentu saja, Apa kau ingin memetiknya? Jika begitu... Mari kita ke taman belakang" Ajak Alvaro dengan tersenyum lalu menarik pelan pergelangan tangan Queena.


"Kau tidak bercandakan suamiku?" Tanya lagi-lagi Queena karena merasa tidak percaya akan suaminya itu saat ini.


"Apa wajahku mengatakan bahwa aku sedang bercanda sayang?" Kata Alvaro.


"Tidak" Balas Queena sambil menggelengkan kepalanya.


...Skippppp......


...Taman belakang mansion Alqueen...



"Kau ingin apakan bunga ini?" Tanya Alvaro kepada Queena yang tengah asik memetik beberapa tangkai bunga mawar biru kesukaannya.


'Jangan salahkan aku jika hatiku sudah ada penghuni barunya Angel! Kau sendiri yang pergi meninggalkan diriku, jadi jangan salahkan aku jika suatu saat kau datang kembali' Batin Alvaro.


'Dan aku tidak akan membuatmu masuk kembali kedalam jehidupanku! Karena Aku sudah bahagia dengan keluarga kecilku saat ini. Semoga suatu hari nanti kau tidak menghancurkannya dan berniat jahat, karena aku percaya kau tidak akan seperti itu' Batin Alvaro kembali.


"Aku ingin menaruhnya di vas Blbunga, apa boleh? Dan aku akan memajangnya di dalam kamar, di ruang tamu, dan ditempat-tempat yang lainnya... Bolehkan?" Jawab Queena dengan menatap wajah Alvaro untuk meminta persetujuan.


"Tentu saja, biarkan aku membantumu" Tutur Alvaro lalu duduk disamping Queena.


"Bunga mawar memang sangat cantik, tapi kecantikannya ini sangatlah berbahaya. Karena bunga mawar ini terdapat duri-duri yang sangat tajam, hingga dirinya pun mampu melukai tangan kita" Ucap Alvaro dengan menatap bunga mawar biru tersebut dengan sinis.


"Yaa, bisa dikatakan cantik-cantik tapi berbahaya. Benar bukan?" Celetuk Queena.


"Kau benar sayang"


"Bagaimana cara melakukannya?" Tanya Alvaro pada Queena yang asik memasukkan bunga mawar tersebut kedalam vas bunga.


"Suamiku, kau hanya perlu mengisi air secukupnya kedalam vas bunganya, dan setelah itu kau langsung masukkan saja bunganya kedalam vas bunga yang kosong ini tapi... Bunganya yang sudah di bersihkan duri-durinya dan setelah itu kau tata lah dengan rapih" Jelas Queena yang diangguki oleh Alvaro.


"Apa seperti ini?" Tanya kembali Alvaro.



"Yaa, itu sangat benar bahkan sudah sangat bagus" Puji Queena terhadap Alvaro dan itupun membuat Alvaro sangat senang dan bangga.


"Aku akan membuang duri-durinya terlebih dahulu, kau jangan memegang bunganya jika belum di bersihkan" Tutur Alvaro yang di angguki oleh Queena.


"Baiklah"


...Beberapa menit kemudian......


"Sudah selesai?" Tanya Alvaro.


"Sudah"


"Biarkan vas bunga ini disini terlebih dahulu, bi Lin yang akan membawanya nanti" Ujar Alvaro.


"Baiklah, suamiku" Jawab Queena dengan tersenyum manis lalu kemudian menggandeng lengan Alvaro dan masuk kedalam mansion kembali.


...Ruang Tamu...



"Ada apa aunty?" Tanya Queena dengan memandang wajah Alvaro lalu menatap kearah Alea kembali.


"Duduklah"


"Hmmm"


"Cucuku" Panggil Kiana.


"Ada apa Grendma?" Tanya kembali Queena.


"Dasar anak nakal! Beraninya tidak memberi tahu kami tentang kabar kehamilanmu" Celetuk Zayyann dengan nada pura-pura kesal.


"O-oh, hahahaha ma-maaf uncle Anna lupa memberitahukan kepada kalian" Cengenges Queena dengan tersenyum kecut.


"Apa kau lupa dengan kami? Hmmm" Tanya Zayyann.


"Bukan begitu maksudku uncle" Jawab Queena.


"Haishhh, sudahlah... Cucuku apa kau benar-benar sedang hamil?" Relai Zian.


"Benar grendpa, dan maaf" Ucap Queena.


"Tidak masalah, grendpa senang mendengarnya berapa usia kandunganmu?" Tanya Zian.


"Baru empat minggu grendpa" Jawab Queena kembali.


"Apa mereka sehat?" Sahut Zayyann dengan bertanya.


"Tentu saja uncle"


"Merekaaa?" Ucap Zian, Kiana, Alea bersamaan yang kebingungan.


Ya jadi Zayyann tidak mengatakan bahwa Queena tengah mengandung bayi kembar empat, Zayyann hanya mengatakan bahwa Queena tengah hamil saja makanya Zian, Kiana, serta istrinya Alea kebingungan dengan pertanyaan dari Zayyann tadi.


"Anna tengah hamil bayi kembar" Jelas Zayyann yang membuat mereka bertiga menjadi tambah bahagia ketika mendengarnya.


"Aaaaa! Cucuku... Kau sangat pintar dengan memberikan grendma dan grendpa dua bayi kembar" Puji Kiana dengan memeluk tubuh Queena.


"Siapa yang mengatakan bahwa Anna akan memiliki dua bayi?" Tanya Zayyann dengan kebingungan.


"Bukankah kau tadi yang mengatakannya anak bodoh" Ketus Zian.


"Aku hanya mengatakan bahwa keponakanku ini tengah hamil bayi kembar bukan? Aku tidak menyebutkan kembar dua atau tiga bukan pak tua?" Ketus kembali Zayyann.


"Maksudmu? Katakan dengan benar suamiku" Kesal Alea kepada suaminya itu.


"Anna tengah mengandung bayi kembar empat Grendpa, Grendma, Aunty" Celetuk Alvaro.


"Ha? Empat?" Terkejut Zian, Kiana dan Alea bersamaan hingga melongo.


"Itu benar Grendpa, Grendma, Aunty" Sahut Queena dengan tersenyum manis.


"Nakk, apa kau tidak sedang bercanda?" Tanya Kiana memastikan karena merasa tak percaya dengan apa yang ia dengar.


"Tidak Grendma" Balas Alvaro dengan Tersenyum kecil.


"Aku akan mempunyai empat cicit, hahahah" Tawa Zian dengan bahagia.


"Anna sayang, sekarang kau harus banyak-banyak beristirahat dan jangan sampai kecapean! Oke? Dan kau juga harus banyak-banyak memakan-makana sehat agar si kecil sehat" Nasihat Alea dengan antusiasnya karena sebentar lagi ada yang akan memanggilnya bibi.


"Baik aunty"


"Kau harus menjaga calon keponakanku dengan baik, sayang" Ucap Alea kembali.


"Iyaa aunty"


"Cucuku, kau harus menjaga keempat cicitku dengan baik! Dan kau tidak boleh bekerja yang berat-berat ataupun memikirkan hal-hal yang lain, kau hanya perlu fokus kepada kandunganmu, Oke? Tentang masalah kantormu serahkan saja pada uncle dan suamimu sekarang" Nasihat Kiana panjang kali lebar.


"Pasti grendma"


"Mulai besok, urusan jantor biar uncle dan suamimu yang menanganinya kau hanya perlu fokus kepada kandunganmu" Celetuk Zayyann yang di angguki oleh yang lainnya.


"Baik, uncle"


"Sudah, sebaiknya kau beristirahatlah!" Tutur Zian kepada Queena.


"Yaa, Grendpa"


"Nakk! Bawalah Istrimu kedalam kamar, agar istrimu bisa beristirahat" Ucap Zian kembali.


"Baik grendpa" Jawab Alvaro lalu pergi membawa Queena menuju ke kamarnya.