
"Aku menyukai adikmu?" Tanya Arkanza balik kepada Alkenzo.
"Menurut ku dari tatapan mu" Ujar Alkenzo lalu pergi berjalan menuju meja kebesarannya untuk mengambil air minum yang ada diatas sana, karena kini dirinya tengah ingin meminum obat agar rasa sakit yang ada di kepalanya bisa hilang.
"Kau sakit?" Tanya Arkanza.
"Tidak"
"Lalu untuk apa kau meminum obat herbal? Ck, dari dulu seperti ini. Tunggu sebentar" Kata Arkanza dengan mengambil hendphone milik Alkenzo yang tengah tergeletak di meja yang berada didepannya saat ini.
...Author: Obat yang di anatar Arianna dari Queena itu adalah obat herbal yang di buat Queena dari tumbuh-tumbuhan secara langsung, hanya untuk mencegah demam tinggi saja tidak untuk saat demam. Karena Alkenzo jika diberikan obat dokter ia akan alergi....
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alkenzo dengan mengerutkan keningnya.
"Seperti biasa, hanya menyuruh seorang dokter untuk merawatmu. Tapi... Dokter Vito mengatakan bahwa ia tidak bisa datang dan dia hanya akan mengirim dokter lain kepadamu untuk saat ini" Jawab Arkanza dengan santainya.
"Si bodoh ini!" Kesal Alkenzo dengan merebut kembali hendphone miliknya dari genggaman tangan Arkanza.
"Seharusnya kau berterima kasih kepada, dan bukan malah mengataiku. Kau yang bodoh dan bukan aku" Ketus Arkanza.
...Ceklekkk...
Suara pintu ruangan Alkenzo yang tiba-tiba dibuka secara paksa pun mampu membuat Alkenzo dan Arkanza serta Bara (Serkertaris Arkanza) yang kini tengah berada di dalam langsung saja menatap kearah pintu kembali, yang kini tengah terdapat seorang dokter dengan jaz kebesarannya sambil menatap panik wajah Alkenzo hingga tidak menyadari akan kehadiran Arkanza dan Bara.
"Kakak"
"Kakak hari ini aku sedang berada di kantor mu untuk mengecek kondisi kesehatan para karyawan milikmu, Ketika aku baru selesai mengecek kondisi para karyawan mu aku mendapat kabar dari dokter Vito bahwa kau sakit lagi? Kakak apa demam mu naik lagi? Apa kau merasa pusing? Katakan keluhan mu padaku ka" Kata Brianna dengan terburu-buru masuk kedalam lalu berlari menuju kearah Alkenzo.
"Jangan berlebihan! Kakak tidak apa-apa. Mommy sudah mengirimkan obat herbal nya pada kakak" Ujar Alkenzo dengan nada sedikit datar.
"Biar aku lihat dulu, wajah mu sangat pucat! Suhu tubuhmu sedikit naik. Apa kepala mu juga ikut sakit? Kau pasti sedang menahan rasa sakit dikepala mu bukan?" Kata Brianna dengan terus melontarkan begitu banyak pertanyaan sedari tadi.
"Kakak baik-baik saja"
"Tidakkkkk! Kau bohong, aku akan beri tahu mommy agar kau mau menurut dan mau beristirahat" Elak keras Brianna dengan nada khawatir.
"Jangan beritahu mommy" Pinta Alkenzo kepada Brianna tapi Brianna justru mengabaikan permintaan Alkenzo saat ini.
...Dreetttt... Dreetttt......
...Callon...
Daddy📞: Yes grils, Ada apa?.
^^^Brianna: Daddy, tolong kau datang ke perusahaan kakak! Saat ini kakak sedang tidak baik-baik saja. Dan tolong nasehati kakak agar mau menutur dengan perkataanku kali ini^^^
Daddy 📞: Kakak mu yang mana? Ingat bahwa kakak mu ada tiga, panggil nama kakak mu kepada daddy agar daddy tau siapa kakak mu yang sedang kau maksud.
^^^Brianna: Sorry daddy, aku lupa! Kakak Alzo. Demam tubuhnya kini mulai kembali daddy. Bahkan kini kepala kakak Alzo tengah sakit, tapi kakak Alzo masih tidak ingin pulang dan beristirahat.^^^
^^^Brianna: Jadi aku minta kepadamu, tolong nasehati kakak Alzo! Agar ia mau untuk pulang dan mau untuk beristirahat dirumah^^^
"Brianna! Matikan hendphone mu, kakak sudah mengatakan padamu bahwa kakak baik-baik saja. Tidak perlu menghawatirkan kakak" Sahut Alkenzo dengan meyakinkan Brianna sang adik.
"Tidak kakak! Lihat dan bercerminlah, wajahmu benar-benar pucat saat ini. Lihatlah! Kini wajahmu mulai memerah secara perlahan, Kakak kau masih baik-baik saja bukan?" Panik Brianna.
"Kakak!"
Daddy 📞: Daddy akan segera datang ke perusahaan! Bria, tolong jaga dan rawat kakak mu terlebih dahulu saat ini. Daddy akan segera kesana bersama para dokter.
^^^Brianna: Hiksss... Daddy cepatlah^^^
Alvaro 📞: Baik
Tut.
'Bukankah Brianna mengatakan ingin memberitahu kepada aunty? Lalu... Mengapa ia malah menelpon uncle?' Batin Arkanza.
'Untunglah Bria tidak memberitahu mommy dan malah memberitahu daddy! Tapi tetap saja...' Batin Alkenzo.
"Hikssss... Kakak aku mohon padamu kali ini menurutluh dengan ucapan dan perkataanku!Hikssss... hikssss... Jangan seperti ini" Isak Brianna kepada Alkenzo.
"Mengapa kau menangis! Kakak sudah mengatakan padamu untuk tidak khawatir dengan kondisi kakak" Tutur Alkenzo.
"Tapi apa yang dikatakan oleh adikmu memang benar Alzo, kali ini dengarkanlah ucapan dan perkataannya. Lagi pula kau memang benar-benar sedang tidak baik-baik saja" Celetuk Arkanza kepada Alkenzo sambil mengerutkan keningnya menatap wajah pucat Alkenzo.
"Kau siapa?" Tanya Brianna dengan lirih sambil menghapus sisa air matanya yang sempat keluar dari pelupuk matanya.
"Aku adalah sahabat kakak mu, namaku Arkanza Gevano Smith! Kau bisa memanggilku Arkanza" Jawab Arkanza dengan mengulurkan tangannya.
"Brianna Angelina Putri Dirgantara, panggil saja Bria" Balas Brianna dengan membalas uluran tangan dari Arkanza lalu setelah itu mulai kembali melepaskan jabatan tangannya.
'Mengapa ketika aku membalas uluran tangan Arianna, myshopbia ku tidaklah kambuh. Tapi ketika aku mengulurkan tanganku kepada Brianna! Myshopbia ku justru sedikit kambuh?' Batin Arkanza.
'Apa myshopbia tuan ku benar-benar sudah sembuh? Atau.... Ahh sudahlah' Batin Bara.
...Brraaakkkk...
"Kakak!"
"Kau datang lagi?" Tanya Alkenzo dengan menaikkan satu alisnya.
"Aku memang belum pulang dan aku memang masih berada disini, karena aku tadi masih ada beberapa memotret yang belum aku tuntaskan tapi kali ini sudah" Jawab Arianna dengan cepat.
"Dari mana kau tau demam kakak kembali?"
"Tentu saja Brianna adikku! Brianna memberikan ku pesan barusan. Kakak apa kau pikir aku dan Brianna berbeda ruangan tadi? Kau salah, aku satu ruangan tadi bersama Bria hanya saja. Saat itu Bria sedang menyamar menjadi seorang dokter jelek" Balas Arianna.
"Aku menyamar dengan memakai sebuah kaca mata bulat dan rambut yang dikepang dua itu karena kau dan aku kakak! Karena aku tidak ingin mereka semua mengenalku dan melihat wajah kita. Kau seharusnya berterima kasih kepadaku" Celetuk Brianna dengan sedikit kesal.
"Aku tau"
"Rupanya wajah kalian berempat benar-benar mirip, Hanya saja! Sifat dan karakter kalian berempat berbeda" Ujar Arkanza dengan mengaguk-anggukan kepalanya kecil.
"Kau masih disini?" Tanya Arianna dengan mengerukan keningnya.
"Apa tidak boleh?" Tanya balik Arkanza dengan menaikkan satu alisnya.
"Tentu saja boleh"
"Kakak kau mengenal tuan Arkanza?" Tanya Brianna pelan.
"Hmmmm, beberapa menit lalu kakak baru mengenalnya ketika kakak tadi mengantarkan obat yang dititipkan mommy kepada kakak" Jawab Arianna pelan juga.
"Tuan kanza karena kau sudah mengenal kami, jadi kami harap kau mau menutupi identitas kami!" Pinta Arianna.
"Ahh, tentu saja nona Aria dan nona Bria. Saya pasti akan ikut serta menutupi jati diri kalian kepada publik" Ucap Arkanza dengan membalas perkataan Arianna.
"Karena kedua adikku sekarang berada disini, maka bedakan lah" Tutur Alkenzo.
"Aku sudah bisa membedakannya sebagaimana aku bisa membedakan kau dan Alzie" Jawab Arkanza.
"Brianna: Warna mata hitam, tidak terlaly tinggi, berprofesi sebagai dokter! Sedangkan Arianna: Memiliki warna mata biru laut, sedikit tinggi dan berprofesi sebagai model. Aku sudah bisa membedakannya bukan?" Jelas Arkanza.
"Kau benar, dan kami mengakuinya" Jawab Arianna dan Brianna secara bersamaan.
'Ohh tidak, pandanganku perlahan menjadi buram. Tidak! Tidak boleh! Aku tidak boleh membuat adik-adik khawatir denganku' Batin Alkenzo.
"Kakak, kau..."
"Kakak tidak apa-apa Bria!"
"Kakak kali ini saja.... Tolong dengarkan ucapan dan perkataanku" Pinta Brianna dengan lirih.
"Maaf Bria, kakak tidak bisa! Karena hari ini kakak ada sebuah meeting penting. Yang harus kakak hadiri" Lirih Alkenzo pelan dengan sekuat tenaga menahan rasa sakit yang kini tengah menyerang kepalanya.
"Pergi pulang dan beristirahat. Mulai hari ini daddy akan mengambil alih perusahaan untuk sementara waktu, sampai kau benar-benar kembali pulih daddy baru akan menyerahkan kembali perusahaan kepadamu" Titah seseorang yang kini tengah berada diambang pintu ruangan dengan memasang wajah datar dan ingin.
"Daddy"
"Daddy"
"Daddy"
"Uncle"
"Tapi daddy--"
"Bawa Alzo pulang ke mansion! Dan titahkan beberapa anak buah Dirga Grup untuk menjaganya dan mengawasinya" Ujar Alvaro dengan memberikan perintah kepada Ray dan Rey, Yaa! Jadi yang datang adalah Alvaro.
Alvaro kini datang kembali ke perusahaan miliknya setelah sekian lama, bahkan kedatangan nya kini mampu menggemparkan seluruh karyawan perusahaan Dirgantara Company. Mereka semua berfikir bahwa pasti telah terjadi sesuatu kepada perusahaan Dirgantara Company hingga membuat Alvaro kembali turun ke perusahaan lagi.
Tapi sebagian karyawan Dirgantara company yang baru, mereka masih belum mengenal jelas tata cara yang digunakan ketika Alvaro memimpin jadi mereka semua kini tengah merasa was-was terhadap pekerjaannya, karena mereka tidak ingin Alvaro memecat mereka dari pekerjaaan nya. Padahal Alvaro tidaklah sekejam itu kepada bawahannya! Alvaro hanya akan memecat karyawan yang tidak bisa diandalkan dan tidak bisa diatur saja tidak selebihnya.
"Baik tuan" Jawab Ray dan Rey secara bersamaan dengan membungkukkan tubuhnya sebagai tanpa menghormati.
"Tuan muda, mari ikut kami" Ajak Ray dan Rey dengan sopan dan lembut kepada Alkenzo.
"Aku tidak bisa menentang keputusanmu daddy" Kata Alkenzo dengan menarik nafasnya berat.
Setelah mengatakan itu, Alkenzo langsung saja dibawa pergi oleh Ray dan Rey menuju mansion dirgantara. Tidak lupa dengan tiga dokter hebat yang kini tengah menunggunya di bawah lobby kantor, serta beberapa anak buah Dirga Grup yang juga ikut serta dalam menjaga Alkenzo saat ini.
..."Ada apa dengan tuan Alkenzo? Mengapa ia dibawa oleh tuan Ray dan tuan Rey?"...
..."Lihatlah ada tiga dokter hebat yang terkenal itu! Mengapa mereka berada disini?"...
..."Apakah tuan Alkenzo sedang sakit?"...
..."Mungkinkah begitu, dan lihatlah... Wajah tuan Alkenzo sangat pucat dan merah! Mungkinkah tuan Alkenzo benar-benar sedang sakit? Lalu bagaimana dengan perusahaan?"...
..."Mungkinkah kedatangan tuan besar Alvaro ada kaitannya dengan ini? Apakah tuan besar Alvaro akan kembali memimpin perusahaan?"...
..."Sepertinya begitu, jadi...."...
..."Kita akan kembali seperti dulu, yang mana penjagaan perusahaan akan lebih ketat dengan adanya anak buah Dirga Grup dan Tara Grup"...
..."Tapi ini lebih mengasikkan"...