My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Aldo Putra Atmadja



...Keesokan harinya......


...Kusuma Grup...



"Akhirnya kita bisa bekerja di perusahaan Kusuma Grup, rasanya aku sangat bahagia dan benar-benar tidak percaya akan semua ini" Kata Tania dengan tersenyum bahagia menatap setiap sudut bangunan kantor Kusuma Grup yang sangat mewah itu.


"Hm'hmm, kau benar Tania! Akhirnya setelah sekian lama kita bisa masuk kedalam perusahaan Kusuma Grup. Yaa, walaupun niat awalnya kita ingin masuk ke dalam perusahaan Dirgantara Company. Hahaha" Tawa Zea dengan bahagia pula.


"Kau benar hahahaha" Jawab Tania.


"Sudah-sudah, sebaiknya kita cepat selesaikan tugas kantor ini... Jika tidak kita akan dihukum oleh manager Vivian" Ujar Zea yang dibalas anggukan kepala oleh Tania.


Setelah mengucapkan kata terkahir tersebut, kini Zea dan Tania pun mulai fokus terhadap pekerjaan nya. dalam keadaan hening dan tenang tentunya.


...*****...


...Ruangan Alkenzie...


"Leo, apa semuanya sudah selesai?" Tanya Alkenzie dengan datar kepada sekertaris nya itu.


Masih ingat dengan Nathania? Yang mana Nathania adalah sekretaris pribadi kepercayaan Queena saat itu? Yupsss... Pasti masih. kini sekertaris Nathania sudah tidak lagi bekerja di perusahaan Kusuma Grup karena ia sudah memilih untuk tidak bekerja lagi dengan alasan ia ingin menjadi seorang ibu rumah tangga saja... Jadi sekarang Leo tepatnya putra dari Nathania lah yang kini telah menggantikan posisi Nathania menjadi sekertaris pribadi Alkenzie saat ini.


Selama Leo menggantikan posisi ibu nya menjadi sekertaris pribadi di perusahaan Kusuma! Leo sama sekali belum pernah membuat kesalahan... Dan Leo adalah pria yang sangat jujur serta berbakat sama seperti Nathania ketika masih menjadi sekertaris pribadi Queena... Leo dan Nathania bahkan sempat berjanji akan selalu setia kepada perusahaan Kusuma sampai keturunan nya nanti.


Queena pun sendiri bahkan mempercayai itu bahkan Queena sendiri telah menganggap keluarga Nathania adalah saudaranya... Queena memang seperti itu, bila ada yang baik terhadapnya dan setia terhadap nya. Maka ia akan membalasnya dengan berkali-kali lipat kebaikan orang tersebut! Bahkan Alvaro yang sebagai suaminya sendiri terkagum dengan sifat Queena istri tercinta nya itu.


"Sudah tuan, Semua sudah selesai... karyawan-karyawan yang baru kini sudah masuk semua hari ini, dan para karyawan-karyawan yang sudah membuat onar kini sudah keluar dari perusahaan dan bahkan telah saya blacklist dalam buku daftar hitam" Jawab Leo dengan hormat.


"Hmmmm, baguslah! Leo tolong kau ingatkan kepada manager Vivian untuk tidak menerima sembarangan orang yang ingin bekerja di perusahaan Kusuma Grup... Jika aku masih melihat orang-orang yang selalu berbuat onar maka aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman kepada Vivian. Karena bagaimana pun juga Vivian adalah penanggung jawab seluruh karyawan disini, kau mengerti Leo?" Kata Alkenzie dengan nada sedikit dingin terhadap Leo karena memang dirinya tidak bisa sedingin sang kakak yaitu Alkenzo.


"Mengerti tuan, saya akan menyampaikan pesan anda kepada manager Vivian nanti! Karena pertama-tama saya ingin menyampaikan jadwal agenda anda hari ini" Balas Leo dengan mengangguk kecil.


"Hmmmm" Dehem Alkenzie.


"Hari ini anda akan ada rapat dengan perusahaan Dirgantara Company, Williams Grup, Atmadja Grup dan Alexander Grup. Anda akan mengadakan rapat di Cafe,K siang nanti bersama presdir-presdir dari setiap perusahaan yang saya beri tahu tadi. Lalu... Setelah rapat anda akan ada jadwal pengecekan di Kusuma Hospital bersama dengan saya dan jadwal hari ini hanya itu saja" Ucap Leo dengan membacakan agenda jadwal Alkenzie hari ini.


"Mengapa jadwal rapatku hari ini dengan semua perusahaan milik saudaraku semua?" Tanya Alkenzie dengan kebingungan.


"Karena memang pada dasarnya anda harus membahas proyek kerja sama yang tengah dibangun saat ini, yang mana proyek tersebut berada dibawah naungan perusahaan Dirgantara Company yang memang melibatkan seluruh perusahaan saudara anda... Karena proyek ini sebenarnya memang sudah lama dibuat oleh direktur sebelumnya atau lebih tepatnya nyonya besar" Jelas Leo.


"Aku mengerti... Apakah jadwalku benar-benar sudah tidak ada lagi?" Balas Alkenzie dengan mengangguk kecil dan kembali bertanya.


"Sudah tidak ada tuan, hanya itu saja" Jawab Leo kembali.


"Hmmm, kalau begitu kembalilah ke ruanganmu Leo! Dan bereskan dokumen-dokumen yang akan kita bawa nanti saat rapat" Titah Alkenzie kepada Leo.


"Baik tuan, kalau begitu saya pamit undur diri untuk melaksanakan tugas yang anda berikan" Pamit Leo dengan hormat.


"Hmmmm, pergilah" Balas Alkenzie.


Setelah mendapat balasan, Leo pun langsung saja segera pergi dari ruangan Alkenzie karena dirinya harus segera membereskan sisa-sisa dokumen yang akan ia bawa nanti ketika akan memulai rapat. Lalu Alkenzie... Iapun kini mulai kembali mengerjakan pekerjaannya dengan sangat fokus dan tenang setelah kepergian nya Leo.


...*****...


...Dirgantara Company...



...Ruangan Alkenzo...


"Tuan" Panggil seseorang yang mana orang tersebut adalah sekertaris pribadi milik Alkenzo yang bernama Dion sahabat dari Leo.


"Hmmmm" Dehem Alkenzo yang sama sekali tidak memalingkan pandangannya kearah Dion, karena Alkenzo kini tengah fokus menatap layar laptopnya tanpa memperdulikan kehadiran Dion sang sekretaris.


"Saya datang kemari, Ingin menyampaikan jadwal agenda anda hari ini tuan" Kata Dion dengan hormat.


"Katakan" Jawab Alkenzo singkat dengan nada datarnya.


"Siang nanti, anda akan ada rapat dengan perusahaan Kusuma Grup, Atmadja Grup, Williams Grup, dan Alexander Grup. Untuk membahas sebuah proyek yang kemarin baru diselesaikan... Lalu setelah itu anda akan pergi ke Dirgantara Mall untuk mengecek kondisi gedung yang ada disana! Dan juga anda akan pergi mengecek gedung Hospital Dirgantara karena jadwal pengecekan kedua gedung tersebut terdapat di hari ini" Jelas Dion yang juga membacakan agenda jadwal Alkenzo hari ini sama seperti Leo tadi kepada Alkenzie.


"Hmmmm, ada lagi?" Tanya Alvaro yang kini mulai menatap wajah Dion.


"Sudah tidak ada tuan" Jawab Dion dengan menunduk hormat.


"Pergilah" Titah Alkenzo lalu kembali menatap layar laptop nya miliknya.


"Baik tuan" Ucap Dion dengan membalas Alkenzo, lalu dengan cepat iapun langsung saja pergi dari ruangan Alkenzo yang sangat menakutkan itu baginya.


'Huuuffff, untung saja tuan Alzo menyuruhku keluar dengan cepat. Jika tidak... Aku tidak yakin sampai mana aku bisa bertahan berapa lama di dalam ruangan yang dingin itu... Bukan karen pendinginan ruangan tapi karena tuan Alzo sendirilah yang membuat ruangan tersebut menjadi lebih dingin' Batin Dion.


...Dretttt... Dretttt......


Alkenzo yang mendengar suara getaran di hendphone nya langsung saja menatap layar hendphone nya yang mana kini tengah mendapat sebuah telpon dari seseorang. Dengan tertera nama "My baby 2(Aria)" yang tertera dilayar hendphone milik Alkenzo.


"Arianna?" Gumam Alkenzo kecil dengan mengerutkan keningnya lalu mulai menekan tombol geser untuk menjawab panggilan telpon masuk tersebut.


...Callon...


My baby 1(Aria)📞: Kakak


^^^Alkenzo: Ada apa?^^^


My baby 1(Aria)📞: Kakak, bisakah kau menemaniku nanti?


^^^Alkenzo: Kemana?^^^


My baby 1(Aria)📞: Kerumah sakit tempat Bria bekerja, Tidak! Tidak! Lebih tepatnya ke Dirgantara Hospital


My baby 1(Aria)📞: Baiklah, terimakasih kakak! Kalau begitu dahh.. Sampai bertemu nanti! Aku mencintaimu


^^^Alkenzo: Hmmmm, too^^^


Tut.


"Ada-ada saja" Gumam kecil Alkenzo dengan tertawa kecil.


...Mansion Dirgantara...



"Alan" Panggil seseorang dengan berbisik pelan memanggil Alan yang tengah asik menonton TV diruang tamu.


"Paman?" Jawab Alan dengan pelan, lalu perlahan mulai mendekat kearah seseorang yang tadi memanggilnya "Paman" pasti kenal dengan sebutan itu bukan? Yaa, dia adalah Aldo yang tadi memanggil Alan dengan berbisik.


"Paman, ada apa?" Tanya Alan dengan menatap wajah tampan Aldo.


"Dimana mommy mu?" Tanya Aldo dengan menatap sekitarnya.


"Mommy sedang berada di dapur, kalau daddy ia sedang berada diruang kerjanya! Ada apa memangnya paman?" Tanya Alan kembali dengan menatap aneh wajah Aldo.


"Shutttt!! Jangan bersisik... Paman kesini untuk membawamu keluar. Alan mau kan pergi bermain dengan paman keluar?" Jawab Aldo dengan menutup bibir mungil Alan dengan telunjuknya.


"Mau" Jawab Alan dengan cepat.


"Kalau begitu Alan tidak boleh berisik. Karena kita akan pergi tanpa izin dari mommy mu" Bisik Aldo kembali dengan mengedit satu matanya.


"Mengapa paman tidak ingin meminta izin kepada mommy terlebih dahulu? Alan takut nanti mommy mencari Alan dan khawatir dengan Alan jika Alan pergi tanpa berpamitan dengan mommy" Kata Alan dengan wajah imutnya.


"Biarkan mommy mu mencarimu. Paman yakin nanti mommy m--" Ucap Aldo terpotong karena tiba-tiba saja telinganya ditarik oleh seseorang dari arah belakang dengan begitu kerasnya.


"Aww! Aww! telingaku..." Kata Aldo dengan kesakitan karena telinganya ditarik dengan keras dari arah belakang oleh seseorang.


"Daddy" Panggil Alan.


...Glekkkk...


'Kukira kucing (Queena) ternyata singa (Alvaro)' Batin Aldo.


"Uncle Al" Panggil Aldo dengan wajah terkejut menatap wajah dingin Alvaro.


"Kenapa?" Tanya Alvaro dengan datar dan tangannya yang masih setia menarik telinga milik Aldo.


"Uncle, tolong lepaskan tanganmu. Ini menyakitiku..." Pinta Aldo dengan tersenyum kecut.


"Ohhh" Kata Alvaro dengan ber 'oh' saja dan itupun membuat Aldo tercengang dengan jawaban dari Alvaro.


"Aldo, katakan apa yang kau rencanakan?" Tanya Alvaro dengan memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya karena kini Alvaro telah melepaskan tangannya dari telinga Aldo.


"Tidak ada uncle" Jawab Aldo cepat sambil menggelengkan kepalanya.


"Benarkah?" Tanya Alvaro dengan menatap tajam wajah tampan Aldo.


"Tentu saja" Balas Aldo dengan mengangguk kecil.


"Paman is lying" Celetuk Alan dengan tersenyum manis menatap wajah Aldo tanpa rasa bersalah.


"Tidak! Tidak!" Elak Aldo dengan cepat.


"Pilihanmu hanya dua Aldo, memberi makan keluarga kecil Anva atau... Berkata jujur" Ujar Alvaro datar.


"Aku akan jujur, aku hanya ingin mengajak Alan untuk pergi keluar saja! Hanya itu saja... Tapi... Tanpa meminta izin dari aunty ku" Kata Aldo dengan cepat menjawab jujur.


"Hanya itu?" Tanya Alvaro menatap intens wajah Aldo dalam.


"Tidak ada lagi, bila kau tidak percaya kau bisa bertanya kepada Alan. Bukankah Alan selalu berkata jujur?" Tutur Aldo.


"Baiklah, kali ini uncle percaya" Jawab Alvaro dengan mengangguk kecil.


"Baiklah, uncle karena aunty tidak ada jadi aku akan meminta izin kepadamu saja untuk membawa Alan pergi keluar bersamaku" Izin Aldo kepada Alvaro.


"Hmmmm, pergilah tapi ingat! Jangan sampai putra kecilku terluka nanti atau kau akan aku kembalikan ke habilitas mu" Ingat Alvaro kepada Aldo.


"Siap uncle, kalau begitu kami pergi dulu... Dahh" Jawab Aldo lalu ia pun langsung saja menggendong tubuh mungil Alan kedalam dekapannya.


"Hmmmm" Dehem Alvaro.


"Dahh, daddy" Ucap Alan dengan melambaikan tangannya.


"Dah, boy! Berhati-hatilah" Balas Alvaro dengan tersenyum sambil membalas lambaian tangan dari Alan putra Kecilnya itu.


"Suamiku" Panggil Queena yang baru saja datang dengan membawa piring cemilan ditangannya.


"Ada apa sayang?" Jawab Alvaro dengan tersenyum manis menatap wajah cantik Queena.


"Alan? Dimana dia..." Tanya Queena dengan mencari keberadaan Alan putra kecilnya itu ke sekeliling ruang tamu.


"Pergi bersama Aldo, keponakan nakal mu itu" Balas Alvaro dengan memeluk erat tubuh Queena dari belakang.


"Pergi? Bersama Aldo? Kemana" Tanya Queena balik dengan mengerutkan keningnya.


"Aku tidak tau"


"Kau tidak izin denganku?"