
"Lepaskan tanganku, Alvaarooooo!!" Teriak Queena yang kini tengah dibawa paksa oleh Alvaro keluar mansion yang tengah hujan deras.
"Tidak... Sebelum kau menerima hukuman'mu Queena" Kata Alvaro dengan terus menarik lengan Queena, untuk membawa Queena keluar dari Mansion Alqueen.
"Alvaro, tapi diluar sedang hujan, kau ingin membawaku kemana?" Tanya Queena yang masih terus saja memberontak agar Alvaro mau melepaskan lengannya yang ditarik paksa secara kasar.
"Keluar" Jawab Alvaro singkat.
"Tidaaakkkkk!" Balas Queena.
"Keluar, kau harus menjalankan hukuman'mu!" Tegas Alvaro.
"Keluuuaaar!!" Tegas Alvaro.
...Bruuukkkk...
Karena Queena tidak mau mendengarkan perintah dari Alvaro, Alvaro'pun langsung saja mendorong tubuh Queena yang berakibat Queena terjatuh ditengah guyuran hujan yang sangat derasnya, lalu... Alvaro'pun langsung saja menutup pintu mansion hingga bahkan menguncinya agar Queena tidak bisa masuk kedalam mansion.
"Auuuwww" Rintih Queena yang kesakitan karena Alvaro mendorongnya begitu keras.
...Braaaakkk...
...Braaaaakkk...
...Braaaaakkk...
"Alvaro... buka pintunya" Teriak Queena dengan menggedor-gedor pintu mansion'nya.
"Itu hukuman'mu Queena... Karena kau tidak mau menurut dengan perkataan'ku" Ucap Alvaro yang kini masih berada di belakang pintu, setelah mengucapkan itu Alvaro'pun langsung pergi menuju kamarnya dan meninggalkan Queena yang sedang berada diluar.
...Brraaakkkk...
...Braaaaakkk...
...Brraaakkkk...
"Al!"
"Alvaro, kumohon buka pintunyaaaa... Alvaro" Teriak Queena yang terus memukul-mukul pintu mansionnya.
"Hikssss... Al, kumohon buka pintunya... disini sangatlah dingin. Aku takut" Lirih Queena dengan terduduk lemas sambil menutup kedua telinganya.
...Jeduaarrrrrr...
"Aaaaaaaaaaaa"
"Alvaarooooo!!"
"Alvaro buka pintunyaaaa... Hikssss... hikssss..." Histeris Queena yang terus saja berteriak memanggil nama Alvaro, agar Alvaro mau membukakan pintu masuk untuknya.
"Hikssss... Bunda, Ayah, Angel takut! hikssss... hikssss..." Tangis Queena dengan memeluk kedua kakinya sambil menyebut nama panggilan kecilnya, yaitu Angel.
...Jeduaarrrrrr...
"Aaaaaaaaaaaa"
"Buundaaaa"
"Hikssss... hikssss...." Histeris Queena.
"Alvroooo, buka pintunyaaaa!! hikssss.." Teriak Queena kembali meminta Alvaro untuk membuka kan pintu mansion'nya, karena ia sangat takut saat ini.
Saking takutnya, kini tak terasa tubuh mungil Queena bergetar hebat akibat kedinginan dan ketakutan yang ia dapatkan saat ini.
"Bundaaaaa... Ayahhhh... Angel takut, hikssssksss... hikssss... hikssss...." Teriak histeris Queena dengan terus memeluk kedua kakinya, dengan sangat erat! bahkan air mata Queena terus saja keluar dari pelupuk matanya. Hingga tanpa diketahui telah tercampur dengan air hujan, bahkan kini Queena juga tidak bisa membedakan mana air matanya dan mana air hujan karena keduanya benar-benar mirip.
...Jeduaarrrrrr...
"Aaaaaaaaaaaa"
"Alvaro maafkan akuuu... hikssss, aku takut! aku mohon maafkan aku hikssss... hikssss..." Lirih Queena.
...*****...
...Kamar Amanda...
"Sialan, kau Queenaaaaa"
"Aku pasti akan membalas atas apa yang kau lakukan kepada rambutku" Geram Amanda dengan membenarkan rambutnya kembali akibat ulah Queena tadi yang menjambak rambutnya itu hingga membuat rambutnya kusut, berantakan dan rusak.
"Hehhhh"
"Tapi... aku sangat puas karena Alvaro menghukum'mu diluar yang tengah hujan derasnya" Kata Amanda dengan senangnya.
"Dan aku juga tidak akan membiarkan Angel datang kembali ke-kehidupan Alvaro, karena Alvaro hanyalah milik diriku seorang. Hanya milik Amanda Anastasya tidak dengan yang lain, hahahaha..." Sarkas Amanda dengan tertawa jahat.
"Aku pastikan bahwa aku akan menyingkirkan semua penghalang antara diriku dan Alvaro, hehhhh. Aku Amanda Anastasya bersumpah akan menghancurkan semua orang yang ingin menghalangi jalanku untuk mendapatkan Alvaro!" Kata Amanda.
"Queena.. Tunggu saja! Kau adalah target pertamaku setelah itu baru Angel!" Gumam Amanda.
...*****...
...Kamar Alqueen...
"Apakah aku sudah benar dengan menghukum Queena saat ini?" Tanya Alvaro kepada dirinya sendiri sambil mengintip Queena dari jendela kamarnya.
"Queena takut dengan petir?" Gumamnya dengan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
...Deeeggghhhh...
"Ada apa dengan dadaku? mengapa tiba-tiba saja terasa sakit dan sesak setelah melihat Queena seperti itu" Lirih Alvaro dengan memegangi dadanya yang terasa sakit setelah melihat Queena yang ketakutan setengah mati terhadap petir saat ini yang berada di luar halaman mansion.
...Dreeetttt... Dreeetttt......
...Callon...
'Halo, Al' Ucap di sebrang sana yang tak lain adalah Maura yang menelpon Alvaro secara tiba-tiba dimalam hari seperti ini.
'Iyaa, halo. Ada apa Mommy?' Tanya Alvaro yang mendapat telpon dari Maura.
'Al, apa kau sedang bersama dengan Queena, nakk!' Tanya balik Maura dengan nada Khawatir.
'I--iya, memangnya ada apa mommy' Tanya kembali Alvaro.
'Apa kau tau nakk? Queena sangatlah takut dengan petir, jadi Mommy mohon jika ia berteriak ketakutan kau harus memeluknya agar ia tenang... Apa kau mengerti nakk' Ujar Maura yang sekaligus bertanya kepada putra semata wayangnya itu.
'Dari mana Mommy tau jika Queena sangatlah takut dengan petir?' Tanya Alvaro yang kebingungan.
'Itu... Itu... Itu karena Queena sendiri yang memberitahukan kepada Mommy pada saat Mommy sedang bersama dengannya!' Bohong Maura dengan meyakinkan Alvaro.
'Kapan kau bersama dengan Queena? Setahu'ku Queena tidak pernah menginjakkan kakinya keluar tanpaku atau tanpa memberitahuku? Lalu... Mengapa Queena bisa bersama denganmu, Mommy?' Tanya Alvaro kembali dengan menyudutkan Maura.
'Itu... pada saat kau belum menikah dengan Queena, Al!' Jawab Maura.
"Aaaaaaaaaaaa"
'Al, bukankah kau bilang Queena sedang berada di dekatmu? lalu... mengapa Mommy mendengar suara teriakan Queena yang sangat jauh?' Tanya Maura dengan cemas karena ia yakin saat ini Alvaro putranya tengah membohongi'nya pasti.
'Queena sedang di kamar mandi Mommy, makanya suara teriakan'nya agak sedikit jauh dariku, yasudah kalau begitu aku akan menutup telponnya! Aku ingin melihat Queena terlebih dahulu' Bohong Alvaro lalu segera mematikan telepon genggam miliknya agar Maura tidak terus-menerus menyudutkannya dengan pertanyaan-pertanyaan yang bisa membuatnya mengakui kebohongan'nya nanti.
Tut.
"Maafkan aku mommy, karena harus berbohong padamu!" Gumam Alvaro lalu melempar hendphonenya ke sembarang arah begitu saja.
"Alvaarooooo"
"Maafkan akuuuuuuuu"
"Agrahhhh... apa yang harus aku lakukan sekarang?" Teriak Alvaro yang frustasi.
...*****...
"Hikssss... hikssss... Buundaaaa, hikssss... Bunda aku takut! hikssss..." Isak Queena yang terus memeluk kedua kakinya dan terduduk lemas ditengah hujan yang begitu derasnya.
...Jeduaarrrrrr...
"Huuuwaaaaaaa"
"Bundaaaaa... Bunda... Aku takut hikssss... hikssss... Bundaa kumohon tolonglah aku hikssss..." Jerit Queena dengan menutup kedua telinganya.
"Aku takut" Lirih Queena.
...Grepppp ...
"Maafkan akuuuu!!" Kata seseorang yang datang dengan memeluk tubuh Queena dengan erat yang mana tengah bergetar dengan hebat karena ketakutan.
"Hikssss... hikssss... Alvaro, hikssss... Alvaro aku takut! kumohon maafkan akuuuu. Jangan hukum aku seperti ini!! Hikssss... Aku sangatlah takut" Tangis Queena sejadi-jadinya dengan memeluk tubuh Alvaro dengan erat. Yaa, Jadi yang datang memeluk tubuh Queena adalah Alvaro.
"Tenang Queena, sekarang ada aku disini bersamamu... Jangan menangis lagi, Jangan takut! aku sudah ada disini. Bersamamu" Tutur Alvaro dengan menenangkan Queena, lalu... Alvaro'pun langsung saja menggendong tubuh Queena ala bridal style. Dan pergi membawa Queena untuk masuk kedalam mansion agar Queena bisa tenang dan tidak kembali menangis hingga berteriak-teriak seperti tadi.
"Hikssss... hikssss... Aku takut Al!" Isak Queena yang memeluk erat tubuh Alvaro bahkan Alvaro bisa merasakan getaran hebat yang keluar dari tubuh Queena, Karena saking takutnya dengan Suara Petir.
"Maafkan aku, Queena" Bisik Alvaro kepada Queena.