My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Perubahan Alvaro



...Mansion Dirgantara...



"Masuk ke kamar mu lalu istirahatlah" Titah Alvaro datar lalu mulai pergi melangkahkan kakinya kembali menuju kamar nya.


"Daddy" Panggil Brianna pelan tapi masih mampu terdengar ditelinga Alvaro. Hingga membuat Alvaro pun menghentikan langkahnya kakinya.


"Ada apa?" Tanya Alvaro dengan membalikkan tubuhnya lalu menatap wajah sang putri.


"Maafkan aku" Kata Brianna dengan menundukkan kepalanya kebawah.


"Untuk apa kau meminta maaf?" Tanya Alvaro kembali dengan nada datar sama seperti tadi.


Brianna tidak lagi membalas pertanya an dari sang daddy karena Brianna tau, jika sang daddy sudah menunjukkan sifat datar dan dingin nya berarti sang daddy tengah marah kepada nya! Bukan hanya Brianna saja yang tau mengenai itu tapi Arianna, Alan, Alkenzo serta Alkenzie pun juga mengetahui hal tersebut.


Makanya ketika Alvaro yaitu sang daddy kembali bertanya kepada nya kembali, Brianna tidak kembali berani menjawab karena ucapan dan perkataan Alvaro kini sangatlah datar.


"Brianna?"


"M--maaf soal tadi daddy, ak--aku tidak bermaksud seperti--" Lirih Brianna pelan dengan terpotong oleh perkataan Alvaro lebih dulu.


"Lupakan... Daddy sedang tidak ingin membahas tentang sebuah masalah kali ini, karena masalah kakak mu saja belum selesai. Daddy berharap kau tidak lagi menambahkan masalah lagi untuk kedua kalinya apa lagi masalah dengan pria itu" Potong Alvaro dengan cepat.


"Daddy tapi--"


"Brianna Angelina Dirgantara" Panggil Alvaro dengan menekan nama panjang Brianna sang putri sambil menatap tajam wajah cantik tersebut.


"Maafkan aku, ak--aku pamit. Aku ingin beristirahat" Pamit Brianna lalu setelah itu iapun mulai pergi menaiki anak tangga lebih dulu dari sang daddy menuju kamar nya.


"Suamiku! Seharusnya kau tidak seperti tadi, kau tau perasaan nya tapi mengapa kau masih seperti itu?" Tutur Queena yang sedari tadi hanya diam kini akhirnya mulai membuka suaranya.


"Biarkan ia berfikir dua kali dan matang-matang, Apakah kali ini keputusan nya sudah benar? Jika ia salah dan gagal kembali. Maka kau akan benar-benar menikahkan nya kepada putra seseorang" Jawab Alvaro dengan dingin.


"Seharusnya kau lebih membimbing-nya saat ini, bukan malah kau seperti ini. Kau tau bagaimana sifat putrimu. Tapi tetap saja, pendirian mu tetaplah pendirian mu" Kesal Queena lalu pergi begitu saja untuk menghampiri sang putri.


"Jangan terlalu memanjakan nya Anna. Dia susah besar, dia harus tau mana yang baik mana yang buruk untuk dirinya sendiri sekarang!!" Teriak Alvaro dengan marah hingga mampu menghentikan langkah kaki Queena sampai-sampai Queena terhenti di tengah-tengah anak tangga setelah mendengar teriakkan dari sang suami.


"Aku? Memanjakan putriku? Kau bilang aku terlalu memanjakan mereka... Apa kau yakin suamiku? Hmmmm bukankah selama ini aku selalu biasa kepada putra dan putriku. Aku tidak pernah memanjakan mereka bukankah kau sendiri yang sudah memanjakan mereka?" Marah Queena dengan menatap tajam wajah sang suami.


"Tanpa kau sadari kau sudah terlalu memanjakan nya Anna. Pernahkan kau sadar? Tidak" Kata Alvaro kembali.


"Jangan mencari ribut denganku saat ini! Saat ini keluarga kita tengah teritimpa sebuah masalah, jangan kau menambahkan nya dengan pertengkaran kita kali ini suamiku" Ujar Queena.


"Sudah cukup kesebaran ku menangani setiap masalah yang ada khusus nya putra dan putriku, kali ini aku akan kembali mendidik keras mereka berlima mulai hari ini. Sampai disini kita berdua memanjakan mereka, ini sudah saat nya kita melepas mereka karena mereka sudah besar" Tegas Alvaro kepada Queena sang istri.


"Cukup. Kenapa kalian berdua bertengkar malam-malam seperti ini? Putra kecil kalian sudah tidur dengan pulas tapi karena kalian bertengkar ia kembali terbangun" Marah Zayyann dengan menghampiri Queena dan Alvaro saat ini.


"Uncle"


"Uncle"


"Ada apa dengan kalian? Hmmmm, aunty tidak pernah berfikir bahwa kalian berdua bisa seperti ini? Tidak biasanya kalian berdua seperti ini, mengapa setelah pulang dari rumah sakit kalian malah seperti ini" Celetuk Alea dengan menatap marah kepada Queena dan Alvaro.


Alvaro pun tidak menjawab, karena tiba-tiba saja ia pergi begitu saja tanpa berpamitan kembali seperti sebelumnya, entah apa yang terjadi dengan nya saat ini hingga membuat Queena sendiri tidak mengerti akan dirinya begitu juga dengan Alea dan Zayyann.


"Mommy" Panggil Alan pelan sambil mengusap-usap kedua matanya yang mana dirinya kini tengah berada di dalam pangkuan Alea.


"Aunty berikan Alan padaku" Pinta Queena dengan merentangkan kedua tangannya untuk mengambil putra kecilnya itu dari tangan sang Aunty.


"Maafkan mommy, kau sangat mengantuk bukan? Maka tidurlah kembali. Mommy akan menemani mu" Kata Queena pelan dengan mengusap pelan rambut sang putra untuk membuat sang putra kembali tertidur.


"Emmmmmm"


"Aunty, uncle. Maaf karena kami berdua sudah membuat waktu istirahat kalian terganggu. Sekarang kalian berdua bisa kembali berisitirahat, tidak apa jangan mengkhawatirkan diriku aku baik-baik saja" Tutur Queena lembut.


"Ada apa dengan suamimu sebenarnya?" Tanya Alea dengan lembut kembali.


"Tidak tau, tapi mungkin saja ia terlalu pusing dengan apa yang tengah terjadi saat ini. Masalah Alzo, masalah perushaan dan masalah Bria saat ini, mungkin saja membuatnya pusing hingga tanpa sadar dirinya kehilangan kendali penuh atas dirinya, hingga ia tidak sadar saat ini" Jawab Queena.


"Aku akan berbicara baik-baik dengan nya nanti, Jangan khawatir! Kejadian tadi tidak akan terulang kembali. Aku akan memastikan hal itu jadi kalian berdua bisa kembali berisitirahat sekarang" Kata Queena kembali kepada sang aunty dan sang uncle.


"Baiklah sayang, kalau begitu uncle dan aunty kembali ke kamar. Kau berisitirahat juga" Balas Zayyann lalu mulai pergi kembali ke kamarnya bersama dengan Alea yang mengikutinya dari belakang.


"Alan sayang, tidur lagi yaaa... Mommy akan membawamu ke kamarmu sekarang" Tutur Queena dengan lembut kepada sang putra.


"Emmm, mommy ada apa sebenarnya? Mengapa daddy tadi memarahi mu" Tanya Alan dengan suara serak nya.


"Shutttt... Sudah. Lanjutkan tidur mu, jangan memikirkan mommy dan daddy kembali" Kata Queena dengan lirih.


"Baiklah"


"Tolong usap rambutku kembali, aku ingin tertidur lagi" Pinta Alan kepada sang mommy.


"Baiklah-baiklah" Jawab Queena lalu mulai pergi menuju kamar sang putra kecilnya itu, sambil mengelus-elus pelan rambut sang putra agar sang putra bisa kembali tertidur.


Karena pada dasarnya, jika Alan ingin tertidur harus ada seseorang yang mengelus rambut nya terlebih dahulu agar ia bisa cepat tertidur dengan pulas.