My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Perjuangan Zanitha



Dua jam sudah berlalu, setelah kepergian nya Zanitha! Alvaro memutuskan untuk menunggu Zanitha kembali dan tidak jadi mengirim putranya Alkenzo untuk pergi kerumah sakit yang berada di london. Karena Alvaro percaya dengan apa yang akan dilakukan oleh Zanitha kepada putranya.


Entah mengapa, entah karena apa, dan entah bagaimana caranya Alvaro bisa sangat mempercayai Zanitha. Bahwa putranya pasti akan sembuh dan bisa kembali pulih seperti sedia kala nanti dan itu semua berkat Zanitha nantinya. Itulah yang ia yakinkan saat ini begitu juga dengan yang lainnya tapi berbeda dengan Alkenzie.


Alkenzie malahan berfikir, apakah Zanitha benar-benar bisa menyembuhkan kakak nya itu atau tidak. Karena ia merasa aneh, hanya karena mempunyai sebuah hutang Zanitha sampai rela pergi mencari bahan-bahan obat herbal bahkan mau membantu dan merawat sang kakak! Alkenzie merasa ada yang janggal dengan Zanitha saat ini. Entah itu apa.


"Suamiku, sudah dua jam lamanya! Apakah wanita cantik itu ahh maksudku apakah Zanitha benar-benar ingin membantu putra kita? Mengapa sampai saat ini ia masih belum datang" Tanya Queena dengan nada khawatir karena sudah berjam-jam Zanitha pergi dan belum kembali lagi.


"Jangan cemas, ia pasti akan segara datang dan membantu putra kita" Jawab Alvaro dengan nada meyakinkan.


"Aku sangat berharap! Karena kondisi Alzo saat ini benar-benar sangat--"


...Ceklekkkk...


Mendengar suara pintu yang terbuka, semua orang pun kini menatap kearah pintu yang mana kini terdapat Zanitha! Yang datang dengan membawa sesuatu ditangannya.


"Nak!! Kau?" Terkejut Queena hingga berdiri dari duduknya dan langsung menghampiri Zanitha.


"Aku sudah kembali nyonya, maaf telah membuat kalian semua menungguku terlalu lama. Aku sudah berhasil mencari bahan-bahan herbal yang tuan Alzo butuhkan bahkan aku sudah membuatnya menjadi obat! Dan tinggal diberikan saja" Tutur Zanitha dengan tersenyum manis menatap semua orang, lalu iapun mulai perlahan memberikan botol minum yang mana terdapat obat herbal didalamnya kepada Queena.


"Mengapa tubuh mu begitu banyak goresan? Dan kaki mu... Mengapa tiba-tiba kau jalannya menjadi... Menjadi pincang?" Tanya Queena dengan lirih kepada Zanitha sambil perlahan memegang tangan Zanitha yang memang terdapat banyak goresan dengan ditambah kaki yang bengkak hingga jalannya menjadi pincang.


"Ahh! Ini... Ini tidak apa-apa nyonya, hanya luka kecil saja dan tidak sengaja disebabkan ketika tadi saya mengambil bahan-bahan untuk obat herbal ini dibukit tadi, mengenai kaki saya ini tidak masalah ini karena saya tidak berhati-hati disana jadi seperti ini. Tapi anda tenang saja nyonya. Yang terpenting saya sudah berhasil membuat obat herbal ini" Jawab Zanitha dengan di iringi tawa kecil dari bibir dan mulut manisnya itu.


"Bukit? Kau mengambil bahan-bahan obat ini dari bukit? Jadi, luka ini semua di dapatkan oleh mu ketika kau pergi mengambil bahan-bahan obat herbal ini atas dibukit?" Tanya Queena dengan nada tak percaya menatap wajah polos Zanitha.


"I-iya"


"Mengapa kau membahayakan dirimu sendiri hanya untuk mencari bahan-bahan obat herbal ini? Jika aku tau kau pergi mencari bahan-bahan obat ini dari bukit. Aku pasti akan melarang mu dan tidak akan pernah mebgizinkan mu nak" Ujar Queena yang merasa bersalah terhadap Zanitha.


Hanya karena mencari obat herbal untuk putranya, Zanitha wanita cantik itu harus rela berkorban. Queena sangat amat merasa bersalah terhadap wanita cantik yang ada didepannya saat ini! Entah cara apa yang harus ia lakukan untuk membalas budi baik dari Zanitha wanita cantik dan polos itu.


"Tidak apa nyonya! Anggaplah perjuangan saya mencari obat herbal ini untuk membalas sebagian budi baik dari tuan Alzo, karena sebelumnya tuan Alzo telah membantu saya. Jadi saya berhutang budi padanya" Tutur Zanitha kembali.


"Tapi nak--"


"Nyonya sebaiknya kau berikan obat ini kepada tuan Alzo, agar demam yang di deritanya bisa turun lebih cepat! Berikan dua sendok makan obat herbal ini kepada tuan Alzo tiap jam nya. Agar kondisinya bisa lebih cepat stabil dan demamnya bisa turun" Kata Zanitha.


"Hmmmm, Baiklah nak! Terimakasih" Jawab Queena dengan mengelus pelan rambut milik Zanitha.


'Dia berada di dekatmu Alzo! Tapi kau justru malah menutup matamu' Batin Alvaro.


"Sama-sama nyonya" Balas Zanitha.


"Panggil saja aku mommy. Tidak enak di dengar telinga ku jika kau terus menerus memanggil ku nyonya" Pinta Queena.


"Hmmmm, maaf! Bagaimana jika saya memanggil anda dengan sebutan tante saja" Tolak halus Zanitha.


"Hahahaha, terserah kau saja! Ohh satu hal lagi. Jangan terlalu formal denganku"


"Hmmmm, baik tante"


Setelah puas berbicara, Queena pun perlahan mendekat kearah ranjang milik Alkenzo yang kini masih setia berbaring dan menutup kedua matanya. Lalu kemudian Queena pun mulai menyuapi obat herbal tersebut kedalam mulut Alkenzo dengan perlahan-lahan agar Alkenzo mau menerima obat tersebut dan tak butuh waktu lama Alkenzo pun menerima obat tersebut hingga membuat Queena tersenyum bahagia begitu pun yang lainnya.


Sesuai ucapan Zanitha, Queena memberikan obat herbal itu dengan takaran dua sendok makan! Jadi selebihnya ia menyimpannya untuk jam-jam berikutnya. Melihat Alkenzo yang tak menolak obat herbal tersebut pun membuat Queena menjadi senang.


"Nak! Terimakasih, karena kau sudah kau membantu Alzo kami" Ucap Zayyann dan Alea secara bersamaan kepada Zanitha.


"Sama-sama nyonya, tuan"


"Panggil kami aunty dan uncle" Pinta Alea dan Zayyann.


"Baiklah"


"Kakak terimakasih telah membantu kakak ku" Ucap Brianna dan Arianna bersamaan kepada Zanitha.


"Sama-sama, aku senang bisa membantu kakak mu"


"Siapa namamu?" Tanya Brianna.


"Zanitha? Anitha? Hanya menghilangkan huruf "Z" maka akan menjadi Anitha" Gumam Brianna dengan terbengong.


"Hmmmm, tante simpanlah ini. Jika suatu saat tuan Alzo kembali demam seperti saat ini! Kau bisa membuat obat herbal ini sendiri, aku sudah mencatat setiap bahannya dan cara membuatnya jadi kau bisa langsung melihatnya dan membuatnya sendiri nanti" Tutur Zanitha dengan kembali memberikan sesuatu kepada Queena dan yang ia berikan tersebut pun adalah sebuah buku catatan kecil yang mana berisi bahan-bahan obat herbal dan tata cara membuat obat herbal penurun demam tersebut kepada Queena.


"Ini, terimakasih"


"Sama-sama, kalau begitu aku permisi untuk pulang terlebih dahulu" Izin Zanitha.


"Kau ingin pulang?" Tanya Queena.


"Benar tante"


"Obati luka mu terlebih dahulu disini, setelah itu kau baru boleh pulang" Sahut Alvaro.


"Ahh, tidak perlu tuan! Saya bisa mengobati diri saya sendiri" Tolak Zanitha dengan cepat.


"Jangan menolak! Biarkan aku mengobati luka mu terlebih dahulu" Tutur Brianna dengan menarik pelan pergelangan tangan Zanitha lalu membawa Zanitha duduk.


Setelah Zanitha duduk disofa, Brianna pun langsung saja mengambil perlengkapan alat medisnya. Lalu setelah itu Brianna pun mulai perlahan-lahan mengobati setiap luka goresan yang didapatkan Zanitha ketika tadi mengambil bahan-bahan obat herbal. Tapi ketika Brianna tengah mengobati setiap luka goresan Zanitha, mata cantik-nya tak sengaja menangkap sesuatu yang membuatnya terkejut setengah mati.


[Ini... Tidak mungkin bukan]


"Hmmm, kau... Ke-kenapa?" Tanya Zanitha dengan menyadarkan Brianna dari lamunan-nya.


"Emmmm, Ahh! Maaf aku melamun. Tidak ada apa-apa aku akan kembali mengobati mu lagi" Kata Brianna dengan tersenyum paksa.


"Hmmmm"


...*****...


"Apa kau sudah melihat Zea? Saat istirahat tadi aku sudah tidak melihatnya aku khawatir terhadapnya!!" Tanya Tania kepada Liora dan Zaza yang kini tengah bermain di apartemen milik Tania dan Zea.


Memang Liora dan Zaza kini sudah bertetangga dengan Zea dan Tania! Tepat disebelah kamar unit apartemen Tania dan Zea, Liora dan Zaza tinggal.


"Terakhir kali aku lihat Zea, ia pergi bersama tuan Alzie. Ia mengatakan padaku bahwa ia ingin membahas satu hal dengan tuan Alzie tapi Zea tidak mengatakan ia ingin membahas apa kepadaku. Jadi aku pikir yasudah nanti juga Zea kembali dan akan mengatakannya nanti tapi nyatanya sampai saat ini ia masih belum kembali" Jawab Liora.


"Tuan Alzie?"


"Hm-hm"


...Ceklekkkk...


"Zea" Panggil Liora, Tania dan Zaza secara bersamaan ketika melihat Zea yang baru saja pulang.


"Z-zea ka-kau... Ada apa denganmu?" Tanya Tania dengan khawatir.


"Aku tidak apa-apa" Jawab Zanitha dengan tersenyum manis.


"Lihat kulitmu... Mengapa penuh dengan luka?" Kata Liora dengan khawatir sambil bertanya kepada Zanitha mengapa ia bisa kembali pulang dengan keadaan yang penuh dengan luka-luka.


"Aku akan menceritakannya nanti! Tapi bisakah kalian memberiku masuk terlebih dahulu? Aku ingin masuk dan membersihkan tubuhku terlebih dahulu" Tanya Zanitha.


"Baiklah! Kau hati-hati" Jawab Zaza.


"Hmmmm"


"Tunggulah aku sebentar! Aku pasti akan menceritakan petualangan seru ku nanti kepada kalian" Teriak Zanitha dengan masuk kedalam kamarnya.


"Mengapa tubuhnya bisa penuh dengan luka goresan? Sebenarnya Zea habis berpetualang dimana" Gumam Zaza dengan bertanya-tanya.


"Kita tunggu saja Zea nanti, bukankah ia mengatakan akan menceritakan kejadian yang ia alami hari ini" Tutur Liora yang diangguki oleh Tania dan Zaza secara bersamaan.


'Sebenarnya mengapa kau tiba-tiba terluka?' Batin Tania.


'Tubuhnya penuh luka, sebenarnya apa yang ia lakukan seharian ini?' Batin Liora.


'Aku harap Zea baik-baik saja' Batin Zaza.