
'Halo' Jawab di seberang sana.
'Halo, Queena akhirnya kau menjawab telepon dari Aunty' Ucap Alea yang merasa lega.
'Maaf Aunty, aku tidak tau jika Aunty menelponku karena hendphoneku aku matikan! Maaf Aunty...'
'Aunty, apa baik-baik saja disana?'
'Kau ini! Membuat Aunty khawatir saja, Aunty hanya takut kau kenapa-kenapa dan juga Aunty menelponmu karena Aunty merindukanmu! Bagaimana kabarmu?'
'Aku baik Aunty, maaf sudah membuatmu khawatir!'
'Hmmm, tidak masalah! Tapi lain kali kau tidak boleh mematikan hendphonemu, bagaimana jika nantinya kau terjadi apa-apa untuk kedepannya! Aunty tidak ingin itu terjadi! Kau mengerti?!'
'Hahahaha, baiklah Aunty'
'Oh ya, mengapa kau yang menjawab telpon dari Aunty?'
'Karena Alvaro tidak ingin mengangkat telpon darimu, Makanya aku saja yang mengangkat telpon darimu'
"Jangan berbicara sembarangan Queena" Celetuk Seseorang dari sana yang tak lain adalah Alvaro.
'Dasar! Memangnya kalian sedang apa? Hingga tidak ingin menjawab telpon dari Aunty? Hmm'
'Kami hanya sedang membuat keponakan untukmu' Jawab Alvaro santai tanpa memperdulikan Queena yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
'Benarkah?'
'Tidak Aunty! Ia sedang berbohong, jangan percaya padanya'
'Ho'ho, Aunty percaya! Sangat-sangat percaya... Percaya dengan Alvaro maksudnya'
'Aunty!!'
'Hahahaha, Aunty hanya bercanda! Sudah kalian lanjutkan saja apa yang kalian tadi lakukan Aunty tutup dulu telponnya ya, dah Queena dah juga Alvaro'
'Tapi Aunty--'
Tut.
"Syukurlah, Queena baik-baik saja aku menjadi lega mendengarnya!" Ujar Alea dengan bernafas lega.
...*****...
...Kembali ke Queena dan Alvaro......
"Ahhh, Al"
"Queena! Yang benar"
"Al, kumohon sudah ya"
"Tidak! Sebelum aku benar-benar merasa puas"
"Tapi Al"
"Tidak ada tapi-tapian! Cepat lanjutkan" Titah Alvaro pada Queena.
"Tapi Al, tanganku sakit" Kata Queena.
"Itu hukumanmu Queena, kau yang memilih sendiri" Balas Alvaro.
"Al, tidak bisakah kau mengurangi waktunya? Tanganku benar-benar sudah pegal karena terus memijatmu" Protes Queena karena lengannya sudah terasa mati, akibat terus menjalankan hukuman yang diberikan Alvaro yaitu memijitnya hingga dirinya tertidur. Tapi Alvaro belum mau juga memejamkan kedua matanya itu.
"Tidak bisa"
"Alvaro ayolah"
"Tidak"
"Apa kau tidak kasihan denganku, kau tau bukan aku ini seorang wanita lemah tapi kau malah terus menindasku! Kau ini berdosa sekali Al" Tutur Queena.
"Ck, jangan berakting di depanku dengan berpura-pura lemah Queena"
"Tapi-"
"Jika kau berbicara satu kata laki maka aku akan menambah hukumanmu"
"....."
Dreetttt... Dreetttt...
"Al, hendphonemu berdering" Ucap Queena tanpa sadar.
"Sepertinya kau tidak mendengarkan ucapanku tadi!? Maka jangan salahkan aku jika aku menambahkan hukumanmu menjadi dua kali lipat" Kata Alvaro tersenyum manis.
"Tapi Al, aku hanya memberitahumu bahwa hendphonemu berdering! Mengapa kau malah menambahkan hukumanku? Ini tidak adil" Gerutu Queena dengan memanyunkan bibirnya.
...Cuuupppp...
"Al!"
"Jangan pernah memanyunkan bibirmu atau aku akan menciummu lagi, apalagi jika kau menggigit bibir bawahmu" Bisik Alvaro.
"Menyebalkan"
...Dreetttt... Dreetttt......
"Al, hendphonemu kembali berdering! Angkatlah" Tutur Queena.
"Bagaimana jika itu penting?"
"Tidak ada yang lebih penting selain dirimu"
"Al, jangan bercanda"
"Aku tidak bercanda"
"Al!!" Kesal Queena lalu mengambil handphone milik Alvaro yang berada diatas nakas.
"Aunty?" Gumam Queena yang melihat layar hendphone milik Alvaro yang tertera nama 'Aunty Alea' disana.
"Al, ini dari Aunty"
"Aunty?"
"Aunty Alea"
"Angkatlah"
"Sudah mati Al, kau telat" Ketus Queena.
"Nanti juga menelpon kembali" Kata Alvaro dengan santainya.
...Dreetttt... Dreetttt......
"Sudah kuduga" Gumam Alvaro.
...Callon...
'Halo' Jawab di seberang sana.
'Halo, Queena akhirnya kau menjawab telepon dari Aunty' Ucap Alea yang merasa lega.
'Maaf Aunty, aku tidak tau jika Aunty menelponku karena hendphoneku aku matikan! Maaf Aunty...'
'Aunty, apa baik-baik saja disana?'
'Kau ini! Membuat Aunty khawatir saja, Aunty hanya takut kau kenapa-kenapa dan juga Aunty menelponmu karena Aunty merindukanmu! Bagaimana kabarmu?'
'Aku baik Aunty, maaf sudah membuatmu khawatir!'
'Hmmm, tidak masalah! Tapi lain kali kau tidak boleh mematikan hendphonemu, bagaimana jika nantinya kau terjadi apa-apa untuk kedepannya! Aunty tidak ingin itu terjadi! Kau mengerti?!'
'Hahahaha, baiklah Aunty'
'Oh ya, mengapa kau yang menjawab telpon dari Aunty?'
'Karena Alvaro tidak ingin mengangkat telpon darimu, Makanya aku saja yang mengangkat telpon darimu'
"Jangan berbicara sembarangan Queena" Celetuk Seseorang dari sana yang tak lain adalah Alvaro.
'Dasar! Memangnya kalian sedang apa? Hingga tidak ingin menjawab telpon dari Aunty? Hmm'
'Kami hanya sedang membuat keponakan untukmu' Jawab Alvaro santai tanpa memperdulikan Queena yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
'Benarkah?'
'Tidak Aunty! Ia sedang berbohong, jangan percaya padanya'
'Ho'ho, Aunty percaya! Sangat-sangat percaya... Percaya dengan Alvaro maksudnya'
'Aunty!!'
'Hahahaha, Aunty hanya bercanda! Sudah kalian lanjutkan saja apa yang kalian tadi lakukan Aunty tutup dulu telponnya ya, dah Queena dah juga Alvaro'
'Tapi Aunty--'
Tut.
"Halo! Halo Aunty" Teriak Queena.
"Haishhh, aku belum selesai berbicara tapi sudah dimatikan saja" Kesal Queena lalu menaruh kembali hendphone milik Alvaro.
"Kenapa kau kesal?" Tanya Alvaro dengan bodohnya.
"Ini semua salahmu Al!" Geram Queena.
"Kenapa salahku?"
"Jika kau tidak mengatakan sedang membuat keponakan untuknya, mungkin Aunty tidak akan mematikan teleponnya secara sepihak" Kesal Queena pada Alvaro.
"Ohh"
"Aaaaaaa!!"
"Bagaimana jika Aunty menganggapnya serius Al!"
"Itu lebih bagus"
"Maka kita harus membuktikan hasilnya kepada dirinya, bukankah itu bagus?"
"Tidak ada gunanya juga berbicara padamu" Gumam pelan Queena yang samar-samar didengar oleh Alvaro.
"Kau mengatakan apa?"
"Tidak ada"