My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Dua es keras kepala



...Kusuma Grup...



"Zea, kau dari mana saja? Pagi-pagi buta kau sudah pergi tanpa berpamitan denganku! Sebenarnya kau kemana?" Tanya Tania dengan menghampiri Zenitha ke meja kerjanya.


"Aku tadi ada urusan sebentar, sampai lupa berpamitan denganmu. Maafkan aku" Jawab Zea.


"Tumben sekali kau ada urusan? Urusan apa? Apa aku boleh tau" Tanya kembali Tania dengan penasaran menatap wajah Zenitha.


"Kau ini kepo sekali, ada kalanya privasi ku tidak boleh kau tau... Kau paham?" Balas Zenitha dengan tersenyum manis sambil memainkan kedua alisnya.


"Ya! Ya! Baiklah"


"Sudahlah, kau sebaiknya lanjutkan pekerjaan mu. Atau nanti kita akan dimarahi oleh manager Vivian" Ujar Zenitha.


"Emmmm, baiklah! Lanjutkan juga pekerjaan mu kembali aku juga akan kembali melanjutkan pekerjaan ku" Ucap Tania dengan kembali pergi menuju meja kerjanya.


Setelah melihat kepergian Tania dengan kembalinya ke meja kerjanya, Zenitha pun langsung saja menghembuskan nafasnya secara kasar setelah melihat kepergian Tania. Entah mengapa, Atau entah karena apa? Tiba-tiba saja Zenitha menghembuskan nafasnya.


"Aku sendiri bahkan tidak tau, mengapa tiba-tiba saja aku ingin pergi menemui tuan Alkenzo pagi-pagi buta seperti tadi. Karena hatiku... Hatiku tiba-tiba saja merasa ada rasa sedikit guncangan yang hebat ketika bertemu dengannya" Gumam Zenitha pelan.


"Sebenarnya aku ini kenapa? Bahkan tadi malam... Mengapa aku merasa ada seseorang yang memanggil-manggil namaku. Tapi tidak jelas dan terasa samar" Lirih Zenitha pelan.


"Ahh sudahlah! Sebaiknya aku kembali bekerja saja, setelah itu aku baru berisitirahat dengan kembali mengobati luka goresan ini"


"Ahhh... Hari ini akan menjadi hari yang melelahkan"


...*****...


...Dirgantara hospital...



...Tokkk tokkk tokkk...


"Alzo, apa mommy boleh masuk?" Tanya Queena dengan mengetuk-ngetuk pelan pintu ruang rawat Alkenzo.


"......"


Hening, tidak ada suara atau pun balasan dari sang putra yaitu Alkenzo dari dalam sana. Hingga membuat Queena serta yang lainnya menjadi khawatir terhadapnya karena sudah satu jam lamanya Alkenzo tidak membalas panggilan maupun pertanyaan yang dilontarkan oleh Queena yaitu sang mommy.


"Alzo nak" Panggil Queena kembali.


...Tokkk tokkk tokkk...


"Alkenzo, nakk tolong jawab panggilan mommy sekali saja" Kata Queena kembali dengan mengetuk-ngetuk pelan pintu ruang rawat sang putra yang kini lagi dan lagi kembali seperti tadi. Tidak ada balasan sama sekali yang terdengar dari dalam sana.


"Alz--"


...Ceklekkkk...


Ketika ingin memangil kembali Alkenzo sang putra dan berniat ingin kembali mengetuk pintu ruang rawat juga, tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka secara lebar dan menampilkan wajah datar dan dingin seseorang. Siapa lagi jika bukan Alkenzo.


Yaa! Jadi kini Alkenzo pada akhirnya membuka pintu ruang rawatnya, dengan memasang wajah datar bahkan kini Alkenzo sudah mengganti pakaian rumah sakitnya menjadi pakaian miliknya.


Entah apa yang ingin Alkenzo lakukan saat ini dengan tubuh yang masih bisa dibilang lemah. Semua orang ingin melarang Alkenzo untuk pergi tapi tetap saja. Alkenzo tetaplah Alkenzo apapun yang ia inginkan harus ia lakukan tidak peduli dengan siapa dan siapa ia menentang asalkan ia bisa melakukan apapun yang ia mau! Ia akan menjalankannya itu.


"Kakak, kau ingin kemana?" Tanya Arianna, Alkenzie serta Alan secara bersamaan kepada sang kakak yang hendak ingin pergi begitu saja tapi untungnya tertahan oleh pertanyaan dari mereka bertiga.


"Hanya ingin keluar, sebentar" Jawab Alkenzo dingin dengan menatap datar sekitarnya.


"Aku kuat, aku tidak akan pingsan dengan begitu mudahnya" Balas Alkenzo datar.


"Masuk kembali keruangan mu dan kembalilah beristirahat, jangan membuat semua orang mengkhawatirkan mu kembali! Alkenzo" Titah Alvaro tapi tidak di germing oleh Alkenzo.


"Aku ingin keluar" Tegas Alkenzo.


"Masuk kembali dan beristirahat" Tekan Alvaro dengan kembali memerintahkan kepada sang putra untuk kembali masuk kedalam ruang rawatnya sambil menatap dingin dan datar wajah sang putra melebihi Alkenzo.


'Menegangkan sekali, aura dingin vs aura dingin' Batin Arianna.


'Tubuhku jauh lebih terasa dingin saat ini, Daddy dan kakak mengapa selalu saja suka memancarkan aura dinginnya secara bersamaan?' Batin Brianna.


'Aku butuh pemanas ruangan. Ini terlalu dingin untuk tubuh kecilku' Batin Alan.


'Lagi... Mengapa putra dan suamiku selalu saja seperti ini! Sifat suamiku menurun kepada putraku, Jadi... Yang harus aku salahkan adalah suamiku' Batin Queena.


"Aku tetap ingin keluar" Bantah Alkenzo.


"Alzo masuk"


"Tidak"


"Alkenzo Keano Dirgantara. Patuh dan menurut lah, jangan salahkan daddy jika daddy berbuat kasar kepadamu" Tegas Alvaro kembali dengan menatap marah wajah Alkenzo.


Kembali terjadi, kini Alkenzo tidak menuruti permintaan dari sang daddy dan justru malah pergi begitu saja dengan santainya. Tanpa menghiraukan panggilan dari sang mommy, sang adik maupun sang daddy. Karena sudah malas berdebat dengan sang daddy Alkenzo lebih memilih untuk segera pergi dan tidak mematuhi ataupun menjalan apa yang diperintahkan oleh Alvaro.


Keras kepala? Yaa! Itu adalah bagian penting dari sifat Alvaro hingga mampu menurun kepada sang putra, tidak ada yang tidak tertinggal setiap sifat, karakter, nada bicara, wajah, serta wajah datar dan aura dingin yang dimilikinya. Alkenzo memiliki itu semua yang mana turunkan oleh sang daddy! Jadi Queena selaku berkata bahwa yang seharusnya disalahkan dalam hal tersebut adalah suaminya sendiri.


Karena suaminya, sifat putranya bisa sangat mirip dan persis dengan sang suami. Jadi.... Jika Alkenzo menentang setiap perkataan nya atau perkataan daddy-nya jangan pernah mengalahkan Alkenzo tapi yang seharusnya disalahkan adalah Alvaro sang suami.


"ALKENZO!!" Bentak Alvaro dengan berteriak memanggil nama sang putra.


"Sudahlah suamiku, biarkan saja... Mungkin Alzo butuh waktu untuk sendiri saat ini. Walaupun kondisinya tengah lemah" Ujar Queena dengan berkata lembut kepada sang suami agar sang suami tidak lagi marah terhadap sang putra.


"Anak itu! Jangan terus membiarkannya seperti itu terus menerus, atau nanti--"


"Atau nanti apa? Itu semua juga karena dirimu. Jika kau tidak menurunkan sifat mu kepadanya, Alzo tidak akan mungkin seperti itu" Potong Queena.


"Lagi dan lagi, salahkan semuanya saja kepadaku! Bela terus putramu yang nakal dan keras kepala itu" Kesal Alvaro lalu pergi begitu saja hingga membuat Queena melongo dibuatnya.


Bukan hanya Queena, tapi Alkenzie, Arianna serta sikecil Alan justru juga ikut melongo melihat tingkah sang daddy yang kini begitu kekanak-kanakan. Cemburu? Yaa! Sepertinya begitu saat ini Alvaro tengah cemburu dengan sang putra karena sang putra terus saja mendapatkan bela-an dari sang istri sedangkan dirinya tidak. Dan malah sebaliknya terus mendapatkan sebuah kesalahan.


"Daddy, daddy... Apa itu benar-benar dirinya?" Bengong Arianna dengan menatap kosong pandangannya.


"Daddy cemburu dengan kakak?" Tanya Alan dengan mengerutkan keningnya kecil.


"Mommy apakah itu... Daddy? It's real daddy?" Lirih Alkenzie dengan terbengong sambil bertanya kepada sang mommy.


"Daddy mu cemburu dengan kakak mu? Haisss, Lagi-pula yang mommy katakan benar bukan? Jika bukan karena daddy yang menurunkan sifat keras kepalanya kepada kakak mu. Mungkin saja kakak mu tidak akan seperti ini yang mana tadi menentang perintahnya bukan" Gumam Queena dengan menggelengkan kepalanya kecil.


"Mommy, sebaiknya kau hiburlah bayi besar mu atau nanti ia akan melampiaskan nya kepada semua orang" Tutur Arianna yang disetujui oleh Alkenzie serta si kecil Alan.


"Biarkan saja, lagi pula tidak akan sampai dua atau tiga hari daddy mu mengambek kepada mommy" Jawab Queena dengan santainya.


"Mommy kasihanilah kami semua. Jika kau tidak menghiburnya dan meminta maaf kepadanya, kau tau apa yang akan dilakukan daddy bukan nantinya?" Celetuk Alan dengan imutnya.


"Huuuffff baiklah" Jawab Queena pasrah.


"Mengapa aku bisa menikah dengan laki-laki seperti Varo? Ck. Ck. Nasib ku ini sungguh-sungguh.... Hufff" Gumam Queena pelan dengan pergi untuk mencari keberadaan sang suami yang kini tengah cemburu dan mengambek kepadanya bak anak bayi yang tidak diberi mainan.