
...Mansion Williams...
Setelah pertengkaran antara Queena dan Alvaro tadi hanya karena pakaian yang akan dikenakan oleh Queena, akhirnya mereka berdua sampai dikediaman Williams.
"Kenapa ada mobil, David?" Tanya Alvaro pelan tapi masih bisa di dengar oleh Queena.
"Mungkin saja David sedang berkunjung" Jawab Queena tersenyum manis pada Alvaro lalu berjalan menuju kedalam.
"Ckk!"
"Auntyyyy!! Uncleeee!! Sesilliaaaaa!!" Teriak Queena hingga menggelegar keseluruhan mansion Williams, dan Alvaro yang berada d idekat Queena ia tentu saja terkejut hingga refleks menutup mulut Queena dengan lengannya.
"Emmmmmm... Emmmmmm..."
"Diammm!! Aku akan melepaskan tanganku jika kau tidak berteriak kembali!" Kesal Alvaro dengan menatap tajam ke arah Queena.
"Emmm" Dehem Queena karena mulutnya dibekap oleh Alvaro sambil menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju.
"Al" Panggil Queena.
"Apa?" Ketus Alvaro.
"Tidak jadi" Kata Queena dengan mengalihkan pandangannya kearah suara teriakan seseorang yang mana mulai terdengar menjawab teriak'kan dari Queena. Siapa lagi jika bukan Sesillia.
"Ka Queenaaaaa!!!" Teriak seseorang yang tak lain adalah Sesillia, dengan berlari menuju kearah Queena untuk memeluknya.
"Aaaaaaaaaaaa... Sesillia kakak merindukanmu" Teriak Queena yang juga ikut berlari memeluk Sesillia hingga Queena lupa akan perjanjian dirinya dan Alvaro barusan.
...Grepppp...
"Ka Queena, aku merindukanmu" Ucap Sesillia dengan manja lalu memeluk tubuh Queena dan itupun di balas oleh Queena.
"Kakak juga merindukanmu" Balas Queena dengan cemberut.
'Belum ada sebulan, sudah kangen saja dasar perempuan' Batin Alvaro.
"Aduuuhhh, kalian berdua ini... Bisa tidak kalian tidak berteriak-teriak? ini rumah bukan hutan" Celetuk seseorang yang tak lain adalah Silsila yang datang dengan menggelengkan kepala'nya pelan karen melihat tingkat dua putrinya yaitu Sesillia dan Queena.
"Maaf, Mama" Ucap Sesillia.
"Maaf, Aunty" Ucap Queena yang secara bersamaan dengan Sesillia.
"Aunty, kau tidak merindukan'ku rupanya" Ujar Queena cemberut.
"Siapa bilang? Mama, sangat-sangat merindukanmu, anak nakal! mengapa kau tidak pernah bermain disini lagi setelah menikah?" Tanya Silsila lalu memeluk Queena dengan erat.
"Itu karena aku pekerjaan aunty, pekerjaaan kantor yang setiap harinya menumpuk padahal aku sudah mengerjakan'nya tapi ada lagi ada lagi" Cemberut Queena dengan memanyunkan bibirnya kedepan.
"Hahahaha, kau ini bagaimana nakk!! walaupun itu kertas tapi sangat berharga bukan?" Sahut seseorang yang datang, siapa lagi kalau bukan Gani.
"Uncle?" Ucap Queena.
"Bagaimana, kabarmu?" Tanya Gani yang baru datang dan langsung memeluk Queena sama halnya seperti Sesillia dan Silsila tadi.
"Aku baik, Uncle" Balas Queena dengan melepaskan pelukannya.
"Nakk Al, bagaimana kabarmu?" Tanya Gani pada Alvaro yang sedari tadi hanya diam menyaksikan adegan peluk-pelukan seperti teletabis di depannya.
"Sangat baik, Uncle" Jawab Alvaro dengan nada sedikit dingin.
"Kakak ipar? Al?" Panggil seseorang yang tak lain adalah David.
"David?"
"Mengapa kau bisa terdampar disini?" Tanya Queena dengan nada mengejek kepada David.
"Ohhh, ayolah kakak ipar! Aku ini bukan ikan" Kata David dengan cemberut lalu mulai duduk disebelah Alvaro.
"Hahahaha, aku bercanda David" Tawa Queena.
"Aku tau" Balas David.
"Kakak, mengapa lehermu merah?" Tanya Sesillia yang sedari tadi terus saja menatap leher jenjang Queena yang terlihat merah akibat ulah Alvaro yang mencekik leher Queena kemarin malam.
"Ini... Ohh, ini karena kakak tidak sengaja memakai sebuah kalung emas yang palsu kemarin, jadinya seperti ini, kau tenang saja ini sudah biasa. Pasti Nanti akan kembali sembuh" Bohong Queena kembali dengan menunjukan senyuman manisnya.
'Kenapa Queena berbohong? Jelas-jelas itu ulahku yang mencekik'nya' Batin Alvaro dengan menatap dalam Queena.
"Apa itu tidak akan apa-apa, nakk!?" Tanya Silsila yang ikut khawatir terhadap Queena.
"Ini tidak apa-apa aunty, percayalah padaku" Jelas Queena dengan menunjukan wajah yang serius.
"Syukurlah" Balas Silsila.
"Ka, mari pergi ke kamarku saja... biarkan yang lainnya disini" Ajak Sesillia yang di angguki Queena.
"Kakak ipar, aku pinjam istri'mu dulu ya" Izin Sesillia lalu menarik pergelangan tangan Queena.
"Hmmmm" Dehem Alvaro dengan mengangguk'kan kepala'nya kecil sebagai tanpa bahwa ia mengizinkan'nya.
...*****...
"Queena, mari kita pulang" Ajak Alvaro.
"Hmmm, baik Al" Sahut Queena.
"Aunty, Uncle, Sesillia! kami berdua pamit pulang. Kapan-kapan kami akan berkunjung kembali" Pamit Queena yang izin kepada Sesillia, Silsila, dan Gani.
"Hati-hati nakk!/ ka Queena" Jawab Sesillia, Silsila dan Gani bersamaan.
"Baik, kalau begitu sampai jumpa" Balas Queena dengan melambaikan satu tangannya kepada Keluarga Williams.
"Daahh, Ka" Kata Sesillia yang membalas lambaian tangan Queena.
"Daahh, Sesillia"
...Skippppp......
...Di mobil......
"Al" Panggil Queena.
"Ada apa?" Tanya Alvaro yang kini tengah fokus menyetir.
"Boleh aku tau, mengapa kau ingin ikut bersamaku untuk datang ke mansion Williams?" Tanya Queena penasaran.
"Hanya ingin saja" Jawab singkat Alvaro.
'Jangan bertanya kembali Queena! Karena kau juga tidak tau mengapa aku ingin ikut pergi bersamamu' Batin Alvaro.
"Al, Ini bukan jalan menuju mansion kita bukan? kita akan kemana?" Tanya Queena kembali yang dibuat bingung oleh Alvaro.
"Kau diam saja! nanti juga kau akan tau kita akan kemana" Ujar Alvaro.
"Baiklah"
...*****...
...Dirgantara Mall...
"Al, menapa kita ke mall?" Tanya Queena dengan keheranan.
"Membelikan'mu pakaian yang baru, yang bisa menutupi perutmu.." Jawab Alvaro datar lalu turun dan membuka pintu mobil tepat dimana Queena duduk.
"Turun" Titah Alvaro kepada Queena.
"Tapi Al... Aku tidak butuh baju baru dan apa kau tau bajuku masih banyak yang baru, jadi aku tidak ingin membeli baju lagi" Tolak Queena yang masih setia duduk di mobil dan tidak ingin keluar.
"Kau banyak baju yang masih belum dipakai bukan? Lalu... mengapa kau malah memakai pakaian yang memperlihatkan perutmu?" Ketus Alvaro dengan kesal.
"Itu karena aku menyukainya" Jawab Queena dengan santainya.
"Cepat keluar atau aku akan memaksa'mu untuk keluar!" Ancam Alvaro tapi tidak di dengar oleh Queena.
"Queena" Panggil Alvaro.
"Al, sebaiknya kita pulang saja yaa, aku janji tidak akan memakai pakaian yang memperlihatkan perutku lagi asalkan kita pulang sekarang" Lirih Queena dengan menunjukan wajah imutnya.
"Tidak!! ku bilang turun" Tegas Alvaro.
"Al" Lirih Queena.
"1"
"Al, kumohon" Kata Queena.
"2."
"Aaaaaa, baiklah." Kata Queena yang akhirnya terpaksa untuk turun dari mobil.
"Ikut aku" Titah Alvaro kembali.
"Baiklah" Balas Queena dengan pasrah.
"Kenapa juga akuh harus membeli pakaian yang tidak aku butuhkan, jelas-jelas pakaian'ku semuanya sangatlah bagus-bagus dan cantik-cantik. Memangnya apa masalahnya dengan perutku? bahkan perutku'kan tidak besar?" Gerutu Queena yang terus saja berbicara pelan dan itu pun tak luput dari pendengaran Alvaro yang sangat tajam.
"Berhenti menggerutu Queenaaaaa, atau aku akan melakban mulutmu" Ketus Alvaro dengan manarik paksa lengan Queena agar Queena mau mengikutinya.
"Aishhh... kedengaran kah?" Ucap Queena pelan dengan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
"Hmmm" Dehem Alvaro yang kembali mendengar ucapan kecil Queena yang keluar dari mulutnya itu.
'Aku bahkan tidak atau dengan apa yang aku lakukan saat ini!! mengapa aku bisa begitu peduli terhadap Queena, mengapa aku bisa marah ketika Queena menyebut nama pria lain... Mengapa aku bisa begitu sakit ketika melihatnya tengah sakit ataupun menangis... aku tidak tau itu semua, bahkan aku tidak tau dengan diriku sendiri saat ini!! tapi yang jelas... ada sesuatu yang tengah berusaha keras untuk tumbuh di dalam hatiku entah itu apa' Batin Alvaro.
...*****...
See you later♡♡♡.