
"Kau sudah mengingatkannya?" Tanya Alkenzo.
"Sudah kakak. Terimakasih sudah mengingatkanku" Jawab Brianna dengan tersenyum kecil.
"Jadi sekarang... Pergilah! Dan hadapi semua ini" Tutur Alkenzo dan Alkenzie secara bersamaan.
"Baik"
...*****...
...Ruang Rawat Austin...
"Maafkan aku" Lirih Austin pelan yang kini sudah kembali sadar dengan membuka kedua matanya.
'Bria, aku harap kau tidak membenciku atas semua kejadian itu! Aku memang salah terhadapmu dan aku mengakuinya' Batin Austin.
'Selama aku koma, aku selalu mendengar setiap ucapan mu kepadaku! Kau selalu menangis dan mengatakan benci kepadaku... Aku sangat harap kau bisa memaafkan aku nantinya' Batin Austin.
...Ceklekkkk...
"Brianna" Panggil Austin dengan menatap wajah Brianna dan Arianna karena ia tidak tau yang mana Brianna dan yang mana Arianna saat ini.
Tapi ketika Austin melihat jaz dokter yang dikenakan Brianna, iapaun akhirnya tau bahwa Brianna saat ini tengah berjalan kearahnya bersama Valencia. Sedangkan Arianna berjalan kearah lain bersamaan dengan Alkenzo dan Alkenzie. Name tag yang terdapat di jaz dokter milik Brianna memang mengatakan bahwa Brianna saat ini tengah bersama dengan Valencia dengan berjalan menuju kearah Austin saat ini.
'Kakak yakin kau pasti kuat, baby' Batin Arianna.
'Adikku pasti kuat' Batin Alkenzo.
'Kakak akan selalu bersamamu princess! Kau pasti kuat' Batin Alkenzie.
"Brianna" Lirih Austin pelan dengan memanggil Brianna kembali.
"Tuan, akhirnya anda sudah siuman setelah dua tahun lamanya anda koma.... Tuan, bisakah anda memberitahu saya? Apakah kondisi anda sudah membaik? Mohon tuan katakan pada kami, agar kami bisa membantu anda" Ucap Brianna dengan tersenyum kecil dan memakai bahasa formal kepada Austin.
...Deggggg...
Austin yang mendengar kata 'Tuan' yang keluar dari bibir manis Brianna seketika tercengang, hatinya tiba-tiba saja berdetak sangat cepat! Dunianya seketika berhenti sejenak bahkan waktu sepertinya juga ikut berhenti ketika bibir mungil milik Brianna berucap kata 'Tuan' kepadanya.
"Brianna" Panggil Austin dengan menatap wajah Brianna dengan tatapan lirih.
"Ada apa tuan? Apa anda merasa tidak enak dibagian tubuh anda? Katakan saja tuan..." Tanya Brianna dengan menaikkan satu alisnya seakan ia benar-benar tidak mengenal sosok laki-laki yang berada didepannya saat ini.
"Ahhh, maafkan saya tuan! Mungkinkah anda merasa terganggu dengan kehadiran kakak-kakak saya" Tanya Brianna kembali.
"Tidak! Saya tidak merasa terganggu dengan kehadiran kakak-kakak anda 'Dokter'." Jawab Austin dengan mata berkaca-kaca sambil menekan kata 'Dokter' kepada Brianna.
'Hatiku mengapa serasa sangat sakit. Tidak! Kau tidak boleh seperti ini Bria. Kau pasti bisa melewati ujian ini, yaa, kau pasti bisa Bria. Kau pasti bisa' Batin Brianna.
'Briaaa, mengapa kau seperti ini... Kau memanggilku seperti kita adalah dua orang asing yang baru saja kenal, mengapa Briaaa? Mengapa kau menganggapku orang asing' Batin Austin.
"Baiklah. kalau begitu terimakasih tuan hmmm... Izinkan saya memeriksa kondisi keadaan anda saat ini" Balas Brianna dengan tersenyum kecil lalu mulai memeriksa kondisi keadaan Austin setelah mendapat izin dari Austin.
"Tentu saja silahkan" Ucap Austin dengan mengangguk pelan.
"Suster, tolong ambilkan peralatan saya disana. Dan tolong bantu saja memeriksa kondisi keadaan tuan Austin" Titah Brianna kepada Valencia lalu setelah itu iapun perlahan mulai memeriksa kondisi keadaan Austin dengan perlahan.
"Baik dokter" Jawab Valencia.
Ketiak tangan mungil Brianna ingin memeriksa kondisi keadaan Austin tepat di dada milik Austin! Tiba-tiba saja pergerakan tangan Austin menghentikannya. Dengan cepat Brianna pun menarik paksa lengannya dari cengkeraman tangan Austin. Sedangkan Arianna, Alkenzo dan Alkenzie serta Valencia hanya bisa melihat dan menonton saja tanpa berkata apapun.
"Ada apa tuan? Apa anda merasa tidak enak... Kalau begitu maafkan saya" Kata Brianna dengan menarik tangannya dari genggaman tangan Austin cepat.
"Maafkan saya dokter" Ujar Austin dengan pelan.
"Tidak masalah tuan, saya sudah memeriksa kondisi keadaan anda! Dan semuanya sudah baik... Kalau begitu saya pamit terlebih dahulu karena masih ada pasien yang harus saya tangani" Tutur Brianna dengan tersenyum kecil kepada Austin sebagai tanda pamit.
'Pasien? Bukankah setelah memeriksa kondisi tuan Austin, dokter Brianna tidak ada lagi jadwal pemeriksaan' Batin Valencia.
"Terimakasih" Kata Austin lirih.
"Sama-sama" Balas Brianna.
"Ohh, suster bisakah anda mengganti cairan infusnya? Karena saya anda urusan jadi saya tidak bisa! Maaf. Saya harus merepotkan suster saat ini" Pinta Brianna dengan mengehentikan langkah kakinya dan berbalik menatap wajah Valencia dan bukan Austin.
"Tidak masalah dokter, karena ini juga termasuk tugas saya" Balas Valencia dengan mengangguk kecil sambil tersenyum manis.
"Terimakasih" Ujar Brianna lalu setelah iapun pergi begitu saja.
Arianna yang melihat adiknya pergi begitu saja iapun langsung saja pergi menyusul sang adik pergi keluar, sedangkan Alkenzo dan Alkenzie ia masih tetap berada didalam ruang rawat Austin.
"Suster, apa kau sudah mengganti cairan infusnya?" Tanya Alkenzie sedikit datar.
"Sudah tuan, kalo begitu saya pamit" Balas Valencia lalu iapun ikut pergi dengan terburu-buru. Karena dirinya benar-benar takut bila harus berlama-lama di dalam ruangan Austin yang terdapat Alkenzo di dalamnya.
"Hmmmm" Dehem Alkenzie kecil.
Lalu Alkenzie pun terdiam kembali dalam keheningan bersamaan dengan Alkenzo dan Austin.
"Terimakasih, Karena sudah menepati permintaanku saat itu" Ucap Austin dengan menatap kosong sekitarnya.
"Hmmmm" Dehem Alkenzo.
"....."
Hening, yaaa.. kini ruangan tersebut pun kembali hening karena tidak ada satupun diantara mereka bertiga yang berucap kembali setelah balasan dehem dari Alkenzo. Tapi tak lama kemudian Alkenzo pun membuka suaranya.
"Jika kau masih menginginkan adikku Brianna. Maka berusahalah, sebelum ia dijodohkan oleh daddy kami" Ucap Alkenzo yang memecahkan keheningan.
"Dijodohkan? Apa... Apa maksudmu" Tanya Austin dengan kebingungan. Walaupun Austin baru saja sadarkan diri dari koma nya tapi fisiknya kini sudah sangat membaik dan ia bahkan sudah terduduk dengan bersandar di bangsal tempat tidurnya.
"Kau pasti tau apa yang aku maksud" Kata Alkenzo dingin lalu pergi begitu saja dengan arogannya.
"Aku paham! Karena aku tidak bodoh" Lirih Austin pelan.
"Selama ini ternyata aku telah salah menilai Brianna... Aku bahkan menuduhnya yang telah membunuh adikku... Jika saat itu aku lebih percaya kepada Brianna, mungkin ini semua tidak akan pernah terjadi" Gumam Austin pelan dengan menutup kedua matanya secara paksa.
'Kau bodoh! Kau bodoh' Batin Austin.
'Sayang, maafkan aku! Aku pasti akan bisa bersamamu kembali, aku tidak akan membiarkan kau pergi dengan pria yang telah dijodohkan oleh daddy-mu' Batin Austin kembali.
"Aku tidak akan membiarkan kau direbut oleh pria lain selain diriku! Karena kau hanya boleh bersamaku tidak dengan yang lain... Aku mencintaimu, maafkan aku" Lirih Austin pelan.
...Mansion Dirgantara...
"Kakak!!" Teriak Alan dengan berlarian kearah pintu luar yang terdapat Brianna dan Arianna disana.
...Haaappppp...
...Haaappppp...
"Baby little prince-ku" Ucap Arianna dengan memeluk erat tubuh Alan sambil menciumi pipi tembam milik Alan tersebut.
"Muachhh"
"Muachhh"
"Kapan kau pulang? Saat kakak pulang mengapa kau tidak ada? Mommy dan daddy bilang kau sedang pergi dengan paman, apa itu benar" Tanya Arianna dengan menatap gemas kepada Alan.
"Itu benar! Aku pergi dengan paman tadi..." Jawab Alan dengan mengangguk kecil.
"Kakak, apa kau tidak ingin memelukku?" Tanya Alan kepada Brianna yang sedari tadi hanya diam dan melihat kearah depan saja tanpa berkedip.
"Ahhh, apa baby? Tentu saja kakak juga merindukanmu..." Kata Brianna dengan terkejut dari lamunannya karena Alan.
"Cium aku" Pinta Alan dengan menunjuk kearah pipinya.
"Muachhh"
"Lagi"
"Muachhh"
"Muachhh"
"Apa sudah?" Tanya Brianna dengan gemasnya.
"Lagi" Jawab Alan kembali dengan tersenyum bahagia.
"Muachhh"
"Sudah! Terimakasih kakak" Ujar Alan.
"Nakal! Sama-sama baby" Kata Brianna dengan menepuk pelan hidung milik alan dengan jarinya.
"Hahahaha"
"Brianna" Panggil seseorang kepada Brianna yang tak lain adalah Alvaro.
"Daddy? Ada apa" Tanya Brianna dengan menatap wajah tampan sang Daddy.
"Ikut daddy dan mommy ke ruangan daddy... Kau juga Arianna! Dan hubungi kedua kakakmu, suruh mereka pulang terlebih dahulu karena ada yang daddy ingin bicarakan dengan kalian semua" Titah Alvaro dengan nada serius.
Brianna dan Arianna yang mendengar perintah dari sang daddy pun justru malah saling pandang satu sama lain. Lalu tak lama kemudian mereka berdua pun mengangguk pelan.
"Baik daddy" Jawab keduanya secara bersamaan.
"Daddy, bagaimana denganku" Sahut Alan dengan menunjuk kearah dirinya sendiri.
"Boy, kau pergilah bermain sebentar didalam kamarmu dan jangan keluar-keluaran... Kau mengerti" Tutur Alvaro.
"Baik daddy" Balas Alan lalu pergi berlari begitu saja menuju kearah kamarnya.
...Skippppp......
...Ruangan Alvaro...
Kini Queena, Alvaro, Arianna, dan Brianna tengah terduduk disofa yang berada di dalam ruangan Alvaro. Dalam keadaan hening sambil menunggu Alkenzo dan Alkenzie datang... Mereka semua pun sibuk dengan dunianya sendiri.
Dan tak lama kemudian terdengarlah suara langkah kaki dengan bunyi yang serentak. Lalu.., Queena, Alvaro, Arianna dan Brianna yang mendengar langkah kaki tersebut langsung saja melihat kearah pintu.
...Ceklekkkk...
"Mommy, daddy" Panggil Alkenzo dan Alkenzie secara bersamaan dengan menatap keduanya secara bergantian.
"Duduklah nakk" Titah Queena kepada Putra pertamanya dan Putra keduanya itu.
"Hmmmm" Dehem Keduanya lalu mulai duduk berdekatan dengan Alvaro dan Queena.
"Bagaimana kondisi Austin, Bria?" Tanya Alvaro datar dengan menatap wajah sang putri yang tengah menunduk.
Brianna yang tengah menundukkan kepalanya kebawah tiba-tiba saja mengangkat kepalanya keatas dengan memandang wajah Alvaro tanpa berkata setelah mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Alvaro kepadanya. Terkejut? tentu saja Brianna terkejut dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh sang daddy kepadanya secara tiba-tiba, Brianna berfikir! Apakah daddy nya itu tau masalah tentang dirinya? Jika tidak? Bagaimana mungkin daddy nya itu tau mengenai Austin? Ia sendiri bahkan tidak pernah menceritakan masalahnya kepada sang daddy atau sang mommy.
Bahkan Arianna yang tadinya tengah memainkan kukunya tiba-tiba saja ikut terhenti! Dan detik kemudian Arianna pun ikut menatap wajah sang daddy dengan ekspresi wajah ke terkejutannya. Sedangkan Alkenzo dan Alkenzie... Mereka hanya diam dan tidak sama sekali menunjukkan ekspresi ke terkejutannya ataupun ekspresi kebingungan mengenai sang daddy yaitu Alvaro mengetahui tentang Austin.
Karena mereka sendiri sudah tau bahwa Alvaro memang mengetahui tentang Austin selama ini, hanya saja! Alvaro tidak pernah membicarakannya maupun membahasnya.
"Katakan"