
"Kenzo, Ken--zo siapa dia? Mengapa wajahnya terlintas dibenak ku tadi" Lirih Zanitha pelan dengan memegang kepalanya sambil terbengong dan tidak menjawab pertanyaan dari Lauren.
"Emmm, Anitha? Aunty bertanya padamu... Apakah kau baik-baik saja" Lagi dan lagi Lauren pun bertanya kepada Zanitha dengan memanggil nama "Anitha".
"Aunty? Maaf sebelumnya... Apa kita kenal? Dokter" Jawab Zanitha pelan dengan menaikkan satu alisnya kepada Lauren.
'Apa yang sebenarnya telah terjadi? Aku tidak mengerti dengan keadaan saat ini, Bukankah ia Anitha? Kekasih Alzo-ku' Batin Lauren.
"Ahhh, Maaf! Siapa namamu?" Kata Lauren dengan cepat meminta maaf.
"Zanitha"
"Owhhh, Zanitha? Emmmm... Zanitha saya bertanya kepada mu. Apakah kau baik-baik saja? Apakah kepala mu terasa sangat sakit? Dan... Bisakah kau menceritakan kepada saya, apakah kau melihat sesuatu didalam otak mu seperti gambaran-gambaran yang tidak jelas mau pun yang jelas?" Tutur Lauren kembali.
"Hmmmm, baru saja saya melihat gambaran-gambaran aneh dan suara-suara yang samar memanggil nama saya. Tapi saya tidak tau siapa yang memanggil nama saya, dokter. Tahukah kau mengapa saya bisa seperti ini?" Tanya Zanitha dengan pelan kepada Lauren.
"Tidak apa, mungkin saja itu hanya ilusi yang kau ciptakan sendiri. Kau jangan khawatir itu akan hilang dengan sendirinya! Beristirahat dengan baik, kau mungkin lelah dengan aktifitas-aktifitas yang kau jalani sehingga kau mampu menciptakan sebuah ilusi didalam pikiran mu" Terang Lauren dengan tersenyum kecil.
"Benarkah? Tapi dokter.... Mengapa saya merasa bahwa gambar-gambar hitam itu adalah kejadian yang pernah saya alami?" Ujar Zanitha dengan mengerutkan keningnya kecil.
"Kau terlalu lelah. Itulah sebabnya kau merasa bahwa gambaran-gambaran itu adalah gambaran tentang kehidupan mu" Jelas Lauren kembali.
"Emmmm, mungkinkah? Huuuffff... Terimakasih dokter" Jawab Zanitha pelan.
"Yasudah! Kalau begitu, Saya pamit undur diri... Emmmm, Alzo. Mari ikut aunty" Pamit Lauren dengan langsung menarik tangan Alkenzo keluar.
Alkenzo pun tidak memberontak sama sekali ataupun tidak terhenti, ia justru malah nurut dengan Lauren yang kini ingin membawanya menuju ruangan Alkenzie. Karena Lauren sendiri kini tengah ingin meminta penjelasan sekali pun menceritakan sesuatu.
"Itu...?"
"Tuan Alkenzo, tidak tau mengapa ia bisa datang? Tapi yang jelas ia datang untuk menjenguk dirimu" Sahut Tania yang diangguki oleh Liora dan Zaza.
"Apa kau baik-baik saja?" Tanya Liora kepada Zanitha.
"Maaf telah membuatmu panik dan cemas, terimakasih sudah membantuku, Liora" Ucap Zanitha dengan berterimakasih kepada Kuota yang telah membantunya.
"Berterima kasih lah kepada tuan Alkenzie, jika bukan karena ia mungkin kau tidak akan bisa sampai berada disini. Lagi pula aku tidak berbuat apa-apa untuk mu" Ujar Liora dengan menggelengkan pelan kepalanya.
"Emmmm, aku akan berterimakasih nanti"
...*****...
...Ruangan Alkenzie...
"Jelaskan kepada aunty" Pinta Lauren dengan langsung to the poins meminta penjelasan kepada Alkenzo.
"Kau minta saja sama daddy aunty, karena pada dasarnya daddy lah yang selama ini mengetahui tentang Anitha" Ujar Alkenzo datar dengan terduduk disofa.
"Huuffff"
"Aunty harap kau tidak memaksa Anitha untuk mengingat dirimu ataupun masa lalunya" Kata Lauren pelan dengan ikut terduduk di samping Alkenzo.
"Aku tidak akan memintanya untuk mengingat diriku, tapi aku akan menunggunya. Menunggu dirinya untuk mengingatku sendiri" Jawab Alkenzo.
"Aunty tidak yakin bila kedepannya Anitha akan mengingat tentang masa lalunya" Lirih Lauren pelan yang mampu membuat Alkenzo kebingungan dibuatnya.
"Benturan keras yang ia dapatkan pada tahun lalu, membuatnya kehilangan seluruh ingatannya. Gumpalan darah dikepala nya memang telah dihilangkan tapi tidak dengan sisa nya... Aunty merasa bahwa masih ada sedikit gumpalan darah dikepala nya. Yang menyebabkan Anitha tidak akan bisa kembali mengingat masa lalunya"
"Jika pun ia bisa mengingat masa lalunya, Itu mungkin karena kuasa tuhan. Selama apapun kau menunggu Anitha untuk kembali bisa mengingat masa lalunya... Maka selama itu kau tidak akan pernah bisa mendapatkan hasilnya, aunty berharap kau--" Jelas Lauren tapi terpotong oleh Alkenzo.
"Tidak mungkin aunty!! Bagaimana mungkin... Bagaimana mungkin Anitha tidak akan pernah bisa mengingat masa lalunya, bukankah barusan saja ia seperti akan kembali mengingat ingatan nya? Ia bahkan tadi memanggil nama ku" Potong Alkenzo dengan nada tak percaya.
"Benturan keras itu yang telah mengakibatkan otaknya menolak untuk mengingat kembali seluruh ingatannya" Terang Lauren.
"Aku akan menyembuhkannya"
"Tekat mu terlalu kuat dan percaya, aunty harap kau tidak akan kecewa dengan hasilnya" Tutur Lauren lalu mulai pergi begitu saja.
"Apaaa yang kau maksud aunty?!" Teriak Alkenzo.
"Seberapa keras kau berusaha menyembuhkan nya, mau kau membawanya sekali pun keluar negeri! Atau keseluruh penjuru negeri yang ada. Maka yang aunty bisa katakan hanyalah "Jawabannya tetap sama" Bila kau memaksanya maka kau harus rela kehilangannya untuk kedua kalinya" Jawab Lauren lalu setelah itu kembali melanjutkan langkah kakinya menuju keluar ruangan, karena dirinya mungkin kini ingin kembali bekerja.
"Karena itu adalah, suatu hal yang mustahil"
"Tidak mungkin. Bagaimana bisa seperti ini" Gumam Alkenzo.
"Bagaimana mungkin... Bagiamana mungkin seperti ini! Apa yang harus kau lakukan"
"Kenzo... Jika kau terus melempari ku dengan kelopak bunga ini, maka aku pasti akan--" Marah seseorang yang tak lain adalah Anitha.
"Apa yang kau ingin lakukan kepadaku? Katakanlah aku ingin mendengarnya" Potong Alkenzo dengan tertawa kecil melihat tingkah lucu dan imut dari Anitha.
"Aku akan menelan mu" Jawab Anitha dengan kesal-nya..
"Hahahaha... Benarkah, maka lakukanlah aku rela bila itu membuatmu senang" Ujar Alkenzo.
"Ishh! Tidak jadi, jika aku menelan mu maka aku akan sendiri disini. Kau tidak ada nanti, dan aku pasti akan merindukanmu" Ucap Anitha sambil menggelengkan kepalanya kecil.
"Aku akan tetap ada, tapi di hatimu. Dan aku akan selalu ada bersama mu karena kau menelan ku bukankah kita akan menjadi satu? Satu raga, satu jiwa dan satu hati" Balas Alkenzo dengan tersenyum manis.
"Kau mulai menggombal lagi? Sampai kapan kau akan terus seperti ini? Hmmmm" Tanya Anitha.
"Sampai nafas terakhirku"
"Kau yakin? Kau tidak akan bersikap dingin dan datar lagi seperti sebelumnya!? Emmm" Tanya Anitha kembali memastikan.
"Tentu saja! Tapi jika kau selalu berada disisi ku. Jika kau tidak berada disisi ku mungkin... Sifat yang daddy turunkan kepadaku akan kembali, dan kemungkinan akan lebih-lebih kembali" Balas Alkenzo.
"Tidak boleh, kau lebih baik seperti ini saja. Karena aku lebih menyukai sifat mu yang manja ini"
"Baiklah-baiklah"
"Hahahaha... Hahahaha, perkataanku ternyata benar" Tawa hambar Alkenzo.
"Permintaan mu tidak bisa terkabulkan jika kau tidak mengingatku, aku tidak akan pernah bisa kembali bersifat seperti apa yang kau inginkan"
"Maaf"
"Hanya itu yang aku bisa katakan" Lirih Alkenzo pelan.