
"Bria, mengapa kau memberikan lampu hijau kembali pada Asutin? Kakak tau bahwa sifat mu memang seperti omah Maura dan omah Zia, Tapi... Haruskah kau kembali menerima Austin? Pria yang sudah melukai hatimu" Gumam seseorang dengan bertanya-tanya kepada dirinya sendiri.
Dia adalah Arianna! yang mana tidak sengaja melihat percakapan antara Austin dan adik kembar perempuan nya yaitu Brianna, bukan kecewa melainkan hanya sedikit marah terhadap adik kembar nya itu. Karena adik perempuan nya itu kembali memberikan harapan kepada pria yang sudah pernah menyakiti hatinya.
Ingin menasehati adik nya tapi ia sadar bahwa ia sendiri masih belum berpengalaman, ia hanya takut bahwa adik nya itu justru akan menentangnya dan malahan nantinya terjadi pertengkaran. Jadi ia lebih memilih untuk diam kembali dan akan kembali turun tangan jika adik nya kembali terluka seperti beberapa tahun yang lalu.
"Di dalam hubungan percintaan, maka akan ada yang namanya sakit hati. Kau sendiri bahkan tidak akan bisa menduga nya nanti ketika kau sedang melakukan hubungan asmara" Celetuk seseorang dengan mengejutkan Arianna akan kehadiran nya.
"Kau.... Kanza?" Tanya Arianna dengan memastikan orang yang berada didepan-nya saat ini.
"Kau masih mengingat ku rupanya" Ujar orang tersebut dengan tersenyum manis, yang mana dia adalah Arkanza yang kini datang secara tiba-tiba.
"Sejak kapan kau datang?" Tanya Arianna kembali.
"Apakah aku mengejutkan dirimu?" Tanya balik Arkanza kepada Arianna sambil menaikkan satu alisnya.
"Emmmm. Tapi tidak apa"
"Mengapa kau mengintip adik mu dari kejauhan sini?"
"Aku bukan mengintip atau menguntit nya, hanya tidak sengaja melihat nya saja" Tutur Arianna.
"Benarkah?"
"Tidak percaya yasudah! Aku akan pergi. Karena aku ingin menemui kakak keras kepala ku" Ujar Arianna lalu pergi begitu saja dengan masuk kedalam perusahaan Kusuma Grup untuk menemui kakak kembar laki-lakinya.
"Aku juga akan menemui nya. Maka kita barang saja perginya" Ajak Arkanza dengan berlari pelan mengejar Arianna.
"Kau tinggal mengikuti saja aku, mengapa harus banyak bicara" Kata Arianna dengan terkekeh menatap wajah Arkanza.
...*****...
"Apa yang harus kita lakukan dengan Bria?" Tanya Alkenzie kepada sang kakak, karena kini mereka berdua tengah menatap kamera cctv yang berada diparkiran. Yang mana mereka berdua tengah memantau sang adik Brianna.
Bagiamana dengan Arianna? Mereka juga sama tengah melihat Arianna dari kamera pengawas cctv. Mereka berdua sedari tadi memantau kedua sang adik dari kamera pengawas cctv! Secara bergantian.
"Biarkan apa yang ingin ia lakukan, itu adalah kisah hidupnya. Apapun yang ia inginkan kita hanya bisa mendukung nya saja. Kita tidak boleh melarang Bria, karena kisah hidupnya saat ini belum lama dimulai" Jawab Alkenzo datar.
"Hmmmm, Arkanza... Sepertinya ia?" Dehem Alkenzie.
"Dia memang menyukai Aria" Ujar Alkenzo dengan santainya.
"Arkanza menyukai Aria? Benarkah!"
"Kau tanyakan saja pada orang nya" Tutur Alkenzo datar.
...Ceklekkkk...
"Kakak!!" Panggil Brianna dengan memanggil Alkenzo.
"Shutttt... Kakak tau apa yang kau ingin katakan, Jadi... Diam lah" Tutur Alkenzo dengan berjalan menuju sofa yang berada didalam ruangan Alkenzie, Setelah sampai Alkenzo pun langsung saja membaringkan tubuhnya.
"Apa kau baik?" Tanya Brianna dengan cemas.
"Kakak sudah baik, hanya ingin beristirahat saja" Jawab Alkenzo.
"Biarkan aku memeriksa mu" Pinta Brianna dengan perlahan mendekat kearah sang kakak. Sambil membawa peralatan medis nya.
"Kau sudah meminum obat mu?" Tanya Brianna kembali.
"Sudah, beberapa menit yang lalu... Alzie memberikan nya pada kakak" Balas Alkenzo dengan menutup kedua matanya.
"Kakak Alzie, obat apa yang kau berikan kepada si keras kepala ini?" Tanya Brianna kepada kakak kedua nya itu.
"Obat yang kakak Anitha berikan kepada kakak" Jawab Alkenzie dengan terduduk di kursi kebesaran-nya sambil memulai aktivitas kantor-nya.
"Kakak Anitha?" Gumam Brianna pelan dengan terdiam sejenak.
"Daddy sudah menceritakan nya, kakak yakin kau pasti sudah tau bukan. Bria?" Celetuk Alkenzo.
"Maaf"
"Tidak apa, lupakan saja"
"Tidak! Biarkan kakak disini, anggaplah bahwa kakak tengah bekerja. Walau kenyataan nya hanya berbaring tidur saja" Tolak Alkenzo halus.
"Baiklah"
...Ceklekkkk...
"Kakak Aria?"
"Dimana si keras kepala?" Tanya Arianna yang langsung saja pergi menghampiri sang adik.
"Sedang berbaring" Tunjuk Brianna.
"Kakak!!"
"Diamlah! Jangan berisik, jangan seperti mommy. Kakak ingin istirahat" Titah Alkenzo datar yang kini masih setiap menutup kedua matanya.
"Maka ikutlah denganku, aku akan membawa mu pulang ke mansion. Kau beristirahatlah disana saja" Ajak Arianna yang sama seperti ajakan Brianna barusan.
"Bahkan Bria baru saja mengajak si keras kepala itu tapi jawaban nya tidak. Sekarang kau kembali mengajak nya maka jawaban nya kembali tidak pastinya" Celetuk Alkenzie dengan santainya.
"Mana berkas yang kau katakan?" Tanya Arkanza kepada Alkenzie.
"Ini"
"Kakak"
"Kakak kedua mu sudah menjawab nya. Perlukah kakak harus menjawab nya juga?" Tanya Alkenzo dingin.
"Mengapa sangat susah sekali" Geram Arianna dan Brianna secara bersamaan sambil menatap satu sama lain.
"Mengapa tiba-tiba dana untuk proyek kita anjlok?" Tanya Arkanza dengan mengerutkan keningnya.
"Tanyakan kepada manager keuangan mu, untuk apa uang sebanyak lima ratus juta dalam rekening nya" Tutur Alkenzie.
"Sialan. Beraninya, aku akan mengurus nya nanti. Pertama-tama berikan aku catatan terakhir pemasukan proyek kita" Pinta Arkanza.
"Ini. Didalamnya juga ada catatan terakhir pengeluaran yang dibutuhkan, kau bisa mengecek nya sendiri nanti, dan untuk soal manager keuangan perusahaan mu. Aku harap ia cepat pergi dan angkat kaki" Ujar Alkenzie yang dibalas anggukan kepala oleh Arkanza.
"Kakak, mari kita pulang saja" Ajak Brianna kembali.
"Kakak ayolah, dengarkan ucapan kami kali ini saja. Mengapa sangat keras kepala sekali" Sahut Arianna.
Alkenzo tidak menjawab ajakan dari kedua adik nya, Ia justru malah berpura-pura tidak mendengar ajakan dari kedua sang adik. Dan terus setia menutup kedua mata dan kedua telinganya rapat-rapat.
"Haishhh... Sudahlah"
"Aku lelah, aku menyerah" Kata Brianna dengan terduduk secara kasar ke sofa begitu juga dengan Arianna.
"Hehh"
"Yasudah, kalau begitu aku akan kembali ke perusahaan ku. Terimakasih untuk informasinya Alzie" Pamit Arkanza.
"Emmm, Alzo, Bria, dan kau Aria. Aku pamit karena masih ada urusan kantor yang belum aku selesaikan. Kalau begitu sampai bertemu lagi" Pamit Arkanza kembali kepada twins four.
"Hmmm" Dehem Alkenzie, Alkenzo, dan Brianna.
"Berhati-hatilah" Jawab Arianna sambil tersenyum manis kepada Arkanza.
Sedangkan Arkanza yang mendapatkan senyuman manis dari Arianna pun seketika membalas senyuman manis dari Arianna, seakan tengah di mabuk cinta keduanya pun kini menjadi salah tingkah satu sama lain. Arkanza dengan cepat pun pergi keluar dari ruangan Alkenzie dengan hari yang berbunga-bunga begitu juga dengan Arianna yang membuang pandangannya secara cepat kearah lain.
Alkenzie dan Brianna yang melihat kejadian antara Arianna dan Arkanza pun hanya bisa terdiam sambil menatap heran wajah keduanya.
"Kau menyukai kakak ipar?" Tanya Brianna dengan nada mengejek sang kakak.
"Ka--kakak ipar? Siapa yang kau maksud aku tidak mengerti" Jawab gugup Arianna.
"Hahahaha, ternyata ada yang sedang jatuh cinta pada pandangan pertama" Ejek Alkenzie juga.
"Apasih kalian berdua. Jangan mengejek ku, terutama kau kakak dan kau juga Bria" Kesal Arianna dengan menunjukan ekspresi kesalnya.
"Hahahaha"