My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Sebuah hadiah



"Aku akan memberitahukan kepadamu nanti jika kita sudah didalam kamar" Jawab Alvaro dengan menarik kembali lengan Queena dan Queena pun lagi-lagi hanya bisa menurut dengan pasrah.


'Sebenarnya ada apa dengan Alvaro hari ini? Pertama-tama ia membentak ku tadi pagi, lalu tadi ia merobek kertas kontrak pernikahan dan menyatakan cinta padaku lalu sekarang... Ahhh, sudahlah' Batin Queena.


...Kamar Queena...



"Duduklah" Titah Alvaro pada Queena yang menyuruh Queena untuk duduk di atas ranjang tempat tidur.


"Sudah"


"Bukalah" Ujar Alvaro dengan memberikan kotak bewarna merah dan biru tadi yang baru saja ia ambil.


"Untukku?" Tanya Queena memastikan.


"Hmmmm"


"Terimakasih" Ucap Queena dengan tersenyum manis lalu Queena pun perlahan membuka isi kotak bewarna merah yang diberikan oleh Alvaro pada dirinya.


"Kau suka?" Tanya Alvaro.


"I-ini... Ini sangat cantik! Apa ini benar-benar untukku Al?" Tanya balik Queena yang tak percaya dengan apa yang Alvaro berikan pada dirinya.


"Tentu saja, memangnya buat siapa lagi jika bukan untukmu" Balas Alvaro.


"Terimakasih, aku sangat menyukai hadiahmu ini" Kata Queena.


"Pakailah" Ujar Alvaro.


"Apa kau tidak ingin memakainya padaku?" Tanya Queena.


"Baiklah" Jawab Alvaro lalu mengambil kotak merah tersebut dari tangan Queena, lalu Alvaropun langsung saja memasangkan cincin di jari manis Queena. Yaa jadi isi kotak bewarna merah yang dikasih Alvaro adalah sebuah cincin berlian yang dibuat secara jhusus untuk Queena dengan harga yang sangat fantastis pastinya dan cincin tersebut hanya ada satu didunia.


...Visual Cincin:...



...Cuuuppp...


"Sangat Cantik" Puji Alvaro dengan mencium tangan Queena hingga membuat Queena seketika merona dan membuang pandangannya ke arah lain.


"Kau merona" Ejek Alvaro dengan terkekeh.


"Tidak! Si-siapa yang merona... Aku hanya sedang kepanasan saja" Elak Queena dengan cepat karena dirinya tidak ingin Alvaro mengejeknya.


"Hahahaha, kau terlihat lucu jika seperti itu" Kata Alvaro yang lagi-lagi membuat Queena merona dibuatnya.


"Lihat, pipimu menjadi lebih merah" Ejek kembali Alvaro dengan tertawa karena melihat tingkah imut Queena.


"Al!"


"Hahahaha, kau benar-benar imut sekarang"


"Ishhh"


"Ohh, apa isi didalam kotak bewarna biru ini Al?" Tanya Queena dengan mengalihkan pembicaraan agar suaminya Alvaro tidak kembali mengejeknya yang tengah merona dibuat suaminya itu.


"Buka saja, kau pasti akan tau nanti jika sudah membukanya" Balas Alvaro dengan diangguki Queena, lalu Queena pun langsung saja membuka kembali kotak bewarna biru yang telah diberikan oleh Alvaro untuknya.


"Ini sangatlah cantik, aku sangat menyukainya" Ujar Queena kembali memuji pemberian dari Alvaro dengan tersenyum manis.


"Aku senang jika kau menyukainya" Kata Alvaro dengan membalas tatapan Queena dengan tersenyum.


...Visual Gelang:...



"Terimakasih"


"Sudah beberapa kali kau mengatakan terimakasih padaku?"


"Lalu? Aku harus apa jika bukan mengucapkan terimakasih padamu Al?" Tanya Queena kebingungan.


"Kau harus memberikan aku ini, sebagai tanda terimakasih mulai sekarang, kau mengerti?" Kata Alvaro dengan menunjukan kearah pipinya.


"Ohh, baiklah"


...Cuuuppp...


...Cuuupppp...


"Sudah?"


"Hmmm, itu lebih baik"


"Queena kau harus ingat! Kau tidak boleh melepaskan cincin ini dan gelang ini apapun alasannya. Terutama cincin pernikahan ini, jika kau melepaskan ketiganya tanpa se'izinku, maka aku akan memotong jarimu bahkan jika perlu tanganmu juga akan aku potong jika aku tidak melihat ketiganya disini! Kau Mengerti?" Tegas Alvaro dengan sedikit mengancam Queena, kalian pasti ingat bahwa Alvaro tidak pernah bermain-main dengan ancamannya jika ia sudah mengatakan pasti ia akan menepati ancamannya itu.


...Glekkk...


'Mengapa Alvaro menjadi lebih kejam dari biasanya hari ini?' Batin Queena.


"Apa kau mengerti Queena?"


"Aku mengerti"


"Ketiga ini adalah sebuah tanda bahwa kau adalah milikku! Hanya milikku seorang. Jika ada yang berani merebutmu dariku maka aku tidak akan segan-segan membunuh orang tersebut, bila perlu aku akan membunuh'nya tepat dihadapan'mu secara langsung. Agar kau tau bahwa aku tidak pernah bermain-main di setiap perkataan ataupun ucapan yang sudah aku keluarkan" Tegas kembali Alvaro dengan tatapan tajam menatap dalam wajah cantik Queena sang istri.


"Jangan pernah bermain-main denganku Queena! Atau kau akan tau akibatnya. Dan jangan pernah menganggap ku lemah ataupun pecundang, karena sebenarnya aku adalah pejuang yang sedang tertidur" Bisik Alvaro ditelinga Queena hingga membuat Queena dibuat merinding seketika olehnya.


"Aku akan mengingat semua kata-katamu tadi Al!" Tutur Queena.


"Bagus, jadilah istri dan calon ibu yang penurut untuk anak-anak ku"


"Hmmmm"


"Dimasa lalu kau adalah malaikatku, dan dimasa sekarang kau adalah iblisku. Dan aku mencintai keduanya tanpa alasan! karena kau memang takdirku" Lirih pelan Queena.


"Kau mengatakan aesuatu?" Tanya Alvaro yang samar-samar mendengar lirihan Queena.


"Tidak ada Al!" Jawab cepat Queena lalu berjalan menuju kamar mandi karena dirinya tiba-tiba merasakan ada yang tidak beres di dalam tubuhnya.


"....."


"Dimasa Lalu aku adalah malaikatmu? Dan dimasa sekarang aku adalah iblismu? Dan kau mencintai keduanya tanpa alasan, karena aku adalah takdirmu! Apa maksud dari ucapan mu sebenar'nya Queena?Dimasa lalu aku adalah malaikatmu? Apa arti dari itu?" Gumam Alvaro yang sebenarnya mendengar gumaman Queena tadi walau pelan tapi ia bisa mendengarnya dengan jelas.


"Sebenarnya, seberapa banyak rahasia yang kau sembunyikan dariku? Apa yang tidak aku ketahui dan tidak aku mengerti" Tanyanya pada dirinya sendiri.


"Suatu saat nanti, aku pasti akan tau semuanya Queena! Aku hanya perlu menunggu saja tanpa harus mencari tau kebenarannya, karena aku yakin suatu saat nanti semua rahasia yang kau sembunyikan dariku akan terbongkar dengan sendirinya. Seperti kata pepatah 'Sepandai-pandainya seseorang menyembunyikan bangkai akan tetap tercium baunya' sama seperti halnya rahasia mu. Sekuat apapun kau menyembunyikannya suatu hari nanti pasti akan ketahuan juga bukan? dan aku hanya tinggal menunggu hal itu"


"Maka dari itu, aku hanya perlu menunggu saja tanpa harus bersusah payah mencari tau yang sebenarnya"


"Aku menunggu hari itu tiba" Ucap Alvaro tersenyum kecil dengan memandangi pintu kamar mandi yang tertutup rapat, karena didalamnya terdapat Queena.