My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S2: Penjelasan Alkenzie



...Mansion Dirgantara...



"Sudah sampai disini saja, kalian pergilah" Ujar Alkenzo yang kini telah sampai di pintu masuk mansion tapi kini dirinya tengah terhenti.


"Maafkan kami tuan muda, tapi tuan besar mengatakan pada kami bahwa kami harus menjaga anda kapan pun dan dimana pun! Kami harus menjaga anda dan membantu anda. Bila anda merasa keberatan anda bisa berbicara langsung kepada tuan besar" Jawab Ray dengan menunduk hormat.


"Huuuuffff, daddy ini terlalu berlebihan bukan aku harap mommy berbeda" Gumam Alkenzo dengan menarik nafasnya berat.


"Alzo mengapa kau pulang? Bukankah seharusnya kau masih berada di kantor" Tanya seseorang kepada Alkenzo dan orang tersebut yang tak lain adalah Shaka yang tidak sengaja melihat kepulangan Alkenzo.


"Mengapa kau kemari?" Tanya Alkenzo datar.


"Ck! Kau lupa?"


"Hmmmm, sudahlah aku ingin masuk terlebih dahulu" Kata Alkenzo lalu pergi berjalan menuju kamarnya diikuti oleh Ray dan Rey.


"Kakakkkk!!" Teriak Alan dengan berhamburan memeluk tubuh Alkenzo, Untungnya ketika Alan teriak Alkenzo sudah siap siaga untuk menguatkan dirinya agar tidak terjatuh ketika Alan memeluknya.


...Happppp...


"Bisakah kau tidak berlarian? Bagaimana jika kau terjatuh nanti ketika kau tadi berlari" Tegas Alkenzo pelan.


"Kakak, mengapa tubuhmu sangat panas! Aku bahkan sangat tidak kuat memelukmu terlalu lama karena suhu tubuhmu yang sangat panas. Kakak apa kau sedang sakit?" Ujar Alan dengan terburu-buru melepaskan pelukannya dari tubuh Alkenzo.


"Kakak tidak sakit" Jawab Alkenzo lirih.


Mendengar perkataan dari Alan, Ray dan Rey pun langsung saja mengecek suhu tubuh Alkenzo dengan alat termometer secara buru-buru! Dan ketika mereka melihat angka suhu tubuh Alkenzo. Mereka pun kini dibuat panik kembali dengan naik nya suhu tubuh Alkenzo secara mendadak padahal jelas-jelas tadi ketika dimobil Alkenzo telah diberikan obat herbal pencegah demam oleh dokter-dokter ahli yang dibawa oleh Alvaro untuknya bahkan dari Queena sang mommy juga.


"Tuan muda, apa and--"


...Bruukkkkk...


"TUAN MUUDAAAA!!"


"Kakakkkk!!"


"Alkenzooo!!"


Teriak semua orang yang berada disekitar Alkenzo secara terkejut dan keras! Karena melihat Alkenzo tiba-tiba saja pingsan dan terjatuh hingga benar-benar tidak sadarkan diri.


"Rey bantu aku memapah tuan muda" Pinta Ray kepada Rey untuk membantunya memapah tubuh Alkenzo.


"Baik"


"Ala--"


"Alzooo!!" Teriak Queena yang baru datang dari arah belakang, Queena tadi ingin memanggil Alan tapi ketika ia melihat putra pertamanya iapun langsung saja berteriak memanggil nama Alkenzo lalu berhamburan berlari menuju kearah Alkenzo.


"Alzo! Alzo dengarkan mommy. Alzo" Panggil Queena dengan panik.


"Kalian ingin membawa Alzo kemana?" Tanya Queena dengan khawatir.


"Kami akan membawa tuan muda Alzo keruang medis nyonya muda" Jawab Ray dan Rey secara bersamaan.


"Tidak! Alat-alat ruang medis saat ini sedang tidak bisa digunakan. Cepat bantu aku bawa putraku ke rumah sakit" Pinta Queena dengan lirih.


"Baik nyonya muda" Balas Ray lalu setelah itu pergi membawa Alkenzo menuju mobil untuk menuju kerumah sakit.


"Aku akan ikut" Kata Shaka.


"Hmmmm, kau jagalah Alan sebentar dan bawa ia kedalam mobil bersama mu! Aunty akan mengambil tas aunty terlebih dahulu" Tutur Queena dengan cepat membalas perkataan Shaka.


"Baik aunty"


"Alzo mengapa kau bisa seperti ini nak" Lirih Queena pelan dengan mata berkaca-kaca membayangkan kondisi putranya saat ini.


...*****...


...Kusuma Grup...



"Cukup sekian meeting hari ini! Kalau begitu saya permisi" Pamit Alkenzie lalu pergi begitu saja dari ruang meeting.


Alkenzie sedari tadi memang sibuk melakukan meeting sampai tidak membaca pesan yang dikirim oleh Queena, Tapi ketika Alkenzie baru saja keluar dari ruang meeting! Alkenzie tidak sengaja berpas-pasan dengan seseorang yang tak lain adalah Zea.


"Tuan" Panggil Zanitha kepada Alkenzie.


"Hmmmm"


"Tuan bisakah kita berbicara sebentar?" Tanya Zea.


"Dimana?" Tanya balik Alkenzie.


"Diluar saja tuan, kebetulan sebentar lagi jam istirahat" Kata Zea.


"Baiklah"


Setelah itu Alkenzie pun langsung saja pergi bersama Zanitha, karena waktu istirahat sebentar lagi jadi mereka pergi ke cafe terdekat sekalian untuk beristirahat. Alkenzie pergi tanpa mengajak Leo disisinya, jadi hingga sampai saat ini Alkenzie masih belum menyadari akan kondisi kembarannya itu.


...Cafe...


"Apa yang kau ingin bicarakan kepada saya? Ahh, Maaf! Pesanlah minuman atau makanan terlebih dahulu. Jangan khawatir saya akan membayarnya untukmu" Ucap Alkenzie sedikit datar sambil menatap wajah Zanitha dalam karena saat menatap wajah Zanitha Alkenzie merasa sedikit familiar.


'Mengapa wajah wanita ini sangat mirip dengan mendiang ka Anitha? Apakah wanita ini ka Anitha?' Batin Alkenzie.


"Hmm, tidak perlu tuan! Saya hanya ingin mengatakan pada anda bahwa mulai bulan depan saya akan mengganti uang anda. Hanya saja dengan cara menyicil" Kata Zanitha dengan tersenyum kecil.


"Uang apa?" Tanya Alkenzie dengan mengerutkan keningnya.


"Uang yang telah anda berikan pada saya pada saat itu, anda menaruhnya di dalam jaz anda karena untuk membantu saja. Dan berkat anda saya bisa menyelesaikan semua masalah saya! Sekali lagi saya ucapkan terimakasih tuan" Jawab Zanitha.


'Ahh aku baru ingat! Wanita ini pasti sebenarnya telah ditolong oleh kakak dan bukan aku. Tapi wanita ini berfikir bahwa aku yang menolongnya' Batin Alkenzie.


"Kau tidak perlu membayarnya. Lagi pula itu sudah jadi kebiasaan kami membantu seseorang yang tengah dalam masalah" Jawab Alkenzie sambil tersenyum kecil.


"Sudahlah! Lagi pula kami membantu anda dengan ikhlas. Dan jangan anggap bahwa kau ini seperti seorang yang diluar sana, karena kami tidak pernah menganggap kau seperti itu" Tutur Alkenzie.


"Kami? Tuan, mengapa sedari tadi anda mengatakan "Kami"?" Tanya Zanitha kebingungan.


"Karena pada dasarnya bukan aku yang telah membantumu! Melainkan seseorang" Balas Alkenzie tersenyum miring.


"Tidak mungkin kan saya bisa mengenali orang, saya melihat jelas anda pada saat itu. Bahkan anda berkata kepada saya "Jangan menjadi wanita lemahhh! Bila kau sedang dalam keadaan sulit, sebaiknya kau berusaha untuk mencari jalan keluarnya. Tidak peduli seberapa sulitnya kehidupan kau harus menjalaninya dan melewatinya! Bukan malah menangis seperti anak kecil" Anda mengatakan itu kepada saya bukan?" Terang Zanitha dengan nada sedikit tidak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini.


Karena Zanitha berfikir, bagaimana mungkin dirinya bisa salah dalam mengenali seseorang. Padahal jelas-jelas pada malam itu ia sangat-sangat melihat rupa wajah pria tersebut! Setiap inci wajah pria yang menolongnya itu ia bahkan sudah hafal.


"Saya tidak pernah mengatakan kata itu kepada anda" Kata Alkenzie.


"Tapi tuan... Saya benar-benar melihat anda dengan jelas pada saat itu, dan kata itu anda sendirilah yang mengucapkannya kepada saya" Jelas Zanitha dengan meyakinkan Alkenzie.


"Seberapa keras kau meyakinkan-ku, tetap saja orang yang mengatakan itu bukanlah aku apalagi orang yang membantu mu saat itu. Jelas-jelas aku tidak pernah membantu dirimu" Pungkas Alkenzie.


"Tapi--"


"Apa kau benar-benar melihat wajahnya dengan jelas?" Tanya Alkenzie.


"Hmmmm"


"Kau melihat matanya atau tidak?" Balas Zanitha dengan menundukkan wajahnya.


"Coba kau lihat mataku. Apakah aku benar-benar adalah pria pada malam itu?" Titah Alkenzie, Mendengar itu Zanitha pun langsung saja menatap manik mata Alkenzie dengan dalam.


"Apa warna mataku?" Tanya Alkenzie kembali.


"Biru"


"Lalu, apa warna mata pria pada malam itu?"


"Tentu saja hita-mm... Jadi?" Kata Zanitha dengan terhenti.


"Hahahaha! Aku sudah mengatakannya padamu, bahwa pria pada malam yang membantumu itu bukanlah aku" Tutur Alkenzie dengan tertawa.


"Tapi... Bagaimana mungkin jelas-jelas malam itu.


." Gumam Zanitha yang masih bisa didengar oleh Alkenzie.


"Kau pernah dengar tentang ku? Ataupun keluargaku?" Tanya Alkenzie lagi-lagi.


"Tidak! Karena selama ini saya selalu sibuk bekerja hingga tidak ada waktu untuk memainkan hendphone ataupun melihat berita-berita terkini"


"Maka lihatlah dan perhatikan ini" Tunjuk Alkenzie dengan memberikan hendphone kepada Zanitha.


Zanitha pun dengan perlahan mengambil hendphone milik Alkenzie, Lalu... Mulai memperhatikan setiap foto yang ada di dalamnya dengan baik. Ketika melihat foto yang ditunjukkan oleh Alkenzie tersebut. Zanitha pun terkejut dibuatnya yang mana foto tersebut berisi foto keluarga yang terdapat Alkenzo, Alkenzie, Arianna, Brianna, Queena, Alvaro serta Alan di dalamnya.


"Ini"


"Pria yang kau lihat pada malam itu sebenarnya bukanlah saya, melainkan kakak saya! Dan saat di cafe,K kau sebenarnya bertemu dengan kakak saya terlebih dahulu. Tapi karena kakak saya pada saat itu harus mengangkat sebuah telpon masuk jadi ia pergi begitu saja. Dan kebetulan pada waktu itu saya juga berada disana dan baru keluar dari dalam toilet! Lalu kau mengira mencari kakak saya dan pergi mengelilingi cafe,K dan pada saat itu kau bertemu saya dan menganggap bahwa saya adalah kakak saya pada saat itu" Jelas Alkenzie kembali.


"Pantas saja pada saat bertemu anda di depan toilet, saya merasa anda lebih sedikit ceria dibandingkan pada saat saya bertemu dengan kakak anda! Yang mana kakak anda adalah pria pada malam itu" Lirih pelan Zanitha.


"Karena kau sudah tau yang sebenarnya! Apalagi kau sudah melihat kedua wajah adik kembar perempuan saya. Saya harap kau bisa menutup mulutmu agar tidak bercerita dan memberitahu kepada semua orang bagaimana rupa wajah adik perempuan saya" Pinta Alkenzie.


"Saya paham dan saya mengerti! Saya tidak akan pernah memberi tahu kepada semua orang bagaimana rupa wajah adik perempuan anda tuan" Ucap Zanitha.


"Jadi...?"


"Terimakasih telah memberitahukan saya tentang kebenarannya tuan! Kalau begitu saya mohon pamit" Izin Zanitha.


"Tunggu... Bolehkah saya tau siapa namamu?" Tanya Alkenzie dengan mengehentikan langkah kaki Zanitha.


"Zanitha Zayna Alzea! Anda bisa memanggil saya Zea" Ucap Zanitha.


"Kita akan menjadi teman, Alkenzie Keano Putra Dirgantara" Tutur Alkenzie dengan mengulurkan tangannya.


Zanitha pun kini terdiam sejenak ketika melihat Alkenzie mengulurkan tangannya, tapi... Dengan cepat iapun tersadar dan langsung membalas uluran tangan dari Alkenzie.


"Senang bisa mengenal anda tuan--"


"Jangan formal lagi, panggil saja Alzie. Aku dan kakak ku berbeda! Jika kakak ku es maka aku adalah kebalikannya" Ujar Alkenzie dengan tersenyum manis hingga membuat Zanitha membalas senyuman manisnya.


"Baiklah, Aku tidak akan sungkan lagi denganmu Alzie" Kata Zanitha.


...Dretttt... Dretttt......


"Tunggu sebentar" Titah Alkenzie.


My mom 📞: Alzieee!


^^^Alkenzie: Shetttt! Mommy ada apa?^^^


My mom 📞: Berapa kali mommy mengirim pesan kepadamu? Tapi kau tetap tidak membalas ataupun melihatnya hikssss...


^^^Alkenzie: Mommy, mengapa kau menangis?^^^


My mom 📞: Kakak-mu Alzo hikssss... Mommy tidak bisa menjelaskannya disini! Kau cepatlah datang kerumah sakit dirgantara mommy menunggumu hiksss...


^^^Alkenzie: Kakak dirumah sakit? Baik! Aku akan segera kesana. Mommy kau tenanglah^^^


My mom 📞: Hmmmm, cepatlah


^^^Alkenzie: Baik^^^


Tut.


"Aku akan kerumah sakit! Tapi aku akan mengantarmu terlebih dahulu ke perusahaan" Tutur Alkenzie.


"Bolehkan aku ikut denganmu?" Tanya Zanitha.


"Hmmm baiklah"