
"Dimana Queena?" Tanya Alvaro pada dirinya sendiri yang baru turun dari atas kamar'nya menuju ke arah ruang tamu.
...Goooaaarrrrr...
"Suara apa itu?" Gumam Alvaro yang samar-samar mendengar suara seekor macan, Alvaro'pun langsung saja mencari asal suara tersebut. Dan... betapa terkejutnya ia ketika melihat seekor macan bewarna hitam putih sedang duduk dengan tenang di atas sofa ruang tamu.
"Macan?"
"Queenaaa!!" Teriak Alvaro dengan menggelegar keseluruhan mansion Alqueen.
"Apaaaaaaa"
"Al ada apa? menapa kau berteriak?" Jawab Queena dengan bertanya sambil berlari kecil menuju Alvaro yang tengah memanggilnya.
"Queenaaa... Kau mengatakan kepadaku ingin memelihara apa? dan ingin merawat seekor apa?" Geram Alvaro dengan bertanya sambil menatap tajam wajah Queena saat ini.
"Kucing kecil" Jawab Queena dengan polosnya.
"Laluuu...? Mengapa yang datang malah bibinya kucing, dan bukan seekor kucing yang kau maksud" Tanya kembali Alvaro dengan kesal pada Queena.
"Karena kucing kecilnya tidak ada Al, jadi aku memilih bibinya saja" Jawab Queena cengengesan tanpa merasa bersalah sedikit'pun.
"Aku tidak ingin tau Queena! Kau harus mengembalikan macan ini sekarang juga atau aku yang akan nengembalikan'nya!" Titah Alvaro dengan memijat pelipisnya karena merasa sedikit psing dengan tingkah Queena.
"Tapi Al... Bukankah kau sudah mengizinkan'ku untuk memelihara hewan?" Tanya Queena dengan cemberut lalu memeluk tubuh Anvaa dengan erat karena ia tidak terima jika Anvaa dikembalikan ketempat asalnya lagi.
Karena prinsip Queena, jika ia sudah menyukai sesuatu maka selamanya akan ia sukai dan tidak akan ia buang atau ganti begitu saja.
"Aku mengizinkan'mu untuk memelihara hewan yang kecil...Seperti kucing, bukan hewan yang besar apa lagi seperti ini, bibinya kucing!" Kata Alvaro dengan menjelaskan.
"Al, kumohon izinkan aku untuk merawatnya yaaa... Aku akan memastikan bahwa Anvaa tidak akan mengganggu'mu" Ujar Queena dengan memohon kepada Alvaro.
"Kau menamainya apa tadi?" Tanya Alvaro dengan mengerutkan keningnya.
"Anvaa" Jawab Queena.
"Baik... Aku akan mengizinkanmu untuk memelihara'nya... tapi ada satu syarat yang harus kau lakukan" Kata Alvaro dengan tersenyum devil.
"Iyaa, katakan saja Al. Aku pasti akan melakukannya apapun itu" Balas Queena dengan tersenyum manis.
"Syaratnya, nanti saja aku akan pikirkan kembali! Sekarang buatkan aku teh jangan terlalu manis" Titah Alvaro lalu duduk di sofa dengan memainkan hendphone'nya.
"Maka dari itu, jika kau sedang minum teh janganlah menatapku Al!" Ucap Queena.
"Mengapa?" Tanya Alvaro kebingungan.
"Bukankah tadi kau mengatakan tidak ingin terlalu manis? Aku manis, jika kau melihatku maka tehnya akan terasa sangat manis. Maka dari itu janganlah menatapku jika tidak ingin diabetes" Jelas Queena dengan pd'nya sambil tersenyum manis, lalu setelah itu berlari masuk kedalam dapur untuk membuatkan teh yang diminta oleh Alvaro.
"Queenaaa!!"
"Berani'nya mendoakan ku terkena diabetes" Kesal Alvaro yang merasa Queena tengah mengejeknya padahal sebenarnya tidak.
"Anvaa?"
"Kenapa aku merasa nama'mu sangat familiar" Tanya Alvaro pada Anvaa yang sedang menatapnya dalam.
...*****...
...Malam harinya......
...Ruang tamu...
"Al" Panggil Queena.
"Ada apa?"
"Apa aku boleh memelihara satu lagi bibi'nya kucing? aku ing--" Tanya Queena tapi lebih dulu di potong oleh Alvaro.
"Tidaakkkk!" Tegas Alvaro yang tidak memperoleh Queena untuk memelihara kembali satu ekor macan lagi.
"Kenapa?" Tanya Queena dengan cemberut.
"Ku bilang, tidaakkkk"
"Tapikan Al--" Ucap Queena yang terpotong karena mendengar suara seseorang yang kini tengah datang berkunjung ke mansion miliknya di malam hari seperti ini.
...Tiingggg... Toooggg......
Suara bel mansion Alqueen tiba-tiba saja berbunyi di malam-malam seperti ini, hingga membuat Alvaro dan Queena yang sedari tadi bergelut akhirnya berhenti dan diam sambil melirik satu sama lain. Setelah itu keduanya bertanya satu sama lain.
"Siapa yang datang berkunjung malam-malam seperti ini?" Tanya Queena dan Alvaro bersamaan lalu mereka'pun tiba-tiba langsung saling pandang satu sama lain.
"Kau mengundang tamu Al?" Tanya Queena.
"Tidak"
"Aku juga tidak"
"Bibi... tolong bukakan pintunya" Titah Alvaro dengan sedikit berteriak memanggil Bi Lin yang tengah berada di belakang.
"Baik, Tuan" Jawab Bi Lin dengan hormat lalu pergi untuk membukakan pintu mansion saat ini juga.
"Kira-kira siapa yang datang?" Tanya Queena dengan menatap wajah Alvaro yang tengah sibuk mengutak-atik laptopnya.
Dari mana Alvaro mendapatkan laptop? Entahlah, tapi memang sebenarnya laptop miliknya itu sudah sejak awal berada di atas meja ruang tamu. Jadi ketika dirinya selesai memainkan hendphone'nya ia langsung berganti kembali ke laptop miliknya.
"Tidak tau" Jawab Alvaro.
"Sayanggg" Teriak seseorang, yang mana tak lain adalah Amanda yang datang dengan membawa sebuah koper miliknya sambil berlari menuju Alvaro.
"Amanda?"
"Kupu-kupu gelap ini" Gerutu Queena.
"Sayang, mengapa kau tidak menjemput'ku? hmmm, Kau tau sedari kemarin aku menunggumu tapi kau malah tidak datang, jadi aku berinisiatif sendiri untuk datang menemui'mu" Ujar Amanda dengan bermanja-manja di lengan kekar milik Alvaro tanpa memperdulikan kehadiran Queena saat ini.
"Manda lepaskan lengan'kuuu... aku sedang sibuk" Ketus Alvaro yang memang sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya yang menumpuk begitu juga dengan Queena. Yaa, Queena memang tengah mengerjakan tugas kantornya juga bersama dengan Alvaro disaat Alvaro meneriaki Queena tadi, Queena datang bersama dengan laptop kerjanya ditangan.
"Heyyy kauuu! Pergilah aku ingin berduaan saja dengan calon suami'ku, dan tolong buatkan aku minuk" Titah Amanda dengan mengusir Queena yang tengah menatap fokus layar laptopnya tanpa memperdulikan kehadiran Amanda yang menyuruhnya untuk pergi sekaligus memerintahkan'nya untuk membuatkan minuman.
"Apa kau tidak mendengarkuu... Pergilahhh!!" Sentak Amanda pada Queena, tapi lagi-lagi Queena tidak menghiraukan'nya.
"Kau sedang berbicara denganku?" Tanya Queena dengan santainya. Sambil menatap polos wajah Amanda yang sudah sangat merah akibat menahan amarah.
"Jika bukan denganmu terus dengan siapa?" Tanya Amanda dengan ketus.
"Oowwhh... Ku kira kau sedang berbicara dengan makhluk tak kasat mata yang berada di mansionku" Jawab Queena dengan santainya lalu pergi begitu saja tanpa memperdulikan Amanda yang sedang berbicara padanya.
"Kauuuu!!"
"Berani sekali kauuu" Geram Amanda kepada Queena.
"Anvaa, kemarilah" Panggil Queena dengan berbisik sambil tersenyum manis.
...Gooaaarrrrr...
"Anvaa, apa kau lihat wanita itu? Kau tau tadi dia menyakitiku, jadi kau harus memberikan'nya hadiah imbalan atas apa yang dia berikan padaku. Kau mengerti!?" Bisik Queena di telinga Anvaa sambil mengelus kepalanya Anvaa pelan, entah bagaimana Anvaa bisa mengerti dengan ucapan Queena hingga membuatnya mengangguk kecil hingga mengeluarkan suaranya.
...Goooaaarrrrr...
"Anak pintar, jadi pergilah" Titah Queena dengan tertawa kecil, lalu... iapun langsung saja bersembunyi agar tidak ketahuan oleh Alvaro bahwa ia kini tengah menyuruh Anvaa untuk menjahili Amanda.
"Al, apa aku boleh tinggal disini?" Tanya Amanda.
"Hmmm" Dehem Alvaro.
"Kau tidak lupa kan dengan rencana yang kita buat Al?" Tanya kembali Amanda dengan memegang lengan Alvaro.
"Tidak" Jawab Alvaro dengan malas.
"Baguslah kalau begitu---" Kata Amanda tapi terpotong karena merasakan kedatangan Anvaa yang membuatnya terkejut setengah mati.
...Goooaaarrrrr...
"Aaaaaaaaaaaa"
"Al!! ada macannnn..." Teriak Amanda yang terkejut karena melihat Anvaa, yang mana Anvaa kini tengah menatap tajam kearahnya dan perlahan-lahan mendekatkan dirinya kepada Amanda.
"Al!... Al!... Aku sangat takut ku mohon tolonglah Akuuu... Arghhhhhh! Alvaarooooo!!" Teriak Amanda dengan gemetar ketakutan, hingga membuatnya kini tengah berdiri diatas sofa sedangkan Alvaro ia hanya diam sambil menatap wajah Amanda yang tengah ketakutan setengah mati dengan tatapan datar.
"Anvaa pergilah, jangan menggang'nya" Titah Alvaro dengan menatap wajah Anvaa yang sedang menatapnya. Dan Anvaa yang mendapatkan perintah dari Alvaro'pun seketika menurut dan langsung saja pergi.
...Goooaaarrrrr...
"Kemarilah" Kata Alvaro yang menyuruh Anvaa untuk mendekat kearahnya.
"Apa kau di perintahkan oleh Queena untuk menakuti Amanda?" Bisik Alvaro agar Amanda tidak mendengarnya.
...Goooaaarrrrr...
"Hmmm, pergilah temui Queena" Usir Alvaro dengan lembut pada Anvaa, karena Ia yakin bahwa Queena'lah yang tengah memerintahkan kepada Anvaa untuk menakut-nakuti Amanda. lalu Anvaa'pun langsung saja pergi.
"Anvaa, Anak yang baik." Kata Alvaro dengan Tersenyum kecil kepada Anvaa.
"Macan-nya, sudah Pergi jadi turunlah Manda." Ujar Alvaro menatap malas Amanda yang masih gemetaran karena ketakutan melihat Anvaa.
"Al... mengapaaa... menapa bisa ada seekor macan di mansion'mu? sangat mengerikan" Tanya Amanda yang turun dari sofa secara perlahan tapi pandangan wajahnya masih menatap Anvaa yang kini sudah terlihat sedikit menjauh.
"Karena Queena yang memelihara'nya" Jawab Alvaro dengan santainya tanpa melihat ekspresi wajah Amanda yang kini menunjukkan raut yang sangat kesal.