My First Love Is My Wife

My First Love Is My Wife
S1: Wellcome baby four dirgantara



...Flashback...


...Sembilan bulan yang sebelumnya.......


"Kakak semangatlah!" Kata Lauren dengan menyemangati Queena yang kini tengah dibawa menuju ruang operasi, karena hari ini adalah hari dimana dirinya akan melihat buah hati kecilnya lahir ke dunia.


Yupsss... Hari ini adalah hari yang telah ditunggu-tunggu oleh Queena dan semua orang tentunya, hanya saja mereka tidak bisa ikut serta menyaksikan Queena saat ini! Bahkan Alvaro sendiri tidak bisa.


"Lauren" Panggil Queena.


"Iyaa kakak" Jawab Lauren dengan tersenyum manis.


"Jika sesuatu saat terjadi apa-apa dengan kakak!Tolong datanglah dan temui keluarga kakak... Dan berikan anak-anak kakak kepada suami kakak. Kau katakanlah pada mereka bahwa kakak sangat menyayangi mereka semua" Titah Queena kepada Lauren.


"Apa yang kau katakan kakak? Aku yakin kau akan baik-baik saja. Begitu juga dengan keponakan-keponakanku" Ujar Lauren.


"Ahh sudahlah" Ujar Queena.


"Maaf dokter Lauren, anda tidak bisa ikut kedalam" Ucap Suster tersebut yang akan membantu Queena untuk melahirkan.


"Aku tau" Balas Lauren dengan mengangguk kecil.


Suster tersebut yang sudah mendapatkan jawaban dari Lauren langsung saja menutup pintu ruang operasi, karena sudah waktunya Queena untuk melahirkan saat ini.


...Didalam ruang operasi...


"Nyonya apa anda sudah siap?" Tanya dokter yang akan membantu Queena untuk melahirkan buah hati kecilnya.


"Sudah" Jawab Queena singkat.


"Suster tolong bantu saya" Titah Dokter tersebut kepada salah satu suster yang ada disana.


"Baik dokter " Jawab Suster tersebut.


"Alvaro" Lirih pelan Queena lalu kian iapun mulai memejamkan kedua matanya karena efek suntik yang berisi cairan bius didalamnya sudah menjalar di tubuhnya. Yang biasa digunakan untuk melakukan operasi untuk ibu hamil.


"Mari kita mulai" Tutur Dokter tersebut yang diangguki oleh semua yang ada didalam ruang operasi.


...Sedangkan diluar......


Kini Lauren tengah cemas hingga mundur-mandir tidak jelas, karena ia terlalu mengkhawatirkan kondisi Queena yang kini tengah berada didalam.


"Ya tuhan!"


"Aku memohon padamu... Lancarkanlah persalinan kakakku ini... Dan berikan kesehatan untuk keempat keponakanku dan juga kakakku" Doa Lauren untuk Queena dan calon keponakannya yang beberapa menit lagi akan ia lihat raut wajahnya.


"Semoga prediksiku tentang salah satu keponakanku salah! Semoga salah satu keponakanku itu baik-baik saja..." Gumam Lauren dengan kembali mundar mandir tidak jelas seperti setrikaan yang belum panas.


...Los Angeles...


...Deggggg...


"Ada apa denganku?" Tanya Alvaro dengan pelan.


"Al, ada apa?" Tanya David dengan berbisik karena sekarang dirinya dan Alvaro tengah melakukan meeting dengan seluruh kolegen bisnisnya.


"Tidak ada" Jawab Alvaro dengan datar.


'Ada apa denganku? Mengapa tiba-tiba perasanku menjadi tidak tenang. Dan mengapa aku merasa Anna sedang memanggilku? Ada apa sebenarnya ini' Batin Alvaro yang kini tengah bertanya-tanya.


"Aku merasa aneh saat ini! Apa yang aku khawatirkan dan aku cemaskan saat ini?" Lirih pelan Alvaro yang masih bisa didengar oleh David, karena David tengah berada disampingnya.


...Deggggg...


"Shutttt... Ada apa denganku?" Tanya Alvaro dengan memegangi dadanya karena tiba-tiba merasa sangat sakit.


"Al, kau kenapa?" Tanya kembali David dengan cemas.


"Ak--aku tidak apa-apa" Balas Alvaro kembali sambil memegangi dadanya yang tengah terasa sangat sakit yang luar biasa.


"Tuan, apa anda baik-baik saja?" Tanya salah satu rekan bisnisnya yang tidak sengaja melihat Alvaro sedang menahan sakit tepat di dadanya.


"I'm fine" Jawab Alvaro.


'Lindungilah dimana'pun istriku dan anak-anakku berada, tuhan!' Batin Alvaro.


...Prancis...


...Owekkk Owekkk...


Suara tangis seorang bayi pun akhirnya pecah dan mulai menggelegar keseluruh sudut tiap ruangan Operasi.


Bayi pertama yang memiliki wajah tampan dan berjenis kelamin laki-laki tersebut-pun telah dilahirkan oleh seorang sosok ibu yang kini masih terlelap pingsan karena efek obat bius. Lalu... tak lama kemudian pun terdengarlah suara bayi kedua yang memiliki wajah tak kalah tampan juga yang berjenis kelamin laki-laki dari sang kakak.


...Owekkk Owekkk...


"Kedua bayinya laki-laki... perbedaannya hanya enam menit saja" Ucap Dokter tersebut dengan kembali memberikan bayi tersebut kepada salah satu suster yang lain untuk segera dibersihkan.


"Bukankah bayinya sangat tampan?" Bisik Suster tersebut yang tengah memegang bayi pertama milik Queena kepada suster yang tengah memegang bayi kedua milik Queena.


"Benar, bayi ini benar-benar sangat tampan" Puji Suster tersebut dengan tersenyum manis.


...Owekkk Owekkk...


"Bayi Ketiga, berjenis kelamin perempuan" Kata dokter tersebut dengan kembali memberikan bayi milik Queena kepada suster yang ada disana kembali.


"Bayi yang cantik" Puji Suster tersebut dengan menggendong tubuh mungil putri Queena tersebut dengan sangat hati-hati.


"Dan bayi terakhir juga sama hanya berbeda enam menit, keempatnya hanya terpaut enam menit saja" Ucap dokter tersebut.


"Dokter mengapa bayi keempat ini... Tidak menangis?" Tanya suster tersebut dengan khawatir.


Dokter yang mendengar itupun tersadar dengan apa yang suster itu ucapkan, karena ia juga merasa sangat aneh... Mengapa bayi perempuan yang terkahir ini tidak menangis? Lalu.. dengan cepat iapun memukul-mukul pelan bayi perempuan milik Queena tersebut agar bayi tersebut mau menangis.


"Dokter" Panggil Suster tersebut dengan nada panik.


"Sepertinya kondisi bayi kecil ini sangat lemah! Berbeda dengan yang lainnya..." Ujar Dokter tersebut dengan berusaha membuat bayi perempuan keempat Queena untuk mau menangis.


...Owekkk Owekkk Owekkk...


Tangis yang begitu kencang dari bayi perempuan tersebut-pun akhirnya keluar... Dokter dan para suster pun akhirnya bisa bernafas dengan lega karena akhirnya bayi terakhir Queena mau menangis.


"Huuuffff... Akhirnya" Lirih pelan dokter tersebut dengan menghembuskan nafasnya berat.


"Suster... Tolong bersihkan bayi Kecil ini! Setelah itu... Tolong taruh bayi ini diruang rawat bayi... Karena bayi kecil ini kondisi fisiknya benar-benar lemah" Tutur Dokter tersebut dengan memberikan kembali lagi bayi milik Queena.


"Baik dokter" Jawab Suster Tersebut.


...Diluar ruangan operasi...


"Syukurlah" Ucap Lauren dengan tersenyum bahagia karena dirinya dapat mendengar suara tangisan bayi mungil yang ada didalam sana.


"Syukurlah tuhan. Kau mau mendengarkan doa-ku" Lirih pelan Lauren.


"Welcome baby twins four"


...Ceklekkkk...


"Dokter nana, bagaimana keadaan kakakku?" Tanya Lauren kepada dokter yang habis membantu melahirkan Queena.


"Selamat dokter Lauren atas lahirnya keponakan-keponakan yang imut dan lucu itu. Mereka semua sangat tampan dan cantik lalu juga sehat hanya saja..." Ucap dokter yang bernama Nana itu.


"Hanya saja apa?" Tanya Lauren dengan mengerutkan keningnya.


"Hanya saja... Salah satu diantara mereka memiliki kondisi fisik yang lemah! Bahkan tadi saja... Salah satu bayi itu tidak ingin menangis, tapi untungnya setelah beberapa menit akhirnya bayi kecil itu menangis" Jelas dokter Nana yang membuat Lauren terkejut.


"Bayi yang nomor berapa?" Tanya kembali Lauren dengan khawatir.


"Yang paling bungsu" Jawab dokter Nana.


"Emmmmmm, kalau begitu bisakah saya melihat kakak saya? Dan keponakan-keponakan saya?" Izin Lauren kepada dokter Nana.


"Bisa, tapi tunggu kakak anda dipindahkan terlebih dulu" Jawab dokter Nana dengan tersenyum manis.


"Baik, kalau begitu terimakasih dokter" Balas Lauren yang diangguki oleh dokter Nana, lalu... Setelah itu dokter Nana-pun izin untuk pamit karena ingin mengurusi pasiennya yang lain.


...Ruang Rawat Queena...


"Hai, ponakan aunty yang tampan dan cantik... Akhirnya aunty bisa melihat kalian" Ucap Lauren dengan pelan sambil mengelus-elus ketiga bayi kecil tersebut.


Sedangkan Queena, Ia masih dalam pengaruh obat bius makanya ia belum bisa melihat ketiga anak-anaknya! Maksudnya empat.


"Dokter Lauren" Panggil salah satu suster yang baru saja masuk.


"Shutttt! ada apa?" Jawab Lauren dengan mengecilkan suaranya agar Queena tidak terganggu dengan suaranya dan juga suara suster tersebut.


"Anda dipanggil ke ruangan dokter Nana sekarang" Jelas suster tersebut yang ikut mengecilkan suaranya.


"Baik, saya akan pergi kesana sekarang" Balas Lauren lalu mulai pergi untuk menemui dokter Nana yang kini tengah menunggunya.


...Ruangan Dokter Nana...


"Dokter Nana" Panggil Lauren.


"Dokter Lauren, silahkan duduk" Ucap Dokter Nana dengan mempersilahkan Lauren untuk duduk.


"Hmmmm, baiklah terimakasih" Balas Lauren dengan tersenyum manis.


"Sama-sama"


"Bagaimana kondisi tentang keponakan saya dokter?" Tanya Lauren yang langsung too the poins kepada dokter Nana. Karena kepanggilan dirinya memang untuk membahas tentang putri Queena yang bungsu yaitu Brianna.


"Anda bisa melihatnya sendiri dokter Lauren" Ujar dokter Nana dengan memberikan hasil laporan mengenai kondisi bayi Queena yang paling bungsu itu.


Tidak berlama-lama lagi, Lauren-pun langsung saja mengambil kertas hasil laporan milik keponakannya tersebut. Dengan perlahan dan jelas Lauren membaca hasil laporan tersebut, lalu... Iapun terkejut setelah membaca hasil laporan mengenai kondisi Bayi keempat milik Queena tersebut.


"Leukimia?" Gumam Lauren dengan mengerutkan keningnya.


"Benar, dokter Lauren! Keponakan anda terkena leukimia" Sahut dokter Nana dengan menatap wajah Lauren dengan tatapan sendu.


"....."


"Anda pasti sudah tau bukan? Bagaimana cara menyembuhkan penyakit leukemia ini dokter... Saya sarankan untuk anda segera mengambil tindakan" Ujar dokter Nana.


"Saya tahu dan saya paham dokter Nana. Saya akan menceritakan ini terlebih dahulu kepada kakak saya... Baru setelah itu saya yang akan menangani keponakan saya! Atau mengambil tindakan kepada keponakan saya, dan saya yang akan menjadi dokter untuk keponakan saya" Jelas Lauren yang dibalas anggukan kecil oleh dokter Nana.


"Baik dokter Lauren, kalau begitu saya hanya bisa membantu dokter Lauren kapan pun yang dokter Lauren butuhkan! Saya akan berdoa agar keponakan kecil anda bisa sembuh sesegera mungkin atau akibatnya akan--" Ucap dokter Nana.


"Saya tau, kalau begitu terimakasih dokter Nana! Saya mohon pamit... Karena saya harus menemani kakak saya saat ini" Pamit Lauren yang izin terlebih dahulu kepada dokter Nana.


"Yaa, silahkan dokter Lauren" Balas dokter Nana dengan mempersilahkan Lauren untuk keluar.


"Sekali lagi terimakasih" Ucap Lauren dengan tersenyum.