
"Kenzo menyingkirlah" Teriak seseorang yang bernama Anitha kepada Alkenzo yang tengah terbengong ditengah jalan yang entah sedang memikirkan apa.
Alkenzo terbengong dan terhenti secara tiba-tiba karena telinganya samar-samar mendengar suara kekasih kecilnya itu yang meneriaki namanya untuk menyingkir, begitu juga dengan suara samar-samar teriakkan dari Brianna adiknya itu.
"Seperti suara Anitha? Tapi... Bagaimana mungkin ia berada disini?" Gumam Alkenzo.
"Kenzo awwaasss!!" Teriak Anitha.
...Brraaakkkk...
...Bruuukkkk...
...Deggggg...
"Anithaaaa!!" Teriak Alkenzo histeris, ketika melihat wanita yang ia cintai itu mendorong tubuhnya dengan keras ketepi jalan untuk menyelamatkan nya dari mobil yang melaju dengan kencangnya menuju dirinya itu.
"Kakak Anithaaaa!!" Teriak Brianna dengan berlarian menuju Anitha yang terpental sangat jauh karena menyelamatkan kakaknya itu.
'Tidak mungkin' Batin Alkenzo.
Karena Alkenzo tidak mendengar teriakkan darinya, Anitha pun dengan cepat berlari menuju kearah Alkenzo dan ketika sampai ditempat Alkenzo tengah berdiri. Anitha pun langsung saja mendorong tubuh Alkenzo dengan begitu kerasnya hingga membuat Alkenzo terjatuh tepat di tepi jalan hingga membuat kening Alkenzo terluka.
Tapi dirinya justru jauh lebih terluka, karena menyelamatkan Alkenzo. Kini malah dirinyalah yang tertabrak mobil hingga terpental sangat jauh dan terseret dengan keras dijalan yang lurus itu. Teriakan dengan teriakkan memanggil namanya, Anitha pun tersenyum ketika terseret dengan keras saat dirinya ditabrak! Dirinya tersenyum menatap wajah Alkenzo sang kekasih karena dirinya merasa bangga telah menyelamatkan nyawa pria yang sangat-sangat ia cintai itu.
"Anitha!"
"Anithaaaa buka matamu Anitha hikssss... Bodoh mengapa kau menyelamatkanku hikssss... hikssss... Bangun Anitha ku bilang bangun" Tangis Alkenzo histeris dengan menghampiri tubuh Anitha yang terluka dengan cukup parah.
Dengan kulit yang tergores-gores sangat dalam, hidung, kening, telinga, mulut, dan seluruh tubuh yang terus saja mengeluarkan darah segar dengan cukup banyak. Dan kepala yang juga ikut mengeluarkan begitu banyak darah dibelakang mampu membuat diri Anitha tidak sadarkan diri lagi. Dan itupun mampu membuat Alkenzo lemas seketika ketika melihat kondisi dirinya itu begitu juga dengan Brianna.
"Anitha buka matamu. Anithaaaa! Buka matamu Hiksss... hikssss... Jangan tinggalkan aku buka matamu ku mohon hikssss... Anitha!" Isak Alkenzo dengan perlahan memangku tubuh Anitha kedalam dekapannya.
"Bodoh kau bodoh! Mengapa kah malah menyelamatkan aku? HAA! Hikssss... Kau bodoh Anitha! Sekarang aku bilang buka matamu. Hikssss... hikssss... Buka matamu Anithaaaa!" Teriak Alkenzo dengan mengguncang-guncangkan tubuh Anitha pelan.
"Kakak, kakak Anitha!" Panggil Brianna dengan mata berkaca-kaca menatap keduanya.
"Bria, cepat selamatkan Anitha hikssss... Brianna cepat panggilkan ambulance dan tolong selamatkan nyawanya" Pinta Alkenzo dengan menangis begitu kerasnya.
"Hikssss... Kakak aku pasti akan berusaha menyelamatkan kakak Anitha hikssss... hikssss... Aku sudah memanggil ambulance untuk kesini" Jawab Brianna dengan menangis lalu perlahan mendekatkan dirinya kearah Anitha dan Alkenzo.
...Deggggg...
Terkejut, benar! Ketika Brianna mengecek nadi Anitha di pergelangan tangannya dan dileher jenjang milik Anitha tiba-tiba saja pergerakan tangannya terhenti. Tatapan dan pandangan kosong, air mata yang begitu deras mengalir di pipi mulusnya mampu membuat Alkenzo menjadi lebih khawatir dan lebih cemas terhadap kondisi Anitha! Kekasih kecilnya itu.
"Hikssss... Mengapa kau diam Bria? hikssss... Katakan bagaimana kondisi Anitha" Tanya Alkenzo dengan isakannya.
"Kakak Anitha sudah pergi" Lirih Brianna dengan terududuk lemas menatap wajah Alkenzo.
"Tidakkk!"
"Tidak mungkin! Hikssss... hikssss... Kau pasti bercanda kan Bria?! Haa, kau pasti bercanda kan Bria. Katakan pada kakak hikssss... Kau pasti bercanda kan Brianna!" Bentak Alkenzo pada Brianna.
"Kakak, Hiksss... hikssss... Aku tidak bercanda! Hikssss... Kakak Anitha sudah pergi hiksss... Kakak Anitha sudah pergi" Balas Brianna dengan histeris.
"Tidak mungkin"
"Ini semua pasti mimpi, tidak mungkin! Tidak mungkin! Tidak mungkin Anitha pergi begitu saja. Tidak mungkin, TIDAK MUNGKIN" Teriak Alkenzo dengan sangat keras.
"Anitha buka matamu"
"Buka matamu Anitha! Buka matamu..."
"ANITHAAAA!!"
...Flashback Off...
"Kau tau dia mencintaimu dan kau juga mencintainya. Kau tau namanya dan kehidupannya tapi tidak dengan kepanjangan namanya! Alzo. Bila kau benar-benar putraku, maka buktikanlah dengan cara temukan keberadaannya. Jangan sampai ia lebih dulu memiliki perasaan terhadap orang lain" Ucap Alvaro pelan dengan tersenyum kecil menatap layar laptopnya.
"Daddy yakin kau pasti akan menemukannya nanti! Karena darah daddy mengalir ditubuhmu. Tidak ada yang tidak mungkin untuk daddy ketahui termasuk dirimu, kau putraku kau pasti bisa melewati ini semua dengan cepat" Gumam Alvaro kecil.
...Dreetttt... Dreetttt......
"Malam-malam seperti ini, siapa yang mengirim pesan dengan sangat tidak sopan" Gerutu Alvaro dengan mengambil hendphone miliknya yang tidak jauh dari dirinya itu.
David📩: Al, Apa kau sudah tidur?
"Ck, tidak peduli" Kata Alvaro dengan melempar hendphone genggam miliknya begitu saja dimeja.
...Dreetttt... Dreetttt......
"...."
...Dreetttt... Dreetttt......
"Akanku bunuh kau David!" Geram Alvaro lalu mengambil kembali hendphone miliknya itu.
David📩: Al aku yakin kau belum tidur! Belum lama kau online dan sekarang kau off, apa kau menghindari ku?
David 📩: Al, jangan berpura-pura tidur jika tidak aku akan terus membuat kebisingan melalui suara notif hendphonemu
^^^Alvaro: Akanku bunuh kau^^^
...Dreetttt... Dreetttt......
David📩: Yaa, akhirnya kau membalas pesanku
^^^Alvaro: Apa?^^^
David📩: Tolong buka pintunya
^^^Alvaro: Pintu apa?^^^
^^^Alvaro: Tidak menerima tamu ditengah malam, silahkan angkat kaki dan otak anda keluar^^^
David📩: Alvaro Kenan Dirgantara, Aku serius! Bukalah pintunya diluar sangat dingin
^^^Alvaro: Merepotkan^^^
Setelah mengirim pesan terakhir kepada David, Alvaro pun langsung saja pergi keluar kamarnya dan turun kelantai bawah untuk membuka pintu mansionnya ditengah malam seperti ini hanya untuk menerima tamu yang tak diundang.
...Ceklekkkk...
"Pergi" Tegas Alvaro ketika baru saja membuka pintu dan langsung melihat wajah David.
"Menyingkirlah Al! Diluar sangat dingin. Tapi sepertinya di dalam lebih dingin dan aku lebih menyukai atmosfer dingin yang ada di dalam sini" Kata David dengan masuk begitu saja lalu pergi berjalan menuju kamar tamu.
...Brraaakkkk...
Dengan sangat kesalnya, Alvaro lagi-lagi membanting pintu hingga membuat David seketika tersentak kaget begitu juga dengan bi lin yang masih berada didapur.
"Jangan membuat penyakit jantung mendadak untukku! Karena nantinya aku pasti akan mati dengan cepat" Ujar David dengan santainya.
"Itu lebih bagus"
"Untuk apa kau datang kemari?" Tanya Alvaro datar.
"Tidak ada, hanya merindukanmu saja" Jawab David.
"Kalau begitu pergi"
"Tidak akan"
"Kau diusir lagi oleh Sesillia? Hehh hahahaha, apa yang telah kau perbuat lagi kepada Sesillia hingga membuatnya marah dan mengusirmu" Tanya Alvaro dengan tertawa mengejek kepada David.
"Huuuffff, kali ini bukan karena Sesillia yang mengusirku" Balas David dengan menghembuskan nafas secara kasar sambil menyandarkan kepalanya disofa.
"Lalu?"
"Aku kemari karena sedang marah dengan Shaka! Aku marah karena aku lelah dengan prilakunya. Bukan karena boros atau apa, tapi karena sifatnya yang seperti Sesillia yang susah untuk diatur. Entah bagaimana caranya agar ia kembali mau menurut seperti dulu! Ini semua karena Sesillia yang terlalu memanjakan putranya itu" Jelas David.
"Susah diatur?"
"Hmmm, akhir-akhir ini putraku sering kali mabuk entah siapa yang mengajarinya itu. Aku sendiri bahkan sama sekali tidak pernah mabuk! Bila aku memarahinya maka Sesillia akan berbalik memarahiku, aku hanya ingin menasehati Shaka agar mau berhenti untuk meminum-minum alhokoh! Karena aku tidak suka melihat tingkah Shaka yang sangat sudah diatur itu"
"Aku tidak pernah mengaturnya dengan keras, hanya dengan kata-kata saja yang mampu aku ucapkan kepadanya" Ucap David kembali.
"Kau bodoh!"
"Yaa benar"
"Seharusnya jangan mendidik seorang anak seperti itu David! Caramu mendidik Shaka menang bagus hanya saja terlalu berlebihan. Seharusnya kau tegas dalam mendidik Shaka karena dia seorang pria dan bukan wanita, bila Sesillia marah kau tidak perlu takut karena apa yang kau didik memang seharusnya seperti itu" Tutur Alvaro.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Tanya David dengan pelan.
"Yang harus kau lakukan adalah apa yang seharusnya dilakukan! Aku tau kau benar-benar tidak bodoh David, kau pasti tau apa yang aku maksud" Balas Alvaro kembali.
...Dreetttt... Dreetttt......
Ray📞: Halo tuan
^^^Alvaro: Ray, bawa Shaka ke mansion sekarang! Bila ia tidak mau kau bisa memaksanya^^^
Ray📞: Baik tuan
Tut.
"Tunggu dan jalankan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang papah kepada anaknya" Tutur Alvaro kembali.
"Terimakasih, Al"
"Hmmmm"
...Beberapa menit kemudian......
Sekarang ini semua orang tengah berkumpul diruang tamu, tepat tengah malam menunggu Ray yang akan membawa Shaka kemari. Alkenzie, Arianna, Brianna dan Queena juga ikut serta menunggu kedatangan Shaka! Sedangkan Alkenzo?.
Queena tidak mengizinkan semua orang untuk membangunkan Alkenzo saat ini. Karena Queena berkata kepada semua bahwa kondisi Alkenzo kini baru saja stabil dan tidak ada satupun orang yang diizinkan untuk membangunkan Alkenzo, karena Queena berkata bahwa Alkenzo butuh banyak istirahat setelah kejadian tadi dan semua orangpun akhirnya hanya bisa diam dan menurut saja.
"Ray, lepaskan putraku" Teriak Sesillia berlarian menghampiri Ray dan Rey yang tengah membawa paksa Shaka dengan piyama nya yang masih melekat.
"Mamah, berhentilah meminta seperti itu. Percuma saja mereka tidak akan melepaskan aku" Kata Shaka dengan santainya walau wajahnya penuh dengan luka tonjok.
Luka yang berada di wajah Shaka di dapatkan ketika dirinya memberontak saat dimana dirinya ingin dibawa oleh Ray dan Rey secara harus tapi Shaka justru memberontak hingga akhirnya terjadilah perkelahian antara Ray dan Shaka, dan pada akhirnya Shaka lah yang kalah.
"Tuan" Panggil Ray dan Rey secara bersamaan.
"Kakak ipar, aku mohon padamu lepaskan putraku!" Pinta Sesillia dengan lirih.
"Lepaskan" Titah Alvaro dengan datar.
Mendengar perintah dari tuannya, Ray dan Rey langsung saja melepaskan Shaka dari genggamannya. Setelah terlepas dari genggaman Ray dan Rey Shaka pun langsung saja merenggangkan otot-otot tubuhnya.
"Shaka apa kau tidak apa-apa sayang? Apa ini sakit" Tanya Sesillia dengan nada khawatir menatap wajah putranya.
David pun hanya diam melihat interaksi antara keduanya karena baginya itu sudah biasa. David justru malah saling bertatap-tatapan dengan Alvaro entah apa yang mereka pikirkan.
"Kakak ipar mengapa kau sangat jahat kepada putraku? Lihatlah wajahnya, penuh dengan memar" Lirih Sesillia.
"Sesillia" Panggil Queena.
"Kakak"