
"Aku harus melawan Mereka dan membantu keluargaku." Ucap Alensandra sambil membawa benda kecil kemudian di tarik tuasnya di mana langsung berubah menjadi tongkat panjang.
Alensandra tanpa sengaja melihat Michael, ke dua anak kembarnya, Mike, Mommy Elisabeth dan bodyguard yang dikenalnya sedang bertarung melawan para penjahat membuat Alensandra melakukan salto agar sampai di keluarganya sambil sesekali memukul Mereka dengan menggunakan tongkat.
Alensandra melawan para penjahat yang berusaha mendekati ke dua anak kembarnya hingga hampir setengah jam para penjahat berhasil dikalahkan dengan tubuh babak belur.
"Mami." Panggil Michael dan ke dua anak kembarnya bersamaan.
"Ya." Jawab Alensandra dengan singkat sambil tersenyum dan menatap ke dua anak kembarnya serta suaminya secara bergantian.
Michael dan ke dua anak kembarnya memeluk tubuh Alensandra hingga seseorang berjalan ke arah Alensandra.
"Kalian siapa? Kenapa memeluk putriku?" Tanya seorang pria yang bernama Antonius.
Antonius menghentikan langkahnya dan melihat orang yang sangat familiar di mana ke dua anak kembar Michael dan Alensandra yang menjadi target bosnya.
"Daddy, Mereka adalah Tuan Muda Michael dan ke dua anak kembarnya." Jawab Alensandra yang menjawab pertanyaan Antonius.
Sambil berbicara Alensandra memberikan kode untuk tidak mengeluarkan suara membuat Michael menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
"Kenapa Tuan bisa mengenal putriku? Kamu juga kenapa bisa kenal dengan Mereka?" Tanya Antonius sambil menatap Michael dan Alensandra secara bergantian.
'Bukankah pria ini yang menjadi target Tuan Alex di mana Aku dan anak buahku akan membunuh ke dua anak kembarnya? Tapi Aku sudah pensiun dan tidak ingin membunuh orang lagi karena dosaku sudah terlalu banyak.' sambung Antonius dalam hati sambil mengingat mimpinya yang terasa sangat nyata.
Mimpi Antonius
Antonius bermimpi dirinya bertemu dengan istrinya di mana istrinya masih terlihat muda dan tersenyum dengan penuh cinta.
"Sayang, maafkan Aku karena selama ini tidak memperdulikanmu dan selalu menolak ketika suamiku meminta hubungan suami istri. Jujur saat itu Aku sangat lelah karena bolak balik ke rumah orang tuaku bahkan sampai menginap demi mengurus ibuku yang sakit." Ucap istrinya dengan wajah sendu dan terlihat jelas wajah sedihnya.
"Justru Aku minta maaf karena Aku sudah mengkhianatimu bahkan membuatmu meninggal dunia." Ucap suaminya dengan perasaan menyesal.
"Tidak apa - apa mungkin itu sudah takdirku, Aku hanya bisa berpesan untuk menjaga putri Kita dan cintailah dengan penuh kasih sayang." Ucap istrinya.
"Aku akan melakukannya untuk menebus rasa bersalahku untuk mengurus dan merawat putri Kita. Tapi Aku merasa itu masih kurang, apa yang harus AKu lakukan lagi selain itu?'' Tanya suaminya.
"Keluarlah dari dunia mafia dan tidak lagi membunuh orang." Jawab istrinya dengan nada lembut.
"Aku akan melakukannya apapun yang Kamu katakan dan sekali lagi maafkan Aku. Aku sungguh sangat menyesal karena telah membuatmu meninggal dunia." Ucap Suaminya.
"Itu sudah takdir dan Kita tidak bisa menghindarinya. Sekali lagi maafkan Aku yang sering mengabaikanmu dan tidak pernah memperdulikan suamiku." Ucap istrinya.
"Aku sangat mencintaimu." Sambung istrinya.
"Akupun juga." jawab suaminya.
Selesai suaminya mengatakan hal itu istrinya perlahan menjauh membuat suaminya mengejarnya hingga istrinya tidak terlihat.
Mimpi Berakhir
Sejak mimpi itu suaminya tersadar dan berusaha untuk memperbaiki semua kesalahannya dengan cara keluar dari dunia mafia serta memperbaiki hubungan dengan putri semata wayangnya.
Michael dan Alensandra saling memandang untuk mengatakan kata yang tepat hingga Alensandra menganggukkan kepalanya.
"Daddy, Aku mengenal Tuan Muda Michael karena waktu itu Aku di keroyok oleh para preman dan Tuan Michael menolongku. Karena itulah Aku mengenal Tuan Muda Michael dan ke dua anak kembarnya." Jawab Alensandra terpaksa berbohong.
"Terima kasih karena sudah menolong putriku." Ucap Antonius dengan nada tulus.
"Lebih baik Kita berbicara di mansion saja." Ucap Mommy Elisabeth yang sejak tadi terdiam.
"Baiklah kalau begitu kapan - kapan Kami akan datang berkunjung ke rumah Tuan atau sebaliknya." Ucap Michael sambil menatap wajah cantik Alensandra.
"Baik, kalau begitu Kami pamit pergi dulu." Ucap Antonius.
Alensandra mencium punggung Mommy Elisabeth kemudian mengecup pipi ke dua anak kembarnya secara bergantian sedangkan dengan Michael dirinya hanya tersenyum.
Alensandra dan Antonius pergi meninggalkan Mereka ke kampus Alesandra sedangkan Michael, Mommy Elisabeth dan ke dua anak kembar pergi ke sekolah ke dua anak kembarnya.
Tanpa sepengetahuan Mereka kecuali Alensandra kalau ada sepasang mata menatap kejadian tersebut dari awal hingga akhir kemudian orang tersebut menghubungi seseorang.
xxxxxxx
Di tempat yang berbeda lebih tepatnya di mansion yang sangat besar di mana pria paruh baya pergi mendatangi seorang wanita yang sedang tertidur dengan pulas karena hari masih siang.
"BANGUN!" Teriak pria paruh baya tersebut dengan suara menggelegar sambil menahan amarahnya.
Hening
Hening
Pria paruh baya tersebut sangat kesal karena wanita tersebut tidak juga bangun membuat pria tersebut mengarahkan ke dua tangannya ke arah leher wanita tersebut.
Crash
"Akhhhhhhhhhhhhhhhh!" Teriak pria paruh baya tersebut sambil menahan rasa sakit yang teramat sangat pada ke dua tangannya.
Ketika pria paruh baya tersebut hampir menyentuh leher wanita tersebut tiba - tiba pedang yang berada di sisi wanita tersebut bergerak dan memotong ke dua tangannya hingga putus. Darah segar keluar dari ke dua tangannya dan mengenai wajah wanita tersebut membuat wanita tersebut menjilat darah tersebut sambil perlahan membuka matanya.
"Kamu tidak akan mudah untuk membunuhku karena pedang yang berada di sisiku akan selalu menjagaku." Ucap wanita tersebut dengan nada dingin.
Sepasang matanya yang awalnya berwarna coklat tiba - tiba berubah menjadi merah seperti darah. Wanita tersebut sangat marah karena tidurnya di ganggu sedangkan pria tersebut wajahnya yang sudah pucat pasi akibat ke dua tangannya terpotong melangkah dengan mundur.
"Kau benar - benar iblis!" Desis pria paruh baya tersebut dengan wajah yang sangat ketakutan.
"Memang Akulah iblis yang haus akan darah perjaka dan perawan dan sayangnya darahmu sangat pahit dan bau tanah sungguh tidak enak." Jawab wanita tersebut sambil tersenyum miring.
"Seandainya saja Aku tahu kalau Kamu iblis, Aku tidak akan membuka petimu." Ucap pria paruh baya tersebut.
"Sayangnya sudah di buka dan kini Aku akan mengambil nyawamu." Ucap wanita tersebut kemudian menjentikkan jarinya.
"Tidak, Aku masih ingin hidup, ampuni Aku." Mohon pria paruh baya tersebut dengan wajah ketakutan.
Pasalnya pedang tersebut terbang ke arah pria paruh baya tersebut membuat pria tersebut membalikkan badannya dan berlari sambil berteriak meminta ampun.
"Tidak ada ampunan buatmu karena Kamu sudah mengganggu waktu tidurku." Ucap wanita jahat tersebut.
Jleb
"Akhhhhhhhhhhhhhhh!" Teriak pria paruh baya tersebut.
Bruk
Pedang itupun mengenai punggung pria paruh baya tersebut hingga tembus ke jantungnya. Pria itupun langsung ambruk dan mati seketika sedangkan empat anak buahnya yang melihatnya mengeluarkan pistolnya untuk menembak wanita tersebut.
"Cih ... Peluru tidak mempan untukku." Ucap wanita tersebut sambil menjentikkan jarinya.
"Matilah kalian semuanya." Ucap wanita tersebut.