
Sebelum David dan Michael pergi meninggalkan markas, David dan Michael mengambil pakaian yang selalu dibawanya di dalam mobil. David dan Michael membasuh wajah dan tangan yang terkena noda darah kemudian mengganti pakaian yang terkena noda darah dan pakaiannya dibakar agar orang tidak curiga.
Setelah selesai Michael duduk di kursi pengemudi sedangkan David duduk di kursi belakang. Michael mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke hotel tempat mereka menginap.
Dua puluh lima menit kemudian mereka sudah sampai di hotel, David dan Michael berjalan memasuki lobby dan masuk ke dalam lift yang kebetulan lift tersebut terbuka kemudian Michael menekan tombol lantai dua belas.
Ting
Pintu lift terbuka David dan Michael berjalan keluar menuju ke kamar masing-masing untuk istirahat. Michael menempelkan kartu ke pintu agar pintunya terbuka sedangkan David mengetuk pintu.
"Karen buka pintunya!" Teriak David dengan nada dingin.
"Karen!" Teriak David kembali sambil kembali mengetuk pintu.
"Tuan ada apa?" tanya Michael karena melihat David mengetuk pintu sambil berteriak ketika dirinya akan menutup pintu kamarnya.
"Pintunya di kunci." Jawab David dengan nada kesal.
'Awas kamu Karen, akan Aku buat kamu masuk ke rumah sakit lagi.' ucap David dalam hati dengan nada kesal.
David membuka dompetnya dan mengambil kartu akses untuk membuka pintu kamarnya sambil menahan amarahnya. Pintu kamar terbuka David kemudian David masuk ke dalam kamarnya begitu pula dengan Michael menutup pintu kamarnya untuk membersihkan dirinya.
"Akh paling Karen sedang keluar." ucap David yang tidak perduli karena David melihat suasana kamarnya terasa sangat sepi.
David membuka seluruh pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Selesai mandi dan berpakaian David melihat dokter Karen belum juga datang membuat dirinya kesal.
"Dia kemana sih? Awas saja kalau datang Aku kasih hukuman. Sudah lama Aku tidak menyiksanya sampai masuk ke rumah sakit." ucap David sambil tersenyum menyeringai.
David melihat selembar kertas di meja karena penasaran David mengambilnya.
"Sebuah surat dari Karen, apa isinya?" tanya David penasaran.
David pun membacanya tulisan dokter Karen sambil duduk bersandar di kepala ranjang.
Untuk suamiku yang paling aku cintai
"Honey. Selama kita menikah, Aku selalu berusaha menjadi istri yang baik. Honey sering menyiksaku sampai berkali-kali dan hal itu membuat Aku masuk ke rumah sakit berkali - kali tapi Aku selalu diam dan berusaha mengerti kenapa honey melakukan itu padaku. Karena itu aku mohon maaf atas apa yang dilakukan oleh orangtuaku."
"Honey, semua aset berharga yang terdiri dari perusahaan, apartemen, tanah, hotel hingga tabungan dari Aku kecil hingga Aku bekerja. Semua Aku simpan di bank dan jika uangku cukup maka Aku belikan apartemen dan kini semua sudah pindah kepemilikan atas nama honey karena Aku tahu itu bukan milikku."
"Tanpa sepengetahuan honey Aku meretas data perusahaan honey bukan untuk menghancurkan perusahaan honey tetapi Aku ingin melindungi semua aset kekayaan honey dari orang - orang yang ingin mengambil keuntungan. Akhirnya honey tahu ketika Aku melindungi data perusahaan honey ketika Aku melamar kerja ternyata perusahaan yang Aku lamar ternyata milik honey."
"Aku juga tahu honey mempunyai banyak musuh dan mengincar nyawa honey tapi diam - diam Aku meminta bantuan ke dua sahabatku dan honey tahu itu."
"Harta yang sangat berharga yang ku jaga selama ini sudah Aku berikan ke honey karena Aku tidak tega melihat honey tersiksa menahan hasrat."
"Tapi apa yang sudah Aku lakukan selama ini tidak bisa mengubah perasaan honey untuk mencintaiku seperti aku yang sangat mencintai honey dengan tulus."
"Waktu kemarin honey mengatakan padaku bahwa pasti ada wanita yang lebih baik dariku karena itulah lebih baik Aku mundur. Aku hanya bisa berdoa semoga honey selalu bahagia."
I Love You My Husband.
You Wife
Karen
Note : Cincin pernikahan, kalung dan gelang aku kembalikan dan Aku letakkan di meja sedangkan kartu kredit dan kartu debit Aku letakkan di laci kamar kita.
Maaf Aku tidak bisa menyimpan pemberian honey karena akan membuatku mengingat honey. Aku hanya memakai pakaian apa yang kupakai saat ini. Sekali lagi maafkan Aku dan semoga honey bahagia dan menemukan penggantiku.
Entah kenapa David meneteskan air matanya ketika dirinya sudah selesai membaca isi surat dokter Karen.
"Karen maafkan Aku, Aku bingung di satu sisi Aku sangat mencintaimu terlebih bila mengingat kejadian semalam tapi di sisi lain bila mengingat ke dua orang tuamu menyiksa orangtuaku membuatku membencimu dan ingin menyakitimu." ucap David dengan nada lirih.
"Tidak .. tidak.. Aku tidak boleh lemah dan tidak boleh mencintaimu. Aku akan mencari kemanapun kamu pergi karena selamanya kamu milikku dan Aku akan mengikatmu agar kamu tidak pergi lagi dariku." ucap David sambil menghapus air matanya dengan kasar.
"Hutang nyawa harus di bayar nyawa, jika Aku bertemu denganmu bersiaplah menerima siksaan dariku." sambung David dengan perasaan dendam.
David terbangun dari ranjangnya sambil meremas kertas yang di tulis oleh dokter Karen hingga membentuk bulatan kemudian keluar dari kamarnya menuju ke tempat kamar asistennya yang bernama Michael.
David membuka pintu kamar Michael dengan kasar membuat Michael yang sedang tertidur baru beberapa menit kaget dan terbangun.
"Tuan ada apa?" tanya Michael sambil duduk di kepala ranjang dan mengelus dadanya karena terkejut pintu kamarnya dibuka secara paksa.
"Istriku kabur, kamu hubungi orang yang ahli it untuk mencari dimana keberadaan istriku!" perintah David.
"Baik Tuan Muda." Jawab Michael dengan patuh.
Michael menghubungi seseorang yang bisa meretas rekaman cctv setelah selesai menghubungi Michael meletakkan ponselnya di meja.
"Oh iya Tuan, Saya baru ingat bukankah di cincin, kalung dan gelang Nyonya Karen ada GPS-nya, kita bisa lacak melacaknya." usul Michael yang tiba - tiba ingat karena saat itu Michael diperintahkan untuk membeli itu semuanya.
"Semua sudah dikembalikan dan istriku hanya membawa pakaian yang dibawanya." ucap David sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Apa!! Bagaimana bisa?" tanya Michael terkejut.
David memberikan surat yang di tulis oleh Karen yang kertasnya yang berbentuk bulatan karena David meremas kertas tersebut. Michael membaca tulisan dokter Karen setelah selesai membaca Michael hanya menghembuskan nafasnya secara kasar.
"Tuan kalau boleh tahu, apakah Tuan mencintai Nyonya Karen atau masih ingin meneruskan dendam Tuan?" tanya Michael penasaran dengan perasaan David.
"Dua - duanya antara cinta dan dendam.'' Jawab David dengan berkata jujur.