Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 60



"Baik, Tuan." Jawab pelayan toko tersebut sambil tersenyum.


Pelayan toko itupun membuka pembungkus segel ponsel kemudian mengeluarkan isinya. Pelayan toko itu juga membuka nomer kartu ponsel kemudian memasangkan chip yang berisi nomer telepon ke dalam ponsel setelah selesai mengerjakan nya ponsel itupun diberikan ke Michael dan Michael langsung menerimanya.


Pelayan itupun langsung menggesek kan kartu kredit tanpa batas ke mesin edc setelah selesai pelayan toko memberikan struk dan kartu kredit tanpa batas ke Michael dan Michael pun menerimanya tanpa bicara sedikitpun.


Michael mengutak atik ponsel barunya kemudian mengetik sesuatu setelah selesai Michael mendengarkan ponselnya berdering sekali.


'Sayang ini pakailah dan jangan menyimpan nama laki - laki karena Aku sangat cemburu.' bisik Michael tepat di telinga dokter Alesandra sambil memberikan ponsel terbarunya untuk dokter Alesandra.


"Eh... ini buatku?" tanya dokter Alesandra pura - pura dengan wajah terkejut.


"Kalau kamu tidak mau, Aku akan berikan ke pelayan toko itu." ucap Michael sambil cemberut.


Pelayan itu sangat senang mendengarnya dan sangat berharap wanita itu menolaknya.


"Mau honey." ucap dokter Alesandra tersenyum bahagia dan tanpa ragu mengatakan kata honey ke Michael.


"Bilang apa tadi?" Tanya Michael yang tidak percaya jika dokter Alesandra mengatakan hal itu dan sekaligus sangat senang mendengar kata honey.


"Mau." jawab dokter Alesandra dengan singkat.


"Lanjutan nya?" tanya Michael.


"Hmmm.... tidak ada siaran ulang." jawab dokter Alesandra sambil tersenyum malu dan pergi meninggalkan Michael.


Michael tersenyum melihat senyuman malu dokter Alesandra dan menyusulnya sedangkan pelayan toko itu menatap kesal ke arah dokter Alesandra. Keinginan dapat cowok tampan dan kaya serta mendapatkan ponsel terbaru hilang dalam sekejap.


xxxxxxx


Di Rumah Sakit


Di tempat yang berbeda di mana dokter Karen yang berada di ruang perawatan perlahan membuka matanya dan melihat wajah tampan suaminya yang masih setia memejamkan matanya.


"Honey kalau tidur seperti bayi yang sangat menggemaskan dan juga sangat tampan. Aku sangat mencintaimu honey apapun akan Aku lakukan untukmu walau Aku harus mengorbankan nyawaku maka Aku rela melakukannya." ucap dokter Karen sambil membelai wajah tampan suaminya.


David yang sebenarnya sudah bangun tapi ketika melihat pergerakan dokter Karen membuat David pura - pura tidur dengan memejamkan matanya dan membiarkan dokter Karen membelai wajahnya.


"Aku akan menjaga anak kita sampai anak kita lahir walau nyawaku menjadi taruhannya maka Aku rela melakukannya karena honey dan anak kita adalah orang yang Aku cintai setulus hatiku." Ucap dokter Karen.


"Jika suatu saat nanti, Aku melahirkan dan ternyata Aku tiada maka Aku hanya berharap honey mencintai anak kita dan merawatnya dengan penuh kasih sayang." ucap dokter Karen dengan nada lirih sambil memeluk David.


"Aku sangat mencintaimu honey. Sangat .... Sangat dan sangat mencintaimu honey begitu pula dengan anak kita." ucap dokter Karen dengan nada tulus.


"Aku juga sangat sangat mencintaimu Sayang." ucap David sambil menatap wajah cantik istrinya sambil mempererat pelukannya.


"Honey, maaf menganggu tidurmu." ucap dokter Karen merasa bersalah.


"Tidak apa-apa sayang. Aku mau ke kamar mandi dulu ya." ucap David.


"Ok." jawab dokter Karen dengan singkat sambil tersenyum.


David turun dari ranjang menuju ke kamar mandi sedangkan dokter Karen hanya memandangi David sampai tidak terlihat karena sudah masuk ke dalam kamar mandi.


"Aku kangen sama Mommy dan Daddy tapi jika Aku mengatakan ke suamiku pasti suamiku marah dan menyiksaku lagi. Aku tidak perduli jika suamiku menyiksaku tapi ada anak kami yang harus Aku pertahankan. Mommy dan Daddy maafkan Karen karena belum bisa menengok kalian, Karen sangat merindukan kalian berdua." ucap dokter Karen dengan nada lirih.


Dokter Karen menangis menahan kerinduan yang teramat sangat akan orang tuanya yang sudah dua bulan lebih harus ditahannya untuk tidak menemuinya hal itu membuat perutnya tiba - tiba kram.


"Sstttttt... sakit..." rintih dokter Karen sambil memegangi perutnya dan tidak berapa lama darah segar keluar dari sela-sela ke dua pahanya karena tidak kuat menahan rasa sakit dokter Karenpun tidak sadarkan diri.


Tidak berapa lama David keluar dari kamar mandi dengan wajahnya yang segar. David melihat dokter Karen memejamkan matanya padahal tadi sudah terbangun membuat David berjalan ke arah ranjang.


"Sayang, kok tidur lagi?" tanya David tanpa curiga sedikitpun.


hening


hening


David mendekati istrinya kemudian duduk di sisi ranjang lalu menyentuh tangan istrinya dengan lembut.


hening


hening


"Sayang." panggil David sambil menepuk-nepuk pipi dokter Karen.


Dokter Karen masih terdiam dan tidak memberikan respon sama sekali.


ceklek


Dokter Alesandra dan Michael membuka pintu ruang perawatan dan melihat David sedang menepuk pipi dokter Karen.


"Ada apa?" tanya Michael penasaran.


Dokter Alesandra yang tahu kalau dokter Karen tidak sadarkan diri sesuai jalan cerita namun ada perbedaan sedikit. Hal itu membuat dokter Alesandra berjalan ke arah ranjang dokter Karen sambil membawa tas dokter yang berisi peralatan dokter yang sejak tadi sudah disiapkan.


"Tidak tahu tadi tidak apa - apa. Tapi pas Aku keluar dari kamar mandi dokter Karen sudah seperti ini." Jawab David.


Dokter Alesandra mendekati dokter Karen kemudian membuka selimut yang dikenakan dokter Karen. Dokter Alesandra melihat ada darah segar keluar dari sela-sela paha dokter Karen. Dokter Alesandra memencet bel agar dokter yang menangani dokter Karen datang.


"Nyonya Karen pingsan." ucap dokter Alesandra sambil melakukan tindakan pertama.


"Kenapa pingsan?" tanya David dan Michael dengan serempak.


"Sepertinya Nyonya Karen pendarahan lagi." jawab dokter Alesandra.


"Kak David dan Kak Michael maaf keluar dulu saya dan temanku sebentar lagi datang. Kami akan berusaha menyelamatkan janin dan Nyonya Karen." Sambung dokter Alesandra.


"Tapi.." ucapan David terpotong oleh dokter Alesandra.


"Aku mohon Kak." Mohon dokter Alesandra.


"Hmmm baiklah, tolong selamatkan mereka berdua." pinta David.


"Ya." jawab dokter Alesandra dengan singkat.


'Aku harus memberikan obat penguat kandungan kalau tidak nyawa mereka berdua dalam bahaya. Berikan Aku obat penguat kandungan yang paling bagus agar kejadian ini tidak terulang lagi.' Ucap dokter Alesandra dalam hati.


"Pembelian obat penguat kandungan lima ratus poin berhasil."


Tiba - tiba di tangan dokter Alesandra muncul obat penguat kandungan kemudian diberikan ke mulut dokter Karen karena obat tersebut berbentuk pil yang sangat kecil dan nyaris tidak terlihat.


David dan Michael meninggalkan dokter Alesandra dan dokter Karen bertepatan kedatangan dokter yang merawat dokter Karen bersama seorang perawat. David dan Michael duduk bersebelahan menunggu di luar pintu perawatan.


"Tuan David, Nyonya Karen sudah dua kali pendarahan. Aku jadi ingat ramuan obat yang diberikan Federick kalau seandainya Nyonya Karen hamil bisa mengalami pendarahan. Jika sudah melahirkan maka Nyonya Karen bisa meninggal dunia." ucap Michael sambil mengusap wajahnya dengan kasar.


"Iya, Aku masih ingat itu. Sungguh Aku sangat menyesal melakukan kesalahan terbesar itu." ucap David yang juga mengusap wajahnya dengan kasar.


"Kata Alesandra, Federick menghubungi Alesandra dan memberitahukan kalau dirinya sudah membuat penawarnya hanya saja.." ucap Michael menggantungkan kalimatnya karena baginya sangat berat untuk melanjutkan perkataannya.


"Hanya saja apa?" tanya David pemasaran.


Michael menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap wajah bosnya yang sedang menunggu lanjut tan ceritanya dengan perasaan kuatir.


"Hanya saja Nyonya Karen harus menggugurkan kandungannya dan Federick bisa menghilangkan efek ramuannya yang di dibuatnya." Jawab Michael sambil menundukkan wajahnya.


"Apa??? Tidak... Tidak... Aku tidak setuju digugurkan... bilang sama temanmu buat ramuan tanpa perlu menggugurkan kandungannya." perintah David dengan nada dingin.


"Masalahnya Federick berulang kali Aku hubungi ponselnya tidak aktif." ucap Michael.


"Coba lagi. Mumpung istriku lahiran masih lama jadi masih ada waktu untuk membuatkan penawarnya." ucap David


"Baik Tuan Muda." jawab Michael dengan patuh.


"Pokoknya Aku tidak setuju jika anakku harus digugurkan." ucap David dengan nada tegas.


"Baik Tuan Muda." jawab Michael.