Alessandra

Alessandra
Novel : Alessandra Si Gadis Culun 9



"Karena sebenarnya setelah pemeran utama wanita meninggal dunia seminggu kemudian pemeran utama pria meninggal dunia karena Ibunya meninggal dunia membuatnya bunuh diri."


"Nona ditugaskan untuk membalas orang-orang yang sudah membuat pemilik tubuh meninggal dunia dan juga orang-orang yang dulu suka mem bully selain itu tugas Nona menolong pemeran utama pria untuk tidak bunuh diri dan merubah kehidupan pemeran utama pria menjadi lebih baik."


"Lalu akhirnya bagaimana?" Tanya Alessandra.


"Jika semua misi sudah selesai maka pemilik tubuh akan di buat meninggal dunia ketika sudah mempunyai anak berumur sepuluh tahun."


"Sedih banget." Ucap Alessandra.


"Memang tapi masalahnya pemilik tubuh sebenarnya sudah meninggal dunia dan langit memberikan kesempatan menikmati kebahagiaan sampai usia anaknya berumur sepuluh tahun."


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Alessandra.


"Pemilik tubuh sangat suka menolong orang karena itulah diberikan kesempatan untuk bahagia walau tidak lama."


Alessandra hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti bersamaan waktu berjalan seperti biasanya.


Alessandra keluar dari kamar mandi dan membangunkan Mommy Elisabeth untuk meminta ijin membeli makanan. Hal itu dikarenakan Alessandra tahu kalau Mommy Elisabeth pasti lapar.


Mommy Elisabeth pun duduk di samping ranjang Michael kemudian membelai surai rambut putra semata wayangnya. Michael terbangun dan memandangi Mommy Elisabeth.


"Sayang, Mommy semakin bertambah tua Mommy ingin kamu menikahi Alessandra. Alessandra gadis baik, Mommy melihat dimatanya kalau ia tulus dan menyayangimu." ucap Mommy Elisabeth.


"Pilihan Mommy tidak pernah salah karena Alessandra merupakan anak sahabat Mommy waktu Mommy SMP. Ibunya Alessandra sangat baik dia merelakan demi kebahagiaan Mommy untuk menikah dengan Daddy padahal Mommy tahu Daddy mencintai ibunya Alessandra." Ucap Mommy Elisabeth.


"Ibunya Alessandra terpaksa mengalah karena waktu itu Mommy mengalami sakit kanker stadium tiga. Ibunya Alessandra berlutut di depan Daddy memohon dengan deraian airmata untuk menikahi Mommy. Mommy tahu karena tanpa sengaja melihat mereka berbicara. Sampai Ibunya Alessandra melukai dirinya barulahlah Daddy mau menikah dengan Mommy." sambung Mommy Elisabeth.


Mommy Elisabeth menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menatap ke arah putra semata wayangnya.


"Lulus kuliah Mommy dan Daddy menikah sedangkan Ibunya Alessandra tersenyum bahagia dan mengatakan kalau nanti kami mempunyai anak laki - laki dan perempuan maka Kami akan menjodohkannya." Ucap Mommy Elisabeth.


"Lulus kuliah ibunya Alessandra pergi keluar kota sejak itu komunikasi kita terputus karena Mommy menjalani kemoterapi dan Daddy setia menemani Mommy. Hubungan Mommy dan Daddy terjalin dengan baik dan lama kelamaan Daddy mencintai Mommy. Mommy bahagia sampai Mommy hamil dan hidup kami bertambah sangat bahagia." sambung Mommy Elisabeth lagi.


"Lalu Mom?" Tanya Michael penasaran.


"Suatu ketika Mommy sangat merindukan sahabat Mommy, Mommy pergi ke rumah orangtuanya dan mengatakan kalau ibunya Alessandra sudah menikah dan mempunyai seorang putri. Mereka tinggal di daerah terpencil dan disana alat komunikasinya sangat sulit, sebulan sekali ibunya Alessandra menghubungi Mommy." ucap Mommy Elisabeth.


"Tujuh tahun kemudian orang tua Alessandra pindah di kota yang sama dengan Mommy. Mommy sangat senang bisa berkumpul kembali." ucap Mommy Elisabeth.


"Kami lalui bersama sampai suatu ketika kami bertemu dengan teman kuliah namanya Moko." Ucap Mommy Elisabeth.


"Siapa itu Om Moko?" Tanya Michael.


"Moko adalah pria yang sejak dulu sangat tergila - gila dengan Ibunya Alessandra tapi Ibunya Alessandra selalu menolaknya." Jawab Mommy Elisabeth.


"Lalu?" Tanya Michael.


"Moko kembali menyatakan cintanya tapi Ibunya Alessandra kembali menolaknya kemudian pria tersebut mengancam Alessandra dan kamu dengan menggunakan pistol." Ucap Mommy Elisabeth.


"Lalu selanjutnya apa yang terjadi Mom?" Tanya Michael penasaran.


"Ibunya Alessandra berusaha merebutnya tapi naas Ibunya Alessandra tertembak dan meninggal di tempat kejadian. Tidak berapa lama Mommy mendengar bunyi suara letusan pistol ternyata kamu menembak pria tersebut bersamaan kedatangan Daddy juga Ayahnya Alessandra yang barusan pulang kerja untuk menjemput Kami." Ucap Mommy Elisabeth.


"Sebentar Mom, kenapa Aku tidak ingat pernah menembak seseorang? Lalu dari mana Aku bisa memegang pistol?" Tanya Michael penasaran.


"Karena sejak kejadian itu Mommy dan Daddy pergi ke psikiater di mana akhirnya Kamu dan Alessandra di hipnotis agar melupakan apa yang telah terjadi. Mengenai dari mana pistol itu, ketika Moko menembak Ibunya Alessandra membuat Moko sangat terkejut lalu menjatuhkan pistolnya dan Kamu diam-diam mengambilnya lalu menembaknya." Jawab Mommy Elisabeth.


"Memang kejadiannya di mana Mom?" Tanya Michael penasaran.


"Waktu Mommy, Kamu, Ibunya Alessandra dan Alessandra pergi ke butik untuk membeli baju couple di mana butik itu milik Ibunya Alessandra." Jawab Mommy Elisabeth sambil mengeluarkan air matanya.


"Ayahnya Alessandra mengambil pistol dari tanganmu kemudian membersihkan gagang pistolnya agar sidik jari nya terhapus. Ayahnya Alessandra memegang pistol tersebut juga memegang tangan jasad Moko yang sudah terbujur kaku. Jadi ada dua sidik jari Ayahnya Alessandra dan sidik jari Moko." ucap Mommy Elisabeth airmatanya tidak berhenti keluar.


"Ayahnya Alessandra meminta persidangan nanti jika Mommy menjadi saksi kalau Ayahnya Alessandra yang bersalah. Ayahnya Alessandra memohon agar merawat Alessandra dan memberikan tabungan yang sangat besar untuk biaya hidup kami berempat karena saat itu Daddy sedang bekerja dengan gajih yang sangat rendah karena itu Daddy jarang pulang." ucap Mommy Elisabeth.


"Lima tahun kemudian Ayahnya Alessandra bebas karena ternyata Moko banyak melakukan kejahatan jadi hukumannya di percepat. Setelah bebas Ayahnya Alessandra membawa Alessandra pergi keluar kota untuk memulai hidup baru. Ayahnya Alessandra sering mengirimi uang ke Mommy awalnya menolak tapi karena amanat dari almarhum ibunya Alessandra Mommy menerima." sambung Mommy Elisabeth.


"Suatu ketika Mommy mulai menolak pemberiannya karena Daddy mulai membuka perusahaan kecil yang lama - lama menjadi besar dan diteruskan olehmu." ucap Mommy Elisabeth.


"Jadi Mommy mohon menikahlah dengan Alessandra, Mommy ingin membalas kebaikan mereka berdua." pinta Mommy Elisabeth.


Michael terdiam karena dirinya merasa hutang budi dengan kebaikan orang tua Alessandra. Michael berjanji untuk tidak menyakitinya dan belajar untuk mencintainya.


Kemudian Michael menganggukkan kepala menandakan setuju untuk menerima perjodohan. Mommy Elisabeth sangat bahagia akhirnya rencana perjodohannya segera terwujud.


Michael berjanji dalam hatinya untuk belajar mencintai Alessandra karena hutang budi. Walau hanya ada rasa suka dan nyaman tapi Michael akan berusaha untuk melindungi dan tidak menyakiti hatinya.


xxxxxx


Tidak terasa hari berlalu dengan cepatnya dan sesuai jadwal hari ini perban yang menutupi wajah Michael akan di buka. Mommy Elisabeth dan Michael berdebar - debar hatinya saat dibuka perbannya sedangkan Alessandra sudah tahu hasilnya.


Selesai dibuka Mommy Elisabeth terkejut dan tersenyum bahagia. Sedangkan Alessandra hanya tersenyum bahagia karena wajah Michael bertambah tampan kemudian seorang perawat mengambil cermin dan diberikan ke Michael.


Michael terkejut dan sangat bahagia wajahnya kini lebih tampan. Michael bangun dan duduk di ranjang sambil mengarahkan tangannya ke Alessandra. Alessandra menghampiri Michael dan langsung memeluk tubuh kekarnya.


"Terima kasih, berkatmu wajahku kembali seperti semula." Ucap Michael sambil membalas pelukan Alessandra.


"Sama-sama." Jawab Alessandra.


Mommy Elisabeth tersenyum bahagia anaknya kini kembali seperti dulu dan berharap mereka segera menikah.


Kini mereka pulang ke mansion milik orang tua Michael dan seperti biasa Alessandra melakukan terapi pada kaki Michael. Kini ke dua kaki Michael sudah mulai bisa digerak - gerakkan sedikit demi sedikit.


"Alessandra, kapan Ayahmu pulang dari luar kota?" Tanya Mommy Elisabeth.


"Tidak ada apa-apa hanya saja lusa Tante dan Michael main ke rumah Kalian sekalian silahturami karena sudah lama Kami tidak bertemu." Jawab Mommy Elisabeth menjelaskan.


"Benarkah Tante? Kami tunggu kedatangan Tante dan Kak Michael." Ucap Alessandra sambil tersenyum.


"Alessandra, kaki kakak obati lagi ya? kakak ingin cepat jalan." Pinta Michael.


"Baik kak, aku lanjutin lagi." Jawab Alessandra.


Alessandra duduk dibawah lantai dan meletakkan kaki Michael ke paha Alessandra dan mulai memijatnya. Kaki Michael semakin tambah enak dan sudah mulai bisa digerakkan Setelah beberapa saat Alessandra mulai memberhenti memijat kaki Michael.


"Kak Michael, mau belajar jalan?" Tanya Alessandra.


"Apakah bisa?" Tanya Michael sambil tersenyum bahagia.


"Pasti bisa. Aku bantu memapahnya tapi kita pergi ke taman belakang untuk belajar jalan." Jawab Alessandra.


"Ok." Jawab Michael singkat.


Merekapun pergi ke taman belakang dan ketika sampai di taman belakang, Alessandra mendekati Michael dan memeluknya dari arah samping untuk membantunya agar berdiri. Jantung mereka berdetak dengan cepat hingga harum aroma bunga mawar dari tubuh Alessandra membuat Michael merasa nyaman.


Michael berusaha menepisnya karena saat ini dirinya ingin lebih fokus bisa berjalan. Michael mulai berjalan setapak demi setapak dengan memegang bahu Alessandra. Hingga setengah jam kemudian Alessandra dan Michael menghentikan langkahnya.


"Sudah cukup kak kita istirahat dulu." Ucap Alessandra.


"Ok." Jawab Michael singkat.


Alessandra mendudukkan kembali Michael ke kursi roda kemudian Mereka berdua bercerita dan tertawa bersama. Semua yang dilakukan mereka berdua tidak luput dari pandangan Mommy Elisabeth yang melihatnya di balkon di lantai dua.


Mommy Elisabeth bersyukur anaknya mau dijodohkan dengan Alessandra. Karena menurutnya Alessandra yang pantas mendampingi anaknya terlebih berkat Alessandra anaknya sudah mulai kembali tersenyum dan tertawa lepas.


Kebahagian orangtua adalah melihat anaknya mempunyai pasangan yang baik saling memberi dan menerima tanpa syarat.


Hingga tidak terasa hari sudah sore, Alessandra mendorong kursi roda di mana Michael duduk sambil bercerita dan tertawa bersama.


"Alessandra, Aku ingin Kamu masakkin buat aku dong." Pinta Michael.


"Memang kenapa dengan masakan pelayan?" Tanya Alessandra.


"Aku ingin makan masakan buatanmu, jadi masakin ya." Pinta Michael.


"Ok." Jawab Alessandra singkat sambil tersenyum.


Michael duduk di ruang meja makan sambil melihat Alessandra memasak. Michael melamun memandingkan Valen dengan Alessandra.


'Kalau Valen : pertama tidak bisa masak, ke dua hobbynya belanja sering menghambur - hamburkan uang membeli barang - barang branded, ke tiga sangat seksi sampai adik kecilku tegang tapi Aku berusaha untuk menahannya karena Aku ingin merasakan itu nanti dimalam pertama Kami dan ke empat tidak setia, ketika melihat wajahku cacat dan ke dua kaki ku lumpuh malah menghinaku.' Ucap Michael dalam hati.


'Kalau Alessandra : pertama pintar masak terlebih Aku sangat suka masakannya apalagi nanti kalau menikah tiap hari betah makan di rumah, ke dua Aku melihat Alessandra memakai barang kebanyakan itu - itu saja dan bisa dihitung jumlah barang yang dibeli jadi bukan tipe orang yang suka menghamburkan uang, ke tiga tidak pernah menghinaku walau wajahku waktu itu cacat dan lumpuh terlebih Alessandra selalu memberiku semangat dan ke empat badannya sepertinya tidak seksi dan di lihat bajunya sangat lebar kemungkinan badannya mirip 🐘 oh tidak.' ucap Michael dalam hati sambil menggeleng - gelengkan kepalanya membayangkan badan Alessandra sangat menakutkan.


'Enak saja badanku kayak gajah.' Ucap Alessandra dalam hati sambil menahan amanah.


Waktu Berhenti


"Pemeran utama tidak tahu kalau tubuh Nona tidak seperti itu."


"Kapan Aku tidak memakai pakaian seperti ini?" Tanya Alessandra dengan nada frustrasi.


"Sebentar lagi tidak memakai pakaian yang Nona kenakan termasuk kacamata dan rambutnya yang di kepang."


"Syukurlah." Jawab Alessandra sambil menghembuskan nafasnya dengan lega.


Waktu berjalan kembali seperti semula


Michael memutuskan lebih baik memilih Alessandra walau nanti sesuai kenyataannya tubuhnya mirip gajah, tapi kan bisa di suruh olah raga biar kurus dan tidak gendut.


Itu yang dipikirkan Michael saat ini hingga tidak terasa selesailah masakan Alessandra dan langsung menatanya. Mommy Elisabeth turun karena mencium aroma masakan yang sangat harum dan membuatnya lapar.


"Wah sepertinya enak, tahu aja tante lapar." Ucap Mommy Elisabeth.


"Mari tante, kita makan bersama." Ajak Alessandra.


"Ok." Jawab Mommy Elisabeth.


Mereka pun makan bersama tanpa mengeluarkan suara sedikitpun hanya terdengar suara detingan sendok dan garpu. Tidak seperti biasanya Mommy Elisabeth dan Michael makan sampai nambah dua kali.


Selesai makan mereka berjalan menuju ruang keluarga untuk mengobrol sedangkan peralatan makanan yang tadi digunakan dicuci oleh pelayan.


"Alessandra masakanmu memang enak, pantas saja Michael sekarang terlihat lebih gemuk." Ucap Mommy Elisabeth.


"Terima kasih tante, Aku juga sangat senang karena Tante juga suka dengan masakan Aku." Ucap Alessandra.


"Tentu saja sangat suka karena masakanmu sangat enak." Puji Mommy Elisabeth.


"Sekali lagi terima kasih atas pujiannya dan oh ya sudah sore Alessandra pulang dulu ya." Pamit Alessandra.


"Menginaplah di rumah tante dan besok baru pulang. Bukankah besok lusa Ayahmu baru pulang?" Tanya Mommy Elisabeth.


"Iya Tante. Tapi Tante, Alessandra tidak membawa pakaian." Ucap Alessandra.


"Tante masih menyimpan pakaian waktu tante masih gadis jadi Kamu bisa memakainya." Ucap Mommy Elisabeth.


"Kapan - kapan saja tante." Jawab Alessandra.


'Bisa gawat kalau Mereka melihat siapa Aku sebenarnya.' Ucap Alessandra dalam hati.