
Waktu Mendadak Berhenti
"Ada apa?" Tanya Alessandra sambil melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke arah ruang Daddy David.
"Tuan David terkena serangan jantung ketika sudah selesai menerima telepon harap Nona segera pergi ke kamar pribadinya."
"Baik." Jawab Alessandra singkat.
Ceklek
Alessandra membuka pintu ruang CEO kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat menuju ke kamar pribadi milik Daddy David.
Hingga Alessandra melihat Daddy David berbaring di lantai dan ke dua matanya terpejam. Alessandra berjalan ke arah Daddy David kemudian menggendongnya tanpa merasakan berat sedikitpun.
Alessandra meletakkan perlahan tubuh Tuan David ke ranjang kemudian membuka dasi dan berlanjut membuka dua kancing kemeja.
"Jari telunjuk kananku mengandung listrik." Pinta Alessandra.
"Jari telunjuk kanan Nona mengandung listrik berhasil dikurangi lima puluh lima poin."
Zzzzzzzzzzttttttttttttttt
"Uhuk Uhuk Uhuk ..."
Alessandra mengarahkan jari telunjuk kanan ke arah jantung dan ajaib Daddy David langsung terbatuk-batuk.
"Aku ingin membeli obat khusus penyakit jantung supaya Tuan David tidak lagi sakit jantung." Ucap Alessandra.
"Pembelian obat khusus penyakit jantung berhasil dan poin dikurangi dua ratus lima puluh poin."
Alessandra menerima botol tersebut kemudian mencampurkannya ke dalam minuman mineral yang ada di atas meja.
"Daddy minumlah dulu." Ucap Alessandra sambil mengangkat perlahan tubuh Daddy David agar duduk.
Setelah duduk barulah Alessandra memberikan gelas tersebut. Tanpa ragu sedikitpun Daddy David meminum air mineral yang sudah dicampur dengan obat.
'Aku tidak tahu apa yang dicampurkan Alessandra ke dalam minuman yang Aku minum tapi Aku percaya kalau Alessandra tidak akan menyakiti Daddy.' Ucap Daddy David dalam hati.
'Daddy tenang saja minuman yang Daddy minum tidak mengandung racun tapi obat di mana Daddy tidak akan sakit jantung lagi.' Ucap Alessandra dalam hati.
"Sebenarnya apa yang terjadi Dad?" Tanya Alessandra sambil meletakkan gelas yang sudah kosong ke atas meja dekat ranjang.
"Paman Vincent meminta uang sama Daddy sejumlah dua milyar dolar dan Daddy menolaknya lalu Paman Vincent mengancam akan membunuh Daddy dan juga Kamu." Jawab Daddy David dengan wajah sedih dan marah secara bersamaan.
"Daddy jangan banyak pikiran dengan apa yang dikatakan Paman. Lebih baik Kita pulang untuk istirahat dan besok biar Alessandra yang mengurus perusahaan milik Kita sedangkan Daddy istirahat.'' Ucap Alessandra.
"Tapi ..." Ucapan Daddy David terpotong oleh Alessandra.
"Kesehatan Daddy lebih penting dan Alessandra sangat sedih jika Daddy sakit." Ucap Alessandra.
Daddy David menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian menganggukkan kepalanya tanda setuju.
"Daddy sekarang sudah kuat untuk berjalan?" Tanya Alessandra.
"Daddy kuat." Jawab Daddy David.
"Kalau begitu Kita pulang sekarang." Ucap Alessandra.
"Ok." Jawab Daddy David singkat.
Mereka pun keluar dari ruangan Daddy David menuju ke arah lift bersamaan pintu lift yang berada di sebelahnya terbuka.
"Selamat sore Tuan Besar dan Nona Muda." Sapa dua bodyguard tersebut bersamaan sambil salah satunya menekan tombol lift khusus CEO.
"Selamat sore Paman." Jawab Alessandra sambil tersenyum.
Ting
Waktu Mendadak Berhenti
"Mereka berdua adalah bodyguard yang bekerja dengan Tuan David dan juga Adiknya Tuan David tapi Mereka bekerja sama untuk menyerang pemilik tubuh dan Tuan David."
"Ketika Mereka menyerang siapkan kartu domino untukku."
"Baik, Nona."
Waktu Berjalan Seperti Biasa
Ting
Pintu lift terbuka Mereka pun keluar dari ruangan persegi empat tersebut dan berjalan ke arah pintu keluar lobby. Semua karyawan dan karyawati menyapa Mereka dan seperti biasa Alessandra membalas sapaan Mereka.
Kini Alessandra, Daddy David duduk di kursi belakang pengemudi sedangkan salah satu bodyguard tersebut duduk di samping pengemudi dan satunya lagi duduk di kursi pengemudi untuk mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
Selama dalam perjalanan tidak ada masalah namun ketika di tempat sepi mobilnya di hadang oleh para preman. Daddy David dan bodyguard turun sedangkan Alessandra disuruh menunggu di mobil. Alessandra yang tahu jalan ceritanya langsung keluar dari mobil untuk membantu Daddy David.
"Siapkan kartu domino." pinta Alessandra.
"Pembelian kartu domino berhasil dan poin dikurangi lima puluh lima poin."
Jleb
Jleb
"Akhhhhhhhh..." teriak ke dua preman tersebut bersamaan.
Setelah menerima kartu domino, Alessandra melempar kartu domino ke arah dua preman tersebut membuat ke dua preman tersebut berteriak kesakitan dan tidak membutuhkan waktu lama ke dua preman tersebut menghembuskan nafas terakhirnya.
Alessandra melihat Daddy David terdesak dan tanpa sengaja Alessandra melihat salah satu preman tersebut membawa pisau.
Daddy David tidak menyadari bahaya yang mengancam dirinya karena preman tersebut ada di belakang Daddy David tanpa membuang waktu Alessandra melempar dua kartu domino ke arah preman tersebut karena Daddy David yang dalam bahaya.
Jleb
Jleb
"Akhhhhhhhh..." teriak preman tersebut.
Bruk
Alessandra melempar dua kartu domino secara bersamaan di mana mengenai pergelangan tangannya dan satu lagi mengenai punggung preman tersebut hingga preman tersebut berteriak kesakitan dan ambruk seketika.
Daddy David terkejut melihat dibelakang preman tersebut pingsan ketika melihat siapa yang melakukannya ternyata putri kesayangannya.
Daddy David, Alessandra dan dua bodyguardnya melawan para preman tersebut hingga Alessandra tahu kalau ada dua penembak jitu mengarahkan pistolnya ke dada Daddy David dan Alessandra.
Jleb
Jleb
"Akhhhhhhhh..." teriak ke dua penembak jitu tersebut bersamaan.
Bruk
Bruk
"Tio dan Kelik, serang ke dua orang itu!" perintah seorang pria.