
Orang tersebut yang merasakan dirinya dalam bahaya langsung melakukan gerakan salto hingga orang tersebut berdiri di belakang salah satu dari mereka.
Salah satu penjahat sangat terkejut karena tubuhnya dijadikan tameng membuat penjahat tersebut menggeleng - gelengkan kepalanya supaya teman - temannya tidak menembak dirinya.
"Tembak!" Perintah pria paruh baya tersebut tanpa memperdulikan salah satu nyawa anak buahnya.
"Tidak!" Teriak anak buahnya tersebut dengan wajah pucat pasi.
"Maaf." Ucap ke dua temannya dengan serempak sambil mengarahkan pistolnya ke arah temannya yang masih menggeleng - gelengkan kepalanya.
Dor
Dor
"Akhhhhhhhh...!" Teriak pria tersebut.
Ke dua temannya dengan sangat terpaksa menembak rekan kerjanya membuat pria tersebut akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya. Orang yang berpakaian serba hitam menahan tubuh pria tersebut untuk dijadikan tamengnya sambil merebut pistolnya.
Gerakkan yang sangat lincah membuat para penjahat satu persatu tumbang hingga akhirnya peluru wanita yang memakai pakaian serba hitam tersebut kehabisan peluru.
Ceklek
Ceklek
"Si*l." ucap orang tersebut.
"Dia seorang wanita dan kebetulan pelurunya habis jadi kita bisa menembaknya." Ucap salah satu dari mereka.
"Betul sekali, kita tembak saja." Ucap temannya.
Wanita tersebut yang mendengar ucapan ke dua pria tersebut dengan gerakan secepat kilat mendorong jasad pria yang dijadikan tamengnya ke arah mereka.
Bruk
"Akhhhh ...." Teriak ke dua pria tersebut dengan serempak ketika jasad temannya menabrak tubuh mereka membuat tubuh mereka langsung ambruk.
Wanita tersebut kembali melakukan gerakan salto kemudian memegang tangan pria tersebut yang memegang pistol untuk diarahkan ke teman - temannya.
Wanita tersebut menembak satu persatu para pria tersebut hingga menyisakan satu orang saja yaitu pria paruh baya. Wanita tersebut mendorong jasad pria tersebut ke arah pria paruh baya.
Bruk
"Akhhhh ...." Teriak pria paruh baya ketika jasad temannya menabrak tubuhnya membuat tubuhnya langsung ambruk.
"Aku mohon jangan bunuh Aku." Mohon pria paruh baya tersebut.
"Aku tidak akan membunuhmu karena yang berhak membunuhmu adalah suami dari wanita yang ingin kamu bunuh." Ucap wanita tersebut sambil mengarahkan pistolnya ke arah kaki pria paruh baya tersebut.
Dor
"Akhhhhhhhhhh!" Teriak pria paruh baya tersebut ketika kaki kanannya di tembak oleh wanita tersebut.
Wanita tersebut melihat dari kejauhan datang empat mobil menuju ke arah mereka membuat wanita tersebut melakukan gerakan salto menuju ke atas dahan pohon. Meloncat dari dahan pohon pertama ke dahan pohon ke dua hingga ke dahan pohon ketiga wanita tersebut bersembunyi di rimbunan pohon.
Wanita tersebut melepaskan kain penutup wajah kemudian menatap ke arah pria paruh baya tersebut.
"Nona Alesandra, kenapa tidak menembak pria itu?"
Ternyata wanita tersebut adalah dokter Alesandra, dokter Alesandra yang tahu jalan cerita novel di mana dokter Sandra dalam bahaya membuat dokter Alesandra datang untuk menolongnya.
"Kenapa Nona menginginkan pria itu di siksa dan berakhir dengan kematian?"
"Karena pria itu sangat jahat ingin membunuh orang yang tidak bersalah bahkan menyuruh anak buahnya untuk menyiksanya." Jawab dokter Alesandra sambil mengingat jalan cerita yang sebenarnya
xxxxxxxxxxxx
Jalan Cerita Yang Sebenarnya
Ketika dokter Sandra tidak sadarkan diri para penjahat menendang dokter Sandra tanpa punya perasaan hingga bibir, mulut, kepala dan di sela - sela pahanya mengeluarkan darah segar.
"Berhenti, cek apakah masih hidup atau sudah mati?" tanya pria paruh baya dengan nada dinginnya.
"Baik Tuan Besar." Jawab salah satu dari mereka kemudian mengecek nadi dan nafas dokter Sandra.
"Masih ada nafasnya tapi sebentar lagi juga mati karena nafasnya sangat lambat." ucap salah satu dari mereka.
"Masukkan ke dalam mobil dan bakar mobilnya." perintah pria paruh baya itu dengan muka bengisnya.
"Baik Tuan Besar." jawab mereka dengan serempak sambil berjalan ke arah dokter Sandra namun baru beberapa langkah.
"Jangan menyentuh tubuh istriku!!" Bentak Federick dengan tatapan iblisnya yang sudah lama tidak keluar.
Matanya yang awalnya berwarna biru berubah menjadi merah. Federick berjalan seorang diri sedangkan anak buahnya hanya melihat apa yang dilakukan oleh Federick. Hal itu dikarenakan Federick meminta anak buahnya untuk berjaga - jaga jika ada musuh yang menyerang dirinya dengan cara di tembak tepat di keningnya.
Federick berjalan sambil membunuh satu persatu anak buah pria paruh baya tersebut dengan cara memotong memotong leher seperti memotong ayam. Hingga Federick berhenti yang tidak jauh dari pria paruh baya tersebut dengan tangan kanannya masih menggenggam pisau lipat yang sangat tajam ke arah pria tersebut.
"Dasar psycophath gila!" teriak pria paruh baya.
Federick sama sekali tidak memperdulikan ucapan pria paruh baya itu hingga pandangan matanya ke arah dokter Sandra yang sudah tidak sadarkan diri dengan darah segar masih keluar dari mulut, hidung, kepala dan sela - sela pahanya.
Federick menatap tajam ke arah paruh baya dan mendekatinya tapi di hadang oleh ke 4 anak buahnya yang sudah mulai gemetar karena semua temannya mati dengan cara mengenaskan.
Sama seperti teman - temannya di mana ke empat anak buah pria paruh baya mati dengan cara mengenaskan di mana leher mereka nyaris putus.
Kini tinggallah pria paruh baya yang tersisa, pria paruh baya tersebut sangat terkejut semua anak buahnya mati semua dengan cara mengenaskan.
"Maafkan Aku, Aku berjanji tidak akan menyakiti istrimu." mohon pria paruh baya itu sambil berlutut dengan tubuh gemetar saking ketakutan.
"Tidak akan Aku maafkan. Aku tidak tahu apa istriku masih hidup atau tidak tapi yang pasti siapapun yang menyentuh dan menyakiti orang yang Aku sayangi harus mati." ucap Federick dengan tersenyum devil.
Pria paruh baya itupun mati mengenaskan dengan kepala dan badan terpisah. Federick berjalan ke arah istrinya dan menggendongnya untuk di bawa ke rumah sakit. Federick mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi hingga hanya membutuhkan kurang dari 15 menit mobil itupun sudah sampai di rumah sakit.
xxxxxxxxxxxxxxx
Namun karena dokter Alesandra datang otomatis jalan ceritanya berubah dan dokter Sandra dapat terselamatkan atas bantuan dokter Alesandra.
Dokter Alesandra melihat pria paruh baya tersebut yang sangat menginginkan kematian dokter Sandra menyeret tubuhnya dengan menggunakan ke dua tangannya karena kaki kanannya terluka akibat di tembak oleh dokter Alesandra. Baru saja ingin menyentuh tubuh dokter Sandra terdengar suara menggelegar.
"Jangan menyentuh tubuh istriku!!" Bentak Federick dengan tatapan iblisnya yang sudah lama tidak keluar sambil berjalan ke arah pria tersebut.
Matanya yang awalnya berwarna biru berubah menjadi merah. Federick berjalan seorang diri sambil tangan kanannya membawa pisau lipat yang sangat tajam.
"Kamu harus mati." Ucap Federick dengan tatapan iblisnya.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx