
"Selama ini tidak ada dan jujur baik Aku, Karen dan Alessandra hanya dekat dengan pria yang bernama ..." Ucap dokter Sandra menggantungkan kalimatnya sambil melirik ke arah suaminya untuk melihat perubahan wajahnya.
Michael membuka pintu kamar dokter Alessandra dengan lebar kemudian dokter Sandra, Federick masuk ke dalam kamar tersebut dan di susul oleh Michael.
"Siapa namanya?" Tanya Federick dengan wajah terlihat menahan amarahnya.
"Kak Federick yang sudah menjadi suamiku yang paling sangat tampan, Kak David dan Kak Michael." Jawab dokter Alessandra sambil berjalan ke arah ranjang di mana dokter Alessandra berbaring.
Wajah Federick yang awalnya mendung kini cerah secerah matahari bersinar sedangkan Michael yang mendengar jawaban dokter Sandra sangat bahagia.
"Pria yang paling dekat denganku adalah suamiku Kak Federick sedangkan kalau Karen, pria yang paling dekat adalah suaminya yaitu Kak David. Untuk Alessandra, pria paling dekat adalah Kak Michael." Ucap dokter Sandra.
Dokter Sandra mengambil peralatan dokter milik dokter Alessandra yang tergeletak di meja dekat ranjang kemudian mengecek kondisi dokter Alessandra.
"Kami bertiga juga tahu kalau orang yang kami cintai adalah seorang psychophat di mana sangat suka membunuh tanpa ampun." Ucap dokter Sandra sambil mengambil suntikan dan ampul yang berisi obat bius.
"Darimana kalian tahu? Kenapa kalian tidak takut sama kami?" Tanya Michael dengan wajah terkejut.
"Kenapa kamu tidak melarikan diri ketika Aku menemuimu dan menuruti apa yang Aku minta?" Tanya Federick yang tak kalah terkejutnya.
"Aku akan katakan nanti tapi sekarang Aku ingin mengobati Alessandra karena lukanya sangat parah. Oh ya tolong kalian keluar dulu." Ucap dokter Alessandra.
"Baiklah." Jawab Federick dan Michael dengan serempak sambil membalikkan badannya dan berjalan ke arah pintu kamar.
"Oh ya Kak Michael, golongan darah temanku A+ tolong hubungi anak buah Kak Michael untuk membeli dua kantung darah secepat mungkin." Ucap dokter Sandra sambil berusaha menghentikan pendarahan.
"Baik." Jawab Michael sambil mengirim pesan ke dokter pribadi milik David.
Setelah selesai mereka berdua pergi meninggalkan kamar dokter Alessandra hingga lima belas menit kemudian terdengar suara ketukan pintu.
"Masuk." Jawab dokter Sandra.
Pintu kamar dokter Alessandra dibuka di mana Michael berjalan ke arah dokter Sandra sambil membawa dua kantong darah.
"Ini dua kantong darahnya." Ucap Michael sambil memberikan satu kantong darah sedangkan satunya diletakkan di atas meja.
"Ok. Oh ya Tolong kantong darahnya diletakkan dekat botol infus." Pinta dokter Sandra sambil memasang selang darah di tangan dokter Alessandra.
"Oke." Jawab Michael dengan singkat.
Michael melakukan apa yang diminta oleh dokter Sandra setelah selesai Michael melihat dokter Sandra menggunting pakaian milik dokter Alessandra.
"Kenapa di gunting?" Tanya Michael dengan wajah terkejut.
"Karena Aku ingin mengambil peluru yang ada di dalam tubuh Alessandra sekalian mengganti pakaian yang lebih bersih." Jawab dokter Sandra yang melihat pakaian milik dokter Alessandra banyak bercak darah.
"Di tubuh Alessandra ada dua peluru, apakah penjahatnya ada dua orang? Tanya dokter Sandra sambil mulai membedah tubuh dokter Alessandra.
"Pelurunya berasal dari penjahat dan satunya dariku." Jawab Michael dengan jujur.
"Ceritakan lebih detail." Pinta dokter Sandra.
Michael menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mulai menceritakan apa yang telah terjadi. Sedangkan dokter Alessandra mendengarkan cerita Michael sambil mengambil peluru yang bersarang di tubuh dokter Alessandra.
Cling
Dokter Alessandra berhasil mengambil satu peluru lalu meletakkan di baskom alumunium ukuran kecil. Setelah selesai barulah dokter Sandra menjahit tubuh dokter Alessandra yang terluka kemudian berlanjut ke luka tembak yang terakhir di mana sebelumnya di suntik obat bius.
"Itulah yang terjadi." ucap Michael mengakhiri ceritanya.
"Saat ini nyawa Alessandra bisa tertolong tapi Aku tidak tahu untuk ke depannya, apakah bisa tertolong atau tidak itu semua tergantung Kak Michael." Ucap dokter Sandra dengan wajah serius.
Jantung Michael berdetak kencang ketika mendengar ucapan dokter Sandra membuat Michael menatap ke arah dokter Alessandra yang wajahnya pucat seperti kapas.
"Setelah ini Alessandra akan pergi dari kehidupanku jadi apa yang kamu katakan barusan tidak mungkin terjadi." Ucap Michael yang bertentangan dengan kata hatinya.
"Alessandra tidak akan pergi dari kehidupan Kak Michael." Ucap dokter Sandra.
Cling
Dokter Sandra berhasil mengambil peluru yang terakhir lalu meletakkan di baskom alumunium ukuran kecil. Setelah selesai barulah dokter Sandra menjahit tubuh dokter Alessandra yang terluka.
"Dari mana kamu tahu?" Tanya Michael.
"Ketika kami mengetahui kalau orang yang kami cintai ternyata adalah seorang psychophat." Jawab dokter Sandra.
"Kenapa kamu dan ke dua temanmu tidak takut sama kami?" Tanya Michael dengan wajah terkejut karena biasanya semua orang sangat takut jika berdekatan dengan seorang Setelah selesai barulah dokter Sandra menjahit tubuh dokter Alessandra yang terluka.
"Karena kami mempunyai misi yang sama." Jawab dokter Alessandra sambil memperban bekas luka tembak.
"Misi?" Tanya ulang Michael.
"Ya misi, di mana kami ingin orang yang kami cintai bisa menghilangkan jiwa psychophat. Walau taruhan nyawa kami, kami tidak perduli asalkan orang yang kami cintai bisa menghilangkan jiwa psychophat." Jawab dokter Sandra.
"Kak Michael masih ingat dengan apa yang dilakukan Kak David di mana Kak David menyiksa Karen tapi Karen sama sekali tidak memperdulikan nyawanya." Sambung dokter Sandra.
"Aku masih ingat." Jawab Michael.
"Itu yang juga dilakukan kami." Ucap dokter Sandra.
"Apalagi yang kalian tahu tentang kami?" Tanya Michael.
"Kami juga tahu kalau musuh suamiku, Kak David dan Kak Michael mengincar nyawa kami seperti yang terjadi pada barusan di mana Alessandra menjadikan tubuhnya sebagai tamengnya agar orang yang dicintainya tidak terluka." Jawab dokter Sandra sambil merapikan alat - alat dokter.
"Kenapa kalian sama sekali tidak takut mati? Biasanya orang takut mati." Ucap Michael.
"Mati dan hidup seseorang sudah ditakdirkan sama Yang Di Atas. Walau kita berlari sejauh mungkin tapi jika memang sudah takdir kita tidak bisa mencegahnya." Jawab dokter Sandra.
"Jika memang takdir kami mati di tangan orang yang kami cintai, maka kami hanya bisa berharap ada seseorang yang bisa mengubah sifat orang yang kami cintai menjadi orang yang lebih baik." Sambung dokter Sandra sambil turun dari ranjang.
Dokter Alessandra menulis resep kemudian memberikan ke Michael sedangkan Michael hanya menerimanya sambil merenungkan perkataan dokter Sandra.
"Jika Kak Michael mencintai Alessandra dengan tulus maka Aku minta jangan mengulangi kesalahan yang sama karena jika tidak jangan pernah menyesali apa yang dilakukan Kak Michael ketika orang yang dicintainya pergi untuk selama - lamanya." Ucap dokter Sandra sambil memutar knop pintu.
Dokter Sandra keluar dari kamar dan melihat suaminya sedang menatap dirinya sedangkan Michael menatap ke arah dokter Alessandra.
"Aku harus bisa mengendalikan emosiku dan mempercayai Alessandra agar kejadian ini tidak terulang." Ucap Michael sambil duduk di samping sisi ranjang.
Di tempat yang berbeda lebih tepatnya di sebuah mansion pinggiran kota seorang pria paruh baya sangat marah karena rencananya gagal lagi.
"Sia*l ... Si*l kenapa bisa gagal? Apa kalian tidak bisa membunuh ketiga wanita itu? Padahal dua wanita itu sedang hamil tapi kalian sangat bo x doh tidak bisa membunuhnya." Ucap pria paruh baya.
"Maafkan kami Tuan Besar." Jawab para anak buahnya dengan serempak.
"Sudahlah, selidiki mereka dan cari kelemahannya lalu laporkan padaku!" Perintah pria paruh baya tersebut.
"Baik." Jawab para anak buahnya dengan serempak.
Merekapun pergi dari mansion tersebut sedangkan pria paruh baya tersebut menghubungi orang kepercayaan untuk menjalankan rencana jahatnya.
"Kekasih kalian harus mati." ucap pria paruh baya tersebut sambil tersenyum devil.