Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 56



David duduk di kursi ruang perawatan sebelah dokter Karen di mana David menatap wajah cantik istrinya walau terlihat pucat tapi masih terlihat cantik.


Tidak berapa lama terdengar suara cacing yang sedang berdemo di perut David membuat dokter Karen terbangun dan membuka matanya, dokter Karen melihat David sedang menatap dirinya.


"Honey lapar?" tanya dokter Karen dengan nada lembut.


"Iya, maaf mengganggu tidurmu." ucap David yang tidak enak hati karena mengganggu istirahat istrinya.


"Tidak apa - apa honey. Honey makanlah nanti sakit." ucap dokter Karen sambil memegang tangan suaminya.


"Baiklah, Aku akan memesan ke Michael." ucap David sambil membelai rambut dokter Karen dengan lembut.


David mengambil ponselnya di saku kemejanya kemudian mengirim pesan ke Michael setelah selesai David memasukkan kembali ponselnya di saku kemejanya.


"Sayang, maafkan Aku yang selama ini sering menyiksamu." mohon David sambil menatap wajah istrinya dengan tatapan bersalah yang teramat sangat.


"Ssstt... Sudah lupakanlah masalalu. Kita memulai dari awal." ucap dokter Karen sambil jari telunjuknya kanannya diarahkan ke bibir David.


David memegang jari telunjuk dokter Karen kemudian mengecupnya dengan lembut lalu memegang tangan dokter Karen.


"Terima kasih sayang, kamu memang wanita yang paling baik. Tolong ajarkan Aku untuk memiliki hati memaafkan kesalahan orang." ucap David.


"Iya honey." jawab dokter Karen.


"Sayangku lapar?" tanya David.


"Iya honey, Aku sangat lapar." Jawab dokter Karen.


"Aku suapi ya." Ucap David.


"Baik Sayang." ucap dokter Karen sambil tersenyum.


David mengambil mangkok dan mulai menyuapi dokter Karen hingga tidak membutuhkan waktu lama bubur di mangkok habis tanpa sisa. David melihat bibir dokter Karen ada sisa bubur membuat David mendekati wajah dokter Karen membuat dokter Karen memejamkan matanya. David menji**t bibir dokter Karen yang ada sisa buburnya setelah itu duduk tegap kembali.


"Nah sekarang sisa bubur di mulutmu sudah bersih." ucap David sambil tersenyum.


Dokter Karen membuka matanya dan menatap David seakan tidak percaya dengan apa yang dilakukannya.


"Honey tidak jijik?" tanya dokter Karen.


"Kenapa harus jijik dengan istri sendiri?" Tanya David sambil menjilat bibirnya sendiri.


"Honey." panggil dokter Karen sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa ditutupi?" Tanya David sambil membuka ke dua tangan dokter Karen.


"Malu." Jawab dokter Karen dengan wajah memerah.


"Kenapa malu?" Tanya David sambil mengangkat salah satu alis matanya.


Ketika dokter Karen ingin menjawab tiba - tiba pintu ruang perawatan terbuka tampak Michael membuka pintu sambil membawa paper bag membuat dokter Karen dan David menatap Michael.


"Aku tahu kalau Aku tampan jadi jangan melihatku seperti itu." ucap Michael percaya diri.


"Honey perasaan ada yang bicara siapa ya?" Tanya dokter Karen usil.


"Pffftttt hahahaha...." tawa David lepas mendengar ucapan istrinya.


Dokter Karen dan Michael saling pandang kemudian tersenyum karena senang melihat tawa lepas David.


"Honey kalau tertawa seperti ini semakin bertambah tampan." puji dokter Karen.


David langsung berhenti tertawa dan memasang kembali wajah datarnya.


"Yah honey kok wajahnya seperti itu lagi? Kurang tampan tahu." ucap dokter Karen dengan wajah cemberut.


"Iya.. iya Aku senyum nich." ucap David sambil tersenyum.


"Nah gitu dong kan tambah tampan. Kalau senyum begini kan Aku tidak pernah bosan memandang wajah tampan honey." ucap dokter Karen sambil ikut tersenyum.


"Berarti kalau Aku tidak senyum, kamu bosan ya sama Aku?" tanya David dengan nada kesal.


"Eh.. Tidak honey." ucap dokter Karen dengan wajah bingung sambil menatap ke Michael meminta bantuan.


Michael yang melihat dokter Karen meminta bantuan langsung mengangkat ke dua bahunya membuat dokter Karen menghembuskan nafasnya dengan perlahan.


"Honey tetap tampan dan tidak pernah membuatku bosan. Apalagi kalau tersenyum tampannya bertambah kali lipat." Ucap dokter Karen sambil memegang tangan David.


"Honey makan ya waktunya makan siang." sambung dokter Karen mencoba mengalihkan perhatiannya.


"Baiklah." jawab David dengan singkat.


David berdiri dan berjalan ke arah sofa kemudian membuka paper bag yang berisi makanan. David membuka tutup kotak makanan kemudian mulai memakannya dan seperti biasa David hanya makan sedikit yaitu hanya 2 suap saja.


Dokter Karen yang melihat David selesai makan membuat dokter Karen menatap David dengan tatapan bingung.


"Honey, kenapa makannya hanya dua suap?" tanya dokter Karen dengan nada lembut.


"Aku kalau makan memang seperti ini hanya satu sampai tiga suap." Jawab David menjelaskan.


"Tapi kalau Aku yang masak, kenapa habis padahal itu lebih dari tiga suap?" Tanya dokter Karen dengan wajah bingung.


"Aku juga tidak tahu sayang." ucap David.


"Kalau begitu bawa kesini makanannya." pinta dokter Karen sambil berusaha duduk.


David pun mengambil makanan itu tanpa banyak komentar kemudian memberikannya ke dokter Karen dan dokter Karen pun menerima makanan pemberian David.


"Honey duduklah di sampingku." pinta dokter Karen.


Lagi - lagi David menuruti keinginan dokter Karen sedangkan dokter Karen mengambil sendok yang sudah ada nasi dan lauknya.


"Honey ayo buka mulut honey." pinta dokter Karen.


David tanpa protes membuka mulutnya dan dokter Karen mulai menyuapi David. Suapan pertama David mengunyahnya hingga habis kemudian dokter Karen kembali menyuapinya hingga tidak terasa makanannya pun habis tanpa sisa.


"Honey mau pakai gelas bekasku atau pakai gelas yang baru?" tanya dokter Karen.


"Bekasmu saja sayang." jawab David sambil mengambil gelas bekas minuman dokter Karen.


David pun meminumnya hingga habis membuat dokter Karen tersenyum, setelah selesai minum David meletakkan gelasnya kembali ke atas meja dekat ranjang.


"Honey kalau makan itu harus dihabiskan karena banyak orang kelaparan dan tidak bisa makan. Jadi Kita seharusnya bersyukur karena setiap hari kita bisa makan - makanan yang enak." ucap dokter Karen dengan nada lembut sambil memegang tangan David.


David terdiam sambil merenungkan perkataan istrinya yang ada benarnya. David tersenyum menatap wajah cantik istrinya kemudian memeluknya.


"Aku bersyukur bisa menikah denganmu sayang. Terima kasih kehadiran mu sangat berarti untukku, Aku mohon jangan pernah berhenti untuk mencintaiku." Mohon David kemudian mengecup pucuk rambut dokter Karen.


Dokter Karen hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya kemudian menatap wajah tampan suaminya.


"Sayang, Aku sangat lelah. Aku mau tidur di sofa." ucap David sambil berdiri.


"Kalau tidur di sebelahku mau tidak?" tanya dokter Karen sambil menggeserkan tubuhnya ke arah samping kemudian berbaring miring sambil menatap suaminya.


"Apakah Sayang tidak merasakan sempit?" tanya David yang sebenarnya ingin tidur di sebelah dokter Karen.


Tidak honey. Tidurlah karena Aku ingin tidur di peluk honey." ucap dokter Karen sambil tersenyum.


"Sepertinya anak kita ingin dipeluk daddynya." Sambung dokter Karen.


David tersenyum dan langsung membaringkan tubuhnya di samping dokter Karen. Dokter Karen bersandar di dada bidang suaminya sedangkan David tangan kanannya memeluk dokter Karen dan tangan kirinya membelai perut dokter Karen dengan lembut.


Dokter Karen perlahan menutup matanya dan tidak berapa lama dokter Karen pun tertidur dengan pulas.


"Selamat tidur sayang." ucap David kemudian mengecup kening dokter Karen dengan lembut dan tidak berapa lama David pun tertidur dengan pulas.


xxxxx


Di Tempat Yang Berbeda lebih tepatnya di negara berbeda di mana pria paruh baya berbicara dengan anak buahnya lewat sambungan telepon. Pria paruh baya tersebut memerintahkan anak buahnya untuk menyelidiki putrinya yang mendadak menghilang entah kemana.


("Apa? Jadi putriku di perk**a secara bergiliran? Lalu putri kesayanganku di siksa dan putriku meninggal dunia dengan cara mengenaskan?" Tanya pria paruh baya tersebut mengulangi perkataan anak buahnya dengan nada gemetar).


Hal itu dikarenakan dirinya tidak percaya kalau putri kesayangannya mati dengan cara sangat mengenaskan. Karena dirinya mengira kalau putrinya sedang mengejar pria yang disukainya.


("Benar sekali, Tuan Besar." jawab anak buahnya dengan nada yakin).


("Siapa pelakunya?" tanya pria paruh baya sambil menahan amarahnya).


("Tuan Muda David dan asistennya yang bernama Tuan Michael." Jawab anak buahnya).


("Apa??? Cari kelemahan mereka dan beritahukan padaku." ucap pria paruh baya tersebut).


("Baik Tuan Muda." jawab anak buahnya dengan patuh).


Tut Tut Tut Tut Tut Tut


Pria paruh baya itupun memutuskan sambungan komunikasi nya secara sepihak.


"Awas kalian berdua akan Aku balas perbuatan kalian karena telah berani membuat putri kesayanganku meninggal dunia." Ucap pria paruh baya tersebut sambil menahan amarahnya.