
"Tuan tidak perlu tahu siapa Kami tapi yang pasti kalian semua akan ma x ti hari ini." Ucap salah satu pria tersebut.
"Bunuh Mereka!" Perintah pria tersebut yang merupakan pemimpinnya
Delapan pria bersenjata itu termasuk pria yang merupakan pemimpin tersebut mengalahkan senjata tajam ke arah Leon, Alessandra dan ke dua bodyguard milik Leon.
Hal itu membuat Leon dan ke dua bodyguard milik Leon mulai bersiap sedangkan Alessandra hanya menatap mereka dengan tatapan datar.
'Waktu berhenti.' Ucap Alessandra dalam hati.
Waktu Berhenti
"Jatuhkan senjata dan ke dua kakinya lumpuh." Ucap Alessandra.
Ctak
Selesai mengatakan hal itu Alessandra menjentikkan jari nya dan tidak berapa lama terdengar suara ....
Cling Cling Cling Cling
Cling Cling Cling Cling
Bruk Bruk Bruk Bruk
Bruk Bruk Bruk Bruk
Delapan senjata milik penjahat tiba-tiba terjatuh saling bersahutan bersamaan tubuh delapan penjahat ambruk bersamaan.
"Waktu kembali seperti semula." Ucap Alessandra.
"Nona curang."
"Aku lagi malas bertarung jadi ada yang cepat kenapa mesti capek - capek bertarung?" Tanya Alessandra dengan nada santai.
"Ish ... Ish ..... Ish ... Tidak patut untuk di contoh."
"Sudahlah, kembalikan waktu seperti semula." Ucap Alessandra.
''Waktu kembali seperti semula.''
"Apa yang terjadi? Kenapa Aku duduk di jalan aspal?" tanya ke delapan pria tersebut bersamaan termasuk pemimpinnya dengan wajah bingung.
Sambil berbicara pemimpin tersebut berusaha untuk bangun begitu pula dengan ke tujuh anak buahnya namun ke dua kaki mereka seperti tidak bertenaga.
"Apa yang terjadi? Kenapa ke dua kakiku tidak bisa digerakkan?" Tanya mereka bersamaan dengan wajah terkejut.
"Apa yang terjadi dengan mereka?" Tanya Leon dengan wajah bingung begitu pula dengan ke dua bodyguardnya.
"Entahlah, Aku juga tidak tahu." Jawab Alessandra pura-pura ikut bingung.
Leon, Alessandra dan ke dua bodyguard milik Leon berjalan ke arah delapan penjahat tersebut di mana ke delapan pria tersebut tidak bisa berdiri.
"Siapa yang menyuruh Kalian?" Tanya Leon dengan nada dingin.
"Aku tidak akan mengatakannya." Jawab pemimpin mereka.
"Baiklah kalau tidak mau mengatakannya akan Aku tembak salah satu dari Kalian." Ucap Leon.
'Buat pria itu mengaku siapa yang melakukannya.' Ucap Alessandra dalam hati.
"Obat kejujuran seharga seratus lima puluh poin berhasil di beli."
"Sekali lagi Aku tanya siapa yang menyuruh Kalian?" Tanya Leon dengan nada dingin sambil mengarahkan pistolnya ke arah kening salah satu dari pria tersebut.
"Baiklah kalau begitu, Aku tidak segan-segan membunuh kalian." Ucap Leon sambil menarik pelatuknya.
"Sayang, tunggu." Ucap Alessandra yang melihat mereka tidak mungkin mengatakannya.
"Ada apa?" Tanya Leon.
"Berikan obat ini ke pria itu." Ucap Alessandra sambil memberikan botol obat tersebut.
Tanpa banyak bertanya Leon mengambil obat tersebut kemudian diberikan ke salah satu bodyguardnya.
"Masukkan dengan paksa obat ini ke dalam mulut pria itu." Ucap Leon sambil memberikan botol tersebut kemudian menunjuk pria tersebut yang merupakan pemimpin mereka.
"Baik Tuan." Jawab bodyguardnya tersebut sambil menerima botol tersebut.
Temannya memegang mulut pemimpin penjahat tersebut sedangkan temannya yang satunya lagi di mana dirinya memegang botol pemberian Leon memasukkan botol tersebut ke dalam mulutnya.
Pemimpin tersebut berusaha menolaknya tapi karena ke dua bodyguard tersebut sangat kuat membuat obat itu masuk ke dalam mulutnya.
Ketika ingin memuntahkan nya salah satu bodyguard menutup mulutnya dengan rapat hingga obat tersebut terpaksa tertelan.
"Sayang, coba tanya siapa yang menyuruh mereka." Ucap Alessandra yang sebenarnya sudah tahu siapa yang menyuruh mereka.
"Sekali lagi Aku bertanya, siapa yang menyuruh Kalian?" tanya Leon mengikuti ucapan Alessandra.
"Orang yang menyuruh kami adalah Tuan Mokondo." Jawab pemimpin tersebut.
"Tuan Mokondo?" Tanya ulang Leon sambil mengingat nama Tuan Mokondo.
"Ya Tuan Mokondo, Tuan Mokondo memerintahkan Kami untuk membunuh Tuan Muda Leon dan Nyonya Muda Leon." Jawab pemimpin tersebut.
'Si*l, kenapa mulut ku tidak bisa diam malah mengatakan yang sejujurnya?' Tanya pemimpin tersebut dalam hati.
'Karena dirimu sudah meminum obat pemberianku.' Jawab Alessandra dalam hati.
"Siapa Tuan Mokondo?" Tanya Alessandra pura-pura tidak tahu.
"Rekan bisnis ku." Jawab Leon.
"Kenapa ingin membunuh Kami?" Tanya Leon.
"Karena Tuan Muda Leon telah berhasil memenangkan tender proyek yang selama ini di incar Tuan Mokondo." Jawab pemimpin tersebut.
"Apakah ada mata-mata di perusahaan milik suamiku?" Tanya Alessandra pura-pura tidak tahu.
"Tentu saja ada." Jawab pemimpin tersebut.
"Apa? Siapa orang itu?" Tanya Leon dengan wajah terkejut.
"Pertama manajer Keuangan dan satunya lagi Manajer Humas." Jawab pemimpin tersebut.
'Si*l, kenapa mulut ku tidak bisa diam malah mengatakan yang sejujurnya?' Tanya pemimpin tersebut dalam hati sambil memukul mulutnya agar tidak mengatakan yang sebenarnya.
"Kurang aj*r, kenapa Aku bisa tidak tahu kalau mereka adalah mata-mata Tuan Mokondo?" Tanya Leon merutuki kebodohannya.
Grep
"Jangan menyalahkan diri sendiri karena yang terpenting mulai sekarang suamiku harus lebih berhati-hati." Ucap Alessandra.
"Peringatan sistem ... Peringatan Sistem..."
"Ada apa?" Tanya Alessandra.