
Federick kembali ke ruangan lab untuk mencari penawar obat untuk dokter Karen.
"Jika Nyonya Karen hamil maka racun dari orang itu dan racun yang Aku buat ikut bergabung maka racun di tubuh Nyonya Karen akan bertambah kuat dan bisa membunuh janin dan Nyonya Karen. Aku hanya bisa membuat obat untuk memperpanjang umurnya sampai 2 atau 3 tahun lagi." Ucap Federick.
"Di mana Nyonya karen setiap seminggu sekali harus rutin mengkonsumsi obat yang Aku berikan. Dalam waktu 3 tahun Aku masih ada waktu untuk mencari penawarnya." Sambung Federick.
Federick menatap pelayannya yang sedang menatap dirinya dengan tatapan tajam.
"Tenang saja sebentar lagi kamu akan mati karena saya ada pesanan untuk membuat obat racun tanpa diketahui oleh seorang dokter." ucap Federick sambil tersenyum devil.
Federick mulai meracik kembali ramuan beracun yang lebih berbahaya dari racun yang ada di tubuh dokter Karen tanpa mengetahui kalau dokter Karen sudah tidak ada racun di dalam tubuhnya.
Setelah hampir satu jam Federick berhasil membuat racun baru kemudian Federick mendekati pelayan itu yang ke dua kaki dan ke dua tangannya di ikat dengan kencang yang menyatu dengan ranjangnya.
"Percuma kamu bergerak karena kedua tangan dan kakimu akan memerah, terima saja kematian mu." ucap Federick dengan wajah polosnya.
Federick menyuntik ke lengan pelayan itu, setelah selesai Federick menyimpan kembali alat suntikkan dan botol yang berisi racun yang sudah di pesan seseorang.
"Setengah jam lagi kamu akan mati dan nanti seorang bodyguardku akan membuangmu ke lubang yang mirip sumur dan sangat dalam tanpa tahu dasarnya." ucap Federick dengan nada santai.
Federick duduk dengan santai sambil memperhatikan pelayan itu dengan tubuh yang masih polos tanpa sehelai benang pun dan penuh luka lebam baik tubuhnya maupun mulutnya.
"Aku heran melihat tubuhmu yang polos tanpa sehelai benang tapi kenapa adik kecilku tidak berpengaruh sama sekali? Tapi kenapa dekat dengan Sandra adik kecilku langsung tegang dan ingin sekali merasakannya padahal masih memakai pakaian lengkap." ucap Federick menatap pelayan itu dengan wajah polosnya.
Pelayan itu hanya memalingkan wajahnya, tubuhnya sudah mulai menggigil karena tidak menggunakan selembar pakaian.
'Semoga Tuan Muda merasakan apa yang Aku rasakan sekarang.' ucap pelayan tersebut dalam hati.
"Oh kamu kedinginan? Tenang saja karena Aku pria paling baik sedunia maka Aku kasih selimut." ucap Federick dengan wajah polosnya sambil tersenyum namun senyumnya sangat menakutkan.
Federick mengambil selimut kemudian tubuh pelayan itupun diselimuti dan tidak berapa lama tubuhnya mulai kejang - kejang tanda obatnya mulai bereaksi selama 5 menit kemudian pelayan itupun menghembuskan nafas terakhirnya.
"Akhirnya mati juga." ucap Federick dengan nada santai sambil melepaskan ke dua ikatan tangan dan kedua kaki pelayan itu.
Federick dengan santai mengambil darah milik pelayan tersebut kemudian dimasukkan ke dalam botol untuk diteliti. Setelah selesai Federick menggendong mayat tersebut seperti menggendong karung beras dan di bawa keluar sambil memanggil bodyguard untuk di buang ke jurang.
"Buang bawa mayat ini ke sumur!" perintah Federick sambil memberikan mayat pelayan itu.
Bodyguard itupun membawa mayat pelayan untuk di buang ke lubang mirip sumur yang sangat dalam dan tidak tahu dasarnya. Sumur tersebut merupakan tempat khusus Federick membuang mayat-mayat untuk menghilangkan jejak hasil dari eksperimennya.
Federick berjalan ke kamarnya untuk mandi karena tubuhnya sangat lengket dan lelah. Selesai mandi dan berpakaian Federick mengambil ponselnya untuk melihat pesan masuk.
"Sandra kenapa tidak menghubungi Aku ya?" tanya Federick dengan wajah bingung.
Federick pun menghubungi dokter Sandra karena Federick sangat merindukan suaranya. Deringan pertama, ke dua, ke tiga dan ke empat tidak di angkat padahal nomernya aktif.
Federick yang penasaran mencoba menghubungi dokter Sandra kembali tapi berkali kali mencoba dokter Sandra tidak mengangkatnya malah nomer Federick langsung di blokir oleh dokter Sandra.
"Si*l nomerku di blokir, awas ya kamu Sandra akan aku balas." ucap Federick sambil tersenyum menyeringai.
Federick yang tubuhnya lelah membuatnya merebahkan dirinya dan tidak berapa lama Federick sudah tertidur dengan pulas.
xxxxxxx
Di Rumah Sakit
Dokter Sandra yang sangat kecewa dengan Federick atas ucapannya langsung menerima tugas dari pimpinan rumah sakit untuk membantu orang-orang pendalaman di desa xxxx bersama 4 dokter dan 5 perawat untuk menghilangkan perasaannya yang sedang terluka.
"Kenapa kamu ambil? apa karena laki - laki itu?" tanya dokter Alesandra yang bisa menebak jalan ceritanya.
"Benar sekali. Terlebih Aku ingin menenangkan diriku di sana dan kebetulan Aku juga sebenarnya sangat suka tinggal pendalaman karena itulah aku ambil." jawab dokter Sandra yang tidak bisa membohongi sahabatnya.
"Aku sebagai seorang sahabat hanya bisa mendoakan yang terbaik buat sahabatku." ucap dokter Alesandra.
Dokter Alesandra sebenarnya ingin sekali menghukum tiga pria tampan tersebut David, Federick dan Michael tapi dirinya tidak bisa melakukannya karena mereka merupakan tokoh utama.
"Terima kasih atas doanya, salam buat Karen karena besok pagi - pagi sekali Aku akan berangkat ke bandara." ucap dokter Sandra.
"Kamu hubungi donk." ucap dokter Alesandra.
"Kalau aku hubungi malasnya pria itu nanti tahu akan kepergian ku." ucap dokter Sandra beralaskan.
"Benar juga sih, tadi aja pria itu ada di ruang tunggu perawatan dan sepertinya mereka bersahabat." ucap dokter Alesandra.
"Karena itulah aku tidak mau menghubungi Karen apalagi Karen kan lagi sakit." ucap dokter Sandra beralasan yang enggan bertemu dengan Federick.
"Betul juga sich yang ada nanti tambah banyak pikiran dan mudah sakit." ucap dokter Alesandra.
"Aku pamit pulang dulu menyiapkan semuanya." ucap dokter Sandra berpelukan sambil cipika cipiki.
"Ok, hati - hati di jalan. Besok pagi aku antar ke bandara jam 7 pagi kan?" tanya dokter Alesandra.
"Yup. Ok aku pulang dulu." pamit dokter Sandra.
"Bye." jawab dokter Alesandra.
"Bye." balas dokter Sandra.
Dokter Sandra dan dokter Alesandra keluar dari ruangan dapur di mana mereka sudah selesai memasak. Dokter Alesandra dan dokter Sandra sengaja memasak untuk sahabatnya dokter Karen dan David mengingat ada orang sengaja memberikan racun ke dalam makanan milik David namun di makan oleh dokter Karen.
Dokter Sandra pergi meninggalkan rumah sakit untuk menyiapkan barang - barang yang akan dibawanya besok pagi sedangan dokter Alesandra berjalan ke arah ruang perawatan di mana dokter Karen masih berbaring di ranjang.
xxxxx
Ruang Perawatan Dokter Karen
"Sudah makan?" tanya dokter Karen dengan nada lembut.
"Belum." jawab David dengan singkat.
"Kenapa belum makan?" tanya dokter Karen.
"Belum lapar." Jawab David.
Tiba - tiba pintu ruang perawatan terbuka dengan lebar oleh perawat kemudian dokter Alesandra masuk ke dalam ruang perawatan sambil mendorong troli yang berisi dua makanan dan dua gelas mineral.
"Makanan yang tadi sudah dingin jadi Aku ganti yang baru." Ucap dokter Alesandra.
"Aku barusan makan." Ucap dokter Karen.
"Tidak - apa, biasanya bubur cepat laper." Ucap dokter Alesandra.
"Terima kasih ya, sudah ngerepotin." Ucap dokter Karen.
"Sesama sahabat tidak ada istilah ngerepotin." Ucap dokter Alesandra sambil tersenyum.
"Selamat makan dan istirahat." Sambung dokter Alesandra sambil membalikkan badannya dan berjalan meninggalkan mereka berdua.
"Sekali lagi terima kasih." Ucap dokter Karen.
Dokter Alesandra hanya menganggukkan kepalanya sambil ibu jari kanannya di angkat ke atas sedangkan David hanya memperhatikan mereka mengobrol tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun.
"Kamu mau ngapain?" tanya David yang melihat dokter Karen berusaha untuk bangun.
"Mau ambil mangkok." Jawab dokter Karen.
"Kamu lapar lagi?" Tanya David sambil menurunkan tubuh dokter Karen agar berbaring di ranjang.
"Tidak, Aku ingin menyuapi Tuan Muda David karena Tuan Muda David belum makan." Jawab dokter Karen.
"Aku belum lapar dan Aku tidak mau disuapi." ucap David dengan nada tegas.
"Apa aku masak saja buat Tuan David?" Tanya dokter Karen.
Dokter Karen mengira kalau David tidak mau makan karena yang memasak dokter Alesandra.
"Baiklah setelah ini dan seterusnya aku tidak akan makan kalau Tuan Muda tidak makan." ucap dokter Karen dengan nada kesal.
"KAREN!?" Bentak David dengan suara menggelegar.
"Kenapa memaksaku untuk makan? Orang tidak pernah ada yang perduli apakah Aku sudah makan atau tidak." Ucap David sambil menatap tajam ke arah dokter Karen seakan ingin membunuhnya.
"Karena Tuan David adalah suamiku karena itulah Aku meminta suamiku untuk makan." ucap dokter Karen tidak mau kalah menatap tajam ke arah suaminya tanpa ada rasa takut sedikitpun.
"Aku sudah baik denganmu karena sakit tapi ini balasanmu? Apakah kamu ingin aku hukum lagi hah!!!" bentak David.
"Silahkan menghukumku tapi sebelum Aku di hukum, Aku mohon suamiku makan dulu." Mohon Karen sambil menatap suaminya dengan sendu.
"Kenapa Kamu perduli menyuruhku untuk makan? Kenapa Kamu perduli menyelamatkan Aku ketika musuh - musuhku ingin membunuhku? Apa kamu ada rencana busuk dengan berpura - pura baik padaku terus menusukku dari belakang sama seperti orang tuamu." tanya David beruntun dengan nada tinggi.
"Karena Aku sangat mencintaimu dan Aku tidak ingin suamiku sakit kalau makannya terlambat. Apakah seorang istri tidak boleh memperhatikan suaminya?" tanya dokter Karen dengan nada lembut.
"Aku sering menyiksamu, jadi tidak mungkin kalau kamu mencintaiku. Bagiku cinta itu adalah kebohongan Aku tidak percaya dengan apa itu cinta." ucap David dengan nada tegas.
"Bagaimana caranya suamiku percaya kalau Aku mencintai Tuan?" tanya dokter Karen dengan wajah sendu.
David mengambil botol berisi racun yang diberikan oleh Federick yang tergeletak di atas meja untuk diperlihatkan ke dokter Karen.
"Di dalam botol ini ada racun yang sangat berbahaya jika diminum maka jantungnya akan lambat berdetak dan tubuhnya akan merasakan sakit yang luar biasa di tambah nafas terasa sangat sesak." Ucap David sambil tersenyum menyeringai.
"Akibatnya darah segar akan keluar dari hidung dan mulut. Apakah kamu mau meminumnya jika memang mencintaiku?" tanya David tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh dokter Karen.
"Aku rasa semua orang tidak akan mau melakukan itu karena itulah Aku tidak percaya apa itu cinta." sambung David sambil menatap dokter Karen dengan tatapan tajam.
"Bukalah tutup botol itu dan berikan padaku, Aku akan meminumnya." ucap dokter Karen sambil mengarahkan tangannya ke arah David.
David membuka tutup botol itu kemudian memberikan ke arah dokter Karen. Dokter Karen langsung menerimanya kemudian langsung meminumnya tanpa banyak bertanya.
"Sekarang suamiku percayakan?" tanya dokter Karen sambil menatap David dengan tatapan sendu.
David sangat terkejut ketika dokter Karen mau melakukan apa yang dimintanya.
"Kenapa kamu meminumnya?" tanya David penasaran.
"Karena Aku sangat mencintaimu." ucap dokter Karen sambil tersenyum.
Perlahan-lahan dokter Karen merasakan tubuhnya sakit yang luar biasa dan detak jantungnya berdetak dengan sangat lambat dan nafasnya mulai terasa sesak persis seperti yang dikatakan David. David tahu kalau dokter Karen merasakan tubuhnya terasa sakit.
"Bagaimana tubuhmu terasa sakit bukan? Dada terasa sesak seperti tidak bisa bernafas. Kamu menyesal bukan meminum obat itu karena tubuhmu tersiksa seperti ini." ucap David dengan nada sinis.
"Aku tidak akan pernah menyesal karena Aku sangat dan sangat mencintaimu. Aku harap honey mempercayaiku kalau Aku selalu mencintaimu. Maafkan Aku dan semoga honey bahagia bersama wanita yang honey cintai." ucap dokter Karen sambil tersenyum dan menatap wajah tampan suaminya untuk terakhir kalinya.
Tidak berapa lama dokter Karen perlahan memejamkan matanya hingga darah segar mulai keluar dari hidung dan mulut dokter Karen membuat David mengeluarkan obat penawar nya dan disuntikkan ke tubuh dokter Karen sebelum terlambat.
"Aku ingin menyiksamu dan ingin membunuhmu tapi aku tidak bisa. Aku juga sangat sangat mencintaimu sayang tapi di sisi satunya dendamku pada keluargamu membuatku ingin menyiksamu." ucap David dengan lirih sambil memegang tangan dokter Karen.
Karena lelah David tertidur sambil kepalanya bersandar di tangan dokter Karen di kursi dekat ranjang.
Xxxxxxx
Tidak terasa hari berganti pagi, dokter Karen perlahan membuka matanya dan merasakan tangan kanannya terasa berat dan kebas membuat dokter Karen memalingkan wajahnya.
Wajah tampan suaminya yang sedang tertidur dengan sangat pulas membuat dokter Karen tidak tega untuk membangunkannya. Dokter Karen tersenyum menatap wajah suaminya.
'Aku tahu, honey pasti akan memberikan obat penawar untukku karena aku tahu honey mulai mencintaiku. Aku hanya membutuhkan kesabaran dalam menghadapi sikap honey yang terkadang tidak bisa mengontrol emosi. Aku yakin suatu saat honey akan memaafkan ke dua orang tuaku dan kita hidup bahagia. I love my husband.' ucap dokter Karen dalam hati.
Perlahan David membuka matanya hal itu membuat dokter Karen langsung menutup matanya agar David tidak tahu kalau dokter Karen baru saja menatap wajah tampan David.
David melihat dokter Karen masih setia memejamkan matanya. David membelai wajah istrinya dari mata, hidung, pipi dan terakhir bibir dokter Karen.
"Aku tidak tahu dekat denganmu Aku merasa sangat nyaman dan mimpi burukku yang biasanya setiap hari datang tidak datang ketika aku tidur bersamamu." ucap David.
David mengecup bibir dokter Karen yang sudah menjadi candunya dan ciuman singkat membuat David menginginkan lagi. Dokter Karen langsung mengalungkan kedua tangannya dan membalas ciuman David membuat David melepaskan tangan dokter Karen sambil menatap tajam ke arah dokter Karen.
"Kamu pura - pura memejamkan mata?" tanya David dengan suara di buat kesal.
Dokter Karen membuka satu matanya sambil tersenyum menggoda David.
"Hehehe ... Cium lagi donk. Ternyata enak juga ciuman." Ucap dokter Karen dengan nada menggoda.
"Tidak." jawab David dengan singkat sambil duduk kembali.
"Ya sudah aku mau cium dokter kalau dokternya cowok." ucap dokter Karen sambil bangun dari ranjang.
"Silahkan saja, kalau mulut kalian berdua mau aku jahit." ucap David dengan nada mengancam.
"Pffftttt ... Tega sekali suamiku tersayang." Ucap dokter Karen menggoda suaminya.
"Karen!!" teriak David dengan nada kesal.
"Sssttt ... Ini rumah sakit jangan teriak." ucap dokter Karen sambil mengarahkan jari telunjuknya ke mulutnya.
"Kamu ini..." ucapan David terpotong oleh kedatangan seorang dokter dan seorang perawat.
Dokter itu mulai mengecek keadaan dokter Karen setelah selesai mengecek dokter itu tersenyum.
"Apa ada keluhan, dokter Karen?" tanya dokter tersebut dengan nada sopan.
"Tidak ada dokter. Kapan saya bisa pulang?" tanya dokter Karen yang tidak betah berada di rumah sakit.
"Siang ini bisa pulang karena kondisinya semakin baik." jawab dokter tersebut.
"Benarkah Dok? Syukurlah aku senang mendengarnya." ucap dokter Karen tersenyum bahagia akhirnya bisa pulang.
"Karena hari ini pulang infusnya di cabut ya." ucap dokter tersebut.
"Baik dok." jawab dokter Karen.
Perawat itupun melepaskan jarum infus yang berada di lengan dokter Karen. Setelah selesai dokter dan perawat itu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Oh iya mulai sekarang jangan panggil Aku Tuan Muda David." pinta David.
"Terus aku panggil apa? Honey atau Sayang atau Yang atau My husband?" tanya dokter Karen sambil tersenyum.
"Terserah." jawab David.
Dalam hati David yang paling terdalam dirinya sangat senang di goda oleh dokter Karen namun dirinya tidak ingin mengatakan itu ke dokter Karen.
"Honey." panggil dokter Karen.
David yang mendengar dokter Karen memanggil dengan sebutan honey membuat David menatap tajam ke arah dokter Karen membuat dokter Karen bingung.
"Kok Aku panggil honey, honey menatap ku? Katanya jangan panggil Tuan lagi?" Tanya dokter Karen dengan wajah cemberut.
"Oh kamu memanggilku, kirain memanggil orang lain." ucap David sambil tersenyum.
Dokter Karen hanya menepuk keningnya kemudian tersenyum manis menatap wajah tampan suaminya yang sedang tersenyum.
"Sekarang dan seterusnya Aku akan memanggilmu dengan sebutan honey. Bolehkah?" tanya dokter Karen penuh harap.
"Terserah, sekarang kita pulang." ucap David dengan nada dingin.
"Baik honey." jawab dokter Karen.
"Jika kita berdua kamu boleh memanggilku apa saja tapi jika di luar tetap memanggilku Tuan Muda David dan satu lagi jangan merasa senang dulu karena Aku belum sepenuhnya mencintaimu." ucap David dengan nada tegas.
"Baik." jawab dokter Karen dengan singkat hatinya yang tadi senang kini berubah sedih lagi dan David tahu akan hal itu.
David masih belum sepenuhnya memaafkan ke dua orang tua dokter Karen karena itulah David membentengi dirinya untuk tidak mencintai dokter Karen.