
Ceklek
Tiba - tiba pintu ruangan terbuka dengan lebar oleh seorang pria tampan kemudian seorang gadis cantik berpakaian memakai seragam dokter masuk ke dalam ruangan tersebut.
"Lepaskan pistol itu kalau tidak Aku tembak." Ucap pria tampan tersebut sambil mengeluarkan pistol dari saku jasnya.
David dan dokter Karen yang mendengar suara memaksakan membuka matanya dan melihat seorang berpakaian serba hitam menodongkan pistol ke arah mereka berdua.
"Siapa Kamu!" teriak David sambil memeluk tubuh istrinya agar tidak di tembak.
"Kamu tidak perlu tahu siapa Aku tapi yang pasti Aku akan menembak kalian semuanya." Ucap pria berseragam hitam tersebut.
Gadis yang memakai seragam dokter diam - diam mengambil sebuah kelereng yang di saku jas dokternya. Gadis cantik tersebut kemudian menyentil kelereng tersebut ke arah tangan kanan yang memegang pistol dan berpakaian serba hitam.
Ctak
"Aduh ... Si*l." Ucap pria berpakaian serba hitam tersebut sambil memegangi tangannya yang sakit.
David yang melihat ada kesempatan menendang pria tersebut membuat pria tersebut memegang perutnya yang terasa sakit.
"Michael bawa pria itu ke markas!" Perintah David.
"Baik Tuan." Jawab Michael sambil menarik tangan pria tersebut dengan paksa.
"Alesandra, kita keluar dari sini karena ada yang ingin Aku tanyakan." Ucap Michael yang penasaran kenapa dokter Alesandra tahu apa yang terjadi di masa depan.
"Oke." Jawab dokter Alesandra dengan singkat sambil mengingat apa yang terjadi.
Flash Back On
Dokter Alesandra yang mendengar suara pintu ruangan tertutup dan rekan kerjanya yang bernama dokter Calista memeriksa dirinya membuat dokter Alesandra perlahan membuka matanya.
"Apakah ada yang sakit?" Tanya dokter Calista.
"Tidak ada. Aku di mana? Tanya dokter Alesandra sambil pura - pura memegangi kepalanya.
"Ada di rumah sakit." Jawab dokter Calista.
"Oh ya bagaimana dengan Karen?" Tanya dokter Alesandra basa basi sambil duduk.
"Baik - baik saja." Jawab dokter Calista yang sudah selesai memeriksa keadaan dokter Alesandra.
"Aku sudah baikan jadi tolong lepaskan infusnya." Pinta dokter Alesandra.
"Kamu yakin?" Tanya dokter Calista.
"Aku sangat yakin karena tubuhku sudah sehat." Jawab dokter Alesandra sambil turun dari ranjang.
Dokter Calista melepaskan selang infus hal itu dikarenakan hasil pemeriksaan dokter Alesandra baik - baik saja.
Dokter Alesandra dan dokter Calista keluar dari ruangan ICU bersamaan kedatangan Michael.
"Kamu sudah sadar? Mau kemana? Lebih baik kamu istirahat dulu." Ucap Michael dengan wajah kuatir.
"Seperti yang Kak Michael lihat, Aku baik - baik saja dan Aku ingin ke ruangan Karen." jawab dokter Alesandra.
"Oke. Terima kasih atas bantuanmu." Ucap dokter Alesandra dengan tulus.
"Sudah kewajibanku melindungi temanku sekaligus pasienku." Jawab dokter Calista sambil tersenyum kemudian pergi meninggalkan mereka berdua.
Dokter Alesandra mengetahui kalau ada seorang pembunuh bayaran ingin membunuh David dan dokter Karen membuat dokter Alesandra menarik tangan Michael.
"Ikut Aku." Ucap dokter Alesandra sambil menarik tangan Michael.
"Ada apa?" Tanya Michael sambil mengikuti langkah dokter Alesandra dan membiarkan dokter Alesandra menggenggam tangannya.
"Ada seorang pembunuh di ruang perawatan Karen di mana orang itu ingin menembak Karen dan Kak David." Jawab dokter Alesandra.
"Apa?" Teriak Michael dengan wajah terkejut.
Dokter Alesandra hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka dengan langkah cepat ke arah ruang perawatan.
Michael membuka pintu ruang perawatan dan melihat seorang pria berseragam hitam mengarahkan pistolnya ke arah David dan dokter Karen. Hingga akhirnya Michael membawa pria tersebut ke markasnya dengan diikuti dokter Alesandra.
Flash Back Off
"Bawa pria ini ke markas!" Perintah Michael ketika keluar dari ruang perawatan di mana anak buahnya berdiri dihadapannya.
"Baik Tuan." Jawab ke dua anak buahnya dengan serempak dan patuh.
Ke dua anak buahnya menarik tangan pria berpakaian serba hitam ke markas sedangkan Michael berjalan ke arah anak buahnya yang sedang berjaga.
Di mana anak buahnya yang berjumlah empat orang tubuhnya gemetaran dan wajahnya pucat pasi. Dokter Alesandra yang tahu apa yang akan terjadi menggenggam tangan Michael untuk mengurangi amarahnya.
"Kalian di sini tugasnya melindungi Tuan Muda David dan Nyonya Muda David. Tapi kenapa ada orang jahat bisa masuk ke ruang perawatan dan ingin menembak Tuan Muda David dan Nyonya Muda David. Lalu tugas kalian apa? Kenapa kalian tidak tahu?" Tanya Michael dengan nada dingin dan aura membunuh.
"Maafkan kami Tuan." Ucap ke empat anak buahnya.
"Tidak ada maaf buat kalian." Ucap Michael sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaan.
Ke empat pria tersebut langsung berlutut memohon belas kasihan membuat dokter Alesandra tidak tega melihatnya.
"Sayang, Aku mohon berikan kesempatan ke dua untuk mereka." Mohon dokter Alesandra merubah panggilan Kak Michael menjadi Sayang.
Tubuh Michael diam membatu mendengar ucapan dokter Alesandra dan amarah yang teramat sangat terhadap ke empat anak buahnya hilang kemana.
"Baik. Akan Aku berikan kesempatan kedua." Ucap Michael setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Terima kasih Tuan .... Terima kasih Nona." Ucap ke empat anak buahnya sambil menatap ke arah Michael dan dokter Alesandra secara bergantian.
"Sama - sama." Jawab dokter Alesandra sambil tersenyum karena Michael mau mendengarkan ucapannnya.
"Kami ingin pergi dan kalian berempat berjaga jangan sampai kecolongan lagi." Ucap Michael dengan nada dingin.
"Baik Tuan." Jawab ke empat anak buahnya dengan serempak.
Michael hanya diam sambil menarik tangan dokter Alesandra kemudian berjalan meninggalkan tempat tersebut.
"Kita mau kemana?" Tanya dokter Alesandra penasaran.