
"Mau kemana?" Tanya seseorang sambil menurunkan kaca jendela mobil.
"Alesandra." Panggil dokter Karen sambil berjalan ke arah mobil milik sahabatnya sambil tersenyum.
"Masuklah." Ucap dokter Alesandra sambil ikut membalas senyuman dokter Karen.
"Oke." Jawab dokter Karen dengan singkat.
Dokter Karen membuka bagasi mobil kemudian meletakkan dus yang tadi dibawanya. Setelah selesai dokter Karen berjalan ke arah samping pengemudi dan duduk di samping pengemudi.
Dokter Alesandra mengambil dua bungkus roti,obat pereda nyeri dan satu botol air mineral kemudian diberikan ke dokter Karen.
"Kenapa memberikan Aku dua roti, obat penghilang nyeri dan botol minum?" Tanya dokter Karen tanpa menerima pemberian dokter Alesandra.
"Bukankah tubuhmu terasa sakit dan belum makan?" Tanya dokter Alesandra balik bertanya.
"Tahu darimana kalau tubuhku sakit dan belum makan?" Tanya dokter Karen mengulangi perkataan dokter Alesandra sambil menerima pemberian sahabatnya dengan wajah terharu karena dokter Alesandra sangat perduli dengan dirinya.
"Tahu saja." Jawab dokter Alesandra.
'Karena Aku penjelajah di mana Aku tahu apa yang terjadi denganmu. Maaf Aku tidak bisa sepenuhnya menjagamu karena Kamu sudah menikah dengan pria jahat itu.' Sambung dokter Alesandra dalam hati.
Dokter Alesandra hanya melihat apa yang dilakukan dokter Karen tanpa mengeluarkan suara sedikitpun ketika dokter Karen memakan roti setelah selesai barulah dokter Karen meminum obat.
"Oh ya kamu tidak praktek?" Tanya dokter Karen setelah selesai meminum air mineral.
"Praktek tapi aku minta tolong sama Sandra untuk menggantikan tugasku karena itulah Sandra tidak bisa datang." Jawab dokter Alesandra menjelaskan.
"Aku nanti akan telepon Sandra untuk mengucapkan terima kasih." Ucap dokter Karen yang sangat terharu mempunyai dua sahabat yang sangat tulus.
"Sebagai sesama sahabat saling tolong menolong jadi tidak perlu merasa sungkan atau mengucapkan terima kasih." Ucap dokter Alesandra.
"Oh ya, mau di antar kemana?" Tanya dokter Alesandra mengalihkan pembicaraan.
"Tolong antarkan Aku pulang ke mansion milik suamiku." Pinta dokter Karen.
"Ok." Jawab dokter Alesandra dengan singkat sambil mengendarai mobil dengan kecepatan sedang.
"Kalau ingin menangis, menangislah." Ucap dokter Alesandra setelah beberapa saat Mereka terdiam.
Sambil berbicara, dokter Alesandra menekan tombol di mana orang luar tidak bisa melihat dari dalam kaca mobil sedangkan dari dalam bisa melihat orang luar.
"Hiks .... Hiks ... Hiks ..."
Dokter Karen menangis dengan pilu meluapkan segala kesedihan yang menyesakkan dadanya sedangkan dokter Alesandra menggenggam erat stir kemudi menahan amarah terhadap David tanpa bisa berbuat apa - apa.
Dokter Alesandra ingin rasanya menghukum David tapi itu tidak mungkin karena itu sebisa mungkin dokter Alesandra datang di saat dokter Karen terluka akibat ulah David seperti saat ini. Dokter Alesandra yang mendengar tangisan dokter Karen ikut mengeluarkan air mata sambil bertanya ke sistem.
'Sistem bisakah Aku kembali di mana ke dua orang tua David masih hidup agar kejadian ini tidak terjadi?' Tanya dokter Alesandra dalam hati.
'Sayangnya tidak bisa.'
Dokter Alesandra hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian mengambil tissue untuk diberikan ke dokter Karen.
"Pakai tissue dan jangan buang sembarangan nanti mobilku banyak virus." Ucap dokter Alesandra berusaha menghibur dokter Karen agar tidak terlalu bersedih.
"Sepertinya bagus juga idemu." Ucap dokter Karen tersenyum jahil sambil menghapus air matanya yang tadi keluar.
"Aish ... Enak aja ... Akukan hanya bercanda." Ucap dokter Alesandra sambil memanyunkan bibirnya.
"Pfttttt..." Tawa dokter Karen.
Dokter Alesandra ikut tertawa melihat sahabatnya tertawa walau hanya sesaat. Dokter Alesandra menceritakan hal - hal yang lucu agar dokter Karen tertawa dan melupakan kesedihannya.
Tidak terasa mereka sudah sampai di tempat tujuan, dokter Alesandra menghentikan mobilnya kemudian dokter Karen keluar dari mobil sedangkan dokter Alesandra tidak keluar dari mobilnya.
"Aku langsung ke rumah sakit dan kalau ada apa-apa kabarin Kami." Ucap dokter Alesandra.
"Ok. Mulai besok Aku akan kerja di rumah sakit sambil mencari kerja di perusahaan yang menerima pegawai setengah hari." Ucap dokter Karen.
"Lebih baik kerja di rumah sakit saja dan jangan di frosir tenaga nanti Kamu sakit." Ucap dokter Alesandra berusaha menasehati sahabatnya.
"Tenang saja Aku masih kuat kok." Ucap dokter Karen sambil tersenyum.
'Aku ingin mengumpulkan uang sebanyaknya untuk Aku tabung karena jika suatu saat nanti aku di suruh pergi maka setidaknya aku ada uang tabungan.' Sambung dokter Karen dalam hati.
"Bagaimana kalau kita kerjasama misalnya buat cafe?" Tanya dokter Alesandra memberikan usulan.
"Aku akan pikirkan." Jawab dokter Karen.
"Oke." Jawab dokter Alesandra dengan singkat.
Dokter Alesandra melambaikan tangannya dan dokter Karen membalas lambaian tangannya kemudian dokter Karen berjalan ke arah gerbang mansion.
"Terima kasih pak." ucap dokter Karen sambil tersenyum ketika salah seorang bodyguard membuka pintu utama.
"Sama - sama Nyonya." jawab salah seorang bodyguard.
Dokter Karen berjalan meninggalkan mereka namun baru beberapa langkah tanpa sengaja dokter Karen mendengar mereka berbicara.
"Nyonya Muda selain cantik juga sopan semoga bisa mengubah bos kita yang arogant." ucap salah seorang dari mereka.
"Tapi yang aku dengar bos kita juga menyiksa Nyonya Muda." jawab temannya.
"Sudahlah kita kerja kalau ketahuan bos kita bisa di hukum." ucap teman satunya lagi.
Merekapun langsung terdiam tanpa ada suara karena mereka tahu betapa arogantnya bosnya dan sangat suka menghukum tanpa memandang pria atau wanita, anak kecil ataupun anak remaja.
Dokter Karen berjalan menuju ke kamarnya sambil membawa satu dus. dokter Karen mengeluarkan laptopnya kemudian menaruhnya di dalam lemari pakaiannya karena dokter Karen tidak berani meletakkannya di meja dekat ranjang.
"Laptop sudah terus foto - foto ini aku taruh di mana ya?" tanya dokter Karen pada dirinya sendiri
"Aku simpan di gudang saja tapi aku selotip dulu biar tidak kotor. Untung tadi aku bawa selotip dari kantor." sambung dokter Karen kembali.
Dokter Karen pun menutup kardus tersebut dengan selotip kemudian membawanya keluar dari kamar menuju ke arah gudang. Sampai di gudang dokter Karen meletakkan dus tersebut di ujung sudut kemudian menutup gudang itu.
Dokter Karen berjalan menuju ke kamarnya untuk mandi karena badannya sangat lengket. Selesai mandi dokter Karen mengambil laptopnya untuk mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidangnya.
"Perusahaan Aliandro sepertinya bagus, aku akan coba melamar di perusahaan ini semoga di terima." ucap dokter Karen pada dirinya sendiri.
Dokter Karen pun melamar di perusahaan Aliandro tanpa tahu kalau perusahaan itu merupakan salah satu cabang milik suaminya.
'Sudah selesai mengirim cv dan semoga saja aku bisa di terima kerja. Aku harus mengumpulkan uang sebanyak mungkin karena suamiku tidak akan mungkin memberikan uangnya sepersenpun. Selain itu, Aku harus menyiapkan diriku jika sewaktu - waktu Aku di tendang oleh suamiku.' Ucap dokter Karen dalam hati.
'Terlebih semua uang tabunganku sudah kubelikan apartemen mewah dan sekarang berubah kepemilikan atas nama suamiku.' Sambung dokter Karen dalam hati.
'Uangku sekarang tinggal 50 jutaan dan nanti malam atau besok Aku akan tanyakan ke Tuan Muda David nomer rekeningnya karena uang itu akan Aku berikan semuanya ke Tuan Muda David.' Ucap dokter Karen dalam hati setelah beberapa saat dirinya berpikir untuk tidak memegang uang sepeser pun.
Hal itu dikarenakan besok dirinya gajian di mana sebagian bisa digunakan untuk sehari - hari dan sebagian lagi di tabung. Dokter Karen menghembuskan nafasnya dengan perlahan mengeluarkan segala sesak didadanya dan air matanya kembali keluar.
"Suami hehehe.. aku selalu memimpikan menikah mempunyai suami yang tulus mencintaiku dan sangat menyayangiku tapi ternyata itu hanya sebuah bunga tidur. Aku tidak tahu apa aku bisa bertahan ketika suamiku menyiksa diriku." Ucap dokter Karen sambil tertawa hambar.
"Untung obat yang diberikan Alesandra sangat manjur karena membuat badan dan kepalaku tidak sakit lagi." Ucap dokter Karen sambil memegangi kepalanya yang sudah tidak benjol lagi akibat kejedot meja.
"Akhhhhhhhh ... Sudahlah jangan dipikirkan ... Biarkan yang terjadi terjadilah. Jika aku nanti mati di tangannya mudah - mudahan bisa mengurangi dosa - dosa kedua orang tuaku." Ucap dokter Karen yang tidak perduli jika suatu saat nanti mati di tangan suaminya.
"Mommy dan Daddy mertua, maafkan keluarga kami semoga kalian bahagia di alam sana, dilapangkan kuburannya dan di ampuni segala dosa - dosanya." ucap dokter Karen mendoakan ke dua mertuanya dengan tulus.
"Untuk suamiku semoga selalu bahagia, maafkan ke dua orang tuaku yang telah berbuat salah padamu. Aku tahu kesalahan orang tuaku sangat berat dan aku rela dan ikhlas jika nyawaku sebagai gantinya." ucap dokter Karen.
"Daripada memikirkan yang sedih - sedih lebih baik Aku masak untuk suamiku." Ucap dokter Karen setelah beberapa saat dirinya terdiam.
Dokter Karen keluar dari kamarnya kemudian menuruni anak tangga menuju ke arah dapur untuk memasak.
"Selamat siang Nyonya." sapa para pelayan dengan nada sopan.
"Siang." jawab dokter Karen sambil tersenyum manis berusaha menutupi kesedihannya.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya?" tanya kepala pelayan dengan ramah.
"Aku ingin membuat makan siang." Jawab dokter dokter Karen dengan nada lembut.
"Silahkan Nyonya." jawab kepala pelayan dengan nada sopan.
"Apa kesukaan suamiku paman?" tanya dokter Karen.
"Apa saja tapi Tuan makannya hanya sedikit." ucap kepala pelayan menjelaskan.
"Terima kasih informasinya paman." ucap dokter Karen dengan nada lembut.
'Perasaan waktu di hotel Tuan Muda David makan habis dua piring.' Ucap dokter Karen dalam hati tanpa mengetahui kalau yang makan David dan Michael.
"Sama - sama Nyonya." jawab kepala pelayan.
'Nyonya Muda sangat berbeda selain cantik dia juga sangat sopan ." ucap kepala pelayan dalam hati.
Dokter Karen membuka frezzer untuk mencari apa yang di masaknya setelah melihat, dokter Karen mengambil ayam fillet dan lobster kemudian menutup pintu frezzer lalu meletakkan ayam fillet dan lobster di atas meja dapur.
Dokter Karen membuka kulkas bagian bawah untuk mengambil beberapa bahan masakan kemudian menutup kulkasnya kembali. Dokter Karen berjalan ke arah meja dapur dan mulai meracik semua bahan masakan kemudian memasaknya.
Bau masakan menyeruak ke seluruh lantai satu membuat orang - orang menjadi lapar. Sedangkan dokter Karen yang sudah selesai memasak meletakkan semua makanan ke atas meja makan setelah selesai dokter Karen menaiki anak tangga namun baru beberapa anak tangga dinaiki dokter Karen terdengar suara yang sangat familiar ditelinganya.
"Siapa yang memasak di dapur?" Tanya David dengan nada dingin.