
"Maaf tuan, nona... yang memasaknya." jawab kepala pelayan sambil menjeda kalimatnya karena tidak tahu namanya.
"Nona siapa? Bibi kan tahu Aku tidak suka ada orang asing masuk ke mansionku!! Apa bibi mau di hukum!!!" bentak Federick.
Federick mengambil cambuk yang berada di meja dekat perbatasan dapur dengan ruang tamu.
"Maafkan Aku. Kalau Tuan ingin menghukum bibi, hukumlah aku." ucap dokter Sandra tiba - tiba datang sambil berdiri di tengah - tengah sebagai tameng kepala pelayan dan ke dua tangannya direntangkan sambil menatap mata Federick.
"Kamu masih ada di sini?" tanya Federick dengan wajah terkejut.
"Iya Tuan. Maafkan Tuan kalau saya lancang memasak karena saya ingin mengucapkan terima kasih karena Tuan sudah menolongku. Aku hanya bisa mengucapkan terima kasih dengan cara memasakkan makanan khusus untuk tuan." ucap dokter Sandra.
Federick meletakkan cambuk itu ke meja sambil matanya tidak pernah lepas memandang wajah dokter Sandra. Federick mengangkat tangannya sebagai tanda agar kepala pelayan itu pergi. Kepala pelayan itupun pergi meninggalkan mereka sambil menghembuskan nafas dengan perasaan lega.
"Baiklah aku akan coba kalau tidak enak kamu akan ku hukum." ucap Federick dengan nada mengacam.
"Baiklah asalkan jangan menghukum bibi." pinta dokter Sandra.
Federick hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan melewati dokter Sandra menuju meja makan.
Dokter Sandra berjalan mengikuti langkah Federick dari arah belakang. Federick duduk di kursi sedangkan dokter Sandra masih berdiri di belakang tuan Federick.
"Masak apa?" tanya Federick.
"Masak nasi goreng seafood semoga tuan suka." Jawab dokter Sandra.
"Maaf tuan, mau saya ambilkan nasi goreng seafoodnya?" tanya dokter Sandra menawarkan bantuan.
Federick hanya menganggukkan kepalanya dan dokter Sandra pun mengambil piring Federick dan menyendokkan nasi goreng seafood dan beberapa potongan sosis ke piring Federick setelah selesai barulah dokter Sandra meletakkan di atas meja dekat Federick.
"Makanlah bersamaku dan duduk di sampingku." pinta Federick ketika mengetahui kalau dokter Sandra akan pergi meninggalkannya.
"Baik tuan." Jawab dokter Sandra dengan patuh.
Dokter Sandra pun duduk di samping Federick dan mengambil nasi goreng seafood. Baru pertama kali inilah Federick sarapan pagi plus ditemani seorang gadis yang membuat jantung berdetak kencang tapi perasaan itu segera dihilangkan karena dirinya tidak mau terluka untuk ke dua kalinya.
Mereka makan dalam diam tanpa ada bicara hingga Federick menambah makanannya dengan meminta dokter Sandra untuk mengambilnya hingga makanan habis tidak tersisa.
Federick berdiri di ikuti oleh dokter Sandra, ketika melihat dokter Sandra ingin merapikan piringnya dan piring Federick langsung di tanya oleh Federick.
"Mau apa?" tanya Federick penasaran.
"Membereskan meja makan dan mencuci piring kotor." Jawab dokter Sandra.
"Tidak usah sudah ada pelayan." ucap Federick.
"Tapi aku sudah terbiasa melakukannya." ucap dokter Sandra.
"Baiklah mereka ku pecat dan kamu sebagai penggantinya." ucap Federick sambil menatap tajam.
"Baiklah." ucap dokter Sandra pasrah sambil menaruh kembali piringnya.
"Bagus, bisa memakai dasi?" tanya Federick.
"Bisa, kenapa?" tanya dokter Sandra dengan wajah bingung.
"Belajar dari mana?" tanya Federick dengan nada curiga.
"Belajar dari Mommyku katanya : Kamu harus belajar memasang dasi dan kalau nanti mempunyai suami sudah bisa memasang dasi. Jadi kadang Mommy atau diriku yang memasang dasi milik Daddy." Jawab dokter Sandra menjelaskan.
Federick tersenyum dan menghembuskan nafas dengan lega karena pikirannya salah.
"Pasangkan dasiku." pinta Federick.
"Ok." jawab dokter Sandra singkat tanpa membantah.
"Bisa menunduk sedikit agar bisa aku pasangkan dasinya." pinta dokter Sandra.
"Akhhhhhhhh..." Teriak dokter Sandra dengan wajah terkejut.
Federick langsung mengangkat tubuh dokter Sandra dan didudukkan di atas meja dekat meja makan sambil memeluknya agar dokter Sandra tidak terjatuh.
"Kenapa aku mesti di gendong?" tanya dokter Sandra dengan nada protes.
"Aku malas menunduk nanti pegel, pasti kamu lama memasang dasinya." ucap Federick tanpa dosa.
Dokter Sandra hanya menghembuskan nafasnya perlahan dan mulai memasang dasi Federick. Wajah mereka berdua sangat dekat hingga Federick menatap bibir seksi dokter Sandra dan ingin merasakannya lagi tapi berusaha di tahannya.
"Apakah nasi gorengnya enak?" tanya dokter Sandra sambil serius memasang dasi.
Berbeda dengan Federick yang betah memandang bibir dokter Sandra yang sudah mulai menjadi candunya tanpa di sadari oleh dirinya.
"Tidak enak." jawab Federick berbohong.
"Benarkah?" Tanya dokter Sandra sambil mendekatkan wajahnya ke wajah Federick hanya menyisakan 5 cm dan bibir Mereka nyaris tersentuh.
" Iya benar." jawab Federick sambil berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdetak kencang dan adik kecilnya yang sudah mulai menegang secara perlahan.
Dokter Sandra tanpa sadar memegang ke dua pipi Federick agar dekat dengan wajahnya hingga bibir mereka nyaris saling bersentuhan.
Cup
Federick mencium dokter Sandra yang sudah menjadi candunya karena tidak ada penolakan Federick menciumnya kembali dan lama kelamaan berubah menjadi luma**n. Ciuman berhenti ketika dokter Sandra menepuk - nepuk dada Federick.
"Kalau ciuman itu bernafas." ucap Federick dengan nada meledek.
Dokter Sandra memukul bahu Federick dan menatap tajam membuat Federick tersenyum tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Itukan ciuman pertamaku, kenapa menciumku?" Tanya dokter Sandra yang tidak tahu kalau semalam Federick mencium bibirnya dan nyaris melakukan hubungan suami istri.
Federick tersenyum mendengarnya karena dialah pria pertama yang menciumnya.
"Yang mulai duluan siapa?" Tanya Federick dengan nada menggoda.
"Ya kamulah." Jawab dokter Sandra tanpa memanggil sebutan tuan lagi dengan nada kesal.
"Kok Aku? Kenapa bibirmu menempel di bibirku? Sebagai lelaki normal pasti akan menciumnya." ucap Federick dengan nada santai.
"Berapa banyak wanita yang sudah merasakan bibirmu?" tanya dokter Sandra dengan tatapan menyelidik.
"Berapa ya?" Tanya Federick sambil pura - pura berfikir sambil pura - pura menghitung dengan menggunakan jari - jarinya.
Federick hanya mencium wanita sebanyak dua kali kekasihnya yang mengkhianatinya dan yang kedua gadis yang berada dihadapannya. Federick sangat senang melihat perubahan wajah gadis itu seperti cemburu.
"Sudah ah aku mau pulang." ucap dokter Sandra sambil mendorong tubuh Federick.
"Kenapa buru - buru?" tanya Federick yang tidak ingin dokter Sandra pergi.
"Jam 9 pagi aku ada pasien." Jawab dokter Sandra.
"Kamu dokter?" tanya Federick.
"Iya benar. Bukannya sudah tahu ketika kita pertama kalinya bertemu?" Tanya dokter Sandra.
"Dokter - dokteran." jawab dokter Sandra asal karena hatinya entah kenapa hatinya paling dalam sangat kesal ketika pria dihadapannya sering melakukan ciuman.
"Pffftthh hahahaha.." tawa Federick pecah memenuhi ruangan lantai satu.
Semua penghuni mansion terkejut karena baru pertama kalinya bosnya bisa tertawa lepas. Mereka berharap kehadiran wanita yang semalam dibawanya bisa merubah sifat bosnya yang suka menyiksa bahkan membunuhnya ketika melakukan kesalahan.
Mereka ingin keluar dari mansion tersebut tapi karena gajinya lebih besar membuat mereka tergiur dan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan.
"Kenapa tertawa memangnya ada yang lucu?" Tanya dokter Sandra dengan nada masih kesal.
"Kamu tidak takut denganku?" tanya Federick sambil menatap dokter Sandra dengan tatapan berbeda.
"Tidak. Memang Tuan hantu?" tanya dokter Sandra.
"Kamu takut hantu?" tanya Federick
"Iya." jawab dokter Sandra dengan singkat
"Selain itu?" tanya Federick yang ingin tahu kelemahannya.
"Kecoa." Jawab dokter Sandra.
"Oh iya dasinya sudah Aku pasang dan tinggal rapikan kemeja kemudian berlanjut merapikan jasnya... selesai." ucap dokter Sandra sambil tersenyum.
cup
"Terima kasih." ucap Federick sambil tersenyum bahagia kemudian mengecup kening dokter Sandra.
"Terima kasih doang nich tidak ada hadiahnya?" Tanya dokter Sandra sambil tersenyum tanpa menyadari perubahan wajah Federick.
deg
Jantung Federick berdetak kencang ketika mendengar kata hadiah dari mulut gadis yang perlahan mengisi hatinya. Wajah Federick yang tersenyum berubah menakutkan.
'Semua wanita ternyata sama. sama - sama mata duitan. Padahal aku bersamanya merasa nyaman, apakah aku harus mengalami patah hati lagi?' Tanya Federick dalam hati.
"Kenapa dengan wajah Tuan?" tanya dokter Sandra dengan bingung.
Federick langsung merubah wajahnya kemudian tersenyum manis. Federick sangat pintar merubah ekspresi hingga orang dapat tertipu olehnya.
"Tidak apa - apa, apa yang kamu minta?" tanya Federick penasaran
"Aku hanya minta dua tapi apakah bisa Tuan penuhi?" tanya dokter Sandra sambil memandangi wajah tampan Federick.
"Banyak juga tidak apa, aku akan penuhi. Apa yang kamu inginkan?." tanya Federick sambil menahan emosi untuk tidak memotong - motong bagian demi bagian tubuh dokter Sandra.
Federick jika bertemu dengan wanita dan ketika mengetahui wanita itu matre akan di siksa dan berakhir mati ditangannya.
Sebenarnya Federick ingin memotong - motong bagian demi bagian tubuh dokter Karen karena Karen perempuan matre tapi karena sahabatnya melarang makanya Federick sengaja menambahkan racun ke dalam obat yang disuntikan ke Karen.
Jika Karen hamil maka Karen akan mengalami pendarahan dan ketika melahirkan akan berakhir dengan kematian. Tanpa mengetahui kalau dokter Alesandra mengetahui dan mencegah kejadian yang akan menimpa dokter Karen nantinya.
"Tidak. Aku hanya minta cukup dua saja tapi janji ya penuhi ke dua permintaanku ini." pinta dokter Sandra penuh berharap.
" Ya aku janji, katakanlah." ucap Federick.
" Yang pertama aku ingin tuan ada rasa perduli terhadap orang lain dan tidak menghukum orang lain walau sekecil ataupun sebesar apapun kesalahannya. Seperti tadi, Aku melihat tuan ingin mencambuk pelayan dan juga ketika sahabatku sangat haus tapi tuan tidak menolongnya." ucap dokter Sandra sambil matanya tidak pernah berhenti menatap mata Federick.
deg
Jantung Federick berdetak kencang mendengar ucapan dokter Sandra ternyata perkiraannya salah.
"Apakah permintaan pertamaku bisa tuan penuhi?" tanya dokter Sandra.
"Kenapa kamu perduli dengan orang lain? orang bersalah pantas di hukum." ucap Federick dengan nada dingin dan memalingkan wajahnya ke arah samping.
"Aku tahu tapi apakah hukumannya harus seperti itu? Bisakah hukumannya berbeda contohnya jika salah satu pegawainya melakukan kesalahan kecil kan bisa kurangi gajinya tanpa perlu di hukum berat. Jika bukan pegawai laporkan ke polisi agar polisi yang memberikan hukuman. Bisakah permintaan pertamaku ini dipenuhi?" tanya dokter Sandra ulang sambil memegang ke dua pipi Federick dengan menggunakan ke dua tangannya agar menatap dirinya sambil dokter Sandra menatap mata Federick.
"Yang kedua?" tanya Federick tanpa menjawab pertanyaan dokter Sandra.
"Turunkan aku dari meja karena kata orang tuaku tidak baik duduk di atas meja katanya tidak sopan. Jadi bisakah turunkan aku?" Tanya dokter Sandra sambil menampilkan puppy eyesnya.
Wajah Federick menjadi berubah, hatinya sangat bahagia mendengar dua permintaan dokter Sandra.
"Pffftthh hahahaha.." tawa Federick pecah kembali memenuhi ruangan lantai satu.
"Kenapa tertawa lagi sih. Turunkan aku." ucap dokter Sandra sambil memukul bahu Federick pelan.
"Iya... iya.." ucap Federick sambil mengangkat tubuh dokter Sandra.
Ke dua tangan Dokter Sandra dikalungkan ke leher Federick agar dirinya tidak terjatuh.
"Terima kasih." jawab dokter Sandra setelah berdiri.
Federick hanya tersenyum sambil menatap wajah dokter Sandra. Dokter Sandra tiba - tiba ingin mengatakan sesuatu tapi ragu membuat Federick penasaran.
"Ada apa? katakanlah?" tanya Federick.
"Motorku yang semalam..." ucapan dokter Sandra terpotong oleh Federick.
"Oh sudah dibawa oleh orang suruhanku dan ada di garasi. Oh iya kita belum kenalan? namaku Federick, kalau kamu?" tanya Federick.
"Aku Sandra, Tuan." Jawab dokter Sandra sambil mengulurkan tangannya ke arah Federick.
Federick membalas tangan dokter Sandra sambil tersenyum.
"Jangan panggil tuan, panggillah Federick." pinta Federick
"Tidak sopan, bagaimana kalau kakak? Kak Federick." ucap dokter Sandra.
"Terserah tapi jangan tuan. Aku juga pagi ini ada meating bagaimana kalau aku antar ke rumah sakit?" tanya Federick penuh harap.
"Aku pulang ke apartemenku dulu baru ke rumah sakit. Jadi aku berangkat naik motor saja." ucap dokter Sandra menolak permintaannya.
"Baiklah akan aku antar ke apartemen baru aku antar ke rumah sakit." ucap Federick.
"Tapi bukankah pagi ini kak Federick ada meating?" tanya dokter Sandra.
"Iya, masih ada waktu, ayo aku antar." ucap Federick.
"Tapi motorku bagaimana." tanya dokter Sandra
" Gampang setelah aku tahu alamat apartemenmu biar orang suruhanku yang membawanya." jawab Federick.
"Baiklah, ayo kita berangkat." ucap dokter Sandra yang tidak bisa menolak permintaan Federick.
"Ayo." jawab Federick dengan singkat.
Merekapun berjalan berdampingan membuat penghuni mansion sangat senang melihat perubahan wajah bosnya yang sangat berbeda daripada biasanya yang selalu menampilkan wajah menakutkan membuat penghuni mansion ketakutan.
Kini wajahnya menampilkan senyuman membuat mereka berharap wanita yang berada di sampingnya bisa menjadi pendampingnya agar sifat arogant dan suka menghukum bisa membuat bosnya berubah.