
"Ya, Aku cemburu. Siapa pria itu? Kenapa mendekati istriku." jawab David dengan nada kesal.
Akhirnya David mengakui perasaannya terhadap istrinya di depan Michael sedangkan Michel tersenyum nyaris tidak terlihat ketika mendengar pengakuan David.
"Vincent, dia pelamar seperti Nyonya Karen." jawab Michel.
"Jangan di terima pria itu!" Perintah David dengan nada tegas.
" Baik Tuan Muda." Jawab Michel dengan pasrah.
Selesai makan merekapun kembali ke perusahaan untuk mendengarkan hasil dari tes yang tadi diikutinya. Viona, Mikodo dan dokter Karen namanya berhasil masuk dan mengikut tes berikutnya sedangkan Vincent gagal sesuai permintaan David.
"Sayang banget ya kamu tidak berhasil masuk ke tahap berikutnya." ucap dokter Karen dengan wajah sedih.
"Tidak apa - apa santai saja. Kalian semangat ya semoga di terima kerja. Mungkin jodohku bukan kerja di sini." ucap Vincent dengan nada bijaknya namun dalam hatinya sangat marah sekaligus iri hati secara bersamaan karena dirinya gagal sedangkan ke tiga temannya berhasil di terima.
"Oh iya, Aku minta nomer ponsel kalian donk? Kitakan bisa bertemu di luar." Ucap Vincent setelah beberapa saat mereka terdiam.
"Ok." jawab mereka dengan serempak.
Akhirnya dokter Karen, Viona, Mikodo dan Vincent saling memberitahu nomer telpon masing-masing. Tanpa sepengetahuan dokter Karen kalau sepasang mata melihatnya dengan tatapan tajam melalui layar laptopnya siapa lagi kalau bukan David.
Dokter Karen, Viona dan Mikodo beserta pelamar lainnya masuk ke dalam untuk mengikuti tes yang ke tiga.
"Kalian sekarang tersisa 12 orang dan perusahaan kami membutuhkan 6 orang karyawan. 1 sekretaris, 2 bagian administrasi, 1 bagian staff keuangan dan 2 bagian HRD. Ini ada soal - soal yang harus dikerjakan dan kami akan menilai siapa yang berhasil atau tidak." Ucap salah satu petugas interview bernama B.
"Besok pagi kami akan menghubungi kalian jika kalian lulus tes terakhir ini." sambung salah satu petugas interview bernama A.
"Waktu untuk kalian hanya dua puluh lima menit pergunakan waktu sebaik-baiknya." ucap salah satu petugas interview bernama C.
Para petugas memberikan lembaran tugas ke dua belas peserta pelamar kerja. Merekapun mengerjakan dengan serius hingga lima belas menit kemudian dokter Karen sudah selesai mengerjakan di laptopnya bertepatan dengan ponsel milik dokter Karen tiba - tiba berbunyi dengan nyaring.
"Suara ponsel siapa yang berbunyi nyaring!!" bentak salah satu petugas interview bernama B sambil menggebrak meja.
"Maaf Tuan ponselku berdering." ucap dokter Karen tidak enak hati sambil menekan tombol di layar ponselnya agar tidak mengeluarkan suaranya.
"Matikan atau kamu keluar dari sini!" perintah salah satu petugas interview bernama C.
"Maaf tuan Saya keluar saja dan ini pekerjaan saya." ucap dokter Karen sambil memberikan hasilnya kemudian keluar dari ruangan tersebut tanpa memperdulikan apa yang terjadi selanjutnya.
Viona yang melihat kejadian tersebut tersenyum bahagia karena dokter Karen tidak diterima bekerja sedangkan dokter Karen masih berlari keluar dari ruangan meating karena jaraknya lumayan jauh.
Tanpa sepengetahuan dokter Karen kalau David memantau dokter Karen dari cctv yang berada di laptopnya. David pun ikut keluar dari ruangan dan masuk ke dalam lift menuju ke ruang meating.
Suara alarm kembali berdering nyaring membuat dokter Karen berusaha mengurangi suara alarm tanda bahaya agar tidak mengganggu orang lain tanpa memperdulikan orang - orang yang ada disekitarnya.
"Ada apa?" tanya David tiba - tiba ketika dirinya saling berhadapan dengan dokter Karen.
"Kita ke ruangan honey sekarang, karena ada yang menyabotase perusahaan honey." ucap dokter Karen dan tanpa sadar dokter Karen menarik tangan David menuju ke arah lift.
David yang tidak mengerti hanya mengikuti langkah dokter Karen menuju ke dalam lift dan membiarkan dokter Karen menarik tangannya dan memanggil dirinya dengan sebutan honey.
"Honey lantai tempat honey kerja di lantai berapa?" tanya dokter Karen.
Dokter Karen lupa kalau di kantor harus memanggil David dengan sebutan Tuan Muda David hal itu dikarenakan perusahaan milik David ada yang menyabotase.
"Lantai dua puluh lima." Jawab David.
Dokter Karen pun menekan tombol angka dua puluh lima dan tidak berapa lama pintu lift terbuka. Mereka langsung masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut dimana dokter Karen masih memegang tangan David.
Tidak berapa lama pintu lift terbuka kemudian David dan dokter Karen keluar dari kotak persegi empat tersebut menuju ke ruangan David di mana dokter Karen masih belum sadar menarik tangan David.
"Honey ruangan honey di mana?" tanya dokter Karen.
"Ikuti aku." ucap David yang berjalan mendahului dokter Karen sambil membalas menggenggam tangan dokter Karen kemudian menarik tangan dokter Karen.
Tangan David yang tidak memegang tangan dokter Karen membuka pintu ruangannya dan kini mereka berdua berada di ruang kerja milik David.
"Honey aku pinjam laptopmu ya." ucap dokter Karen.
Tanpa menunggu persetujuan suaminya dokter Karen memakai laptop milik David. Dokter Karen menatap sekilas ke arah David kemudian menatap laptop kembali.
Dokter Karen mulai mengutak atik laptop milik David membuat David penasaran dan berjalan mendekati dokter Karen.
"Berdiri!" perintah David dengan nada dingin.
Dokter Karen dengan patuh berdiri sedangkan tangannya masih mengutak-atik laptop milik David.
"Duduk di pangkuanku." ucap David dengan nada masih dingin.
Dokter Karen tanpa banyak protes melakukan permintaan suaminya karena dirinya masih serius mengutak atik laptop. Hingga tiga puluh lima menit kemudian ponselnya pun benar - benar berhenti berbunyi.
"Akhhh.... Leganya." ucap dokter Karen sambil tersenyum bahagia dan bisa bernafas dengan lega.
"Ada apa sebenarnya?" tanya David penasaran.
"Perusahaan cabang milik honey, tiba - tiba ada orang yang menyabotase karena itulah ponselku berdering nyaring. Tapi sekarang sudah aman dan orangnya juga sudah mendapatkan hukuman." Jawab dokter Karen menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Hukuman apa?" tanya David dengan wajah masih bingung.
"Aku kasih hadiah." jawab dokter Karen.
"Apa!!!" bentak David dengan wajah terkejut sekaligus menahan amarahnya secara bersamaan.
Dokter Karen mendongakkan kepalanya dan menatap David yang wajahnya berubah merah yang siap membunuh dokter Karen.
"Hadiahnya berupa virus jadi data mereka akan kacau." jawab dokter Karen kemudian mengecup bibir suaminya dengan singkat.
"Aku Tidak percaya." ucap David dengan nada dingin.
"Mau bukti?" tanya dokter Karen.
"Ya." jawab David dengan singkat.
"Baiklah." jawab dokter Karen.
"Tapi sebelum itu apakah data perusahaan pusat milik honey sudah aman?" tanya dokter Karen.
"Amanlah." jawab David dengan singkat dan dengan nada sangat yakin.
"Kalau Aku bisa meretas perusahaan milik honey bagaimana?" tanya dokter Karen.
"Tidak mungkin bisa." ucap David penuh percaya diri.
"Baik jika Aku bisa meretas maka Aku minta hadiah." pinta dokter Karen.
"Hadiah apa?" tanya David penasaran.
"Saat ini Aku belum memikirkannya tapi yang pasti Aku tidak akan meminta sepeserpun harta milik honey ataupun meminta sesuatu yang merugikan honey. Bagaimana setuju?" tanya dokter Karen penuh harap.
"Setuju." Jawab David dengan singkat.
Dokter Karen mengutak atik kembali laptop milik David hingga lima belas menit kemudian dokter Karen berhenti mengutak atik laptopnya membuat David mengerutkan keningnya.
"Kenapa berhenti mengutak atik?" tanya David penasaran sambil menaikkan salah satu alis matanya.
"Tunggu saja." jawab dokter Karen.
Tidak berapa lama ponsel milik David berdering membuat David mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya. Setelah mengetahuinya David menggeser tombol berwarna hijau sedangkan dokter Karen menggeser tubuhnya dan menatap wajah tampan suaminya.
("Hallo." panggil David dengan nada dingin).
("Maaf Tuan Muda, ada orang yang mencoba menyabotase data perusahaan Tuan Muda dan sekarang kami sedang berusaha untuk mengamankan data - data perusahaan." ucap orang kepercayaannya).
("Apa?? Bagaimana bisa?" tanya David dengan wajah terkejut).
("Saya juga kurang tahu Tuan Muda. Ini kami lagi berusaha agar orang itu tidak bisa meretas data perusahaan." jawab orang kepercayaannya).
("Lakukan yang terbaik bagaimanapun caranya!" perintah David dengan nada tegas dan dingin).
Tut Tut Tut Tut Tut Tut
Tanpa menunggu jawaban David sambungan komunika secara sepihak kemudian menatap wajah istrinya yang sedang menatap dirinya.
"Bagaimana percaya bukan?" Tanya dokter Karen sambil tersenyum.
"Iya Aku percaya dan sekarang kembalikan data perusahaan ku." pinta David.
"Ok." Jawab dokter Karen sambil menggeserkan tubuhnya ke arah laptop.
Dokter Karen pun mengutak atik kembali laptop milik David setelah beberapa menit dokter Karen pun menghentikan mengutak atik laptopnya. Sedangkan dokter Karen bersandar di dada bidang milik David. Bau parfum milik suaminya membuat dirinya tenang dan rasa lelahnya menjadi hilang. Tidak berapa lama ponsel milik David berdering kembali.
("Hallo." panggil David tanpa melihat siapa yang menghubunginya).
("Tuan, datanya sudah kembali normal." ucap orang kepercayaannya).
("Bagaimana bisa?" tanya David dengan wajah terkejut).
("Kami kurang tahu Tuan Muda David karena tiba - tiba kembali normal." jawab orang kepercayaannya).
Tut Tut Tut Tut Tut Tut
Tanpa menjawab David memutuskan sambungan komunikasi nya secara sepihak.
"Sudah percayakan?" tanya dokter Karen sambil memejamkan matanya karena kepalanya bersandar di dada David sedangkan ke dua tangannya memegang ke dua tangan David agar tidak terjatuh.
"Iya Aku percaya." Jawab David sambil memeluk dokter Karen karena dirinya merasakan nyaman sama seperti dokter Karen.
"Berarti perusahaan milik honey bisa di retas oleh orang lain." ucap dokter Karen dengan nada santai.
"Tadi kamu bilang kalau perusahaan cabang di retas orang tapi kenapa orang kepercayaan ku tidak menghubungiku?" tanya David sambil menaikkan salah satu alis matanya.
"Karena Aku membuat program khusus di mana jika ada orang yang mencoba meretas perusahaan maka ponselku berdering nyaring." ucap dokter Karen.
Perusahaan cabang milik David awalnya milik orang tua dokter Karen namun sudah dipindahkan namanya atas nama David pasalnya perusahaan tersebut dulunya milik orang tua David.
"Apakah perusahaan pusatku bisa?" tanya David penuh harap karena dirinya tidak begitu mengerti program IT.
"Bisa, mau Aku pasangkan?" Tanya dokter Karen.
"Boleh, pasangkan." Jawab David.
Dokter Karen hanya menganggukkan kepalanya kemudian mulai mengutak atik kembali laptop milik David.
"Nomer ponsel milik honey?" tanya dokter Karen.
"08xx xxxx 1234." Jawab David.
Dokter Karen pun mulai mengetik nomer ponsel milik David setelah selesai Karen menghentikan aktivitas nya.
"Sudah." Jawab dokter Karen.
"Bagaimana bisa tahu?" tanya David penasaran.
"Kalau di coba pakai laptop honey nanti laptop honey datanya hilang semua karena terserang virus yang aku kirimkan." ucap dokter Karen menjelaskan.
"Tapi kamu bisakan menghilangkan virus nya?" tanya David memastikan.
"Bisa tapi ada beberapa data yang hilang dan perlu banyak waktu untuk memperbaikinya." Jawab dokter Karen menjelaskan.
"Ambil laptop yang berada di sebelah kanan, karena laptop itu jarang Aku pakai." ucap David).
Dokter Karen berdiri dan mengambil laptop yang di sebelah kanan meja. Dokter Karen menyalakan laptop nya kemudian setelah agak lama barulah dokter Karen mengutak atik kembali laptop nya, setelah selesai beberapa menit kemudian ponsel milik David berdering.
"Ponsel ku berdering nyaring." ucap David sambil mengambil ponselnya dari saku jasnya.
"Itu tanda ada orang yang menyobatase perusahaan milik Honey dan untuk memperbaikinya honey menekan sandi xxxx x x x x. xxxxx. xxxx xxxx. xxxxx xxxxx xxxxx xxxxx." ucap dokter Karen menjelaskan ke suaminya.
"Laptop yang mana?" tanya David karena laptopnya ada dua.
"Laptop yang ini." ucap dokter Karen sambil menunjuk laptop satunya yang berada di sebelah kiri.
David memeluk Karen karena posisi dokter Karen berada di pangkuan dan membelakangi dirinya. David mulai mengetik sandi di laptopnya dan setelah selesai ponsel David pun berhenti berdering.
"Lihatlah laptop yang berada di sebelah kanan langsung terkena virus." ucap dokter Karen sambil memperbaiki laptop milik David yang terkena virus..
"Sudah selesai." ucap dokter Karen setelah beberapa menit mengutak atik laptop milik suaminya.
David memindahkan tubuh dokter Karen yang semula membelakangi dirinya dan kini berpindah menjadi ke arah samping dalam posisi masih di pangkuan nya. David menarik dagu dokter Karen agar menghadap ke wajahnya sedangkan ke dua tangan dokter Karen dikalungkan ke leher David.
Ciuman singkat membuat David menginginkan lebih akhirnya David menciumnya kembali sambil melum**nya. Tangan David tidak bisa diam dan lama kelamaan ciuman bibir pindah ke leher dokter Karen.
"Sayang, aku sudah tidak tahan jadi kita lanjutkan di kamar pribadi ya?" Tanya David dengan suara berat.
Dokter Karen hanya menganggukkan kepalanya sedangkan David yang mendapatkan lampu hijau langsung menggendong dokter Karen menuju ke arah kamarnya tanpa melepaskan ciumannya.
Kini mereka berada di kamar pribadi milik David yang tidak pernah ditempati selain dirinya. Kemudian David meletakkan perlahan tubuh dokter Karen lalu menaiki tubuh mungil istrinya karena sudah tidak tahan David menarik paksa pakaian dokter Karen.
Kini tubuh mereka sudah polos tanpa sehelai benangpun hingga tidak berapa lama suara merdu dari mulut David dan dokter Karen memenuhi ruangan tersebut. Hingga David bersiap untuk memasukkan wortel importnya ke tubuh dokter Karen bertepatan dengan ponsel milik David berdering.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx
Ayo dong Vote, like, kopi, bunga, komentar, rate bintang lima dan tip agar author semangat menulisnya. 😚😚😍😍😘😘
Terima kasih yang sudah memberikan Vote, like, kopi, bunga, komentar, rate bintang lima dan tip nya serta terima kasih juga buat para pembaca yang masih setia membaca novelku.😁😚😚😍😍😘😘
Salam Author,
Yayuk Triatmaja