Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 26



"Daddyku. Waktu Aku masih bayi. Pasti semua bayi perempuan juga sama sepertiku di mana diurusi, dimandikan dan mencium Daddy." Jawab dokter Karen menjelaskan.


David bernafas dengan lega mendengar perkataan dokter Karen. Tidak berapa lama ada yang mengetuk pintu kemudian membuka pintu tersebut dengan lebar. Seorang perawat cantik datang sambil membawa mangkok yang berisi bubur untuk pasien.


"Biar saya yang pegang Sus." Ucap dokter Karen sambil memegang nampan yang berisi makanan dan minuman.


"Baik Nyonya." jawab perawat tersebut sambil melepaskan nampan tersebut.


Suster itupun pergi meninggalkan mereka berdua sedangkan dokter Karen meletakkannya di meja dekat sofa.


"Kenapa diletakkan di situ?" tanya David.


"Mau Aku makan karena Aku lapar dari kemarin belum sempat makan." ucap dokter Karen dengan nada santai.


"Tapi sebelum makan ambil kan Aku minum." pinta David.


"Oh iya. Maaf Tuan Muda David, saya lupa." ucap dokter Karen sambil menepuk keningnya.


Dokter Karen berjalan ke arah David dan mengambil gelas yang berada di meja. Setelah David meminumnya dokter Karen meletakkan gelasnya kembali. Dokter Karen berjalan ke arah sofa yang ada makanannya karena dirinya lumayan lapar.


Dokter Karen memakan bubur yang masih hangat hingga habis kemudian meminum air mineral yang berada di gelas dan hanya menyisakan sedikit saja.


Tanpa sepengetahuan David, dokter Karen memasukkan sesuatu ke dalam mangkok dan gelas yang tadi digunakan kemudian berjalan ke arah David dan duduk di kursi dekat ranjang.


"Enak ya makan dan minum yang seharusnya jatahku." Ucap David dengan nada sinis.


"Kan tuan sudah makan apalagi bukannya tuan tidak suka makanan dari rumah sakit buktinya semalam bubur nya di buang." Ucap dokter Karen.


"Apalagi jika bubur itu beracun maka Tuan Muda David selamat karena tidak terkena racun." Sambung dokter Karen.


"Siapa yang berani meracuniku." Ucap David yang merasa sangat yakin rumah sakit miliknya tidak mungkin ada orang yang berani meracuni dirinya.


"Lupakan apa yang barusan Aku katakan. Aku mau mandi dulu karena badanku sangat gerah." ucap dokter Karen sambil mengambil paper bag yang berada di sofa.


"Apa yang kamu bawa?" tanya David penasaran.


"Paper bag ini? Isinya pakaian yang akan kupakai." Jawab dokter Karen menjelaskan.


"Banyak duit ya? Beli pakaian baru terus." ucap David dengan nada menghina.


Dokter Karen yang mengerti arah pembicaraan suaminya yang selalu berburuk sangka hanya menghela nafas perlahan agar tidak mengeluarkan kata - kata kasar. Dokter Karen menatap suaminya sambil tersenyum.


"Pakaian yang kupakai ini dan juga pakaian yang berada di dalam paper bag ini adalah pakaian milik sahabatku yang bernama dokter Alesandra. Kalau Tuan Muda David tidak percaya tanyalah padanya." ucap dokter Karen yang tidak ingin bertengkar.


"Kenapa kamu tidak beli?" tanya David dengan wajah terkejut.


"Kebetulan kemarin Aku gajian jadi bisa membeli pakaian baru." jawab dokter Karen.


"Berarti kamu wanita boros ya?" tanya David dengan wajah sinis.


"Tidak. Dari kecil hingga sekarang aku suka menabung." Jawab dokter Karen.


"Lalu uangnya kemana?" tanya David penasaran.


"Aku beli apartemen, mobil, perhiasan dan sisanya ada di tabungan." jawab dokter Karen dengan jujur.


"Tapi kenapa tidak di pakai uang itu?" tanya David dengan wajah bingung.


"Karena semua barang - barang yang Aku beli sudah Aku serahkan ke orang kepercayaanku untuk diberikan ke Tuan Muda David dan sekaligus sudah balik nama atas nama Tuan Muda David." Jawab dokter Karen.


"Sedangkan uang tabunganku sudah Aku serahkan ke asisten Tuan Muda David yang bernama Kak Michael. Karena itulah waktu Aku sakit di rumah sakit, Tuan Muda David bilang kalau Aku menghabiskan uang Tuan Muda David dan Aku menjawab nanti aku akan ganti jika Aku sudah gajian." Sambung dokter Karen sambil menahan kepalanya yang sudah mulai pusing tapi berusaha untuk di tahannya.


"Maaf aku mandi dulu." sambung dokter Karen.


'Obat ini ternyata mengandung obat tidur membuatku ingin tidur.' sambung dokter Karen dalam hati.


Dokter Karen pun berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket. Selesai mandi dan berpakaian dokter Karen keluar dari kamar mandi.


Rasa kantuk semakin bertambah tapi dokter Karen berusaha untuk melawan agar tidak menguap. Hingga beberapa saat datang seorang perawat sambil membawa baskom untuk melap tubuh David.


"Biarkan istriku saja yang melakukannya." ucap David ke arah perawat tersebut.


"Baik Tuan Muda David." ucap perawat itu sambil tersenyum kecut karena dirinya berharap bisa memegang tubuh kekar milik David apalagi wajahnya yang tampan siapapun pasti sangat suka.


Perawat itupun pergi meninggalkan mereka berdua sedangkan dokter Karen mendekati suaminya dan membuka pakaian kemejanya kemudian melap tubuh David.


Lalu dilanjutkan membuka celana panjang David hingga menyisakan celana boxernya. Ke dua jantung David dan dokter Karen berdetak sangat kencang. David tidak pernah lepas memandangi dokter Karen sedangkan dokter Karen konsentrasi agar pekerjaannya cepat selesai dan ingin tidur karena efek obatnya yang membuat dirinya ingin tidur dengan pulas.


"Air hangatnya aku ganti yang baru ya?" ucap dokter Karen.


David hanya menganggukkan kepalanya dan dokter Karen masuk ke dalam kamar mandi untuk mengganti air hangat yang baru. Setelah selesai dokter Karen melanjutkan nya pekerjaannya kembali hingga selesai dan memakai pakaian khusus pasien.


"Kamu sudah terbiasa melakukannya ya?" tanya David dengan nada curiga.


"Dulu Daddyku sakit parah dan Mommyku merawatnya sedangkan aku hanya melihatnya. Mommy bilang kalau nanti punya suami dan suaminya lagi sakit lakukan seperti mommy lakukan." ucap dokter Karen menjelaskan sambil meletakkan baskom ke kolong ranjang David.


"Kalau di rumah sakit ini apakah pernah melakukannya?" Tanya David penasaran.


"Berarti aku pria pertama?" tanya David dan dalam hatinya entah kenapa dirinya sangat senang.


"Benar sekali." jawab dokter Karen dengan singkat.


"Tuan Muda David." Panggil dokter Karen.


"Ada apa?" Tanya David.


"Jika seandainya ada racun yang sangat ganas dan Tuan Muda David di suruh memilih salah satu. Siapa yang Tuan Muda pilih, Aku atau gadis lain yang Tuan cintai?" Tanya dokter Karen sambil memejamkan matanya karena matanya tidak bisa di ajak kompromi.


"Siapa gadis itu yang Aku cintai?" Tanya David tanpa menjawab pertanyaan dokter Karen.


"Siapa tahu dengan berjalannya waktu Tuan Muda David menemukan seorang gadis dan Tuan Muda David menyukainya. Siapa yang Tuan Muda David pilih?" Tanya dokter Karen.


"Tentu saja gadis yang Aku cintai." Jawab David yang bertentangan dengan kata hatinya.


"Kalau begitu Tuan Muda David memintaku untuk meminum racun yang sangat ganas itu." Ucap dokter Karen sambil tersenyum dan membuka matanya.


"Betul sekali." Jawab David sambil menatap ke arah dokter Karen.


"Semoga saja Tuan Muda David segera menemukan penggantiku." Ucap dokter Karen sambil berusaha tersenyum.


"Uhuk .... Uhuk .... Uhuk ...."


Dokter Karen menutup mulutnya membuat David ingin berbicara namun bersamaan dokter Karen batuk - batuk membuat David tidak berbicara hingga di sela - sela jari milik dokter Karen mengelurkan darah berwarna hitam pekat.


Dokter Karen yang sudah tidak bisa menahan rasa ngantuk yang luar biasa langsung ambruk dan tidur dengan pulas.


Hal itu tentu saja mrmbuat David sangat terkejut melihat dokter Karen tiba - tiba ambruk dan tidak sadarkan diri terlebih dari mulutnya mengeluarkan darah berwarna hitam pekat.


"Karen... Karen... Apa yang terjadi dengan dirimu?" Tanya David dengan nada panik.


hening


hening


David terpaksa mencabut kembali selang infus kemudian turun dari ranjang untuk mengangkat tubuh dokter Karen. Mata David membulat sempurna melihat hidung dan mulut mengeluarkan darah yang tidak berhenti keluar terlebih darah tersebut berwarna hitam.


David membaringkan istrinya di ranjang tempat tadi dirinya berbaring sambil menekan tombol darurat berulang - ulang hingga dokter Alesandra datang bersama seorang perawat.


Dokter Alesandra pura - pura sangat terkejut melihat sahabatnya tidak sadarkan diri sedangkan perawat yang ada dibelakangnya sangat terkejut dan bingung dengan apa yang telah terjadi.


"Apa yang terjadi?" tanya dokter Alesandra pura - pura tidak tahu sambil mengecek kondisi dokter Karen.


"Aku juga tidak tahu, tolong cepat diperiksa istriku." ucap David dengan wajah panik.


Dokter Alesandra mengecek sahabatnya yang bernama dokter Karen setelah beberapa saat dokter Alesandra menatap ke arah David.


"Sepertinya sahabatku mengalami keracunan, memang apa yang dimakan oleh sahabatku?" tanya dokter Alesandra pura - pura tidak tahu.


"Apa Karen Keracunan? Tadi hanya makan bubur dan minum." Ucap David dengan wajah sangat terkejut dan sangat takut apa yang dikatakan istrinya akan terjadi.


Dokter Alesandra berjalan ke arah meja sambil membawa dua jarum perak hingga dokter Alesandra sampai di meja dekat sofa. Dokter Alesandra memasukkan jarum perak yang pertama ke dalam mangkok dan jarum perak ke dua ke dalam gelas.


Setelah beberapa saat dokter Alesandra mengambil ke dua jarum tersebut yang sudah berwarna hitam kemudian dokter Alesandra berjalan ke arah David di mana terlihat jelas wajah ketakutan, takut kalau dokter Karen pergi untuk selama - lamanya.


"Ternyata tebakanku benar kalau sahabatku keracunan." Ucap dokter Alesandra sambil memperlihatkan dua jarum perak yang sebagian berwarna hitam.


'Tapi bohong.' Sambung dokter Alesandra dalam hati.


Dokter Karen menerima bubuk beracun yang sejak tadi digengamnya dengan menggunakan tangan kiri untuk di sebar ke sisa bubur dan sisa minuman.


"Cepat sembuhkan istriku sekarang!!!" bentak David dengan suara menggelegar karena dirinya sangat terkejut ada orang yang ingin mencelakai dirinya.


"Baik Tuan Muda David." jawab dokter Alesandra.


Dokter Karen dipindahkan ke brankar untuk diperiksa lebih lanjut bersamaan datangnya asisten setianya yang bernama Michal yang sudah sehat berkat obat pemberian dokter Alesandra.


"Apa yang terjadi dengan Nyonya Karen, Tuan? " tanya Michael dengan wajah terkejut.


"Keracunan." Jawab David.


"Keracunan?" Tanya ulang Michael.


"Betul sekali. Racun itu ada di mangkok yang berisi bubur dan gelas yang tadi Karen makan tapi sebenarnya untukku." Jawab David sambil menunjukkan bekas tempat makan dan minuman yang tadi digunakan oleh dokter Karen.


"Kamu hubungi temanmu untuk menyelamatkan istriku sekaligus memastikan apakah benar atau racun di dalam mangkok dan gelas yang tadi digunakan oleh istriku." Sambung David setelah tidak melihat dokter Alesandra dan perawat keluar dari ruang perawatan.


David tidak sepenuhnya percaya dengan dokter Alesandra hal itu dikarenakan dokter Alesandra bersahabat dengan dokter Karen. Oleh karena itulah David meminta bantuan sahabatnya Michael untuk memeriksa dan tanpa sepengetahuan David kalau dokter Alesandra sudah antisipasi hal itu.


"Baik Tuan Muda David. Saya akan menghubungi nya sekarang." ucap Michael tanpa berani membantah kalau dokter Alesandra tidak mungkin berbohong.


Michael mengambil ponselnya dan menghubungi sahabatnya yang bernama Federick untuk datang ke rumah sakit dan menjelaskan semuanya agar Federick menyiapkan alat - alatnya dan obat penawar untuk dokter Karen.


"Bagaimana? Apa bisa datang?" Tanya David penuh harap agar Federick bisa datang.