Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 64



"Maafkan Aku. Aku berjanji tidak akan menyakiti istrimu." mohon pria paruh baya itu.


Federick berdiri dan melihat pria paruh baya tersebut berjalan dengan cara menarik tubuhnya ke arah Federick.


"Tidak akan Aku maafkan. Aku tidak tahu apa istriku masih hidup atau tidak yang pasti siapapun yang menyentuh dan menyakiti orang yang Aku sayangi harus mati." ucap Federick dengan tersenyum devil.


sretttt


"Akhhhh ........" Teriak pria paruh baya tersebut.


Pria paruh baya itupun mati dengan cara mengenaskan dengan kepala dan badan terpisah. Federick berjalan ke arah istrinya kemudian menggendongnya untuk di bawa ke rumah sakit.


Salah satu anak buah Federick mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi sedangkan Federick duduk di kursi belakang pengemudi dan menjadikan kedua pahanya sebagai bantalan kepala dokter Sandra. Hanya membutuhkan waktu kurang dari lima belas menit mobil itupun sudah sampai di rumah sakit.


Anak buah Federick memarkirkan mobil secara asal kemudian salah satu anak buah lainnya membuka pintu mobil belakang pengemudi. Federick menggendong tubuh istrinya kemudian turun dari mobil dan berjalan ke lobby rumah sakit.


Dua perawat yang melihatnya langsung membawa brankar dan meminta Federick untuk membaringkan dokter Sandra di brangkar. Federick pun dengan perlahan meletakkan tubuh dokter Sandra yang sudah mulai dingin.


Federick menunggu di pintu UGD dengan perasaan tidak menentu. Federick menghubungi asistennya untuk mengurus mayat-mayat yang tergeletak di jalan termasuk pria paruh baya akibat ulah dirinya yang membunuhnya secara sadis.


Selesai menghubungi Federick duduk menunggu di pintu UGD hingga 3 jam lamanya akhirnya dokter tersebut keluar dari ruangan UGD, Federick pun langsung berdiri mendekati dokter tersebut.


"Bagaimana keadaan istriku, Dok?" tanya Federick dengan perasaan kuatir.


"Istri Tuan baik - baik saja begitu pula dengan janinnya." Jawab dokter tersebut.


"Janin?" tanya Federick mengulangi perkataan dokter.


"Iya Tuan. Istri Tuan sedang hamil dan untuk mengetahui berapa usia kehamilan tunggu istri Tuan tersadar dari obat biusnya." ucap dokter tersebut.


"Baik dokter." jawab Federick sambil tersenyum bahagia.


"Apakah Saya boleh menengok istrike?" Tanya Federick.


"Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang perawatan tapi maaf Tuan harus ganti pakaian karena pakaian Tuan banyak noda darah." ucap dokter tersebut.


"Baik Dok." jawab Federick dengan patuh.


Dokter itupun pergi meninggalkan Federick sendirian sedangkan Federick menghubungi asistennya untuk membawa pakaian ganti. Selesai menghubungi Federick memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.


"Jika istri dan anakku ada apa - apa maka keluarga kalian akan Aku bunuh semua. Aku tidak perduli apakah mereka masih anak - anak ataupun masih bayi." ucap Federick dengan seringai iblisnya.


"Benar Nona."


"Karena itulah Aku membantunya karena kalau tidak, bisa dipastikan Sandra mengalami koma karena pukulan yang diterimanya secara terus menerus tanpa henti hingga janin Sandra menjadi lemah."


"Apa yang dilakukan Nona memang tepat."


Dokter Alesandra hanya menganggukkan kepalanya kemudian kembali menatap ke arah layar lebar.


Federick mengusap wajahnya membuat Federick mencium aroma anyir darah dari ke dua tangan dan pakaian Federick. Di mana Federick sangat suka dengan aroma darah.


Sebenarnya Federick ingin menyiksanya secara perlahan tapi mengingat kondisi istrinya membuat dirinya mempercepat membunuh pria paruh baya tersebut.


Tidak berapa lama datanglah salah satu anak buahnya dan membawakan paper bag. Federick menerima paper bag tersebut kemudian berjalan ke ruang pribadinya karena rumah sakit itu miliknya.


Federick melepaskan seluruh pakaiannya hingga polos tanpa sehelai benangpun kemudian masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bau darah yang menempel di tubuhnya.


Kini Federick sudah selesai mandi dan memakai pakaian santai kemudian Federick berjalan ke ruang perawatan dan duduk di kursi samping ranjang, Federick menggengam tangan dokter Sandra.


"Maaf gara - gara Aku, kamu terluka. Mulai sekarang Aku akan selalu menjagamu dan mengirim orang - orang untuk menjagamu dari jarak jauh agar kejadian ini tidak akan terulang lagi." ucap Federick dengan nada lirih.


Tidak terasa air mata Federick keluar dan dalam hatinya yang paling dalam hatinya sangat sakit melihat istrinya terluka. Federick membelai lembut perut dokter Sandra kemudian mengecup perut dokter Sandra yang masih rata.


"Anak Daddy harus kuat, Daddy tidak sabar menunggu kelahiranmu." ucap Federick sambil tersenyum.


"Sayang sadarlah aku sangat merindukan suaramu, senyumanmu dan semuanya." ucap Federick lirih sambil menatap wajah istrinya yang masih terlihat pucat dan wajahnya masih ada bekas memar di wajah dan tubuh dokter Sandra.


Dokter Sandra masih terbaring lemah dan Federick masih dengan setia menunggu istrinya. Semua pekerjaan kantornya diurus oleh asistennya karena Federick fokus mengurus dokter Sandra.


Karena lelah Federick tertidur di samping ranjang istrinya dengan posisi duduk di kursi dekat ranjang dan ke dua tangannya dan tangan dokter Sandra dijadikan bantalan kepalanya.


Dokter Sandra perlahan membuka matanya dan merasakan tangannya terasa berat dan sulit digerakkan. Dokter Sandra melihat suaminya sedang tertidur pulas dengan menggenggam tangan dokter Sandra.


Dokter Sandra melihat rahang suaminya sudah dipenuhi bulu - bulu kasar karena sibuknya pekerjaannya yang menumpuk hingga tidak sempat menyukur bulu - bulu kasar.


Dokter Sandra meraba wajah Federick dari mata, hidung, bibir dan terakhir rahangnya. Federick yang sedang tertidur pulas langsung membuka matanya kemudian tersenyum menatap wajah istri yang sangat dicintainya.


"Sayang sudah sadar? mana yang sakit?" tanya Federick dengan nada lembut.