
"Saat ini Alessandra belum menemukan yang cocok. Alessandra janji jika sudah menemukannya Alessandra akan memperkenalkan ke Daddy." Ucap Alessandra.
"Tapi Daddy minta jangan menyibukkan diri terus sampai lupa waktu. Daddy harap Kamu membuka hatimu untuk pria lain karena tidak semua pria itu breng x s*k. Contohnya Daddy sampai sekarang masih mencintai Mommy mu." Ucap Daddy David.
"Iya Dad." Jawab Alessandra.
Ketika Daddy David ingin bicara tiba-tiba ponselnya berdering membuat Daddy David berjalan ke arah tangga sedangkan Alessandra berjalan ke taman belakang.
"Peringatan Sistem, sebentar lagi Nona akan bertemu dengan pemeran utama pria dan misi Nona menyembuhkan pemeran utama pria agar bisa beraktivitas seperti dulu kala."
"Bukannya dari awal kalau pemilik tubuh sudah meninggal? Bagaimana bisa bertemu dengan pemeran utama pria?" tanya Alessandra.
"Memang benar tapi bukankah waktu itu Aku mengatakan kalau tugas Nona selain melindungi Tuan David, Nona juga harus membantu pemeran utama pria dari orang-orang yang berniat jahat."
"Aku ingat." jawab Alessandra.
Alessandra duduk di bangku taman belakang menunggu Daddy David datang di mana saat ini Daddy David sedang menerima telepon.
("Hallo David." sapa seorang wanita dari sebrang).
("Elisabeth, apa kabar?" tanya Daddy David dengan wajah terkejut karena teman lamanya sudah lama tidak menghubungi dirinya).
("Kabar baik, Aku tidak ingin basa basi. Dulu kita pernah membuat perjanjian untuk menjodohkan anak kita? apakah kamu masih ingat?" tanya Elisabeth).
("Sebentar aku coba mengingatnya.....(menjeda kalimatnya) ... Iya maaf Aku baru ingat, apakah anakmu setuju? Karena seingatku anakmu tidak setuju dan sudah mempunyai kekasih." jawab Daddy David).
("Anakku pasti setuju bagaimana anakmu?" tanya Elisabeth).
("Anakku selalu menurut apa yang aku katakan." jawab Daddy David dengan nada yakin).
("Tapi anakku cacat dan lumpuh?" Apakah masih berlaku?" tanya Elisabeth dengan suara tercekat).
Hening
Hening
Daddy David diam membatu ketika mendengar ucapan Elisabeth sedangkan Elisabeth menghembuskan nafasnya dengan berat.
("Aku tahu pasti dirimu tidak setuju." ucap Elisabeth dengan nada sedih dan putus asa).
("Aku akan tanyakan anakku terlebih dahulu nanti aku kabarin." jawab Daddy David akhirnya yang tidak tega sahabat baiknya bersedih).
Lima Menit Kemudian
("Hallo Tante Elisabeth, Aku Alessandra." ucap Alessandra lembut).
("Hallo Alessandra, apa kabar?" tanya Elisabeth).
("Kabarku baik Tante, tadi Daddy sudah cerita tentang anak Tante. Aku ingin bertanya dulu apakah anak Tante bersedia menikah denganku?" tanya Alessandra dengan nada lembut pura-pura tidak tahu).
("Tante sudah bertanya, katanya terserah Tante." jawab Elisabeth).
("Baiklah Tante Aku bersedia, tapi tante Aku akan berusaha untuk membujuk Kak Michael mau operasi dan bisa berjalan kembali. Setelah itu terserah Kak Michael mau menikah denganku atau tidak? karena Alessandra ingin menikah sekali dalam seumur hidup." ucap Alessandra).
("Tapi aku sebagai Mommy nya sangat sulit membujuknya, apakah kamu secara tidak langsung menolak perjodohan ini?" tanya Elisabeth dengan nada kecewa).
("Tidak tante, Aku tidak menolak perjodohan ini. Maksud Aku, bolehkah setiap hari Aku merawat anak Tante?" tanya Alessandra dengan nada lembut).
("Benarkah kamu mau merawat anak tante?" tanya Elisabeth agak ragu).
("Iya tante, Aku akan merawat anak Tante, bolehkah?" tanya Alessandra lagi).
("Boleh, silahkan datang pintu selalu terbuka untukmu." ucap Elisabeth bahagia mendengar perkataan Alessandra).
("Kalau begitu Alessandra siap - siap pergi ke mansion Tante.'' Ucap Alessandra).
("Baik, Tante tunggu." Jawab Elisabeth).
Sambungan komunikasi langsung diputuskan secara sepihak oleh Elisabeth kemudian Alessandra memberikan ponselnya ke Daddy David.
"Alessandra, kamu mau pergi kemana?" tanya Daddy David yang melihat Alessandra mengambil kunci mobil).
"Daddy, Aku mau pergi ke rumah tante Elisabeth." jawab Alessandra.
"Alessandra, kamu yakin bersedia dijodohkan sama Michael?" Tanya Daddy David memastikan.
"Kalau memang Kak Michael jodohku maka Kami menikah tapi jika bukan berarti Kak Michael bukanlah jodohku." Jawab Alessandra.
"Apakah Kamu akan bersedih jika Michael bukan jodohmu?" Tanya Daddy David.
"Tidak Dad, saat ini Alessandra ingin menyembuhkan Kak Michael agar bisa berjalan dan membujuknya agar mau di operasi." Jawab Alessandra.
"Jika Michael sudah bisa berjalan dan sudah operasi wajah tapi menikah dengan wanita lain bagaimana? Bukankah sia-sia yang kamu lakukan?" Tanya Daddy David.
"Kita menolong seseorang jangan berharap ada timbal baliknya Dad. Jika Kak Michael menikah dengan wanita lain berarti Kak Michael bukan jodohku." Jawab Alessandra.
"Kamu memang mirip dengan Mommy mu yang selalu menolong orang lain tanpa memikirkan untung atau rugi dan Daddy sangat senang mendengarnya." Ucap Daddy David.
"Apapun yang terjadi Daddy akan selalu mendukungmu." Sambung Daddy David.
"Terima kasih Dad." Ucap Alessandra.
"Ok. Dad." ucap Alessandra.
Alessandra pun mengecup punggung Daddy David kemudian pergi meninggalkan mansion dan mengendarai mobil menuju ke mansion milik Tante Elisabeth.
Di tempat yang berbeda lebih tepatnya mansion milik Elisabeth. Di mana Elisabeth sangat senang karena Alessandra menyetujui perjodohan ini dan di tambah Alessandra mau merawat anak semata wayangnya.
Tiba-tiba terdengar suara bel pintu membuat kepala pelayan yang sedang berbicara dengan Elisabeth menghentikan obrolannya.
"Nyonya suara bel pintu mungkin itu Nona Alessandra. Permisi nyonya, saya akan menemui nona Alessandra dulu." ucap kepala pelayan.
"Baiklah." jawab Elisabeth sambil tersenyum bahagia.
Kepala pelayan itu keluar dari kamar Elisabeth dan turun ke bawah menuju ke pintu utama. Seorang gadis berpenampilan cupu, memakai kacamata tebal sedang bicara dengan pelayan yang membuka pintu.
"Nona Alessandra." tanya kepala pelayan dengan wajah terkejut.
Kepala pelayan mengira kalau Alessandra adalah wanita cantik tapi ternyata perkiraannya salah.
"Iya Aku Alessandra." jawab Alessandra sambil mengulurkan tangan memperkenalkan dirinya.
"Oh iya nona silahkan naik sudah di tunggu nyonya." jawab pelayan sambil menunduk dengan hormat tanpa membalas uluran tangan Alessandra.
"Baiklah." jawab Alessandra sambil tersenyum dan menurunkan tangannya.
Kepala pelayan itupun berjalan ke arah lift, sampai di depan lift Kepala pelayan menekan tombol lantai tiga hingga pintu lift terbuka Mereka berdua masuk ke dalam kotak persegi empat tersebut.
Setelah beberapa saat pintu lift terbuka kemudian mereka berjalan menuju ke arah kamar Elisabeth. Kepala pelayan mengetuk pintu dan ketika ada jawabanya di suruh masuk maka kepala pelayan menyuruh Alessandra masuk ke dalam menemui Elisabeth.
Alessandra masuk ke dalam kamar dan melihat Tante Elisabeth terbaring tak berdaya badannya kurus menatap Alessandra dengan tatapan sendu. Alessandra menggenggam tangan Tante Elisabeth dan mencium tangannya. Kemudian mencium pipi kanan dan kiri tante Elisabeth.
"Sayang duduklah kamu sudah lama sekali tidak menengok tante." ucap tante Elisabeth lirih
"Maaf tante, Aku sibuk kuliah biar cepat selesai dan membantu Daddy kerja." jawab Alessandra.
"Bagaimana dengan kuliahmu sayang?" tanya Elisabeth.
"Sudah selesai, mana yang sakit, Tante? Alessandra panggil dokter ya." ucap Alessandra.
"Sudah dipanggil mungkin sebentar lagi datang? Tante sedih dan rasanya ingin mati saja hiks hiks...hiks.." ucap Elisabeth sambil terisak-isak.
Alessandra pura-pura terkejut dan cepat - cepat menghapus airmata Elisabeth.
"Kenapa tante? Ceritakan padaku siapa tahu Alessandra bisa membantu?" tanya Alessandra masih pura-pura tidak tahu.
Elisabeth pun menceritakan semua apa yang telah terjadi dari awal kejadian anaknya mengalami kecelakaan hingga kesedihan melihat anaknya yang terpuruk dan berulang kali ingin bunuh diri tapi selalu berhasil digagalkan.
Alessandra sedih melihat kesedihan tante Elisabeth karena tante Elisabeth sangat baik waktu pemilik tubuh masih hidup karena itu Alessandra ingin menolong kesedihannya.
"Tante, Aku bersedia dijodohkan dengan anak tante dan Aku bersedia untuk merawat anak tante sampai seperti dulu." jawab Alessandra
"Benarkah sayang? tapi apakah Kamu kuat menghadapi sikap kasar dan mulut pedas karena putraku sangat terpukul melihat wajahnya yang seram dan lumpuh. Sudah banyak pelayan yang menyerah walau digaji tinggi sekalipun." ucap Elisabeth sambil menahan air matanya dan menatap Alessandra dengan raut wajah sendu.
"Saya akan usaha untuk kuat menghadapi sikap dan mulutnya tapi.." Alessandra merasa tidak enak untuk mengatakannya
"Tapi apa sayang, katakan?" tanya Elisabeth penasaran.
"Kalau dia marah dan ingin memukulku aku akan menghindarinya tapi kuminta tidak ada satupun yang membantu Kak Candra walau apapun yang terjadi.Tapi tante tenang saja saya tidak akan melukainya." ucap Alessandra sambil tersenyum.
Tante Elisabeth tersenyum mendengar ucapan Alessandra. Hatinya sangat berharap anaknya yang bernama Candra bisa menghilangkan sifat buruknya dan kembali seperti dulu.
"Tapi sayang jika kamu melihat wajahnya, kamu jangan teriak ya? Soalnya akan membuatnya dirinya terpukul." ucap Elisabeth mengingatkan Alessandra.
"Baik Tante." ucap Alessandra.
prang
Terdengar suara barang berjatuhan membuat Alessandra pura-pura terkejut mendengarnya sedangkan Tante Elisabeth sudah biasa karena dirinya sudah tahu siapa pelakunya
"Suara apa itu tante?" tanya Alessandra pura-pura terkejut.
"Biasa anak tante, Dia sering marah dan susah makan." jawab Elisabeth.
"Saya akan memasak dan Aku akan antar ke kamar Kak Michael." jawab Alessandra.
"Terima kasih sayang." jawab Elisabeth sambil tersenyum bahagia.
"Sama - sama tante." jawab Alessandra sambil tersenyum.
Alessandra keluar dan turun ke lantai satu dengan menggunakan lift menuju ke dapur untuk memasak makanan dan meminta dua pelayan membantunya yang satu pelayan membawa troli berisi makanan dan yang satunya membawa alat - alat kebersihan termasuk tempat sampah.
Awalnya dua pelayan takut karena dibujuk dan Alessandra berani bertanggung jawab terpaksa mereka berdua menyetujuinya dengan perasaan takut. Mereka bertiga menaiki lift ke lantai empat.
ting
Pintu lift terbuka mereka keluar dari kotak persegi empat tersebut menuju ke kamar Michael.
Alessandra mengetuk pintu sebanyak tiga kali tapi karena tidak ada sahutan Alessandra membuka pintu. Alessandra pura-pura sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.
"Apa ini?" Tanya Alessandra sambil menatap tajam ke arah Michael.