
"Maaf Dok, tidak perlu." Ucap dokter Karen.
"Baiklah tapi ada yang ingin Aku tanyakan." ucap dokter tersebut.
"Silahkan dok." Jawab dokter Karen.
"Apa masih ada yang sakit? Karena setahuku Nyonya Karen terluka akibat di cambuk." Tanya dokter tersebut dengan wajah bingung karena dokter Karen tidak merasakan sakit sedikitpun.
"Tidak terasa sakit sama sekali, Dok? Jadi bolehkah aku pulang?" tanya dokter Karen.
"Bisa. Hari ini Nyonya Karen boleh pulang." jawab dokter itu.
Perawat itu ingin melepas infus tapi ternyata infusnya sudah terlepas dan melihat pergelangan tangan dokter Karen terluka membuat perawat tersebut mengobatinya.
"Terima kasih suster." Ucap dokter Karen dengan tulus dan tersenyum.
"Sama - sama Nyonya dan sudah menjadi tugas saya." jawab perawat tersebut.
"Terima kasih Dok." Ucap dokter Karen sambil tersenyum.
Dokter itu hanya menganggukkan kepalanya dan pergi bersama perawat dan meninggalkan Karen dan David. Dokter tersebut tidak berani bicara karena mendapatkan tatapan tajam dari David.
"Syukurlah Kamu sudah boleh pulang dan dari sini kamu harus memasak untukku." pinta David.
"Baik Tuan Muda David." jawab dokter Karen.
Setelah itu tidak ada percakapan karena David duduk di sofa sambil memainkan ponselnya untuk mengecek emailnya. Dokter Karen yang merasa bosan berjalan menuju ke arah David sedangkan David melirik sekilas tapi dirinya pura - pura tidak perduli.
"Maaf Tuan Muda David, apa lebih baik kita pulang sekarang?" tanya dokter Karen setelah sampai di depan David.
"Hmm." jawab David berupa deheman sambil berdiri.
Dokter Karen berjalan mundur memberikan jalan untuk David sedangkan David berjalan dengan angkuh dan tidak memperdulikan dokter Karen. Dokter Karen membalikkan badannya dan mengikuti langkah David dari arah belakang tanpa banyak protes.
Di depan pintu ruang perawatan sudah ada Michael, Michael berjalan di samping dokter Karen membuat David menghentikan langkahnya secara mendadak.
bruk
Dokter Karen yang sedang melamun tidak tahu kalau David menghentikan langkahnya secara tiba - tiba membuat dokter Karen menabrak punggung David.
Dokter Karen nyaris terjatuh jika saja tangan kekar David tidak menahan tubuh dokter Karen agar tidak terjatuh ke lantai.
David langsung membalikkan tubuhnya dan menatap wajah dokter Karen dari jarak sangat dekat membuat jantung David dan dokter Karen berdetak dengan kencang.
'Sangat cantik. Seandainya kamu bukan anak pembunuh orang tuaku Aku mungkin akan belajar untuk mencintaimu.' ucap David dalam hati.
'Seandainya saja suamiku sedikit saja mencintaiku betapa bahagianya diriku.' ucap Karen dalam hati.
David tiba - tiba tersadar kemudian melepaskan tangannya yang memeluk pinggang dokter Karen sambil menatap tajam.
"Kalau jalan itu lihat - lihat." ucap David dengan nada ketus.
"Maafkan saya Tuan Muda David." ucap dokter Karen.
Tanpa menjawab David membalikkan badannya dan diam di tempat, hal itu membuat dokter Karen menjadi bingung kecuali Michael yang mengerti maksudnya.
'Nyonya Karen, jalan di samping Tuan Muda David.' bisik Michael sambil menundukkan tubuhnya karena tubuh Michael tinggi tapi lebih tinggi David.
'Tapi aku takut nanti Tuan Muda David marah.' bisik dokter Karen.
"'Lakukanlah Nyonya karena kalau tidak maka kita berdiri sampai pagi.' bisik Michael lagi.
Dokter Karen menghembuskan nafasnya dengan perlahan dan berjalan di samping David. Merekapun kemudian melanjutkan perjalanannya kembali dalam diam tanpa ada yang mengeluarkan suara sedikitpun.
Tiba - tiba datang seorang gadis cantik berjalan mendekati David dengan senyuman menggoda.
"Hallo Tuan Muda David." panggil gadis cantik itu sambil memeluk lengan kekar David.
Kini posisi David berada di tengah - tengah sedangkan David melirik sekilas wajah dokter Karen yang wajahnya mulai berubah seperti orang cemburu membuat David tersenyum namun nyaris tidak terlihat. David membiarkan gadis cantik itu memeluk dirinya walau dirinya sangat muak dengan gadis cantik itu.
"Karen." Panggil seorang pria tampan.
"Ricko apa kabar?" Tanya dokter Karen sambil tersenyum dan tangannya diarahkan ke arah Ricko.
Ricko membalas tangan dokter Karen tapi sebelum menyentuh tangan dokter Karen. David langsung menepis tangan Ricko dan menatap tajam ke arah Ricko.
"Ayo jalan." ucap David dengan nada cemburu.
Sambi berbicara David menarik tangan dokter Karen sambil menggenggam tangan Karen dengan erat kemudian meremas tangan dokter Karen membuat dokter Karen meringis dan menahan rasa sakit pada pergelangan tangannya.
"Michael!" Teriak David dengan nada satu oktaf ketika gadis di sampingnya masih menempel seperti benalu.
Michael yang mengerti langsung menarik tangan gadis cantik itu karena memeluk lengan kekar David.
"Maaf Nona. Saya harap Nona menyingkirkan tangan nona." ucap Michael dengan nada tegas.
"Cih .... Kamu itu hanya seorang asisten rendahan dan miskin kalau di pecat baru tahu rasa." hina gadis cantik itu sambil memandangnya dengan tatapan merendahkan.
David yang mendengar ucapan gadis cantik itu membuat David menatap tajam sambil mendorong tubuh gadis cantik itu dengan tangan kirinya karena tangan kanannya menggenggam tangan dokter Karen.
Dorongan yang sepenuh tenaga membuat gadis cantik tersebut hampir terjatuh jika saja Ricko tidak menahan tubuh gadis cantik itu.
"Tuan Muda David, Dia ini seorang wanita. Kenapa Tuan Muda David mendorongnya? Dan juga kenapa tuan menggenggam erat tangan Karen? Lihatlah Karen menahan rasa sakit." ucap Ricko dengan nada kesal.
David menatap tajam ke arah Ricko seakan ingin membunuhnya tanpa memperdulikan ucapan Ricko.
"Wanita murahan itu telah menghina asistenku dengan mengeluarkan kata - kata yang tidak pantas." ucap David dengan nada dingin.
David tidak menjawab kenapa dirinya menggenggam erat tangan dokter Karen karena saat ini dirinya menahan amarah dan ingin rasanya membunuh seseorang. Sedangkan dokter Karen hanya terdiam sambil masih menahan rasa sakit pada pergelangan tangannya.
Michael yang mengerti langsung mengikuti bosnya dari arah belakang.
'Jangan ikut campur urusan Tuan Muda David karena Nyonya Karen adalah istri Tuan Muda David dan gadis itu pantas diperlakukan seperti itu karena tidak bisa menjaga mulutnya.' bisik Michael ketika melewati Ricko.
Ricko terkejut mendengar ucapan asisten tersebut dan membiarkan mereka melanjutkan perjalanannya karena tidak ingin mencampur urusan rumah tangga orang lain.
"Tunggu Tuan Muda David, apakah karena wanita murahan itu makanya tega mengkhianatiku?" Tanya gadis cantik itu berbohong dan tanpa punya rasa malu di perhatikan oleh para pengunjung rumah sakit dan para pasien yang sedang berobat.
Gadis cantik itu sangat kesal dan tidak terima dengan perkataan David karena itulah dirinya mengatakan kebohongan. Sedangkan David menghentikan langkahnya sambil melirik ke arah dokter Karen yang menunduk sambil berusaha melepaskan tangan David tapi tangannya masih di genggam erat membuat dokter Karen hanya bisa pasrah.
David menjentikkan jarinya dan dua orang anak buahnya langsung datang kemudian menarik tangan sambil membekap mulut gadis itu agar tidak berteriak hingga tidak berapa lama gadis cantik itu pingsan karena efek obat bius.
Tidak ada satupun yang berani menolongnya karena gadis cantik itu membuat masalah terlebih Ricko yang sudah mulai kesal dengan ucapan gadis cantik itu yang menjelek - jelekkan dokter Karen. Di mana dirinya tahu kalau dokter Karen adalah wanita baik - baik.
Kini mereka sudah berada di parkiran mobil di mana Michael membuka pintu belakang pengemudi. David langsung mendorong dokter Karen dengan keras membuat dokter Karen terbentur pintu kaca mobil kemudian David duduk di samping dokter Karen.
David melirik sekilas dokter Karen yang duduk disampingnya yang sedang mengusap keningnya yang agak membengkak karena terbentur kaca mobil.
Hati David merasa bersalah dan ingin memberikan cream penghilang luka lebam tapi rasa kebencian terhadap orang tua Karen membuatnya berusaha mematikan rasa empatinya. David menatap ke arah depan tanpa memandang dokter Karen.
'Kenapa aku harus marah ketika Karen dan pria itu bersalaman? Apakah aku cemburu? Tidak... tidak... aku tidak mungkin cemburu." ucap David dalam hati menghilangkan perasaannya.
"Kamu itu sudah menikah tapi kelakuanmu mirip wanita mu x rahan. Apa dulu ibumu seperti itu? Karena itu kamu mengikuti sifat ibumu, benar bukan kataku?" Tanya David menghina dokter Karen.
"Apa jangan - jangan mahkota berhargamu sudah hilang di ambil pria lain? Atau bisa jadi pria tadi yang sudah mengambilnya makanya kamu tersenyum bahagia ketika bertemu dengannya?" Tanya David dengan beruntun.
"Turunkan aku di sini." ucap dokter Karen dengan nada dingin tanpa menjawab pertanyaan David.
"Michael." panggil David.
Michael yang mengerti langsung mengerem mobilnya secara mendadak dan untunglah jalanan tidak begitu ramai.
"Turunlah." ucap David dengan nada dingin.
Dokter Karen membuka pintu mobil kemudian menurunkan ke dua kakinya sambil menatap ke arah David dengan tatapan penuh kecewa dan sangat terluka akibat perkataannya yang sangat menusuk hatinya.
"Tuan Muda David. Maaf Aku sudah sangat lelah, mungkin dengan kematianku maka dendam Tuan Muda David akan berkurang tapi jika belum hilang maka bunuhlah ke dua orang tuaku agar Tuan Muda David merasa puas dan dendamnya langsung hilang." ucap dokter Karen dengan suara tercekat dengan air mata berlinangan.
Selesai berbicara dokter Karen berjalan ke arah tengah jalan raya sambil ke dua tangannya direntangkan ke arah samping seakan pasrah jika dirinya mati saat itu juga.
Hatinya sangat sakit mendengar ucapan David yang sangat menyakitkan hatinya. Walau orang tuanya sangat bersalah tapi sebagai anak tentu tidak mau mendengar perkataan David yang menghina orang tuanya.
Tiba - tiba datang sebuah truk melaju sangat kencang sambil membunyikan klakson berulang - ulang tapi dokter Karen hanya memejamkan matanya. Dirinya sudah pasrah jika hari itu adalah hari kematiannya karena jujur dirinya sudah sangat lelah karena itu dokter Karen nekat melakukan hal itu.
David yang mendengar suara klakson yang tidak berhenti membuat David langsung keluar dari arah samping tempat duduk yang tadi diduduki oleh dokter Karen dan menarik tangan dokter Karen agar tidak tertabrak truk.
Tubuh dokter Karen berbenturan dengan tubuh kekar David dan tanpa sadar dokter Karen memeluk tubuh kekar David sambil menangis.
"Hiks... hiks.. Kenapa membiarkanku hidup? Bukankah Tuan Muda sangat membenciku?" tanya dokter Karen sambil menangis membuat jas dan kemeja David basah terkena air mata dokter Karen.
David terdiam hatinya menjadi bimbang antara berhenti membalas dendam atau meneruskannya. Lagi - lagi mata hatinya tertutup kemudian melepaskan pelukan dokter Karen.
"Kamu ingat perjanjian pernikahan kita selama tiga tahun bukan? sekarang masuk!" perintah David sambil berjalan ke arah mobil dan masuk ke dalam sambil menggeser tubuhnya agar dokter Karen duduk di sebelahnya.
Dokter Karen hanya menghembuskan nafas dengan kasar dan masuk ke dalam mobil kemudian dokter Karen menghapus air matanya dan diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Aku akan selalu menyiksamu agar orang tuamu merasakan sakit hati karena putri kesayangannya tersiksa." Ucap David.
"Tapi aku mohon jangan menghina ke dua orang tuaku. Tuan boleh menyiksaku sampai matipun aku rela." pinta dokter Karen dan tanpa terasa air matanya kembali keluar.
"Baiklah kalau itu maumu." ucap David dengan nada dingin.
Tidak berapa lama mereka pun sudah sampai di mansion milk David, Michael membuka pintu belakang pengemudi agar David keluar sedangkan dokter Karen tanpa menunggu dibukakan langsung membuka pintu mobil.
"Sekarang turun dan masak!" perintah David ketika melihat dokter Karen turun dari mobil.
"Baik." jawab dokter Karen dengan singkat sambil menutup pintu mobil dan berjalan ke arah pintu utama mengikuti langkah David.
Bunyi suara sepatu pantopel berbenturan dengan lantai marmer membuat suaranya menggema di mansion tersebut. Dokter Karen berjalan ke arah dapur dan mulai memasak.
David melirik sekilas ke arah dokter Karen yang sedang memakai celemek dan mengikat rambutnya ke atas menampakkan leher putih yang mulus membuat David berkali - kali menelan saliva terlebih adik kecilnya meronta - ronta ingin keluar.
'Sial kenapa aku jadi mesum begini sih?' Tanya David dalam hati.
David langsung menatap ke arah depan dan melanjutkan ke kamarnya sedangkan dokter Karen sibuk memasak hingga tidak terasa dokter Karen sudah menyelesaikan pekerjaan memasaknya.
Dokter Karen berjalan menuju ke lantai atas dengan menaiki anak tangga bertepatan dengan kedatangan David yang sudah berpakaian dengan santai.
"Mandi dan temani aku makan." ucap David sambil menuruni anak tangga.
"Baik Tuan Muda." Jawab dokter Karen sambil berusaha untuk tersenyum.
Dokter Karen masuk ke dalam kamarnya kemudian dokter Karen membuka pintu lemari dan mengambil satu stell pakaian santai. Kaos yang memperlihatkan bentuk tubuh dokter Karen dan celana pendek warna putih juga.
Selesai mandi dan memakai bedak dan lipstik dokter Karen keluar dari kamar dan menuruni anak tangga menuju ke ruang meja makan. Dokter Karen berjalan menuju ke arah kursi yang berhadapan dengan suaminya.
"Duduk di sampingku." Ucap David dengan nada dingin.
Dokter Karen pun menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya dan berjalan ke arah David untuk duduk di samping suaminya. Jantung David dan dokter Karen sama - sama saling berdetak kencang terlebih adik kecil milik David kembali meronta - ronta melihat dokter Karen memakai pakaian seperti itu.
"Lain kali pakaiannya ganti!" perintah David dengan nada dingin.
"Tapi Aku suka dengan pakaian seperti ini." ucap dokter Karen dengan nada lirih.
"Kamu ingat peraturan nomer 6?" tanya David sambil menaikkan salah satu alis matanya tanpa menjawab ucapan dokter Karen.