
"Bisa Tuan Muda dan sebentar lagi dalam perjalanan ke sini." Jawab Michael.
David hanya menganggukkan kepalanya sambil berharap agar dokter Karen baik - baik saja. Sedangkan di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana dokter Alesandra mendorong brangkar bersama perawat di mana dokter Karen pura - pura memejamkan matanya.
'Aku ingin Kami masuk ke dalam ruangan yang tidak diketahui oleh orang lain di mana terlihat seperti ruang operasi.' Ucap dokter Alesandra dalam hati.
"Pembelian ruang rahasia seperti ruang operasi dua ratus lima puluh poin berhasil."
Tiba - tiba di depan dokter Alesandra terlihat sinar terang tanda itu adalah sebuah ruang rahasia namun sinar terang tersebut hanya dapat di lihat oleh dokter Alesandra.
Dokter Alesandra mendorong brankar ke arah sinar tersebut hingga akhirnya mereka berada di sebuah ruangan mirip ruang operasi.
'Buat suster itu tidak sadarkan diri.' ucap dokter Alesandra dalam hati.
"Suster tidak sadarkan diri dikurangi lima puluh lima berhasil."
Tiba - tiba tubuh perawat tersebut perlahan mulai melemas seperti tidak bertulang membuat dokter Alesandra berjalan mendekati perawat tersebut.
"Dokter, kenapa tubuhku lemas seperti tidak ber ..." ucapan perawat tersebut terputus karena tidak sadarkan diri.
Sebelum terjatuh dokter Alesandra langsung menahan tubuhnya kemudian menggendongnya tanpa merasakan berat sedikitpun.
"Karen bangunlah." Ucap dokter Alesandra.
'Hoam ..."
Dokter Karen menggeliatkan tubuhnya dan perlahan membuka matanya kemudian menatap ke arah dokter Alesandra yang menggendong seorang perawat.
"Suster itu kenapa?" Tanya dokter Karen dengan wajah terkejut.
"Tidak tahu tiba - tiba pingsan." jawab dokter Alesandra berbohong.
"Sekarang turunlah dari ranjang." sambung dokter Alesandra mengalihkan pembicaraan terlebih dokter Karen masih berbaring di ranjang.
"Oke." jawab dokter Karen dengan singkat sambil turun dari ranjang.
Dokter Alesandra meletakkan perlahan tubuh perawat ke ranjang setelah selesai dokter Alesandra menatap ke arah dokter Karen.
"Selanjutnya apa?" Tanya dokter Karen.
"Kita tunggu kedatangan Federick ke ruang oprasi dan Aku sudah meminta tolong Sandra ke perusahaan milik Federick agar tidak memberikan racun ketika mengobatimu seperti waktu itu." Jawab dokter Alesandra.
"Kapan menghubungi Sandra? Apa hubungan Sandra dengan Federick?" Tanya dokter Karen penasaran.
"Sebelum Kamu membuatkan bubur untuk suamimu, Aku menemui Sandra untuk menemui Federick di perusahaan sekaligus mengatakan kalau perusahaan itu milik Federick jadi Sandra harus telepon Federick agar tidak dipersulit oleh resepsionis. Mengenai hubungan Mereka, kamu bisa tanyakan nanti ke Sandra." Jawab dokter Alesandra.
"Aish ... Teganya kalian berdua main rahasia - rahasian." Ucap dokter Karen dengan wajah cemberut.
Dokter Alesandra hanya tersenyum kemudian dokter Alesandra menceritakan langkah selanjutnya sedangkan dokter Karen mendengarnya tanpa banyak komentar.
Di tempat yang berbeda, lebih tepatnya di perusahaan milik Federick di mana dokter Sandra datang atas permintaan dokter Alesandra demi menjalankan misi menyelamatkan dokter Karen agar Federick tidak memberikan racun lagi.
Sesuai perkiraan dokter Alesandra, di mana resepsionis tanpa banyak bertanya langsung mengantar dokter Sandra ke ruangan Federick atas perintah Federick.
Resepsionis mengetuk pintu terlebih terdahulu setelah mendapatkan jawaban barulah resepsionis membuka pintu ruangan khusus dengan lebar agar dokter Sandra masuk ke dalam.
Dokter Sandra menatap ke arah Federick yang sedang sibuk memeriksa dokumen yang menumpuk di meja kerjanya.
"Duduklah." ucap Federick sambil menatap dokter Sandra dan tersenyum.
"Ok." Jawab dokter Sandra dengan singkat sambil membalas senyuman Federick.
Dokter Sandra berjalan ke arah Federick kemudian duduk saling berhadapan dan hanya dibatasi oleh meja. Federick menghentikan pekerjaannya kemudian menatap dokter Sandra seakan meminta penjelasan mengingat dokter Sandra ingin mengatakan sesuatu yang penting.
Dokter Sandra yang mengerti menghembuskan nafasnya perlahan kemudian menatap ke arah Federick sambil berharap Federick setuju dengan permintaannya.
"Aku ingat, memang kenapa?" Tanya Federick sambil mengangkat salah satu alis matanya.
"Sebentar lagi sahabat Kak Federick yang bernama Kak Michael akan menghubungi Kak Federick untuk datang ke rumah sakit di mana ada seseorang yang ingin meracuni Tuan Muda David namun tidak berhasil hal itu dikarenakan makanan dan minuman yang mengandung racun dimakan dan di minum istrinya." Jawab dokter Sandra.
"Aku memohon sama Kak Federick untuk memberikan penawar tapi tidak di campur racun seperti waktu kita pertama kali bertemu." sambung dokter Sandra.
"Darimana kamu tahu kalau ada orang yang ingin meracuni istrinya? Kenapa tidak di cegah?" Tanya Federick tanpa menjawab permintaan dokter Sandra.
"Dari sahabatku di mana sahabatku mengetahui masa depan karena itulah tahu apa yang terjadi selanjutnya. Mengenai kenapa tidak di cegah dikarenakan sahabatku tidak boleh mengubah apa yang terjadi karena itulah memintaku agar Kak Federick tidak melakukan hal yang sama yaitu memberikan racun ke sahabatku." Jawab dokter Sandra yang mengikuti perkataan dokter Alesandra.
Federick terdiam beberapa saat namun pandangannya tidak pernah lepas menatap ke arah dokter Sandra.
"Aku bersedia melakukan apapun asalkan sahabatku baik - baik saja." ucap dokter Sandra karena melihat Federick diam tanpa mengeluarkan suara sedikitpun.
"Melakukan apapun?' Tanya ulang Federick memastikan.
"Ya apapun yang Kak Federick minta akan Aku lakukan." Jawab dokter Sandra.
"Seandainya Aku meminta nyawamu untuk Aku siksa? Apa kamu bersedia?" Tanya Federick sambil masih menatap dokter Sandra tanpa ada ekspresi sama sekali.
"Jika itu bisa menyelamatkan nyawa sahabatku maka Aku bersedia." Jawab dokter Sandra tanpa banyak berpikir.
"Jika Aku meminta melakukan hubungan suami istri?" Tanya Federick.
Dokter Sandra terdiam beberapa saat kemudian menghembuskan nafas dengan perlahan.
"Aku bersedia tapi dengan satu syarat kita menikah terlebih dahulu agar melakukan hal itu tidak dosa." Jawab dokter Sandra.
"Jika suatu saat Aku di racun dan orang yang meracuniku memintamu melakukan hubungan suami istri, apakah kamu juga bersedia melakukannya seperti saat ini?" Tanya Federick sambil menahan amarah dan rahangnya mulai mengeras.
"Jika seandainya itu terjadi maka Aku tidak akan melakukannya." Jawab dokter Sandra tanpa banyak berpikir.
"Berarti kamu membiarkan Aku mati mengenaskan karena terkena racun?" Tanya Federick.
Setelah kita menikah, Aku akan belajar segala jenis racun berikut penawarnya dari suamiku sehingga jika hal itu terjadi pada suamiku maka Aku bisa memeriksa dan memberikan penawarnya." Jawab dokter Sandra.
Sepasang mata yang awalnya berwarna merah kini berangsur berubah menjadi hitam pekat sama seperti David sedangkan dokter Sandra yang melihat perubahan hanya diam saja. Namun dalam hatinya ingin berusaha menghilangkan jiwa psycophat Federick.
Tidak berapa lama ponsel milik Federick berdering membuat Federick mengambil ponselnya dan melihat di layar ponselnya ada panggilan masuk dari Michael. Federick memperlihatkan ponselnya ke dokter Sandra dan dokter Sandra pun membaca panggilan telepon.
"Angkatlah." Ucap dokter Sandra.
Federick mengangkat ponselnya kemudian mulai mengobrol setelah selesai Federick menyimpan ponselnya di saku jasnya lalu menatap ke arah dokter Sandra.
"Apapun yang Aku minta, kamu bersedia melakukannya?" Tanya Federick memastikan lagi.
"Ya, apapun yang Kak Federick minta akan Aku lakukan tapi jika Kak Federick meminta melakukan hubungan suami istri, kita menikah terlebih dahulu." Jawab dokter Sandra.
"Kamu menyukaiku karena ternyata Aku pemilik perusahaan atau karena murni ingin menolong sahabatmu?" Tanya Federick sambil menatap sepasang mata dokter Sandra.
"Mengenai rasa suka jujur Aku belum tahu tapi yang pasti Aku sangat nyaman bersama Kak Federick. Bukan karena Kak Federick pemilik perusahaan ataupun bukan karena Kak Federick kaya raya." Jawab dokter Sandra.
"Orangtuaku selalu mengajarkan rendah diri dan tidak boleh sombong terhadap orang lain selain itu jika mempunyai rejeki yang berlebih ingatlah dengan orang yang ada di bawah. Berikan mereka uang dan makanan agar tidak kelaparan ataupun membuka usaha agar hidupnya tidak susah lagi." Sambung dokter Sandra.
"Aku datang ke sini jujur, murni menolong sahabatku yang sudah Aku anggap saudara. Aku mempunyai dua sahabat yaitu Karen dan Alesandra yang kebetulan kami satu profesi yaitu sama - sama dokter." Sambung dokter Sandra menjelaskan ke Federick.
"Baiklah, kalau begitu kita pergi ke rumah sakit agar sahabatmu segera di tolong." Ucap Federick.
Dokter Sandra hanya menganggukkan kepalanya kemudian mereka berdua keluar dari ruangan CEO menuju ke arah lift. Banyak orang menyapa Federick namun Federick sama sekali tidak menjawab malah berjalan dengan angkuh berbeda dengan dokter Sandra membalas sapaan para karyawan dan para karyawati.
Tanpa sepengetahuan mereka dua pasang mata menatap dokter Sandra dengan tatapan kebencian. Hal itu membuat mereka berniat untuk membuat rencana jahat terhadap dokter Alesandra.
Federick dan dokter Sandra kini berada di dalam mobil di mana Federick duduk di kursi pengemudi sedangkan dokter Sandra duduk di samping pengemudi. Federick mengendarai mobil dengan kecepatan sedang menuju ke rumah sakit.