
"Kak Federick masih ingat waktu Aku minta dua hal?" Tanya dokter Sandra.
"Yang mana?" Tanya Federick pura - pura lupa.
"Permintaan yang pertama aku ingin Kak Federick ada rasa perduli terhadap orang lain dan tidak menghukum orang lain walau sekecil ataupun sebesar apapun kesalahannya. Seperti tadi, Aku melihat Kak Federick ingin mencambuk pelayan dan juga ketika sahabatku sangat haus tapi tuan tidak menolongnya." ucap dokter Sandra mengulangi perkataannya.
"Jadi bolehkah peraturannya di ganti dengan ringan misalnya potong gaji." Sambung dokter Sandra.
"Kenapa kamu perduli?" tanya Federick dengan wajah terkejut.
"Sesama manusia harus saling perduli, jadi bolehkah usulku diterima?" tanya dokter Sandra sambil menatap mata Federick.
"Bisa tapi dengan satu syarat." Jawab Federick.
"Apa syaratnya?" tanya dokter Sandra penasaran.
"Syaratnya ... (Sambil berpikir) ... Aku pikirkan nanti. Tapi yang penting, apakah kamu mau memenuhi satu syaratku?" tanya Federick sambil menatap sepasang mata indah milik dokter Sandra.
"Hmm... baiklah." jawab dokter Sandra tanpa ada rasa curiga sedikitpun.
'Paling minta dimasakin atau menjadi kekasihnya.' sambung dokter Sandra dalam hati.
"Ok. Aku pegang janjimu. Ayo kita berangkat." Ajak Federick.
"Ok." jawab dokter Sandra dengan singkat.
Mereka pun pergi meninggalkan apartemen milik dokter Sandra menuju ke tempat kerja dokter Sandra yaitu rumah sakit. Sedangkan Federick yang sudah berjanji dengan dokter Sandra untuk tidak menghukum pelayannya akhirnya pergi ke perusahaan dan tidak jadi pergi ke mansion.
xxxxxxxx
Di tempat yang berbeda di mana dokter Karen menunggu di ruang perawatan sambil menatap wajah tampan suaminya yang masih setia memejamkan matanya.
"Suamiku memang sangat tampan dan seandainya saja suamiku membuka sedikit saja perasaan untukku, pasti Aku sangat bahagia." ucap dokter Karen dengan nada lirih.
Dokter Karen menatap ke langit - langit atap rumah sakit dan air mata yang sejak tadi di tahan akhirnya keluar juga.
"Tuhan, apakah aku tidak boleh merasakan kebahagiaan sedikit saja? Tanya Karen dengan nada lirih.
Dokter Karen langsung buru - buru menghapus air matanya dan berusaha untuk tegar dan tidak berapa lama David perlahan membuka matanya.
"Ada dimana aku?" tanya David sambil memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.
"Di rumah sakit." Jawab dokter Karen.
"Siapa yang membawaku?" tanya David.
"Anak buah Tuan Muda David yang membawanya." Jawab dokter Karen.
"Panggilkan mereka dan kamu keluar." ucap David dengan nada dingin.
Dokter Karen berdiri dan membalikkan badannya tapi baru beberapa langkah David mengatakan sesuatu membuat dirinya menghentikan langkah kakinya.
"Apakah kamu yang menyelamatkanku?" tanya David penasaran.
"Bukan. Aku tadi ada janji bertemu dengan ke dua sahabatku di rumah sakit." Jawab dokter Karen berbohong.
"Oh. Jika Aku tidak ada kamu pergi dengan seenaknya tanpa ijin dariku?" Tanya David dengan wajah sinis.
Dokter Karen membalikkan badannya kemudian menatap wajah suaminya yang sedang menatapnya dengan tatapan tajam seakan dirinya ingin dikuliti.
"Maaf Tuan Muda David, saya tidak akan mengulanginya lagi." ucap dokter Karen sambil tersenyum.
"Ingat jika ulangi kamu akan aku hukum dan sekarang pergilah!" usir David.
"Baik Tuan Muda David." jawab dokter Karen sambil membalikkan badannya.
Dokter Karen berjalan meninggalkan menuju ke arah pintu keluar.
"Maaf, di panggil oleh Tuan Muda David." ucap dokter Karen.
"Baik Nyonya." jawab anak buah David.
Ke empat anak buah David masuk ke dalam ruang perawatan untuk menemui bosnya yang sangat arogant. Sampai di dalam ruang perawatan, Mereka memberikan hormat ke David kemudian mereka terdiam untuk mendengarkan apa yang akan dikatakan David.
"Aku ingin bertanya siapa yang menyelamatkan diriku? Sebelum Aku tidak sadarkan diri?" Tanya David tanpa basa basi.
'Aku mendengar suara yang sangat familiar yaitu suara Karen tapi Karen tidak mengaku ketika Aku menanyakannya.' Ucap David dalam hati.
"Tiga orang wanita Tuan. Tapi Maaf Tuan, kami tidak mengenalnya karena mereka menggunakan topeng." Jawab salah satu anak buahnya.
"Tiga wanita? Pakai topeng?" tanya David mengulangi perkataan anak buahnya dengan wajah terkejut.
"Benar Tuan Muda David." jawab mereka dengan serempak.
"Maaf Tuan Muda David, tapi aku mendengar suaranya seperti suara Nyonya Karen yang tadi barusan keluar sama seperti nona yang menyelamatkan Tuan Muda David." Sambung salah satu anak buahnya.
"Iya benar, suaranya sama seperti suara Nyonya Muda. Saya masih hapal dengan suaranya." sambung anak buah lainnya.
"Ok. Sekarang kalian boleh kembali ke markas." ucap David.
"Baik Tuan Muda David." jawab mereka dengan serempak.
"Wanita yang tadi suruh datang ke sini." pinta David.
"Baik Tuan Muda David." jawab mereka dengan serempak.
Mereka semua pergi meninggalkan David seorang diri di ruang perawatan di mana wajah David tidak dapat di baca oleh anak buahnya atau orang yang melihatnya.