Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 12



"Dokumen apa ini? Hanya 2 saja yang benar dan sisanya salah semua. Michael hubungi wakil CEO!" Perintah David sambil menahan amarahnya.


"Baik Tuan Muda." Jawab Michael dengan patuh.


Michael menghubungi wakil ceo untuk datang ke ruangannya dan tidak berapa lama bunyi suara ketukan pintu di ruangan David. Michael berjalan menuju pintu dan membukanya.


Wakil ceo dengan wajah pias dan takut berjalan menuju ke tempat bosnya yang sedang duduk di kursi kebesarannya kemudian duduk berhadapan yang hanya dibatasi oleh meja.


"Ada apa Tuan Muda?" tanya wakil ceo.


David melempar semua dokumen ke wajah wakil ceo membuat dirinya mengepalkan ke dua tangannya di bawah meja sambil menahan rasa benci pada bosnya dan menampilkan wajahnya dengan berpura - pura tersenyum.


"Kamu itu orang kepercayaanku, tapi kenapa menyalah gunakan kepercayaan saya?" Tanya David dengan nada satu oktaf.


"A.. apa maksud Tuan Muda?" Tanya wakil ceo dengan nada terbata - bata.


"Semua dokumen ini hanya dua saja yang benar dan semuanya salah. Kamu bisa kerja tidak sih!!!" bentak David kembali.


"Maaf Tuan Muda, sekretaris saya masih baru nanti saya akan memintanya untuk menggantinya." Jawab wakil ceo.


"Berapa lama dia kerja?" tanya David dengan nada dingin.


"Satu bulan Tuan Muda." jawab wakil ceo.


"Apa satu bulan? Pecat dan ganti yang lebih pintar. Jangan di lihat dia cantik atau seksi yang penting bisa kerja. Pecat orang yang malas kerja karena perusahaan milikku tidak butuh orang pemalas atau pura - pura munafik." ucap David dengan nada tegas.


"Baik Tuan Muda." ucap wakil ceo dengan patuh.


"Suruh office boy meletakkan meja, kursi dan printer juga siapkan laptopnya!" perintah David.


"Baik Tuan Muda." jawab wakil ceo dengan patuh.


"Aku minta laporan satu bulan, sekarang!" perintah David.


"Baik Tuan Muda." jawab wakil ceo lagi.


"Pergilah!" usir David.


"Baik Tuan Muda, permisi." ucap wakil ceo sambil berdiri.


Wakil ceo itupun pergi meninggalkan mereka berdua dengan penuh dendam dan kebencian terhadap David. Hingga dua belas menit kemudian pintu di ketuk seseorang setelah dipersilakan masuk pintu ruangan khusus CEO di buka dengan lebar. Apa yang di minta oleh David semua datang yang terdiri meja, kursi, printer dan laptop.


"Michael kamu bantu mengerjakan dokumen ini!" perintah David.


"Baik Tuan Muda." jawab Michael dengan patuh.


Michael mengambil dokumen yang berserakan di lantai dan mengerjakan dokumen tersebut di meja yang baru disiapkan. Hingga tidak terasa waktunya makan siang.


"Tuan Muda ingin makan apa?" tanya Michael.


"Hubungi wanita itu untuk datang membawa makanan." Jawab David yang masih sibuk mengecek laporan satu bulan.


"Wanita yang mana Tuan Muda?" tanya Michael dengan wajah bingung.


"Siapa lagi kalau bukan Karen." Jawab David dengan nada kesal.


"Bukannya Nyonya Karen masih di rumah sakit, Tuan Muda?" tanya Michael dengan wajah bingung.


David menghembuskan nafasnya secara kasar kemudian menatap asisten Michael.


"Pesankan makanan seperti biasa." ucap David akhirnya.


"Baik Tuan Muda." jawab Michael.


Michael pun memesan makanan lewat online sedangkan David melanjutkan pekerjaan kembali. Tidak berapa lama terdengar suara pintu di ketuk. Michael membukanya dan seorang office boy datang membawa paper bag berisi makanan. Michael menerimanya dan menyiapkan makanan di atas meja dekat sofa.


"Maaf Tuan Muda, silahkan di makan." ucap Michael dengan nada sopan.


David berdiri dan berjalan menuju ke arah sofa dan duduk sambil mengambil makanan yang sudah disiapkan Michael begitupun dengan Michael. Mereka makan siang dengan duduk saling berhadapan dengan bosnya namun baru satu suap David menghentikan makanannya.


"Rasa masakannya beda dengan masakan Karen." ucap David sambil menghentikan makanannya.


Michael hanya bisa menghembuskan nafasnya dengan perlahan bersamaan terdengar suara ketukan pintu membuat Michael menghentikan makanannya kemudian berdiri.


"Tapi Tuan Muda, harus makan nanti Tuan Muda sakit." ucap Michael sambil membuka pintu ruangan CEO.


"Tapi rasanya beda kurang enak. Apa sih bumbunya kenapa rasanya beda? Apa Karen memberikan tambahan racun ke makananku makanya rasanya enak?" Tanya David dengan nada curiga.


"Anggap saja seperti itu Tuan Muda. Karena itu jangan makan masakan Nyonya Karen lagi dan sekarang makanlah Tuan Muda." ucap Michael dengan asal sambil menatap ke arah sekretaris dengan membawa dua paper bag.


"Maaf Tuan, ini ada kiriman seseorang." Ucap sekretaris tersebut sambil memberikan paper bag ke Michael.


"Dari siapa?" Tanya Michael penasaran sambil menerima dua paper bag tersebut.


"Katanya namanya ada di dalam paper bag." Jawab sekretaris tersebut.


"Ok. Sekarang pergilah!" Usir Michael sambil menutup pintu dengan rapat kemudian membalikkan badannya tanpa menunggu jawaban sekretaris tersebut.


"Dari siapa?" Tanya David yang melihat Michael berjalan ke arah dirinya.


"Kurang tahu Tuan, katanya nama pengirimnya ada di dalam paper bag." Jawab Michael sambil duduk di sofa.


"Sekarang Tuan makanlah nanti Tuan sakit." Ucap Michael sambil membuka paper bag pertama.


"Aku malas makan." Jawab David.


"Oh ya, kalau memang ada racunnya maka sebelum Aku makan masakan Karen, maka Aku akan memintanya untuk mencobanya satu persatu masakannya. Jika Dia tidak mau berarti aku di kasih racun dan Aku akan menyiksanya lebih sadis hingga dia meminta untuk di bunuh." ucap David sambil tersenyum menyeringai.


"Tuan Muda harus makan." ucap Michael yang tidak memperdulikan ucapan bosnya yang belum tentu benar sambil membaca selembar tulisan.


"Hah.. baiklah." jawab David dengan pasrah karena di paksa untuk makan.


David makan walau rasanya tidak sama dengan masakan Karen. Hanya beberapa suap David menghentikan makanannya. David meminum air mineral kemudian berjalan menuju ke kursi kebesarannya untuk melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk.


Michael hanya menghembuskan nafasnya perlahan kemudian membereskan makanan yang belum habis. Setelah selesai membereskan Michael mengambil kotak makanan tersebut.


"Siapa yang mengirim?" Tanya David kepo.


"Dokter Alesandra." Jawab Michael sambil membuka kotak makanan.


Aroma harum membuat Michael sangat lapar membuat Michael makan dengan lahap tanpa memperdulikan makanan yang tadi baru disantapnya dua suap sedangkan David sangat kesal karena istrinya tidak memasak untuk dirinya.


"Satu lagi, apakah dari dokter Alesandra?" Tanya David penasaran.


"Sebentar." Jawab Michael sambil meletakkan kotak makanan yang masih sisa setengah.


Michael membuka paper bag satunya kemudian mengambil kotak makanan dan tanpa sengaja dirinya membaca isi pesan tersebut.


"Apakah Tuan ingin tahu apa isi surat ini?" Tanya Michael sambil tersenyum.


"Paling dokter Alesandra menyatakan cinta padamu makanya mengirim makanannya dan mengajaknya untuk pergi kencan." Jawab David yang tidak heran banyak wanita yang mengejar Mereka karena ingin hidup dengan enak.


"Tuan Muda salah." Ucap Michael.


"Coba bacakan." pinta David penasaran.


"Buat suamiku yang paling tampan, Aku tahu pasti suamiku belum makan karena itu Aku buatkan masakan spesial buat suamiku agar semangat dalam bekerja."


"Jika suamiku tidak percaya denganku di dalam paper bag ada jarum perak dari sahabatku dokter Alesandra. Coba tusukkan ke salah satu masakan yang Aku buat dan masakan yang suamiku makan barusan."


"Jika jarum perak berwarna hitam berarti makanannya beracun tapi jika tidak hitam berarti makanannya tidak beracun. Ini juga berlaku untuk Kak Michael."


"Dari istrimu : Karen.


Michael langsung menatap ke arah David yang ternyata juga menatapnya. Michael yang penasaran meletakkan makanan buatan dokter Alesandra di atas meja kemudian mengambil jarum perak tersebut yang tersimpan di paper bag.


Michael meletakkan beberapa butir makanan ke dalam kotak penutup kemudian memasukkan jarum perak. David yang penasaran berjalan ke arah Michael dan duduk di sampingnya.


"Warna jarum peraknya tidak hitam berarti tidak ada racunnya." Ucap Michael.


"Coba makanan yang tadi Kamu pesan." Ucap David penasaran.


"Ok." Jawab Michael dengan singkat sambil memasukkan jarum perak ke arah kotak makanan yang tadi di pesannya.