
Leon menghubungi orang kepercayaannya untuk menangkap pria yang masih menatap ke arah gedung tempat di mana Alessandra dan Leon berada di butik dengan menggunakan teleskop.
Setelah selesai menghubungi anak buahnya, Leon menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku jasnya.
"Kak Leon tunggu di sini biarkan Aku menangkap pria itu." Ucap Alessandra sambil membalikkan badannya.
Grep
"Lebih baik Kita menunggu di sini saja." Ucap Leon sambil menahan tangan Alessandra.
"Tapi Aku penasaran siapa yang menyuruh pria itu." Ucap Alessandra.
"Tapi Aku tidak ingin Kamu terluka biarkan anak buahku yang menangkap pria itu." Ucap Leon.
Alessandra menghembuskan nafasnya dengan perlahan kemudian membalikkan badannya sambil berpikir.
"Aku ingin buang kecil." Ucap Alessandra.
"Baiklah." Jawab Leon tanpa curiga sedikitpun sambil melepaskan genggaman tangannya.
Alessandra kembali membalikkan badannya kemudian berjalan ke arah toilet hingga di depan pintu toilet Alessandra masuk ke dalam toilet.
"Adakah jurus menghilang tapi permanen?" Tanya Alessandra.
"Tentu saja ada."
"Kalau begitu Aku minta jurus menghilang." Ucap Alessandra.
"Pembelian Jurus menghilang berhasil, poin di potong sebanyak lima ratus lima puluh poin."
"Sebanyak itukah?" Tanya Alessandra dengan wajah terkejut.
"Dikarenakan Jurus menghilang merupakan permanen maka harga poinnya sangat mahal."
"Kalau tidak permanen?" Tanya Alessandra penasaran.
"Harganya lima ratus empat puluh sembilan poin."
Ctak
"Selisih satu poin mendingan permanen." ucap Alessandra dengan nada kesal sambil menyentil kening sistem yang berbentuk kucing.
"Sekali lagi menyentil kening ku ataupun menyakiti sistem maka poin yang sudah di dapat langsung hangus dan mulai dari awal."
"Hehehehe..." Tawa Alessandra.
"Tawa Nona sangat jelek."
"Biarin, sekarang Aku ingin menggunakan jurus menghilang di mana Aku berada tepat di belakang pria itu di mana Aku memakai pakaian seperti ninja." Ucap Alessandra dengan wajah serius.
"Oke."
Whushh
Tiba-tiba Alessandra menghilang dan kini berada tepat di belakang pria itu yang masih menunggu Alessandra dan Leon keluar dari butik tanpa menyadari kehadiran Alessandra, di mana Alessandra merupakan target dari pria tersebut.
"Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Alessandra.
Deg
Deg
Jantung pria itu berdetak kencang karena tiba-tiba mendengar suara seorang gadis yang berada tepat di belakangnya. Pria itu pun yang awalnya berbaring sambil memegang teleskop langsung bangun kemudian membalikkan badannya.
"Kamu siapa? Kenapa ada di sini?" Tanya pria itu tanpa menjawab pertanyaan Alessandra sambil mengarahkan pistol nya ke arah kening Alessandra.
"Kamu tidak perlu tahu siapa Aku tapi yang pasti Aku akan menangkapmu karena berniat jahat untuk menembak Nona Alessandra dan Tuan Leon." Ucap Alessandra sambil mengeluarkan ponselnya untuk merekam suara pria tersebut.
"Cihhhhh ... Mimpi bisa menangkap diriku karena yang ada Aku akan menembak mu. Oh ya darimana Nona tahu kalau Aku ingin menembak Nona Alessandra?" tanya Pria tersebut sambil menarik pelatuk di mana pistol tersebut menggunakan peredam suara.
"Sebelum Anda menembak diriku, Siapa yang menyuruhmu?" Tanya Alessandra.
"Baiklah karena sebentar lagi Nona mati karena Aku tembak maka Aku memberitahukan ke Nona kalau orang yang menyuruhku adalah dokter Bela." Jawab pria tersebut sambil membatalkannya untuk tidak menarik pelatuknya.
"Kenapa ingin menembak Nona Alessandra?" Tanya Alessandra pura-pura tidak tahu.
Alessandra sengaja menyamar menjadi orang lain karena jika tidak Leon dan pemilik butik akan curiga dan penyamarannya akan terbongkar. Karena tidak mungkin orang percaya kalau Alessandra menggunakan ilmu menghilang.
"Karena dokter Bela sangat mencintai Tuan Leon oleh sebab itu dokter Bela memintaku untuk menembak mati Nona Alessandra agar tidak menjadi penghalang nya." Jawab pria tersebut.
"Aku sudah menjawabnya dan sekarang terimalah kematian mu karena Aku ingin menembak mati Nona Alessandra." Ucap Pria tersebut sambil kembali menarik pelatuknya.
Dor