
Valen berjalan dengan perlahan agar dirinya bisa tahu di mana letak minyak yang tadi Valen letakkan namun Valen bingung karena sama sekali tidak ada minyak yang berada di anak tangga.
'Kenapa minyaknya tidak ada?' Tanya Valen karena dirinya hampir dekat dengan Alessandra.
'Tentu saja Aku sengaja menghilangkan minyaknya tapi untuk sementara karena setelah ini Kamu akan terjatuh.' Jawab Alessandra dalam hati.
"Kenapa jalannya lambat? Apakah Kamu lagi hamil? Atau takut jatuh?" Tanya Alessandra.
"Maaf." Ucap Valen sambil masih berjalan.
Valen melihat sama sekali tidak ada minyak membuat Valen bingung hingga akhirnya dirinya menghentikan langkahnya di depan Alessandra.
"Ini nampannya, Aku mau menemani Mommy." Ucap Alessandra sambil menyerahkan nampan yang berisi mangkok kosong dan gelas kosong.
"Baik Nyonya Muda." Ucap Valen patuh.
Valen menerima nampan tersebut kemudian membalikkan badannya. Valen kembali melihat di tiap anak tangga apakah ada minyak atau tidak karena Valen berpikir mungkin dirinya salah melihat sedangkan Alessandra hanya menatap Valen berjalan dengan langkah perlahan.
'Tepat ketika Valen menurunkan kakinya di anak tangga ada minyak membuat Valen terjatuh.' Ucap Alessandra dalam hati.
Ketika Valen menurunkan kakinya ke salah satu anak tangga tiba-tiba ada minyak yang tidak di lihat oleh Valen. Hal itu tentu membuat Valen ke pleset dan jatuh berguling bersamaan jatuhnya mangkok dan gelas kotor yang menimbulkan bunyi yang sangat keras.
"Akhhhhh..." teriak Valen
Prang
Wakil kepala pelayan yang mendengar suara teriakan bersamaan dengan bunyi suara yang keras seperti piring pecah berlari ke arah asal suara.
Wakil kepala pelayan terkejut dan matanya membulat sempurna melihat Valen tidur terlentang di lantai dengan darah yang keluar dari mulut, hidung dan dari kepalanya. Sedangkan Alessandra duduk di salah satu anak tangga sambil pura-pura meringis.
"Paman, perutku sakit." Ucap Alessandra sambil mengusap perutnya setengah berteriak.
"Baik Nyonya." Jawab wakil kepala pelayan dengan patuh.
Orang - orang yang mendengarnya langsung menuju ke arah tangga mereka semua terkejut tapi hanya satu gadis yang sangat kecewa karena temannya tidak berhasil mencelakai Alessandra malah temannya yang terjatuh.
Mommy Elisabeth yang mendengar suara menantunya dengan susah payah berjalan karena takut terjadi dengan menantunya. Di atas tangga Mommy Elisabeth terkejut dan matanya langsung membulat sempurna.
Mommy Elisabeth melihat Valen terkapar di lantai dengan darah yang keluar dari sekujur tubuhnya. Kemudian pandangannya beralih ke arah Alessandra di mana Alessandra duduk di salah satu anak tangga.
"Alessandra Kamu kenapa?'' Tanya Mommy Alessandra dengan nada kuatir.
''Perutku tidak enak Mom." Jawab Alessandra sambil mengusap perutnya.
'Maaf ya sayang, dengan cara seperti ini semua perhatian hanya ditujukan ke Aku.' Ucap Alessandra dalam hati.
'Giliran selanjutnya adalah Kamu.' Ucap Alessandra dalam hati sambil menatap gadis tersebut yang bersembunyi di balik tembok.
"Tolong angkat putriku." Ucap Mommy Elisabeth.
'Hilangkan minyak yang ada di anak tangga.' Ucap Alessandra dalam hati.
Tiba - tiba minyak yang ada di anak tangga menghilang entah kemana bersamaan wakil kepala pelayan berjalan ke arah anak tangga menuju ke arah Alessandra.
"Baik nyonya Besar." jawab wakil kepala pelayan dengan patuh sambil menggendong Alessandra.
"Kamu angkat Valen." Ucap Mommy Elisabeth sambil menatap ke salah satu pelayannya.
"Kita pergi ke rumah sakit." Ucap Mommy Elisabeth sambil menuruni anak tangga.
'Si*l, kenapa nyonya Alessandra tidak celaka? Kenapa malah Valen yang celaka? Haruskah Aku melanjutkan rencana jahatku untuk merebut suaminya?" tanya gadis tersebut dalam hati sambil menatap salah satu pelayan yang menggendong Valen.
Gadis tersebut melihat tubuh Valen mengeluarkan darah segar tanpa henti membuat pakaian milik pelayan terkena bercak darah.
'Aku tidak tahu apakah Valen baik - baik saja karena melihat lukanya sepertinya sangat parah.' ucap gadis tersebut dalam hati.