
"Sudah makan?" tanya dokter Karen dengan nada lembut seperti tidak terjadi apa - apa.
"Belum." Jawab David dengan singkat.
"Makanlah nanti sakit." Ucap dokter Karen dengan nada masih lembut.
"Kamu, Aku suapi dulu baru Aku mau makan." ucap David.
"Ok." jawab dokter Karen sambil tersenyum bahagia melihat perubahan David.
'Semoga saja sikapnya seperti ini terus.' Sambung dokter Karen dalam hati dan penuh harap.
David menyuapi dokter Karen dengan telaten hingga tidak terasa bubur nya habis tanpa sisa. Selesai dokter Karen makan, David mengambil piring yang sudah berisi nasi dan mengambil lauk di piring satunya lagi. David memakan makanan yang sudah dingin hingga habis karena David makan di temani oleh istrinya.
xxxx
Di tempat yang sama hanya berbeda ruangan di mana sepeninggal dokter Sandra, Federick keluar mencari dokter Sandra. Tapi sayang ketika bertemu dan ingin bicara dengan dokter Sandra ada pasien membuat Federick menunggu.
Setelah lama menunggu Federick ingin mengajaknya mengobrol kembali tapi lagi - lagi ada panggilan dari perawat di mana ada 2 orang pria yang tertembak sehingga dokter Sandra dan dokter Alesandra masuk ke ruangan operasi.
Setelah selesai operasi mereka berdua keluar dari ruang operasi, dokter Sandra dan dokter Alesandra berjalan ke ruangannya masing - masing. Federick langsung masuk ke ruangan dokter Sandra tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Federick melihat dokter Sandra menatapnya sekilas kemudian melanjutkan mengecek data pasien tanpa memperdulikan kehadirannya.
"Sandra, Aku ingin bicara denganmu." ucap Federick sambil duduk berhadapan dengan dokter Sandra yang hanya dibatasi oleh meja.
"Apa yang ingin dibicarakan?" tanya dokter Sandra dengan nada dingin tanpa menatap wajah Federick.
"Kenapa kamu jadi berubah?" tanya Federick terkejut dengan perubahan wajah dokter Sandra yang tiba - tiba.
"Tanyalah pada dirimu sendiri kenapa Aku berubah." Jawab dokter Sandra dengan nada sinis.
Dokter Sandra sangat kesal dengan ucapan Federick dan ketika Federick ingin bicara tiba - tiba pintu ruangan dokter Sandra di ketuk sebanyak 3 kali setelah mendapatkan jawaban barulah membuka pintunya.
"Maaf dok, ada empat pria terkena tembakan peluru." ucap perawat melaporkan apa yang terjadi.
"Siapkan ruang operasi, dokter Alesandra belum pulang?" tanya dokter Sandra dengan nada lembut berbeda ketika berbicara dengan Federick.
"Tadi mau pulang tapi tidak jadi karena menolong salah satu dari mereka." jawab perawat tersebut.
"Ok." jawab dokter Sandra dengan singkat sambil memakai pakaian khusus operasi.
Perawat itupun pamit dan pergi meninggalkan mereka berdua namun sebelumnya melirik ke arah Federick yang sedang menatap dokter Sandra.
'Pria itu sangat tampan, seandainya Aku menjadi kekasihnya alangkah bahagianya hatiku.' ucap perawat tersebut dalam hati.
"Aku ingin pergi, carilah wanita yang lebih baik dariku." ucap dokter Sandra dengan nada dingin.
Sambil berbicara dokter Sandra berjalan meninggalkan Federick sendiri tanpa menatapnya. Tapi tangan kanan Federick menarik tangan dokter Sandra agar tidak pergi. Tubuh dokter Sandra menabrak dada bidang Federick kemudian Federick memeluk dokter Sandra dari arah belakang.
"Kenapa sikapmu dingin padaku?" tanya Federick dengan nada lembut tanpa ada perasaan bersalah sedikitpun.
"Apa Tuan Muda Federick lupa dengan apa yang dikatakan waktu tadi di ruangan sahabatku Karen?" tanya dokter Sandra sambil menahan air matanya agar tidak keluar.
"Aku tidak lupa dan aku masih ingat. Memang salahku apa jika aku mengatakan itu? Lalu kenapa sekarang kamu memanggilku Tuan Muda Federick bukan honey?" tanya Federick sambil berpikir.
Rasa empati Federick sudah hilang sejak dirinya mengalami pengkhiatanan sehingga apa yang dikatakannya di anggap biasa saja tanpa tahu kalau perkataannya sangat melukai hati dokter Sandra yang paling dalam.
"Sudahlah lupakan saja Aku, Anggap saja kita tidak mengenal satu sama lain. Sekali lagi carilah wanita lain, maaf Aku harus pergi." ucap dokter Sandra dengan nada dingin.
Sambil berbicara dokter Sandra melepaskan tangan Federick dari pelukannya kemudian meninggalkan Federick sendiri di ruangannya.
"Apa lupakan? Tidak... Tidak... Apa yang menjadi milikku akan selamanya menjadi milikku." ucap Federick sambil tersenyum menyeringai.
Federick ikut keluar dari ruangan dokter Sandra dan pulang ke mansion karena ada pekerjaan yang menantinya.
Kini Federick sudah sampai di mansion dan bertemu kepala pelayan di mana berdiri saling berhadapan.
"Di mana pelayan itu?" tanya Federick dengan nada dingin.
"Ada di gudang Tuan Muda." Jawab Kepala Pelayan.
Federick langsung melangkahkan kaki nya ke tempat gudang hingga Federick melihat pelayan itu sedang di ikat di kursi dengan kedua kaki dan ke dua tangannya. Tubuh pelayan tersebut sudah polos tanpa sehelai benang pun dengan wajah sangat ketakutan, rambut acak - acakkan dan tidak berhenti menangis.
"Tuan Muda Federick tolong Aku ..... Hiks ... Hiks ... Hiks ...?" ucap pelayan tersebut sambil terisak.
"Siapa yang melakukannya?" tanya Federick tanpa memperdulikan keadaan gadis itu dan menjawab ucapan gadis itu.
"Maafkan kami Tuan Muda, ketika Kepala Pelayan menyerahkan pelayan ini ke kami untuk di bawa ke gudang. Pelayan ini berusaha untuk melepaskan diri dan tidak mau di ikat. Katanya Dia di suruh Tuan Muda Federick untuk masuk ke kamar Tuan Muda Federick." Jawab salah satu bodyguardnya dengan tubuh gemetaran.
"Lalu?" tanya Federick lagi.
"Kami terpaksa menyeretnya tapi pelayan itu memberontak dan tidak sengaja pakaiannya tersobek oleh salah satu dari kami dan memperlihatkan dua gunung kembarnya yang masih tertutup. Hal itu membuat adik kecil kami menjadi tegang." Jawab salah satu bodyguard dengan tubuh masih gemetar.
"Kami berusaha untuk menahannya tapi pelayan ini memberontak terus karena kami kesal kami melakukan secara bersama - sama agar pelayan itu diam." sambung bodyguard lainnya yang juga ikut gemetar.
"Saat ini Aku maafkan tapi lain kali tidak akan Aku maafkan. Ingat jika Aku suruh bawa ke ruangan pribadiku bawa langsung ke gudang ini dan jangan di sentuh cukup di ikat saja." ucap Federick dengan nada dingin.
"Baik Tuan Muda Federick." jawab mereka dengan serempak.
Federick berjalan menuju ke lab yang berdekatan dengan gudang kemudian mulai membuat obat untuk penyembuhan dokter Karen. Setelah setengah jam obatnya sudah jadi, Federick menyimpannya di dalam lemari khusus penyimpanan obat.
Kemudian Federick mengambil dua botol dari dalam lemari satunya khusus obat beracun lalu mengambil juga beberapa alat suntik untuk digunakan sebagai bahan percobaan.
Federick berjalan dengan santai menuju ke arah gudang di mana pelayan itu sedang terduduk sangat lemas karena melayani empat pria sampai empat pria itu puas.
Federick meletakkan dua botol dan dua suntikan ke atas meja kemudian mengambil satu botol dan satu suntikan. Suntikan itu dimasukkan ke dalam botol untuk mengambil isinya setelah suntikan itu berisi obat ramuan, Federick berjalan mendekati pelayan itu.
"Kandungan dalam suntikan ini berisi racun dan seandainya kamu hamil dari salah satu bodyguardku maka kamu akan sering mengalami pendarahan dan jika kamu melahirkan maka kamu akan mati." ucap Federick menjelaskan ke pelayan itu dengan nada santai.
"Kamu gila, kamu... kamu... seorang psycopath." ucap pelayan itu dengan nada lirih.
"Benar sekali ternyata kamu pintar juga." ucap Federick dengan nada santai.
Federick menyuntikkan ke lengan gadis itu tanpa punya rasa empati sama sekali. Demi uang yang berlimpah dia rela melakukan apapun sehingga membuatnya tega melakukan perbuatan yang bisa saja pelayan itu mati tersiksa akibat ramuan beracun yang di buatnya. Federick selalu menguji coba ke orang lain atau ke binatang untuk mengetahui efek obatnya.
Setelah selesai Federick menunggu reaksinya selama setengah jam. Setengah jam kemudian Federick mengambil suntikkan yang baru untuk di ambil darah pelayan itu.
"Aku ambil darahmu buat aku cek." ucap Federick dengan nada santai sambil menyuntikkan ke lengan pelayan itu untuk di ambil darahnya.
Setelah selesai Federick berjalan kembali ke lab untuk memeriksa darah pelayan tersebut tanpa memperdulikan keadaan pelayan yang sangat mengenaskan.
"Ternyata racun Nyonya Karen sama racun di tubuh pelayan itu berbeda. Lebih ganas punya Nyonya Karen. Sepertinya Aku perlu bikin racun yang sama seperti seseorang yang memberi racun ke makanan dan minuman kemudian bisa Aku promosikan ke orang - orang yang biasa membeli racunku." ucap Federick sambil berpikir.
Federick mulai membuat racun yang sama setelah 15 menit Federick berhasil membuatnya. Federick menyuntikkan racun ke lengan pelayan itu dan tidak berapa lama pelayan itu mengeluarkan darah dari hidung dan mulutnya. Federick dengan santai menyuntikkan kembali untuk mengambil darah pelayan itu.
"Berikan gadis ini obat agar tidak lekas mati. Aku tidak perduli bagaimana caranya obat ini harus di minum." Ucap Frederick sambil memberikan sebutir obat ke salah satu bodyguardnya.
Bodyguard itu pun menerima obat dari Federick kemudian Federick berjalan ke arah lab yang tidak boleh di masukin oleh siapapun. Federick mulai memeriksanya dan setelah agak lama Federick mulai membuat ramuan obatnya.
Federick mengambil suntikkan baru bersama ramuan yang di buatnya untuk di suntikkan ke pelayan itu. Federick melihat gadis itu memejamkan matanya dan darah dari hidung dan mulut tidak berhenti keluar. Federick memberikan suntikan kembali dan menunggu hasilnya selama satu jam.
"Lepaskan ikatan ke dua tangan dan kakinya dan baringkan dia di lantai." ucap Federick dengan nada dingin.
"Baik Tuan Muda." jawab mereka dengan serempak.
'Kalau tidak ingat gaji yang sangat tinggi, Aku tidak mau kerja di tempat mengerikan seperti ini.' ucap para bodyguard dengan serempak dalam hati.
'Semoga saja Nona yang waktu itu datang bisa merubah sifat Tuan Muda.' Ucap Kepala Pelayan dalam hati sambil melihat apa yang dilakukan oleh Federick tanpa ada perasaan empati sedikitpun terhadap pelayan tersebut.