
"Uhuk ... Uhuk ... Uhuk ..."
Dokter Karen terbatuk - batuk sambil matanya menatap sendu ke arah David.
"Aku tidak mungkin membunuh anak kita honey. Walau apapun yang terjadi dengan diriku anak ini akan tetap lahir. Aku sangat mencintaimu honey begitu pula dengan anak kita tapi apakah honey tidak lupa jika honey membuat surat perjanjian kalau setelah 3 tahun honey akan menceraikan Aku dan menikah dengan wanita lain?" Tanya dokter Karen.
"Lupakan surat perjanjian itu dan nanti Aku akan merobeknya. Aku pegang janjimu untuk tidak menggugurkan anak kita." ucap David sambil menatap tajam ke arah istrinya.
"Aku janji honey apapun yang terjadi padaku nantinya Aku akan tetap mempertahankan anak kita." Jawab dokter Karen.
"Aku pegang janjimu." ucap David mengulangi perkataannya.
"Iya honey, walau taruhannya nyawaku, Aku akan tetap mempertahankannya." ucap dokter Karen sambil menatap mata David dengan tatapan sendu.
David memalingkan wajahnya ke arah lain membuat mata dokter Karen berkaca - kaca.
'Honey percayalah padaku, jika seandainya ada dua pilihan Aku atau anak kita yang diselamatkan maka Aku akan tetap memilih anak kita." ucap dokter Karen dalam hati.
Dokter Karen memejamkan matanya agar air matanya tidak keluar sambil mengelus perutnya yang masih rata.
"Ingatlah jika seandainya suatu saat nanti ada dua pilihan kamu atau anak kita yang perlu diselamatkan maka Aku akan tetap memilih anak kita." ucap David sambil meninggalkan dokter Karen.
"Tanpa honey minta Aku juga akan melakukan hal yang sama dan Aku harap jika Aku nanti tiada nanti honey menemukan seseorang yang lebih baik dariku dan mencintai anak kita seperti anak kandungnya." ucap dokter Karen sambil membuka matanya dan tidak terasa air matanya keluar.
"Tentu saja jika wanita itu tidak mencintai anakku maka Aku tidak akan segan untuk membunuhnya." ucap David sambil mendorong pintu kamar perawatan dan meninggalkan dokter Karen sendirian.
"Hiks... hiks... Sayang kamu yang kuat ya. Daddy sangat mencintaimu jangan membenci Daddy karena Mommy tidak suka." ucap dokter Karen sambil terisak.
Dokter Karen memejamkan matanya untuk melupakan kepedihan hatinya hingga tidak terasa tertidur dengan pulas. Tanpa sepengetahuan mereka kalau dokter Alesandra dan sistem melihat dari awal hingga dokter Karen tidur dengan pulas.
"Baik Tuan David, sesuai keinginanmu Aku akan membawa Karen pergi dari kehidupanmu sampai Tuan David benar - benar menyesali perbuatannya." Ucap dokter Alesandra sambil menahan amarahnya terhadap David.
"Nona, yakin akan membawa pergi Nona Karen dan Nona Sandra dari kehidupan mereka?"
"Tentu saja karena Kak David, Kak Federick dan Kak Michael harus merasakan bagaimana rasanya kehilangan orang - orang yang dicintainya." Jawab dokter Alesandra.
Dokter Alesandra sangat kesal dengan ketiga pria tampan tersebut padahal dokter Alesandra, dokter Karen dan dokter Sandra sangat tulus mencintai pasangan masing - masing. Selain itu rela mengorbankan nyawanya demi orang yang dicintainya namun balasannya sangat menyakitkan.
Sistem tersebut hanya terdiam kemudian menghilang dari ruang perawatan begitu pula dengan dokter Alesandra.
xxxxxxx
Di tempat yang berbeda di mana Michael duduk menunggu dokter Alesandra yang masih berada di ruang operasi yang tidak begitu jauh dengan ruang perawatan di mana dokter Karen di rawat.
Ketika pintu ruang perawatan dokter Karen terbuka membuat Michael memalingkan wajahnya ke arah samping dan melihat David keluar dari ruang perawatan dengan wajah yang sulit di tebak.
David melihat Michael duduk di depan pintu operasi membuat David berjalan ke arah Michael kemudian duduk di sebelah Michael.
"Ada apa tuan?" tanya Michael penasaran.
"Aku hampir saja membunuhnya?" Jawab David.
"Kenapa?" Tanya Michael dengan wajah bingung sekaligus terkejut.
David pun menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutup - tutupi sedangkan Michael dengan setia mendengarkan cerita David.
"Tuan bolehkah aku kasih saran?" tanya Michael agak takut jika David marah.
"Apa itu?" tanya David penasaran.
"Nyonya Karen sekarang sedang hamil, berusahalah untuk menahan amarah agar tidak menyiksa Nyonya Karen karena bisa membahayakan anak Tuan dan Nyonya yang ada di kandungan Nyonya Karen seperti kejadian tadi di ruangan meja makan." ucap Michael.
"Jika memang Tuan Muda menginginkan anak dari rahim Nyonya Karen jangan siksa lagi sudah cukup yang terakhir Tuan Muda lakukan. Jika Tuan Muda tidak bisa menahannya pergilah dan tinggalkan Nyonya Karen sendiri, seperti saat ini." Sambung Michael.
"Aku akan mencobanya." ucap David.
"Jangan mencobanya tapi Tuan Muda harus melakukan hal itu. Jika Tuan Muda tetap menyiksanya maka Tuan Muda harus bersiap kehilangan ke duanya baik Nyonya Karen dan anak Tuan Muda yang belum sempat dilahirkan." ucap Michael.
David menatap tajam ke arah Michael karena dirinya tidak suka Michael mengatakan seperti itu.
"Tuan tadi tidak dengar apa kata dokter tadi? Kalau kita terlambat mengantarkan Nyonya Karen maka bisa saja Nyonya Karen dan janinnya tidak selamat." Ucap Michael.
"Untung rumah sakitnya dekat tapi kalau jauh, apa Tuan Muda siap jika seandainya Nyonya Karen dan bayinya pergi untuk selamanya?" Tanya Michael.
David terdiam dan mencerna semua perkataan Michael sambil mengusap wajahnya dengan kasar lalu berdiri.
"Terima kasih atas nasehatnya, Aku akan belajar untuk bersabar." ucap David sambil berjalan ke ruang perawatan VVIP tempat dokter Karen di rawat.
Michael hanya menganggukkan kepalanya dan melihat David yang berjalan ke ruang perawatan dan tidak berapa lama pintu ruang operasi di buka membuat Michael memalingkan wajahnya.
Michael melihat dokter Alesandra keluar dan menemui pasangan suami istri tersebut. Suami istri tersebut bercakap-cakap dengan dokter Alesandra setelah selesai mengobrol dokter Alesandra berjalan ke arah Michael sambil berbicara dengan perawat.
"Dokter jam 2 siang nanti ada jadwal operasi dan jam 4 ada jadwal meating laporan akhir bulan." ucap perawat itu melaporkan kegiatan jadwal dokter Alesandra.
"Berarti aku masih ada waktu 2 jam untuk istirahat." ucap dokter Alesandra sambil melihat jam tangannya yang mahal.
"Oh ya maaf dok, sekarang cek pasien nona Florence." ucap perawat itu.
"Bukankah sudah di periksa oleh dokter jaga?" tanya dokter Alesandra sambil melewati Michael yang sedang menunggu dirinya.
"Keluarga pasien tidak bersedia karena ingin dokter Alesandra yang memeriksa dan sepertinya kakaknya pasien suka sama dokter." Jawab perawat tersebut.
"Bisa saja kamu, Sus. Pria tampan seperti itu pasti sudah mempunyai kekasih." ucap dokter Alesandra sambil menghentikan langkahnya.
Dokter Alesandra tidak memperdulikan keberadaan Michael di mana Michael berada di samping kirinya sedangkan Michael hanya menatap dokter Alesandra dengan wajah berubah menahan rasa cemburu.
"Tapi dari tatapan matanya menggambarkan kalau pria tampan itu suka dengan dokter." ucap perawat itu.
"Pffftttt... Hahahaha...lucu kamu, Sus... Sudahlah, Aku ingin memeriksa pasien dulu setelah itu Aku ingin istirahat." ucap dokter Alesandra sambil tertawa lepas membuat Michael tersenyum senang melihat dokter Alesandra tertawa lepas terlihat tambah cantik.
Dokter Alesandra yang diperhatikan terus oleh Michael membuat dokter Alesandra menghentikan langkahnya kemudian memalingkan wajahnya ke arah samping kiri.
"Kamu ngapain ke sini?" Tanya dokter Alesandra dengan nada ketus.
"Apakah rumah sakit ini milikmu?" tanya Michael dengan nada yang sama ketusnya.
"Bukan." Jawab dokter Alesandra dengan singkat.
"Ya sudah. Terserah Aku donk." ucap Michael.
"Maaf Dok dan Tuan Muda, Saya permisi dulu." pamit perawat tersebut mengundurkan diri yang tidak ingin ikut campur.
"Tidak kita pergi periksa pasien." ucap dokter Alesandra yang enggan bicara dengan Michael.
"Tuan ini?" tanya perawat itu dengan wajah bingung.
"Tidak penting. Ayo kita pergi karena suasana di sini sangat panas membuatku tidak betah." ucap dokter Alesandra dengan nada menyindir.
"Apa maksudmu?" tanya Michael dengan nada kesal.
"Pikir saja sendiri, ayo suster kita pergi dari sini." ucap dokter Alesandra sambil menarik tangan perawat.
Perawat itupun pergi mengikuti dokter Alesandra ke ruang perawatan meninggalkan Michael sendiri.
'Si*l, biasanya semua wanita tergila - gila padaku bahkan ada yang menyerahkan tubuhnya tanpa Aku minta. Tapi aku selalu menolaknya dan sering Aku memuti***i tubuhnya kalau mereka memaksaku untuk melakukan nya tapi wanita ini malah biasa saja. Tidak terpesona pada diriku, apa pesona Michael sudah hilang?' tanya Michael dalah hati pada dirinya sendiri.