
"Maaf Tuan, kata Nona Alesandra nanti Tuan Muda David dan Tuan Michael akan datang ke rumah sakit karena itulah meminta kami untuk membawanya ke sini." Jawab salah satu bodyguard tersebut.
"Apakah ada lagi yang dikatakan oleh Alesandra?" Tanya Michael.
"Nona Alesandra mengatakan rantang warna biru muda untuk Tuan Muda David sedangkan warna biru tua untuk Tuan Muda Michael. Seperti yang Tuan Muda David dan Tuan Michael pegang." Jawab bodyguard tersebut.
"Selain itu?" Tanya Michael.
"Maaf Tuan tidak ada." Jawab bodyguard tersebut.
"Sekarang pergilah!" Usir Michael karena melihat David duduk sambil mengambil amplop kecil yang di tempel di rantang.
"Baik Tuan." Jawab bodyguard tersebut.
Ke dua bodyguard tersebut menundukkan kepalanya kemudian pergi meninggalkan tempat tersebut sedangkan Michael duduk sambil mengambil amplop kecil yang menempel di rantang kemudian membacanya.
Untuk : Kak Michael
Seperti yang Aku katakan waktu itu kalau Aku bisa memprediksi masa depan. Seperti saat ini di mana ketika kami dalam perjalanan menuju ke perusahaan Kak David ada dua mobil yang ingin membunuh kami.
Karena itulah Aku menitip dua rantang ke dua bodyguard agar di kirim ke rumah sakit. Aku mohon makanlah masakan yang Aku buat dengan penuh cinta.
Aku tidak tahu apakah Aku bisa memasak lagi untuk Kak Michael atau tidak karena di saat tembakkan itu Aku melihat diriku terluka parah antara hidup dan mati.
Jika ternyata Aku tiada maka Aku hanya berharap agar Kak Michael dapat menemukan orang yang lebih baik dariku.
I Love You,
Alesandra
Tidak berapa lama tulisan tersebut memudar bersamaan kertas kecil tersebut perlahan menghilang membuat Michael sangat terkejut.
'Kenapa bisa seperti ini?' Tanya Michael dalam hati.
Ketika Michael ingin berbicara dengan David bersamaan pintu UGD di buka oleh seseorang membuat David dan Michael menatap ke arah pintu. Seorang dokter keluar dari ruangan ugd membuat David dan Michael langsung berdiri dan berjalan ke arah dokter tersebut.
"Dokter, bagaimana keadaan istri dan anak yang berada di kandungan istriku?" tanya David dengan nada kuatir.
Dokter tersebut menghembuskan nafasnya dengan berat kemudian menatap wajah David.
"Maaf Tuan. Tuan harus memilih tetap mempertahankan janinnya dengan resiko keduanya tidak bisa diselamatkan atau menggugurkan kandungannya dan istri Tuan selamat karena ini sudah ke dua kalinya istri Tuan mengalami pendarahan." jawab dokter tersebut dengan nada berat.
David memejamkan matanya sambil menghembuskan nafasnya dengan kasar kemudian membuka matanya. Pilihan sulit yang harus David pilih terlebih istrinya berpesan ke David untuk mempertahankan anak mereka walau apapun yang terjadi.
"Lakukan yang terbaik dokter jika memang harus digugurkan tidak apa-apa asalkan istriku selamat." jawab David dan tanpa sadar air matanya mengalir deras.
'Maaf Sayang, Aku tidak bisa memilih anak kita karena Aku tidak bisa kehilanganmu.' Sambung David dalam hati.
"Baik Tuan." jawab dokter tersebut.
"Bagaimana keadaan Alesandra?" Tanya Michael dengan wajah kuatir.
"Dua luka tembak membuat Nona Alesandra mengalami kritis dan mengakibatkan koma. Sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang ICU." Jawab dokter tersebut.
'Seandainya Aku berbicara dengan lembut dan tidak memakinya pasti kejadian ini tidak akan terjadi.' Ucap Michael dalam hati.
"Maaf Tuan - Tuan, saya ingin mengecek pasien lainnya." Pamit dokter tersebut.
Michael hanya menganggukkan kepalanya kemudian dokter tersebut masuk ke dalam ruang UGD untuk mengecek pasien lainnya.
Tiba - tiba tubuh David langsung lemas seperti tidak bertulang membuat David duduk di lantai. Michael yang melihatnya langsung berdiri dan mengangkat tubuh David agar duduk di kursi.
"Apakah keputusanku sudah tepat Michael?" tanya David dengan suara tercekat.
"Iya Tuan, karena nyawa David dalam bahaya." ucap Michael tanpa sadar air matanya ikut keluar di tambah dirinya sangat sedih ketika mengetahui dokter Alesandra mengalami koma.
"Aku sangat menginginkan kehadiran seorang anak tapi Aku tidak bisa kehilangan istriku karena Aku sangat mencintai istriku." ucap David sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Saya tahu Tuan. Aku juga ikut sedih karena Nyonya David sudah Aku anggap sebagai saudaraku. Aku juga ingin menggendong ponakan Tuan. Pasti anak Tuan dan Nyonya kalau laki-laki pasti tampan dan kalau perempuan pasti cantik seperti Nyonya Karen." ucap Michael.
"Apakah Federick sudah ditemukan?" tanya David mengalihkan pembicaraan.
"Belum ada kabarnya Tuan. Saya sudah menghubungi teman - temanku tapi katanya sudah lama kehilangan kontak." jawab Michael.
"Berusahalah lagi untuk mencarinya." ucap David.
"Baik Tuan." Jawab Michael.
"Bagaimana dengan pria itu? Apakah Dia sudah mengaku siapa yang menyuruhnya?" tanya David dengan nada dingin.
"Pria itu tidak mau mengaku Tuan." Jawab Michael.
"Kita akan ke sana setelah dokter keluar dari ruangan ugd untuk memberitahukan keadaan istriku." ucap David.
"Baik Tuan." jawab Michael dengan patuh.
Setelah itu mereka tidak ada percakapan lagi, mereka sama - sama diam sambil menunggu kabar dari dokter tersebut.
xxxxxxx
Di Tempat Yang Berbeda
"Hallo Tuan, delapan orang yang kita suruh untuk membunuh istri Tuan David dan kekasih Tuan Michael tidak berhasil." ucap salah satu anak buahnya dengan nada ketakutan.
"Apa?? Kenapa bisa?" tanya pria paruh baya dengan nada kesal.
"Tuan David dan Tuan Michael datang tepat waktu dan menembak tujuh anak buah Tuan." lapor anak buahnya.
'Gawat kalau anak buahku mengaku yang ada Aku bisa mati dibunuh Tuan David seperti yang terjadi dengan putriku.' Ucap pria paruh baya tersebut.
xxxxxxxxxxxxxxxxxxxxx