Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 61



Tidak berapa lama pintu ruangan terbuka oleh dokter yang menangani dokter Karen. David dan Michael langsung berjalan mendekati dokter tersebut dengan perasaan takut.


"Dokter, bagaimana dengan kandungan istriku?" tanya David tanpa menanyakan keadaan istrinya.


"Kandungannya syukurlah sangat kuat jadi bisa diselamatkan tapi tidak tahu jika nanti jika mengalami pendarahan lagi, karena Nyonya Karen sudah dua kali mengalami pendarahan." Jawab dokter tersebut.


"Jangan membuatnya stress karena bisa membahayakan kandungannya." Sambung dokter tersebut memberikan penjelasan ke David.


"Boleh Aku melihat istriku dokter?" Tanya David dengan nada dingin tanpa memperdulikan ucapan dokter tersebut.


"Silahkan dan untuk sementara Nyonya Karen sedang tidur karena efek obat biusnya." Jawab dokter itu.


"Baik dok." jawab David dengan nada dingin dan berwajah datar.


David berjalan ke arah pintu ruang perawatan dan membukanya hingga David melihat istrinya sedang berbaring di ranjang bersama dokter Alesandra yang berdiri menatap ke arah dokter Karen.


David berjalan ke arah ranjang dan duduk di kursi di samping ranjang berhadapan dengan dokter Alesandra yang hanya dibatasi oleh ranjang dokter Karen.


"Kak David, bolehkah Aku meminta satu hal darimu?" Tanya dokter Alesandra sambil menatap wajah David.


"Apa itu?" tanya David dengan nada dingin


"Aku mohon gugurkan kandungan Karen agar Federick bisa memberikan obat penawarnya setelah Karen sembuh kalian kan nanti bisa membuatnya lagi." Jawab dokter Alesandra.


'Maaf terpaksa Aku berbohong karena sebenarnya kandungannya sudah kuat hanya saja Aku memberikan kesempatan kedua. Jika jawabannya sama maka jangan salahkan kami meninggalkan kalian untuk sementara waktu.' Sambung dokter Alesandra dalam hati.


"Walau apapun yang terjadi tidak akan Aku gugurkan. Ini urusan rumah tanggaku jadi, apa hakmu menyuruhku untuk melakukan itu?" Tanya David sambil menatap tajam ke arah dokter Alesandra.


"Aku juga tahu dan maaf kalau Aku ikut campur. Hanya saja apakah Tuan David sudah siap? Jika suatu saat nanti Karen melahirkan seorang anak tapi nyawanya tidak tertolong dan meninggalkan Tuan David dan anaknya yang sudah dilahirkan?" tanya dokter Alesandra sambil membalas tatapan tajam ke arah David karena dirinya tidak merasa takut sedikitpun.


Dokter Alesandra yang sangat kesal melihat David yang egois mengubah panggilan yang awalnya nama saja berubah menjadi Tuan David.


'Jika saja seandainya menjawab Kak David memilih Karen maka Aku tidak akan memisahkan kalian.' Ucap dokter Alesandra dalam hati.


'Aku terpaksa melakukan ini agar kalian bertiga lebih menghargai perasaan wanita yang kalian cintai. Hanya dengan cara seperti ini barulah kalian menyadari akan kesalahan kalian dan bisa merubah sifat kalian.' Sambung dokter Alesandra dalam hati.


"Aku sangat yakin pasti ada obatnya, jadi istriku dan anakkku pasti akan selamat." ucap David merasa yakin dengan keputusannya.


Dokter Alesandra hanya menghembuskan nafasnya perlahan sambil memejamkan matanya mengatur emosinya. Setelah dirinya merasa tenang dokter Alesandra membuka matanya dan menatap David kembali.


"Terserah Tuan David." Ucap dokter Alesandra.


"Jika suatu saat nanti hal itu terjadi dengan istri Tuan Muda, jangan pernah menyesali keputusannya." ucap dokter Alesandra sambil berjalan meninggalkan David dan dokter Karen yang masih memejamkan matanya.


"Aku tidak akan menyesal sedikitpun." ucap David dengan nada dingin dan tegas.


Dokter Alesandra hanya diam dan dalam hatinya akan melakukan rencananya terlebih musuh sudah mulai mengincar dirinya dan dokter Karen belum lagi musuh dari Federick yang mengincar nyawa dokter Sandra.


Kejadian beberapa jam yang lalu di mana ada mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi nyaris menabrak dokter Alesandra adalah orang suruhan yang menginginkan nyawanya. Dokter Alesandra sengaja tidak menghukum orang tersebut karena dokter Alesandra ada rencana tersendiri.


Dokter Alesandra membuka pintu ruang perawatan dan menutupnya kembali dengan rapat karena hari ini ada jadwal operasi.


David menatap wajah dokter Karen yang pucat seperti kapas dan hatinya merasakan sakit karena melihat istrinya sakit dan berbaring tidak berdaya tapi perasaan itu segera ditepisnya. Perlahan dokter Karen membuka matanya dan melihat suaminya dengan tatapan sayu.


"Honey.." panggil dokter Karen lirih tapi masih terdengar jelas oleh David.


"Iya sayang ada apa?" tanya David sambil membelai rambut dokter Karen dengan lembut.


"Aku haus honey." jawab dokter Karen.


"Sebentar sayang." Ucap David.


David mengambil gelas yang sudah ada sedotan dan diberikan ke dokter Karen. Dokter Karen meminumnya hingga menyisakan setengah gelas, setelah selesai minum David meletakkan kembali gelasnya ke atas meja dekat ranjang.


"Ada yang sakit?" tanya David sambil menatap wajah cantik istrinya.


"Tidak ada honey hanya saja Aku ingin.." ucap dokter Karen menggantungkan kalimatnya.


"Ingin apa?" tanya David penasaran.


"Aku ingin makan macaroni panggang buatan honey." ucap dokter Karen sambil menutup matanya karena takut jika suaminya tidak bersedia untuk membuatkan makanan yang dimintanya.


"Baik sayang, Aku akan membuatnya khusus untukmu." ucap David sambil membelai rambut istrinya dengan lembut.


"Terima kasih honey." jawab dokter Karen sambil membuka matanya dan tersenyum menatap wajah tampan suaminya.


David hanya tersenyum dan berdiri meninggalkan dokter Karen sendiri di ruang perawatan VVIP. Dokter Karen menatap punggung suaminya hingga menghilang di balik pintu.


"Honey, Aku akan mempertahankan anak kita walau taruhannya adalah nyawaku. Mungkin dengan kematianku bisa membuat kebencian honey pada keluargaku berkurang." ucap dokter Karen dengan nada lirih.


"Anak Mommy, jika Mommy tiada kamu sayang sama Daddy ya? Karena Daddy sangat sayang dan sangat mencintaimu. Mommy akan merekam semua momen Mommy dan Daddy agar kamu bisa melihatnya jika nanti kamu sudah besar." ucap dokter Karen sambil membelai perutnya yang masih rata.


Ketika dokter Karen masih memejamkan matanya dokter Karen mendengar percakapan sahabatnya dengan suaminya hingga dokter Alesandra pergi meninggalkan ruang perawatan.


Dokter Karen pun memejamkan matanya sambil menunggu kedatangan suaminya yang sedang memasak untuk dirinya.


Satu Jam Kemudian


Pintu ruang perawatan terbuka David membawa nampan yang berisi 4 cup macaroni panggang sambil berjalan ke arah istrinya. David melihat istrinya masih tertidur dengan pulas membuat David memandangi macaroni panggang yang masih panas kemudian meletakkannya di atas meja dekat ranjang istrinya.


Bau harum macaroni panggang membuat dokter Karen membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya sambil tersenyum.


"Honey, bau macaroni panggang membuatku lapar." ucap dokter Karen.


"Iya sayang, semoga sayangku suka." jawab David.


David mengambil 1 macaroni panggang dan menyuapi dokter Karen sambil meniupnya karena masih panas. Sesendok demi sesendok David menyuapi dokter Karen hingga habis satu cup tanpa sisa.


David membuang tempat cup tersebut ke tong sampah yang ada di dekat ranjang kemudian mengambil gelas berisi air mineral. Selesai minum David meletakkan kembali gelas tersebut.


"Sayang masih mau lagi?" tanya David dengan nada lembut.


"Mau lagi honey." jawab dokter Karen sambil tersenyum.


Davidpun kembali menyuapi dokter Karen dengan telaten hingga habis dan tidak terasa akhirnya dokter Karen menghabiskan 3 cup macaroni panggang.


"Ini macaroni panggang yang terakhir makan ya?" pinta David sambil membawa macaroni panggang yang ke 4.


"Honey, Aku sudah kenyang. Apakah honey mau memakannya?" tanya dokter Karen dengan nada lembut.


"Tidak sayang, ini buatmu saja?" ucap David sambil meletakkan kembali panggang makaroni di atas meja dekat ranjang.


"Honey tidak makan?" tanya dokter Karen.


"Aku belum lapar makannya nanti kalau Aku lapar." Jawab David.


Dokter Karen hanya menganggukkan kepalanya tanda mengerti sedangkan David hanya tersenyum sambil membelai perut dokter Karen yang masih rata kemudian mengecup perutnya.


"Anak kesayangan Daddy yang kuat ya? Jangan membuat Mommy kelelahan." ucap David.


"Baik daddy." Jawab dokter Karen menirukan suara anak kecil.


David tersenyum mendengar ucapan istrinya membuat dokter Karen ikut tersenyum.


"Sekarang tidurlah lagi biar cepat sembuh. Aku akan melanjutkan pekerjaanku." ucap David sambil merapikan selimut dokter Karen.


Dokter Karen hanya tersenyum dan mulai memejamkan matanya sedangkan David duduk di sofa sambil melanjutkan pekerjaan kantor lewat laptopnya.


xxxxxxx


Di Kota Terpencil


Di tempat yang berbeda dimana seorang pria paruh baya menerima telepon dari anak buahnya yang melaporkan tugas yang diperintahkan oleh pria paruh baya tersebut.


("Apa kamu gagal menabrak dokter Alesandra dan Michael? Dasar bodoh... bodoh... padahal itu kesempatan bagus. Lain kali jangan sampai gagal." ucap dari pria paruh baya tersebut dengan nada kesal).


("Baik Tuan." jawab anak buahnya dengan patuh).


("Bagaimana dengan Tuan David?" tanya pria paruh baya tersebut).


("Istrinya sedang hamil dan dua kali pendarahan dan sekarang Tuan David sedang menunggu istrinya." Jawab anak buahnya).


("Tunggu sampai Tuan David tidak ada lalu bunuh istrinya agar dia merasakan kehilangan orang yang dicintainya. Aku tidak ingin rencana yang Aku susun gagal lagi. " ucap pria paruh baya itu tanpa punya rasa empati sedikitpun).


("Baik Tuan." ucap anak buahnya dengan patuh).


Tut Tut Tut Tut Tut Tut Tut


Sambungan komunikasi langsung dimatikan secara sepihak oleh pria paruh baya tersebut kemudian meletakkan ponselnya di atas meja dekat ranjangnya.


"Tuan David dan Tuan Michael bersiaplah kalian akan kehilangan orang yang kalian cintai sama seperti diriku harus kehilangan putri kesayanganku." ucap pria paruh baya dengan tatapan ingin membunuh.


Tiba - tiba ponselnya kembali berdering membuat pria paruh baya tersebut melihat nomer yang tidak dikenalnya karena penasaran pria paruh baya tersebut mengangkat ponselnya.


("Hallo." Panggil pria paruh baya tersebut).


("Aku ingin mengajak kerjasama dengan Tuan, apakah Tuan bersedia?" Tanya seorang pria dari sebrang).


("Kerjasama dalam bidang apa?" Tanya pria paruh baya tersebut balik bertanya).


("Aku akan membunuh kekasih Tuan Michael dan istrinya Tuan David tapi dengan satu syarat." Ucap pria paruh baya tersebut).


("Apa itu syaratnya?" Tanya pria paruh baya tersebut penasaran).