
Waktu Mendadak Berhenti
"Ada apa?" Tanya Alessandra.
"Dokter Bela menghubungi pembunuh bayaran untuk menembak pemilik tubuh ketika keluar dari butik dari sebrang gedung."
"Benar-benar licik wanita itu." Ucap Alessandra sambil tersenyum menyeringai.
"Senyuman Nona sangat menakutkan."
"Hehehehe." Tawa Alessandra.
"Apa yang akan Nona lakukan?"
"Aku ada rencana di mana Aku akan membongkar kejahatan dokter Bela. Aku akan membuat Kak Leon memberikan hukuman yang tidak pernah dibayangkan oleh dokter Bela seumur hidupnya." Jawab Alessandra sambil tersenyum devil.
"Nona sungguh sangat kejam."
"Aku sudah memberikan kesempatan agar dokter Bela tidak di hukum oleh Kak Leon tapi kesempatan itu di sia-siakan oleh dokter Bela. Apalagi bukankah di dalam cerita novel kalau dokter Bela yang telah membuat pemilik tubuh nyaris kehilangan nyawanya. Jadi sudah saatnya dokter Bela mendapatkan balasan atas kejahatannya." Ucap Alessandra.
"Memang benar, dokter Bela sangat jahat dan sudah waktunya mendapatkan hukuman."
"Tepat sekali terlebih Aku ingin menyelesaikan misi ini secepatnya berganti dengan misi lainnya." Ucap Alessandra.
"Apa yang dikatakan Nona benar semakin cepat semakin baik."
Waktu Berjalan Seperti Semula
"Baiklah kalau begitu Kita temui pemilik butik ini." Ucap Alessandra.
"Ok." Jawab Leon singkat sambil tersenyum bahagia karena istrinya memuji dirinya.
Kini mereka berada di lantai dua di mana tempat pemilik butik bekerja. Alessandra membuat sketsa pakaian pengantin untuk pemilik tubuh lalu untuk dirinya hingga lima belas menit kemudian Alessandra sudah selesai.
"Ini hasil sketsa nya dan Aku ingin pakaian pengantin Kami menggunakan bahan yang sangat bagus tanpa memperdulikan berapa pun harganya karena pernikahan Kami sekali seumur hidup." Ucap Alessandra sambil memberikan sketsa tersebut.
"Baik Nyonya." Jawab pemilik butik sambil menerima selembar sketsa sepasang pakaian pengantin.
"Sekarang Kita pulang." Ajak Leon yang ingin merasakan hubungan suami istri.
"Tunggu sebentar." Ucap Alessandra sambil berjalan ke arah jendela kaca.
"Apa ada yang lainnya? Kamu mau apa ke jendela ?" Tanya Leon sambil berjalan mengikuti langkah Alessandra.
"Perasaanku tidak enak karena itu Aku ingin melihat apa yang terjadi di luar melalui kaca jendela." Jawab Alessandra berbohong.
"Mungkin hanya perasaanmu." Ucap Leon sambil berdiri di samping Alessandra.
Alessandra hanya tersenyum kemudian menatap ke arah jendela dan benar saja dari gedung sebrang tepatnya di atas rooftop ada seorang pria sambil memegang teleskop.
"Sayang, lihat pria yang berada di atas rooftop sebrang gedung ini." Ucap Alessandra sambil menunjuk ke arah pria tersebut.
Leon yang penasaran menatap ke arah yang di tunjuk oleh Alessandra dan Leon sangat terkejut. Leon melihat pria tersebut memegang teleskop di mana teleskop tersebut diarahkan ke arah butik lantai satu dan di sampingnya ada pistol.
"Siapa pria itu?" Tanya Leon sambil mengeluarkan ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaannya.
"Tidak tahu Kak, mungkin targetnya kalau tidak Aku ya Kak Leon karena yang ada di butik ini hanya ada Kita dan pemilik butik beserta pegawai butik." Ucap Alessandra.
"Aku tidak perduli jika pria itu menembakku tapi jika pria itu menembak suamiku maka Aku tidak rela." Sambung Alessandra.
"Akupun tidak rela jika istriku di tembak karena Kamu sangat berarti buatku." Ucap Leon sambil menekan tombol nomer kontak orang kepercayaannya.