
Dokter Alesandra berjalan menuruni anak tangga dan tahu kalau Michael memperhatikannya membuat dokter Alesandra tiba - tiba mempunyai ide di mana dokter Alesandra pura - pura tersandung.
Michael langsung memeluk tubuh mungil Alesandra agar tidak terjatuh membuat jantung mereka berdetak dengan kencang.
"Lain kali jalan lihat - lihat." Ucap Michael dengan nada dingin sambil melepaskan pelukannya.
"Maaf dan terima kasih sudah menolongku." Ucap dokter Alesandra sambil berjalan meninggalkan Michael yang masih berdiri menatap dirinya.
'Tidak Tuan Muda David dan suamiku, sama - sama ada perasaan suka tapi berusaha untuk menepis perasaannya. Sepertinya kalau Kami terluka baru mereka menyadari akan perasaannya.' Ucap dokter Alesandra dalam hati.
Dokter Alesandra berjalan meninggalkan mansion milik David sedangkan Michael berjalan ke arah kamarnya karena terkadang dirinya tidur di mansion milik David dan terkadang tidur di apartemennya.
Tuan Muda David mengambil pisau tersebut kemudian menyimpannya di meja dekat ranjang kemudian menghubungi kepala pelayan untuk membawakan makanan untuk dokter Karen.
'Apa yang harus Aku lakukan? Haruskah Aku melupakan dendamku dan hidup bersama dengan anak pembunuh orang tuaku?' Tanya David dengan bimbang.
Tiba - tiba ponselnya bergetar membuat David mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menghubungi dirinya. David langsung turun dari ranjang dan berjalan ke arah pintu setelah mengetahui siapa yang menghubungi dirinya.
Dua menit kemudian sepeninggal David, Karen perlahan membuka matanya dan menatap sekeliling kamar milik kamar suaminya. Kemudian dokter Karen mengambil ponselnya di atas meja dekat ranjang untuk melihat jam.
"Perasaan tadi Tuan Muda David membentakku lalu Aku tidak ingat apa yang terjadi selanjutnya. Tuan Muda David mungkin sudah berangkat ke kantor dan tidak memperdulikan aku yang tidak sadarkan diri." Ucap dokter Karen sambil tersenyum hambar.
"Perutku sangat lapar dari kemarin sore sampai sekarang hanya makan dua roti saja dan siangnya aku tidak makan sampai sekarang. Pantas saja aku sangat lapar." Ucap dokter Karen sambil menatap ke arah meja di mana ada makanan buatan dirinya.
"Aku ingin makan tapi jika Aku makan nanti suamiku akan marah? Sudahlah lebih baik Aku mandi biar badanku terasa segar." Ucap dokter Karen sambil turun dari ranjang.
Dokter Karen berjalan ke arah kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket hingga lima belas menit kemudian dokter Karen sudah selesai mandi dan memakai pakaian.
Dokter Karen memakai kaos lengan pendek berwarna putih dan memakai celana pendek putih karena dokter Karen sangat menyukai celana pendek dan juga menyukai warna bernuansa putih.
Dokter Karen memakai make up natural menambah aura kecantikannya semakin terpancar dan di tambah kulit putih mulusnya. Selesai berpakaian dan berdandan entah kenapa Karen ingin ke balkon tanpa memperdulikan perutnya yang mulai perih karena dokter Karen menahan rasa lapar.
Tanpa memperdulikan makanan yang ada di atas meja dekat ranjang karena dirinya saat ini sangat lelah jika ribut dengan suaminya. Dokter Karen berjalan ke arah balkon dan matanya membulat sempurna melihat ke arah bawah.
"Suamiku wajahnya seperti menahan amarah? Kenapa pelayan itu di seret bersama seorang anak kecil yang sedang menangis? Di mana mereka berdua di bawa oleh 2 orang bodyguard dengan cara kasar. Suamiku membawanya sebuah gudang yang tadi aku letakkan dus berisi foto keluargaku." Ucap Karen.
"Aku harus ke bawah sepertinya pelayan dan anak kecil itu akan di hukum." Sambung dokter Karen yang tidak bisa melihat orang menderita tanpa memperdulikan nyawanya.
Karen berlari keluar kamarnya dan menuruni anak tangga dengan langkah cepat tanpa memperdulikan perutnya yang terasa perih.
"Nyonya Muda mau kemana?" tanya kepala pelayan dengan wajah bingung.
"Paman, Aku melihat dari balkon seorang pelayan dan anak kecil di seret oleh dua orang pria. Apakah mereka berdua akan di hukum?" tanya dokter Karen dengan wajah panik.
"Benar sekali Nyonya, mereka akan di hukum." Jawab kepala pelayan.
"Tapi kenapa?" tanya dokter Karen dan tidak terasa air matanya keluar.
"Anaknya tidak sengaja memecahkan guci dan mencoret mobil kesayangan Tuan Muda David karena itulah mereka berdua di hukum." Jawab kepala pelayan menjelaskan.
"Aku akan ke sana Paman." ucap dokter Karen sambil berjalan meninggalkan kepala pelayan.
"Nyonya jangan!! Nanti Nyonya akan terkena hukuman juga karena ikut campur urusan Tuan Muda." ucap kepala pelayan memperingatkan dokter Karen.
"Aku tidak perduli dengan nyawaku Paman, karena yang paling penting mereka tidak menerima hukuman." ucap dokter Karen dengan lirih sambil berlari meninggalkan kepala pelayan.
'Aduh Nyonya, kenapa mencari masalah? Nyonya pasti akan mendapat hukuman apalagi Tuan Muda sangat membenci Nyonya." ucap kepala pelayan dalam hati.
Kepala pelayan itu memperhatikan dokter Karen yang berlari keluar hingga tidak terlihat. Dokter Karen berjalan menuju gudang dan membuka pintunya secara perlahan.
Mata dokter Karen membulat sempurna melihat seorang pelayan wanita dan anak kecil di ikat di sebuah tiang dan suaminya mengambil sebuah cambuk. Dokter Karen tanpa ada rasa takut berjalan perlahan menuju ke arah suaminya.
Sampai di belakang suaminya, dokter Karen langsung berlutut sambil mengeluarkan air matanya.
"Tuan Muda David. Aku mohon jangan lakukan itu." pinta dokter Karen dengan nada lirih.
Semua orang membalikkan badannya dan sangat terkejut termasuk David karena melihat dokter Karen berlutut memohon ampunan untuk pelayan dan anak kecil.
"Apakah kamu mau menggantikan mereka berdua?" tanya David dengan nada dingin tanpa menjawab ucapan dokter Karen.
"Aku bersedia menggantikan mereka." Jawab dokter Karen dengan masih berlutut dengan tubuh gemetar karena perutnya masih kosong dan tanpa banyak berpikir.
"Kamu tahu hukumannya?" Tanya David.
"Hukumannya berupa cambuk... Pelayan itu akan di cambuk sebanyak dua puluh kali sedangkan anak kecil itu akan di cambuk sebanyak dua belas kali. Apakah kamu mau menerimanya?" tanya David dengan menatap sinis ke arah dokter Karen.
"Aku bersedia menggantikan hukuman mereka. Lakukan saja apa yang ingin Tuan lakukan padaku asalkan pelayan dan anak itu tidak di hukum." ucap dokter Karen sambil mendongakkan kepalanya ke arah suaminya di mana sepasang matanya berubah menjadi merah.
"Michael." panggil David.
"Baik Tuan." jawab Michael dengan patuh.
Michael yang mengerti panggilan David langsung melepaskan ke dua orang yang sedang menangis ketakutan.
'Aduh Nyonya, kenapa pakai ikut campur? Apakah Nyonya tidak tahu betapa sakitnya di cambuk?" Tanya Michael dalam hati.
Setelah selesai melepaskan mereka Michael mendekati dokter Karen yang masih berlutut.
"Nyonya Karen silahkan ke tiang itu." pinta Michael menunjuk ke arah tiang yang tadi di pakai oleh dua orang tersebut. Dokter Karen berdiri dan berjalan sempoyongan ke arah tiang.
Dokter Karen diikat tangan dan ke dua kakinya agar tidak memberontak. Dokter Karen hanya menatap suaminya dengan tatapan sendu dan dirinya sudah pasrah apa yang akan terjadi nanti.
ctas
Dokter Karen hanya tersenyum menatap wajah suaminya sambil menahan rasa sakit ketika cambukan pertama mengenai kulitnya. Darah mulai keluar membasahi kaos dan celana pendek Karen bersamaan pakaian yang dikenakan dokter Karen berwarna putih kini berubah berwarna merah.
ctas
ctas
David, Michael dan beberapa pengawal terkejut melihat dokter Karen yang hanya tersenyum sambil menahan rasa sakit tanpa mengeluarkan suaranya.
"Apakah sudah menyerah?" Tanya David sambil tersenyum sinis.
"Tidak Tuan Muda. Lanjutkan saja sampai Tuan Muda merasa sangat puas." ucap dokter Karen tersenyum menatap wajah tampan suaminya.
"Jika kamu mati apa permintaan terakhirmu?" tanya David penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
"Aku hanya minta 3 permintaan." ucap dokter Karen sambil tersenyum dan menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Jangan bilang minta dibebaskan dan minta hartaku serta memintaku untuk menceraikanmu karena sampai kapanpun Aku tidak akan melakukannya." ucap David sambil menatapnya dengan tatapan sinis.
"Tidak aku tidak minta itu semua." jawab dokter Karen.
"Lalu apa?" tanya David dengan wajah bingung begitu pula orang yang berada di tempat itu.
"Jika Aku ternyata mati di tangan tuan Muda maka aku meminta tiga permintaan. Permintaan pertama jangan sakiti ke dua orang tuaku." Jawab dokter Karen.
"Permintaan ke dua, Akulah orang yang terakhir Tuan Muda siksa dan jika suatu saat nanti ini terjadi lagi atau ada orang yang melakukan kesalahan baik seorang pelayan atau bodyguard maka Aku minta agar orang itu di hukum dengan cara memotong gaji saja." Sambung dokter Karen sambil memejamkan matanya menahan rasa perih pada tubuhnya.
"Lalu yang ke tiga?" Tanya David penasaran begitu pula dengan yang lainnya.
'Permintaan yang ke tiga, semoga Tuan Muda David panjang umur, selalu sehat dan bahagia. Terlebih harapan besarku adalah Tuan Muda David bisa menghilangkan rasa dendam dan menemukan seseorang yang lebih baik dariku. Itu saja permintaan terakhirku." ucap dokter Karen sambil tersenyum sambil menahan rasa sakit dan kepalanya mulai terasa pusing dan berputar - putar.
Semua terkejut mendengar ucapan dokter Karen terlebih suaminya membuat jantung David berdetak kencang.
'Jantungku kenapa berdetak sangat kencang? Apakah aku terkena serangan jantung?' tanya David dalam hati.
"Baiklah jika itu maumu aku akan turuti." ucap David setelah diam beberapa saat.
David mencambuk berkali - kali tanpa berhenti membuat pandangan dokter Karen mulai mengabur tapi dokter Karen berusaha bertahan untuk tidak pingsan sampai hukuman ke tiga puluh dua cambukkan.
'Tuhan, kuatkan aku sampai tiga puluh dua cambukkan. Setelah tiga puluh dua cambukkan maka Aku rela jika diriku Engkau panggil.' ucap Karen dalam hati yang sudah pasrah jika hari ini adalah hari terakhirnya.
Dokter Karen memejamkan matanya sambil berdoa supaya dirinya kuat hingga dokter Karen mendengar suara samar - samar di mana suaminya menghitung angka tiga puluh dua tanda hukuman sudah selesai.
Dokter Karen membuka matanya untuk menatap wajah tampan suaminya untuk terakhir kalinya walau terlihat samar - samar.
"A..ku men..cintai..mu.... ma..af ... kan... ke... dua... o..rang... tua...ku... ja...ga di... ri...mu ... ba..ik... ba..ik.. se..mo...ga... su...ami..ku se..la..lu... ba...ha...gia.." ucap dokter Karen dengan nada terbata - bata sambil tersenyum menatap wajah tampan suaminya.
Setelah berkata demikian dokter Karen menutup matanya dengan darah yang mengalir dengan deras dari seluruh tubuhnya.
Jantung David berdetak kencang bersamaan sepasang mata berwarna merah menghilang. David sangat terkejut mendengar ucapan dokter Karen yang tidak pernah di duga sama sekali begitu pula dengan orang yang berada di ruangan tersebut.
Bagaimana tidak dokter Karen yang di siksa sama sekali tidak marah malah mendoakan suaminya dengan nada tulus.