Alessandra

Alessandra
Bagian Ke 72



"Nanti kamu akan tahu." Jawab dokter Alesandra sambil memejamkan matanya.


Sistem tersebut hanya bisa menjulurkan lidah kemudian menghilang dari pandangan dokter Alesandra. Sedangkan Michael yang keluar dari ruangan ICU berjalan ke arah ruang perawatan kemudian mengetuk pintu sekali lalu membuka pintu ruang perawatan dengan perlahan.


David yang tahu kalau yang datang Michael langsung melepaskan tangannya kemudian berjalan ke arah Michael.


Mereka berdua keluar dari ruangan tersebut untuk mengobrol yang tidak jauh dari ruang perawatan dokter Karen agar tidak ada yang mendengarnya,


"Maaf Tuan, orang itu mati meminum racun." bisik Michael agar tidak terdengar oleh para pengunjung dan para pekerja rumah sakit.


" Si*l, buang mayatnya ke jurang!" perintah David dengan nada dingin.


"Baik Tuan." Jawab Michael dengan patuh.


Ketika David ingin berbicara tiba - tiba datang dokter Calista melewati mereka. Hal itu membuat dokter Calista menundukkan kepalanya kemudian berjalan ke arah ruang perawatan dokter Karen membuat David diam beberapa saat.


"Oh ya pasti salah satu dari mereka mempunyai ponsel, kamu suruh mereka untuk mencari ponselnya." Ucap David.


"Baik Tuan." Jawab Michael dengan patuh.


David hanya menganggukkan kepalanya kemudian berjalan ke arah ruang perawatan di mana istrinya sedang di rawat. Sedangkan Michael mengambil ponselnya untuk menghubungi orang kepercayaannya.


David membuka pintu ruang perawatan dan melihat dokter Calista sedang mengecek infus dokter Karen. David duduk di kursi di samping ranjang istrinya sambil menggenggam tangan istrinya.


"Maaf Tuan David, kondisi Nyonya David semakin membaik." Ucap dokter Calista.


David hanya menganggukkan kepalanya kemudian dokter Calista dan perawat pamit untuk mengecek pasien lainnya. Dokter Calista berjalan menuju ke arah pintu keluar menuju ke ruangan ICU di mana dokter Alesandra di rawat.


Sampai di depan pintu ICU tanpa curiga dokter Calista masuk ke dalam ruangan tersebut dan matanya membulat sempurna melihat kepala dokter Alesandra dibekap dengan menggunakan bantal.


"Apa yang kamu lakukan?" Tanya dokter Calista dengan suara yang sangat kencang.


Teriakan dokter Calista terdengar jelas di telinga Michael terlebih dokter Calista belum menutup pintu ICU. MIchael langsung berlari ke arah ruangan ICU sedangkan dokter Calista masuk ke dalam ruangan tersebut.


Orang tersebut sangat terkejut karena aksinya ketahuan sedangkan dokter Calista yang melihat dokter Alesandra kejang - kejang membuat dokter Calista menarik bantal tersebut.


Dokter Calista dan pria itupun bersiap untuk berkelahi namun tiba - tiba pintu ruangan ICU di buka secara paksa.


"Tuan, orang ini ingin membunuh pasien." Ucap dokter Calista sambil merebut bantal yang di pegang oleh pria tersebut.


Pria tersebut yang merasakan dalam bahaya mengeluarkan pistolnya dari saku celana panjangnya. Michael yang mempunyai tatapan elang dapat membaca gerakannya membuat Michael mengambil pistol untuk di arahkan ke pria tersebut.


Dor


"Akhhhhhhhh...!" teriak pria tersebut kesakitan ketika tangannya hampir saja memegang pistol.


Dokter Calista sempat terkejut dengan apa yang dilihatnya namun ketika melihat dokter Alesandra masih kejang - kejang membuatnya berusaha untuk tidak memperdulikannya.


Dokter Calista menekan tombol kemudian mulai memeriksa keadaan dokter Alesandra. Namun baru saja memeriksa tiba - tiba pria tersebut menarik tubuh dokter Calista untuk dijadikan tamengnya.


"Buang senjatamu kalau tidak dokter ini mati." Ancam pria tersebut sambil bersiap untuk mengambil pistol yang masih ada di saku celananya dengan menahan nyeri pada bagian pergelangan tangan.


Dokter Calista yang bisa bela diri memegang tangan pria tersebut kemudian menekuknya membuat pria tersebut berteriak kesakitan. Dokter Calista kemudian membantingnya hingga pria tersebut jatuh ke lantai.


"Jangan pernah meremehkan seorang wanita." Ucap dokter Calista dengan nada dingin.


Michael sempat terkejut dengan apa yang barusan dilihatnya namun berusaha bersikap biasa saja. Michael menyimpan kembali pistolnya kemudian menarik pria tersebut yang meringis kesakitan.


"Terima kasih atas bantuan dokter." Ucap Michael untuk pertama kalinya berterima kasih.


"Sudah kewajiban Saya menolong rekan kerja Saya sekaligus pasien Saya yang tadi sempat dalam bahaya. Di mana pria itu membekap mulut dokter Alesandra dengan menggunakan bantal." Ucap dokter Calista sambil meletakkan kembali bantalnya ke tempat semula yang tadi digunakan oleh dokter Alesandra.


Michael yang mendengar ucapan dokter Calista sangat terkejut membuat Michael membawa pria tersebut keluar dari ruangan Icu sedangkan dokter Calista kembali memeriksa keadaan dokter Alesandra.


"Tolong titip Alesandra nanti Aku ke sini lagi." Ucap Michael sebelum keluar dari ruangan ICU.


"Oke." Jawab dokter Calista dengan singkat.


Michael menutup pintu ICU sambil menarik pria tersebut untuk diserahkan ke anak buahnya. Sedangkan di tempat yang sama hanya beda ruangan di mana David berada di ruang perawatan di mana dokter Karen di rawat.


"Bangunlah, Aku ingin sekali makan disuapi oleh istriku. Apakah ini keinginan anak kita sayang" Karena Aku tidak tahu kenapa ingin sekali bermanja-manja denganmu." Ucap David sambil duduk di kursi dekat ranjang dan menggenggam tangan istrinya.


"Anak Daddy yang kuat ya? Kasihan Mommy yang sudah bolak balik ke rumah sakit." ucap David sambil mengelus perut dokter Karen yang sudah mulai kelihatan.


Dokter Karen perlahan membuka matanya dan menatap wajah tampan suaminya. David yang melihatnya sangat senang karena dokter Karen sudah sadar.


"Honey." panggil dokter Karen sambil tersenyum.


"Sayang, apa ada yang sakit?" tanya David dengan wajah kuatir.


"Tidak ada honey, Aku hanya haus saja." Jawab dokter Karen.


"Minumlah." ucap David sambil memberikan sedotan ke mulut dokter Karen.


Dokter Karen pun meminum hingga tersisa setengah gelas kemudian melepaskan sedotannya.


"Sudah honey." ucap dokter Karen.


Tanpa berbicara David meletakkan kembali gelasnya ke atas meja yang dekat dengan ranjang.


"Honey, belum makan ya?" tanya dokter Karen yang melihat rantangnya ada di atas meja dekat sofa.


"Belum." Jawab David dengan singkat.


"Honey makanlah nanti sakit." pinta dokter Karen.


"Aku ingin makan di suapi sedangkan sayangku lagi sakit." ucap David dengan tatapan sendu.


"Aku sudah enakkan kok, honey bawa sini rantangnya Aku akan suapi." ucap dokter Karen dengan nada lembut sambil berusaha untuk bangun.


"Benarkah?" tanya David dengan mata berbinar sambil membantu dokter Karen agar duduk.


"Benar Honey." jawab dokter Karen sambil tangan kanannya di angkat ke atas dan membelai wajah tampan suaminya.


David tersenyum kemudian berdiri dan berjalan ke arah meja dekat sofa untul mengambil rantang. David kembali duduk sambil membuka rantang tersebut dan diberikan ke dokter Karen.


Dokter Karen dengan telaten mulai menyuapi David sambil menatap wajah tampan suaminya dan tersenyum bahagia.


Dokter Karen sangat bahagia melihat perubahan sikap suaminya membuat dokter Karen berharap agar sikapnya tidak akan pernah berubah.


"Kenapa menatap wajahku? Apakah ada yang aneh?" tanya David setelah selesai mengunyah makanan.


"Tidak ada yang aneh honey. Aku hanya menatap wajah tampan suamiku, semoga saja anak kita nanti mirip denganmu honey." ucap dokter Karen penuh harap.


"Kenapa kamu berharap anak kita laki - laki dan mirip denganku?" tanya David penasaran.


"Karena Aku sangat sayang dan mencintaimu honey oleh sebab itulah Aku sangat berharap agar anak kita nantinya sangat mirip denganmu." Jawab dokter Karen dengan nada lembut sambil tersenyum.


"Aku juga sangat sayang dan mencintaimu." Ucap David.


"Kamu tahu Sayang? Aku sangat takut kehilanganmu terlebih ketika tadi dokter mengatakan sesuatu yang sangat berat." Sambung David.


"Memang dokter bicara apa?" Tanya dokter Karen penasaran.


"Dokter memintaku untuk memilihmu atau anak kita lalu setelah beberapa saat berpikir Aku memilihmu." Jawab David.


Dokter Karen sangat terkejut mendengar ucapan suaminya, rantang yang di pegangnya langsung diberikan ke suaminya kemudian dokter Karen memeluk perutnya.


"Anak kita tidak apa-apa kan sayang?" tanya dokter Karen dengan wajah kuatir.


"Tidak apa-apa sayang." Jawab David.


"Syukurlah Aku ikut senang." Jawab dokter Karen sambil tersenyum bahagia.


"Sayang, bagaimana kalau anak kita .... (menjeda kalimatnya) ... Kita gugurkan saja?" tanya David.


"Tidak, Aku tidak mau. Apakah honey tidak mencintai anak kita?" tanya dokter Karen dengan mata sudah mulai berkaca - kaca.


David meletakkan rantang di meja kemudian menggengam tangan dokter Karen.


"Aku mencintai anak kita tapi Aku sangat mencintaimu. Dokter mengatakan padaku jika sayangku melahirkan maka sayangku akan meninggal dan aku tidak bisa kehilanganmu. Aku ingin sayangku diobati dulu setelah sembuh baru kita bikin anak kembali." ucap David.


David dan dokter Karen tidak tahu kalau sebenarnya racun di dalam tubuh dokter Karen tidak ada dan janinnya baik - baik saja.


Hal itu sengaja dilakukan oleh dokter Alesandra karena ketiga pria tampan tersebut yang terdiri dari David, Michael dan Federick di mana mereka belum sepenuhnya jiwa psycophatnya benar - benar tertidur.


"Honey, mati dan hidup semua sudah di atur oleh Tuhan dan siapa tahu diagnosa dokter salah. Setelah Aku melahirkan bisa saja terjadi di mana Aku dan anak kita selamat." Ucap dokter Karen sambil tersenyum.


"Honey, Aku sangat mencintaimu dan juga sangat mencintai anak kita. Demi dua orang yang sangat Aku cintai, Aku akan berusaha untuk menjadi kuat." ucap dokter Karen.


"Terima kasih sayang, kamu sangat mencintaiku dan juga sangat menyayangi anak kita." Ucap David terharu sambil tangan kirinya membelai rambut dokter Karen sedangkan tangan kanannya membelai perut dokter Karen.


"Karena honey suamiku dan sudah sepantasnya seorang istri mencintai suami dan anak-anak." Jawab dokter Karen.


"Anak - anak?" tanya David mengulangi perkataan dokter Karen.


"Bukankah setelah anak kita lahir, tentu saja ada adik - adiknya bukan?" Tanya dokter Karen sambil tersenyum malu.


"Pffftttt... Hahahaha... Tentu saja sayang Aku ingin mempunyai anak yang sangat banyak biar mansion tidak sepi. Setelah sayang sudah sembuh kita ke rumah orang tuamu ya." ajak David sambil tertawa lepas.


"Orang tuaku?" tanya dokter Karen mengulangi perkataan David karena dirinya seakan tidak percaya dengan apa yang barusan di dengarnya.